Posts by MUHAMMAD

Travelled to Shore Temple, 60 km from Chennai

On September 5th, 2015, I travelled to the southern part of India. It was part of my 14 days traveling to the south. During my trip, I visited some landmarks. One of these landmarks was Shore Temple located in Tamil Nadu. I want to refresh my travel experience by posting this article.

Departing From Kerala

Yet, it was a truly challenging adventure. I started the journey from Thiruvananthapuram, Kerala. After long journey more than 17 hours from, finally I arrived in Chennai. Chennai (formerly Madras) situated in the southern part of India is one of the biggest cities in the country. This city is well-known as former hub of trade and religious axis, for instance, Mahabalipuram which was built in the period of Pallava kingdom located 60 km away from the city.

And, this is Chennai Central Railway Station. The Station connects transportation to many big cities, such as New Delhi, Mumbai, Hyderabad, Kolkata, Bangalore, etc.

 

Shore Temple, Mahabalipuram

It is a monument of Mahabalipuram, a world heritage monument, which has been inscribed on the world heritage list of the convention concerning the protection of the world cultural and natural heritage inscription on the list confirms the exceptional universal values of a cultural or natural side which deserves protection for the benefit of humanity.

This temple consists of two structural shrines Kshatriyasimhesvara (east) and Rajasimhesvara (west) collectively known as Shore Temple built by Pallava King Narasimhavarman II (Rajasimha) (AD 700-728), mark the culmination of the architectural efforts which began with the cave temples and monolithic rathas. The east facing Kshatriyasimhesvara has a sanctum enshrining the Dharalinga and Somaskanda panel.

The Chalustalavimana Kshatritasimhesvara with an incipient gopura at the entrance and Dvitalavimana Rajasimhesvara are proportionate and adds rhytm to the whole temple complex. The reclining Vishnu in between the two shrines is carved out of bedrock and it is earlier the Mandapas in front of the Rajasimhesvara shrine is the extant up to the basement.

The entire temple complex is covered by Prakara coped with Nandis. The Shore Temple is being affected by the rough sea and salt ladeed winds. The efforts undertaken by the archaeological survey of India such as construction of groyne wall paper pulp treatment and casurina plantation have checked this affect.

Kesalahan-kesalahan umum yang seringkali dilakukan dalam berkomunikasi digital

Kemajuan teknologi informasi telah berpengaruh pada pola hubungan sosial. Dua dekade yang lalu, perangkat komunikasi mulai mengenal kiriman pesan singkat atau short message service (sms). Lalu, berkembang pada penggunaan aplikasi chatting seperti Yahoo Messenger hingga dikenal WhatsApp. Saat ini, terdapat banyak aplikasi chatting yang dapat kita gunakan. WhatsApp dan Instagram adalah dua aplikasi sosial media yang mewakili banyak aplikasi lainnya dan paling populer di kalangan kaum muda.

Polemik pola komunikasi

Kehadiran ragam aplikasi tersebut seringkali melahirkan kesenjangan dalam pola komunikasi. Layanan komunikasi yang instan dan dapat meningkatkan efisiensi ini sering dianggap mengesampingkan nilai dan tata krama masyarakat.

Kita pasti masih ingat. Tidak begitu lama, mungkin satu atau dua tahun lalu, dunia kampus agak geger tentang etika mahasiswa dalam berkomunikasi ke dosen. Banyak kampus menyusun tutorial tata cara berkomunikasi mahasiswa kepada dosen yang agak menggelitik. Rasanya, dalam tutorial tersebut seperti kembali mengajari materi-materi pelajaran kepribadian dan tata krama kepada anak-anak SD dan SMP.

Pada satu sisi, tutorial semacam ini seperti merendahkan kualitas mahasiswa yang secara fakta sudah menginjak usia dewasa dan memahami pola komunikasi yang baik dan beradab. Dengan tutorial ini, terkesan terdapat penurunan moral dan etika generasi mahasiswa sehingga kampus perlu ‘membuat peringatan’ dan petunjuk umum agar memahami nilai-nilai, etika dan tradisi yang berlaku.

Pada sisi lain, mahasiswa memang beragam. Ada mahasiswa yang sangat berhati-hati mengirimkan pesan, sampai bahasanya terasa kaku sekali. Ada juga mahasiswa berkirim pesan cukup fleksibel namun identitas dan substansinya cukup jelas. Ada pula mahasiswa yang berkirim seperlunya hanya menyampaikan kepentingannya tanpa menyebutkan identitasnya. Saat pesan sudah dijawab, mereka menjawabnya dengan kata singkat: “OK.” Mahasiswa udah kayak bos saja kan ya….

Ada juga catatan tambahan. Beberapa mahasiswa ada yang berkirim pesan pada jam kerja, ada juga yang berkirim pesan larut malam, tengah malam dan di luar hari kerja.

Permasalahan di atas tidak seharusnya terjadi. Padahal masalahnya sepele. Satu hal yang mendasari kenapa semua itu bisa terjadi adalah: bisa jadi mahasiswa kurang punya keterampilan berkomunikasi yang baik.

Praktik yang sering terjadi

Terdapat beberapa praktik yang dilakukan oleh mahasiswa saat berkirim pesan. Mari kita baca satu per satu satu.

Pertama, mengirimkan pesan tanpa menyebutkan identitas. Mungkin dikiranya identitas sudah tersedia di profil WA. Dosen diminta melihat nama dalam nomor WA dg klik profil. Saat profil dibuka, nama WA beragam, bahkan nama panggilan hingga nama Alay.

Perlu diingat bahwa semakin dewasa, semakin menuju dunia kerja, kita dituntut untuk dapat berkomunikasi lebih profesional. Oleh karena itu, percakapan yang baik adalah dengan memperkenalkan diri dengan baik terlebih dahulu. Lalu, kita sampaikan maksud kita mengirimkan pesan dengan bahasa yang mudah dipahami dan tidak memaksa. Gunakan kalimat efektif, tidak terlalu panjang, tidak terlalu singkat juga.

Saya selalu berusaha tidak merespon orang yang berkirim pesan tanpa menyebutkan identitas. Saat tidak dibalas, ada saja caranya. Siang hari saudaranya yang bekerja di kampus berkirim pesan ke saya agar tidak dipersulit. Atau, mahasiswa lapor ke dosen lain dengan bahasa agar saya tidak terlalu ruwet.

Kalau kalian tahu. Setiap harinya, saya menerima banyak sekali pesan. Dari mahasiswa yang ambil kelas, orang yang ingin menulis di tiga jurnal yang saya kelola, termasuk mahasiswa yang tanya-tanya tentang urusan akademik, mahasiswa salah sambung, mahasiswa mengurus Turnitin, dan mahasiswa bimbingan KKN. Kadang, saya tidak begitu telaten untuk balas-balasan dalam jangka waktu lama.

Mungkin, pengalaman di atas juga dialami oleh banyak dosen lainnya. Saran saya, berkirim pesan ke dosen memang harus langsung tepat sasaran, dengan jelas identitas dan keperluannya.

Kedua, mahasiswa ingin segera dilayani, tapi kadang tidak tahu waktu. Saya belakangan membatasi komunikasi chatting, khususnya di luar jam kerja, termasuk di luar hari kerja. Misalnya, banyak mahasiswa mengurus berkas Turnitin di luar jam kerja. Kadang sore hari, sampai ada yang malam hari hingga tengah malam. Ada juga beberapa mahasiswa mengirimkan pesan yang sifatnya tugas kantor di luar hari kerja, misalnya hari libur maupun akhir pekan (Sabtu dan Minggu).

Ketiga, mahasiswa tidak cepat paham. Saya seringkali berpikir agar membalas pesan mahasiswa sesegera mungkin, meskipun isi pesannya kurang jelas. Akhirnya saya balas-balasan pesan lah dengan mahasiswa. Tapi ini terasa tidak begitu efektif karena ada juga mereka yang lama sekali pahamnya.

Misalnya, mereka sudah dijelaskan hingga saya mengetik panjang, harapannya agar paham. Tapi tetap saja tidak paham. Dan, jawabannya singkat menunjukkan tanpa ada usaha mencari tahu. Hal kayak gini seringkali menjengkelkan. 😅

WhatsApp for Business

Belakangan, saya mencoba mengaktifkan WhatsApp for Business. Saat ada nomor baru akan ada notifikasi kalau dia mahasiswa langsung saja berkirim email dan lampirkan dokumennya. Tujuan saya agar sistem ini bisa lebih efisien.

Sorry, I am unavailable right now. I will respond to your message soon, in the next working hours. Please understand, the COVID-19 pandemic encourages me to would love to spend quality time when it is outside my working hours.

If there is something really urgent, please approach me through email (muhd.bahrul@unej.ac.id). If you are a student at the UNEJ Faculty of Law that wants to communicate about academic affairs, you are also advised to send me an email along with your documents (if any).

Thank you. 

Uraian di atas adalah isi balasan pesan otomatis yang saya atur secara default pada WhatsApp for Business saya.

Hasilnya cukup efektif dan lebih efisien. Mahasiswa yang berkepentingan langsung berkirim email dan melampirkan dokumen yang dibutuhkan. Atau, mereka menunggu balasan atau berkirim pesan kembali saat hari dan jam kerja.

Namun demikian, setelah sekian lama berjalan, saya merasa semakin ada kejanggalan.

Keterampilan berkirim email

Awalnya, saya berpikir banyak mahasiswa perlu memiliki keterampilan dalam berkirim pesan. Saya merasa agak janggal setelah menerima email, khususnya dari mahasiswa bimbingan lomba maupun mahasiswa yang berkeperluan untuk Turnitin. Ternyata, masih banyak mahasiswa yang tidak tahu cara menggunakan email. Seringkali, mahasiswa menganggap sama dalam berkirim pesan dan email.

Saya menilai mereka memang belum tahu cara menggunakan email. Keterbatasan pengetahuan ini sehingga saat berkirim email seringkali seperti ini:

  1. Berkirim email tanpa subject dan tanpa isi. Mereka hanya melampirkan attachment.
  2. Berkirim email dengan menuliskan keperluannya pada subject. Hasilnya, judul email panjang banget.
  3. Berkirim email dengan bahasa chatting.
  4. Berkirim email kosong.
  5. Berkirim email dengan bukan nama email dirinya, pinjam email temannya.
  6. Berkirim email dengan nama email alay, misal: nandacute@gmail.com, jefry112467@gmail.com.

Oh iya. Ada juga mahasiswa setelah berkirim email kemudian konfirmasi ke saya. Mereka melampirkan bukti email tertulis email yanh salah. Email saya muhd.bahrul@unej.ac.id, sedangkan mereka mengirimkannya ke muhd.bahrul@gmail.co.id. Saran saya, periksa kembali alamat email, untuk memastikan kita sudah mengetiknya dengan benar.

Saat memasuki dunia kerja

Praktik seperti di atas jamak terjadi. Saya berpikir, tidak lama lagi mereka akan memasuki dunia kerja. Mereka akan kasihan apabila model komunikasinya masih seperti ini. Dunia kerja menuntut kita berkomunikasi secara profesional. Mereka mungkin akan merasa bingung dan kesusahan saat harus berkomunikasi dengan kolega dan atasa di kantor. Mereka juga akan punya tantangan besar saat harus membangun kerja sama dengan pihak eksternal.

Sedari sekarang, mahasiswa perlu refleksi dua hal. Pertama, mahasiswa perlu memeriksa kembali cara berkomunikasi jelas dan efektif dalam berkirim pesan. Kedua, mahasiswa perlu belajar cara berkirim email yang sesuai dengan standarnya. Sebetulnya, isi email sudah lazim kita pelajari saat berkirim surat, meskipun juga isinya terkadang lebih fleksibel.


Artikel ini telah diterbitkan di media kawanhukum.id berjudul: Hai mahasiswa, coba deh periksa kembali pola komunikasimu!

Ternyata mudah, begini cara bayar PKB melalui Tokopedia

Saat pandemi COVID-19, kita semakin membatasi diri untuk keluar rumah. Banyak aktivitas, termasuk pekerjaan dikerjakan dari rumah.

Juga, saya semakin jarang keluar rumah sehingga merasa susah misalnya saat harus melakukan pembayaran pajak kendaraan bermotor (PKB).

Posisi saya sekitar 33 km dari pusat kota. Terasa jauh sekali saat harus ke pusat kota. Saya mencari alternatif, mencoba tanya-tanya samsat keliling di area kecamatan. Tapi, pajak kendaraan saya besok sudah hangus.

Lalu, alternatifnya gimana?

Saya merasa agak bingung sih awalnya. Kata teman-teman bisa kok bayar pajak di indomaret atau alfamart. Tapi, ya ribet jyga harus ke indomaret atau alfamart dulu.

Ketahuan banget ya kalau saya itu mager. 😂

Akhirnya, saya cari instagram samsat kota saya. Ada informasi kalau bisa juga kok bayar pakai Tokopedia. Langsung dah, cus buka aplikasi Tokopedia.

Caranya:

  1. Buka aplikasi Tokopedia
  2. Cari menu PILIH SEMUA
  3. Pilih Top-up & Tagihan
  4. Pilih E-Samsat

Selanjutnya akan tampil informasi seperti ini

Silakan isi semua kolom yang tersedia, yaitu

  1. Pilihan Wilayah
  2. Nomor Polisi
  3. Nomor Mesin
  4. NIK

Mohon dipastikan saat mengisi data di atas sambil bika STNK dan KTP. Juga, mohon teliti karena saat saya tadi memasukkan angka ada kesalahan satu digit sehingga data tidak ditemukan.

Apabila mengalami hal serupa, pastikan untuk memeriksa kembali data yang sudah diisikan.

Apabila berhasil, kalian akan mendapatkam tampilan seperti di bawah ini:

 

Selanjutnya klik bayar. Saya memilih membayar menggunakan OVO.

 

Lalu klik bayar.

Apabila pembayaran berhasil, akan ada sms berisi tautan seperti ini:

 

Lalu, silakan buka tautannya dan download tanda bukti pelunasan kewajiban pembayaran. Bentuknya seperti ini:

Jangan lupa buka aplikasi Tokopedia, juga ada notifikasi dari aplikasi ini seperti ini:

 

Lalu klik selengkapnya, akan ada info detailnya.

Demikianlah cara pembayaran PKB melalui aplikasi Tokopedia.

Mudah, cepat dan tanpa harus kemana-mana. Ini cocok bagi teman-teman yang padat kegiatan atau STNK mendekati tanggal kadaluarsa.

 

Tidak harus selalu menjadi yang pertama

Banyak orang tua menginginkan anak-anaknya unggul, pandai, cerdas dan berprestasi. Keinginan tersebut seringkali diwujudkan dengan dorongan kepada anak-anaknya untuk menjadi nomor satu. Sejak kecil, banyak anak didorong untuk kompetitif. Semacam ada penanaman pemikiran bahwa seolah anak yang unggul, pandai, cerdas dan berprestasi adalah dengan menjadi yang pertama.

Prestasi seringkali diukur berdasarkan pemeringkatan. Anak yang berprestasi seringkali diidentikkan dengan menyandang gelar juara. Pembagian kelas kualitas anak diranking dari juara 1, juara 2, dan juara 3. Keadaan ini lazim dalam dunia anak-anak, dan termasuk di bangku sekolah.

Meskipun saat ini pemeringkatan kelas di sekolah sudah dihapuskan, masih ada pemeringkatan-pemeringkatan lain. Seperti lomba, baik dari yang receh sampai lomba akademik. Ini semua masih sering kita jumpai baik pada tingkat pendidikan dasar, menengah maupun perguruan tinggi.

Juara sebagai kebanggaan

Pemahaman tunggal atas kualitas seseorang diukur dari kemampuan mendapatkan juara seringkali menjadi beban bagi anak. Seluruh hidupnya dari kecil dituntut untuk dapat berkompetisi. Khususnya, secara tidak langsung, anak-anak harus mampu menahan tekanan agar dapat bersaing dan mampu mengalahkan teman-temannya.

Tentu saja, usaha untuk menjadi juara, menjadi yang pertama, tidaklah mudah. Namun, mau tidak mau, standar itu semacam kenyataan hidup yang mesti dijalani. Hingga pada saat kita mencapainya, kita akan merasa bangga telah mampu menjadi yang pertama. Sampailah pada kesadaran diri bahwa ternyata kita bisa mencapainya. Kita bangga.

Tuntutan lebih tinggi

Semua tidak berhenti di situ. Cerita masih panjang. Setelah kita dapat menjadi yang pertama, akan ada dua tuntutan baru. Pertama, kita harus menjadi yang pertama lagi pada episode selanjutnya. Kedua, saat kita gagal menjadi yang pertama kembali, akan ada beban berat terhadap mental.

Semua berawal dari asumsi ini. Sebelumnya, kita sudah mendapatkan prestasi dengan menjadi yang pertama. Kita telah dipercaya sehingga tidak ingin mengecewakan orang tua, guru atau teman-teman kita. Juga, kita tidak ingin kecewa terhadap diri sendiri saat mencoba peruntungan berikutnya.

Ini semua tidak salah. Namun, satu hal yang tidak begitu tepat adalah saat tuntutan tersebut tinggi, anak juga perlu ditanamkan kebijaksanaan agar lebih siap apabila luput mencapai tujuannya. Menjadi pertama itu menyenangkan, namun saat terjatuh atau tidak beruntung, kemampuan menghargai orang lain dan menoleransi diri sendiri menjadi sangat penting.

Ajari menaklukkan diri sendiri

Banyak literatur menuturkan bahwa pemenang sesungguhnya bukan terbatas menjadi nomor satu. Dunia ini luas dan luas juga ukuran dan pemaknaan kesuksesan yang tidak bisa dinilai sebatas dengan angka dan urutan.

Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya anak, bekal pemahaman menjadi manusia bermartabat dan memahami kehidupan menjadi sangat penting. Saat anak beranjak dewasa akan semakin memahami luasnya dan kompleksnya kehidupan yang tidak sesempit tentang kemenangan atas orang lain atau kemampuan mengalahkan orang lain.

Edmund Hillary, pendaki kelas dunia, mengatakan bahwa kemampuan pendaki itu bukan tentang menaklukkan gunung. Makna dari pendakian gunung tersebut jauh lebih penting daripada ambisi sempit untuk menaklukkannya. Dengan kita mendaki gunung, sesungguhnya ada satu hal yang harus ditaklukkan, yaitu diri sendiri. Kita akan semakin mawas diri tentang pentingnya perencanaan, kegigihan dan kesabaran untuk mencapai puncak. Tanpa ketiganya akan sangat susah bagi kita berhasil mencapainya. Oleh karena itu, kebijaksanaan menempati posisi utama sebelum kita beranjak untuk dapat mencapai tujuan, dengan menaklukkan diri sendiri terlebih dahulu.

Tidak harus menjadi yang pertama

Banyak orang sudah telanjur kecewa. Sebagian yang lain menilai semuanya telah sia-sia. Barangkali, pemaknaan untuk menjadi yang pertama adalah tentang kemampuan untuk mengalahkan orang lain, tanpa melibatkan diri sendiri sebagai musuh utama.

Saat usaha yang dilakukan sudah maksimal, refleksi terhadap diri sendiri menjadi penting. Perjuangan menaklukkan diri sendiri jauh lebih berliku daripada mengejar menjadi yang pertama. Barangkali, memperbaiki manajemen diri jauh lebih esensi daripada hanya mengejar prestasi demi membusungkan diri. Hal yang terpenting, saat menjadi yang pertama untuk dapat tetap rendah hati.

Begitu juga, saat tidak berhasil mencapai target yang diinginkan sudah siap untuk menerima kenyataan dan keadaan dengan sabar dan ikhlas. Saat sudah menjadi orang, hal yang terpenting bagi kita bukan di mana kita berposisi tetapi sejauh mana kontribusi kita dapat berguna bagi orang lain.

Semoga bermanfaat. 🙏

Kritik saran bisa tulis komentar di bawah yaa…

Ramai Berita Persekusi Muslim di India: Ternyata India Punya Masa Lalu Ini

Dalam beberapa pekan terakhir, banyak dijumpai berita kekerasan terhadap Muslim di India. Kekerasan tersebut dipicu oleh pengesahan amandemen UU Kewarganegaraan 1955 pada 11 Desember 2019. UU ini memungkinkan diberikannya status kewarganegaraan India kepada migran ilegal yang beragama Hindu, Sikh, Buddha, Jain, Parsi, dan minoritas agama Kristen, yang telah melarikan diri dari penganiayaan dari Pakistan, Bangladesh dan Afghanistan sebelum Desember 2014. UU ini memberikan pengecualian terhadap Muslim. Pembedaan perlakuan ini yang selanjutnya melahirkan protes tak berkesudahan. Selanjutnya, keadaan ini melahirkan konflik sosial antarumat beragama, khususnya antara warga beragama Hindu dan Muslim.

India adalah negara yang kompleks

Satu hal yang harus dipahami bersama, India adalah negara yang kompleks. Keberagaman India seringkali memicu banyak konflik sosial. Sebenarnya, India tidak hanya menghadapi tantangan mewujudkan kehidupan harmonis antarumat beragama. Negara ini juga memiliki permasalahan kesenjangan ekonomi, kemiskinan, kesehatan, lingkungan, hingga tingginya tingkat kelahiran maupun kematian. Namun demikian, agama menjadi topik yang cukup sensitif dan dapat melahirkan konflik sosial yang tidak berkesudahan.

Dari sisi kerangka regulasi nasional, India tampak lebih baik daripada Indonesia dalam hal pemberian jaminan dan kebebasan beragama. Konstitusi India menegaskan diri India sebagai negara sekuler. Sekularisme India didefinisikan bahwa negara berada pada posisi netral, dengan adanya kebabasan warga negara untuk meyakini, beribadah maupun menyebarkan agamanya masing-masing. Tercatat, terdapat banyak sekali agama di India, termasuk Ahmadiyah dan Baha’i, yang dianggap sesat di Indonesia, tumbuh dan berkembang di India. Agama Jainisme dan Parsi juga hidup di India.

India juga bisa dibilang cukup netral dalam urusan ideologi. India di dalam konstitusi menegaskan diri sebagai negara sosialis. Prinsip-prinsip sosialisme terasa kuat tercantum baik di dalam pembukaan maupun isi pasal Konstitusi India. Seiring dengan berjalannya waktu, India tidak anti kapitalisme. India melakukan reinterpretasi konstitusi dengan terbuka menerima kapitalisme dalam kehidupan bernegara. India juga tidak melakukan pelarangan terhadap partai komunis. Ada dua partai komunisme, yaitu Communist Party of India (CPI) dan Communist Party of India Marxist (CPIM). Keduanya ikut serta dalam pemilihan umum, meskipun kurang diminati oleh warga India dan terkesan mandul.

India punya masa lalu

Tidak hanya manusia yang punya masa lalu. India juga punya masa lalu tentang usaha dan tantangan membina kerukunan dan keharmonisan umat beragama. Sudah banyak terjadi ketegangan antara umat Hindu vs umat Islam di India. Islam India seringkali dicurigai oleh Hindu karena dianggap memiliki hidden agenda dengan motif fanatisme agama. Umat Hindu juga tak jarang melawananya dengan atas dasar fanatisme agama pula.

Banyak sekali insiden teror yang melibatkan Muslim India. Selama saya tinggal di Hyderabad, banyak mendapatkan cerita tentang aksi teror yang melibatkan Muslim India. Pada 2007 misalnya, terjadi ledakan bom di Hyderabad, tepatnya di area Lumbini Park. Aksi ini diikuti dengan leadakan bom susulan di Gokul Chat Bhandar, salah satu restoran ternama di Hyderabad yang letaknya sekitar lima meter dari Lumbini Park. Kedua insiden ini telah menewaskan 42 jiwa. Pada 2013, ledakan bom terjadi kembali. Dua ledakan bom secara beruntun berlokasi di Dilsukhnagar, salah satu pusat perbelanjaan di Hyderabad. Keadaan seperti kemudian seringkali ditautkan dengan ancaman kehidupan beragama.

Kejadian serupa juga terjadi di banyak daerah. Kemampuan untuk menahan diri terhadap anarkisme dan pertikaian sosial seringkali menjadi tantangan bagi masyarakat India yang secara sosial, budaya dan agama cukup beragam.

Kelahiran India-Pakistan

Hingga saat ini, hubungan diplomasi India-Pakistan tidak berjalan dengan baik. Tentu, ada alasan-alasan di balik buruknya hubungan bilateral kedua negara yang bertetanggaan itu.

India dan Pakistan memiliki masalah yang hingga kini belum tuntas. Masalah tersebut lahir bersamaan dengan lahirnya kedua negara itu. Lahirnya Pakistan dilatarbelakangi keinginan terpisahnya masyarakat British India atas dasar agama. Permasalahan ini semakin mengemuka secara tajam sejak Inggris berencana akan memberikan kemerdekaan bagi British India.

Pakistan yang diwakili oleh Muhammad Ali Jinnah menginginkan adanya sebuah negara dengan penduduk Islam mayoritas. India yang diwakili oleh Jawaharlal Nehru menginginkan India bersifat inklusif dan berharap Jinnah mengurungkan ide atas lahirnya Pakistan sebagai negara tersendiri. Nehru bercita-cita India akan berdiri sebagai sebuah negara besar yang di dalamnya semua umat beragama dapat terwadahi, dengan memperlakukan seluruh warga negara sama.

Perundingan demi perundingan telah dilangsungkan. Perundingan demi perundingan berlangsung semakin sengit. Akhirnya, kelahiran Pakistan tidak lagi dapat terhindarkan. Beberapa alasan kenapa Pakistan harus lahir karena India didominasi oleh warga beragama Hindu. Secara politik, Islam tidak akan dapat mendapatkan posisi yang cukup dan kemenangan. Apalagi, sistem demokrasi yang diadopsi India menerapkan one person one vote.

Sejak diputuskannya Pemerintah Inggris akan meninggalkan India pada 1947, dan sejak diputuskannya India dan Pakistan akan berdiri masing-masing sebagai negara, terjadi gelombang besar migrasi. Umat Hindu yang berada di Pakistan berbondong-bondong berpindah ke wilayah India. Begitu juga dengan umat Islam yang tinggal di India, mereka berbondong-bondong meninggalkan India menuju Pakistan. Proses migrasi ini menelan jutaan korban jiwa di tengah perjalanan, selain banyaknya pemerkosaan dan penjarahan.

Kelahiran kedua negara ini diikuti dengan konflik atas nama agama. Meskipun India berdiri tidak atas dasar agama Hindu, dalam proses penyusunan konstitusi juga ada perdebatan untuk menjadikan India sebagai negara Hindu. Gagasan tersebut urung karena pemimpin India saat itu cenderung memiliki pandangan politik liberal dengan mengakomodasi keragaman yang dimiliki India.

Gerakan radikal Hindu

Tentu, hampir semua teman-teman yang membaca tulisan ini mengenal Mahatma Gandhi. Lebih akrab dipanggil Gandhi, namun sebetulnya nama lengkapnya adalah Mohandas Karamchand Gandhi. Gandi adalah simbol kebijaksanaan India. Lahirnya India yang menjujung keberagaman dalam persatuan India ini tidak lepas dari usaha Gandi untuk mempersatukan India. Gandhi seringkali dituduh tidak loyal terhadap Hindu karena kedekatan Gandhi dengan umat Muslim. Sebetulnya, Gandhi ingin membangun kepercayaan dan memiliki kedekatan dengan umat Muslim, sebagai cara untuk mempersatukan India.

Sikap akomodatif Gandhi ini melahirkan perlawanan dari gerakan radikal Hindu. Gerakan tersebut bernama Rashtrya Swayamsevak Sangh (RSS). Organisasi sayap kanan ini menginginkan India sebagai negara Hindu yang tentu saja berlawanan dengan sikap politik Gandhi. Singkat cerita, Gandhi dibunuh oleh aktor yang berafiliasi dengan RSS ini.

RSS ini sempat dibubarkan oleh Pemerintahan Indira Gandhi pada 1975. Namun, pembubaran RSS ini kemudian menjadi titik balik pembalasan dan insiden kekejaman yang terjadi di kemudian hari. Saat partai Indian National Congress (INC) berada pada titik krisis kepercayaan, terutama karena masifnya kasus korupsi yang melibatkan partai ini, gerakan radikal Hindu mendapat tempat besar. Bharatiya Janata Party (BJP) yang berafiliasi dengan RSS pada 2014 memenangkan pemilihan umum nasional. Konsekuensinya, partai ini menjadi partai berkuasa dan menempatkan Narendra Modi sebagai Perdana Menteri India.

Narenda Modi memiliki rekam jejak buruk dalam membina kerukunan umat beragama. Setidaknya, rekam jejak Modi bisa dilihat dari sikap diamnya saat Gujarat Riot 2002 berlangsung. Saat itu, Narendra Modi menjabat Gubernur Gujarat. Meninggalnya 60 jamaah Hindu yang dalam perjalanan di kereta api dari Ayodhya dibalas dengan penyerangan terhadap umat Islam dan masjid di Gujarat, menelan ribuan korban jiwa.

Ayodhya, Ramachandra, dan India

Tentu saja sangat ironis, saat agama menjadi alat tempur. Terlebih, sejarah ketuhanan di dalam agama Hindu tidak lepas dari nilai-nilai kebajikan. Dalam sejarahnya, saat itu, Raja Vikramaditya menemukan tanah yang disebut Ayodhya, tempat itu dipercaya sebagai tempat Ramachandraa mandi di Sungai Sarayu. Kemudian, Raja berusaha mencari tahu Rama dilahirkan. Setelah melakukan observasi, Raja Viramaditya membangun Ayodhya kota. Atas pembangunan kota tersebut, banyak orang dari tempat jauh mulai berbondong-bondong ke Ayodhya. Ayodhya yang sebelumnya merupakan hutan menjadi tempat besar, tempat suci.

Dari mitos menjadi fakta, kota legenda menjadi tempat nyata dan Rama diterima sebagai inkarnasi Tuhan di Bumi, dengan pusat di tepi sungai. Namun, kemudian, kisah yang sejak lama disucikan digunakan oleh kaum fundamentalis Hundu untuk melegitimasi supremasi Hindu di India, sebuah negara dengan banyak agama. Atas nama Rama, Rajanya Tuhan, manusia yang ideal, lambang keadilan, kekerasan sektarian menjadi tak terhindarkan di India.

Akbar vs Aurangzeb: tragedi kerukunan dan kekerasan

Banyak dari kita yang tidak asing dengan nama Akbar. Seringkali kita mendengar Jodha-Akbar di layar televisi. Akbar adalah salah satu kaisar dalam Dinasti Mughal. Dinasti Mughal sendiri adalah kekaisaran Islam yang memerintah hampir seluruh wilayah India. Salah satu peninggalan Dinasti Mughal adalah Taj Mahal, dibangun oleh Kaisar Shah Jahan sebagai bentuk cintanya kepada istrinya Mumtaz Mahal yang meninggal dunia.

Akbar identik dengan kaisar yang mengakomodasi perbedaan. Bahkan, untuk membangun kekuasaannya, Akbar menikahi perempuan Hindu bernama Jodha. Dalam pemerintahan, Akbar memperkenalkan filosofi negara bernama Dinul Ilahi (agama Tuhan). Dinul Ilahi adalah keimanan terhadap Tuhan secara sinkretis, disusun oleh Kaisar Akbar pada 1582 M. Dengan konsep ini, Akbar ingin menggabungkan beberapa elemen agama kekaisarannya, sehingga adanya rekonsiliasi atas perbedaan yang mengkotak-kotakkan warganya. Dinul Ilahi secara khusus disarikan dari unsur-unsur keagamaan yang terdapat dalam ajaran Islam dan Hindu, selain juga adanya akomodasi dari nilai-nilai ajaran agama Kristen, Jainisme, dan Zoroaster. Akbar dikenal sebagai kaisar yang mampu membawa India dalam kehidupan harmonis.

Pada dua generasi setelah Akbar, kaisar yang berkuasa adalah Aurangzeb. Berbeda dengan Akbar, banyak sumber menerangkan bahwa Aurangzeb menggunakan kekuasaannya untuk memerangi umat Hindu. Sebenarnya mungkin sudah menjadi watak Aurangzeb sendiri yang didorong oleh keinginan bertahta. Aurangzeb tercatat telah memenjarakan ayahnya (Shah Jahan) dan menjadi dalang pembunuhan ketiga saudara laki-lakinya. Anehnya, di balik sikap yang gila kekuasaan ini, Ia terkesan taat beragama, namun mengamalkan ajaran agama Islam secara kaku. Aurangzeb melarang penggunaan instrumen musik dan melakukan pembakaran terhadap alat-alat musik.

Satu hal dari tindakan Aurangzeb yang masih terekam kuat dalam ingatan umat Hindu dan seringkali digunakan oleh kelompok radikal Hindu adalah kebijaakannya melakukan persekusi terhadap umat Hindu. Selama berkuasa, Aurangzeb melakukan pembantaian terhadap umat Hindu dalam jumlah besar. Namun demikian, tentu saja, kontribusi Muslim India di masa lalu tidak hanya seburuk yang dilakukan oleh Aurangzeb. Ada kisah baik dan bijaksana yang telah dituliskan oleh Kaisar Akbar.


Sumber: kawanhukum.id

Tak Terasa, Sudah Empat Tahun Menjadi Dosen

Saya memulai berkarir sebagai dosen pada Maret 2016. Tak terasa, ternyata sudah empat tahun saya menjalani profesi ini. Sejauh ini, saya sudah mulai merasakan suka dan dukanya menjalani tugas merangkap sebagai pengajar sekaligus ilmuwan ini. Saya merasa ada peningkatan kapasitas akademik, dibandingkan saya sesaat setelah lulus magister ataupun saat memulai profesi ini. Satu hal yang saya sadari, menyelesaikan studi magister memang tidak gampang. Namun, masih banyak hal yang harus dikejar setelah lulus magister.

Melalui catatan ini, saya ingin bercerita kilas balik dan perjalanan saya menekuni dunia akademik. Kilas balik perjalanan ini menceritakan tahapan-tahapan saya, perkembangan dan kemajuan saya dalam dunia akademik. Sekaligus, usaha mengatasi kegagalan dan tantangannya.

Belajar Menulis

Saya memulai dunia tulis menulis, dunia penelitian adalah sejak memulai berkarir di dunia akademik ini. Memang, saya dulu, saat masih S1 aktif dalam kegiatan ilmiah. Tercatat saya memenangkan lomba debat, lomba karya ilmiah hingga terpilih menjadi mahasiswa berprestasi tingkat universitas. Prestasi demi prestasi tersebut tentu membanggakan. Beberapa orang menyebutnya itu sebagai prestasi yang prestisius. Namun, untuk berkarir di dunia akademik, masih diperlukan peningkatan kualitas.

Saya mulai menyadari akan tingginya kualitas akademik saat menjadi dosen sejak belajar bahasa Inggris. Setelah lulus S1, saya memulai kursus bahasa Inggris. Saya mengenal ragam asesmen kemahiran berbahasa Inggris, baik TOEFL maupun IELTS. Saya memulai belajar banyak hal tentang academic writing dari sini. Ternyata, untuk menjadi penulis yang baik itu ada tekniknya. Kita tidak hanya wajib punya ide lalu dituliskan dilengkapi referensi ilmiah. Lebih dari itu, kita juga perlu belajar untuk menuliskannya secara akademik. Penguasaan kosa kata dan gaya bahasa menjadi komponen yang tidak kalah penting selain ketepatan dalam berlogika.

Semuanya tidak saya pelajari di kampus. Melainkan, saya memelajarinya dari melatih diri meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris, baik melalui kursus maupun otodidak. Sejak itu, saya berusaha untuk menuliskan sesuatu standar akademik, termasuk belajar parafrase, mengolah ide yang dikemas dalam bahasa yang lebih sederhana, hingga mencari sumber referensi yang akurat.

S2 Adalah Masa Stagnasi?

Saya seringkali merasa bahwa S2 adalah masa-masa saya stagnasi dalam dunia tulis menulis. Saya meluangkan banyak waktu belajar dan memperluas sudut pandang berpikir. Selama saya kuliah S2, saya berusaha melahap banyak buku dan jurnal yang hampir semuanya dalam bahasa Inggris dan topik-topik terbaru. Saya berusaha keluar dari pakem yang sebelumnya sudah merasa nyaman dengan memelajari hukum konstitusi. Konon, saat masih S1, teman-teman bilang saya unggul di kajiaan ini meskipun saya merasa belum puas. Karena itu, saat S2 saya berusaha untuk memperluas kajian saya.

Saya mengambil LL.M. Hukum Perdagangan dan Ekonomi Internasional. Ini adalah kajian yang bisa dibilang sama sekali baru. Saya harus memelajari dasar-dasar hukum internasional sekaligus hukum ekonomi dana ilmu ekonomi sendiri. Selain itu, saya terkadang menyempatkan membaca hukum konstitusi India. Dari sini, justru saya merasa tertantang.

Dari sini pula, saya semakin merasa bodoh. Saya merasa ilmu dan pengetahuan yang sudah saya pelajari sebelumnya masih sangat terbatas. Ada kesadaran ternyata ilmu itu luas dan untuk melihatnya tidak hanya dengan satu segi, satu perspektif, satu pendekatan, satu disiplin, satu kajian.

Singkat cerita, akhirnya saya memiliki ketertarikan pada kajian organisasi internasional, khususnya kajian regional. Tesis saya membahas tentang keanggotaan Uni Eropa dalam WTO. Entah apa yang merasuki diriku…

Banyak teman-teman yang agak terheran. Saya seperti move on dari kajian hukum konstitusi. Meskipun, ternyata, saat saya menjadi dosen diberikan matakuliah kajian hukum konstitusi. hehee…

Saya memang mengkaji Uni Eropa dan WTO. Saya belajar banyak tentang dua organisasi yang cukup unik tersebut. Uni Eropa muncul sebagai pembaru konsep negara di dunia. Begitu juga WTO muncul dengan mereformasi sistem ekonomi dunia melalui serangkaian ide liberalisasi dan efisiensi dalam perekonomian domestik. Di balik saya mengambil tema ini, ternyata saya memiliki ketertarikan pada konsep federalisme Uni Eropa yang cukup unik, khususnya dalam urusan hubungan ekonomi internasional. Saya merasa teori konstitusi perlu bergerak ke depan dari pengalaman Uni Eropa. Saya semakin tertarik saya membaca tulisan Profesor Neil Walker dan Profesor Nico Krisch. Kalian bisa cari sendiri profil kedua ilmuwan ini dan fokus kajian mereka.

Kembali ke Indonesia

Saya mendapatkan ijazah dan sertifikat nilai pada 21 Agustus 2015. Sehari sebelum saya menyampaikan LPJ selaku Ketua PPI India. Mungkin karena aktif di organisasi juga yang menjadi salah satu latar belakang saya tidak begitu produktif, dibanding saat masih S1 yang punya delapan tulisan dan dua publikasi jurnal. Saya kembali ke Indonesia pada 14 September, transit di Kuala Lumpur pada 15 September, dan sampai di Jember pada 16 September. Ada waktu sekitar enam bulan saya menganggur. Saya memanfaatkan waktu itu dengan mengembangkan institusi pendidikan di rumah sekaligus proses penyetaraan ijazah S2. Bagi lulusan luar negeri, mereka harus menyetarakan ijazahnya ke Kementerian Pendidikan. Proses ini membutuhkan waktu sekitar tiga minggu. Lumayan lama bukan? Pada akhir Desember 2015 saya mendapatkan salinan penyetaraan ijazah tersebut.

Memulai Menjadi Dosen

Terhitung 01 Maret 2016, saya memulai berkarir menjadi dosen. Status saya adalah dosen non-pns. Ada yang menyebutnya juga dosen dengan perjanjian kerja. Saya baru efektif mengajar pada September 2016. Dari sini, saya mulai belajar banyak hal baru. Saya merasa kebingunan untuk menentukan fokus riset saya. Saya berusaha menyesuaikan topik penelitian dengan matakuliah yang saja ajarikan ke mahasiswa. Saya membutuhkan waktu satu tahun untuk kemudian bisa menghasilkan satu tulisan. Tulisan saya pertama kali saat menjadi dosen adalah book chapter berjudul, “Pancasila dalam Arus Liberalisasi Pangan Pascareformasi.”

Kemudian, saya ikut konferensi nasional dengan topik HAM di Palu. Kemudian saya perbaiki tulisan tersebut dan baru pada tahun 2019 diterbitkan dalam Journal of Indonesian Legal Studies (JILS). Sebelumnya, saya memasukkan tulisan ini ke Arena Hukum, jurnal hukum Universitas Brawijaya. Keputusan Editor-in-Chief menolak tulisan tersebut. Saya memperbaiki tulisan tersebut dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. JILS dan Arena Hukum sama-sama jurnal terakreditasi nasional dengan peringkat SINTA 2. Mungkin seperti itulah kebijakan ataupun selera pengelola jurnal. Hehee…

Pada akhir 2017, saya menerbitkan satu tulisan book review. Tulisan ini sekaligus menjadi penutup 2017 saya dengan menghasilkan dua tulisan.

Tertarik Dunia Riset dan Publikasi

Bisa dibilang, 2018 adalah awal kebangkitaan saya menekuni riset dan publikasi. Pada saat yang bersamaan, Universitas Jember, kampus di mana saya bekerja, juga semakin giat untuk mendukung dosen-dosennya meneliti dan mempublikasikan hasil penelitiannya. Salah satunya adalah program kelompok riset. Saya bergabung dengan kelompok riset dan mempublikasikan hasil penelitian. Selain itu, saya juga mengajukan hibah penelitian pemula, selain juga menulis tulisan mandiri. Pada 2018, saya hanya memiliki satu tulisan, namun terbit di jurnal internasional. Sebenarnya pada tahun ini saya sudah menghasilkan beberapa tulisan, namun masih dalam tahap submission dan baru terbit pada 2019.

Pada akhir 2018, saya mengikuti program visiting scholar, ke Nagoya University. Saya memelajari regulasi bioteknologi di Indonesia. Saya menghasilkan satu tulisan dan saya sudah memasukkan tulisan tersebut ke jurnal internasional terindeks scopus.

Pada 2019, saya memiliki enam publikasi ilmiah. Empat berbahasa Inggris dan dua berbahasa Indonesia. Saya juga sudah submit sepuluh tulisan pada jurnal nasional dan internasional. Semuanya masih dalam tahap review. Mungkin, publikasinya baru pada 2020.

Semuanya butuh proses, bos…

Melamar Beasiswa

Sepanjang 2019, saya mencoba melamar tiga beasiswa. Beasiswa tersebut antara lain ditawarkan oleh Pemerintah Selandia Baru, Pemerintah Australia dan Pemerintah Indonesia (LPDP). Saya merasakan pengalaman ini mirip selepas saya selesai S1 dan mengejar beasiswa luar negeri. Bedanya, kondisi finansial saya jauh lebih baik dibanding saat saya mengejar beasiswaa S2 sekitar tujuh tahun silam.

Beasiswa pertama yang saya lamar ditawarkan oleh Pemerintah Selandia Baru. Hasilnya, bahkan saya tidak eligible mendapatkan beasiswa tersebut. Mungkin saya salah klik waktu itu. Entaha kenapa dalam pengumumannya tertulis saya tidak eligible.

Beasiswa kedua adalah yang ditawarkan oleh Pemerintah Australia. Saya mempersiapkannya bahkan dengan mengikuti kursus persiapan IELTS di Surabaya. Selama dua bulan di akhir pekan saya ke Surabaya untuk mengambil kursus IELTS Preparation. Hasil IELTS saya bisa digunakan untuk apply beasiswa Australia Awards. Namun, sayangnya, saya tidak lolos seleksi, tidak masuk shortlisted candidates untuk tahap wawancara.

Kemudian, saya mencoba melamar beasiswa LPDP. Saya mengikuti program gelombang kedua. Saya lolos seleksi administrasi, seleksi tulis, hingga proses wawancara. Wawancara adalah proses akhir dalama rangkaian seleksi ini. Hasilnya, saya tidak lolos. Ada beberapa hal yang saya perlu melakukan evaluasi sekaligus saya banyak belajar dari sini, khususnya setelah proses wawancara saya yang berlangsung sekitar satu jam, atau bahkan lebih dari satu jam. Tampak sekali, tiga pewawancara berusaha ingin saya meyakinkan mereka bahwa saya adalah kandidat yang tepat mendapatkan beasiswa ini. Sayangnya, saya memang tidak update CV saya dalam formulir LPDP (itu formulir sekitar enam tahun lalu saat mau coba apply LPDP tahun 2013). Saya juga tidak membawa dokumen pendukung seperti publikasi ilmiah saya, termasuk salinan komunikasi saya dengan calon supervisor saya melalui email.

Saya akan mencoba kembali untuk apply beasiswa pada 2020.

Mengelola Jurnal

Sejak 2017, saya mendapatkan tugas mengelola jurnal, LENTERA HUKUM. Jurnal ini didirikan pada 2014 dan hanya terbit sekali. Pada awal 2017 saya bersama tim memulai menghidupkan jurnal tersebut. Saya merasa ini adalah tugas yang cukup berat. Namun, saya percaya bahwa seiring dengan berjalannya waktu, semua akan dapat teratasi. Setelah dua tahun berlalu, pada awal 2019, jurnal ini terakreditasi SINTA 3. Beberapa bulan kemudian, sejak edisi July 2019, seluruh artikel diterbitkan dalam bahasa Inggris. Kami berusaha untuk meningkatkan peringkat jurnal ini ke dalam SINTA 2. Selanjutnya, secara bertahap, kami berusaha jurnal ini nantinya akan menjadi jurnal internasional bereputasi.

Selain itu, mulai 2020 ini, karena rekam jejak saya dalam mengelola LENTERA HUKUM, saya akhirnya mendapat tugas baru mengelola dua jurnal baru. Jurnal baru tersebut adalah Indonesian Journal of Law and Society dan Jurnal Ilmu Kenotariatan. Berarti, saat ini, ada tiga jurnal yang harus saya kelola selain semakin padatnya tugas akademik lainnya.

 

Kampus Merdeka: Untuk Peningkatan Kualitas atau Komoditas?

Baru-baru ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, menggulirkan paket kebijakan kedua, Kampus Merdeka. Paket kebijakan pertama adalah Merdeka Belajar. Paket kebijakan pertama mereformasi sistem pendidikan pada jenjang dasar dan menengah, sedangkan paket kebijakan kedua mereformasi sistem pada jenjang pendidikan tinggi.

Dua paket kebijakan tersebut disambut hangat oleh banyak kalangan. Nadiem berusaha untuk menyederhakan administrasi pendidikan sekaligus memperkenalkan standar tata kelola yang lebih tinggi. Pada satu sisi, pendidikan yang merdeka ala Nadiem untuk dapat merespon perkembangan zaman, sekaligus agar ilmu dan praktik dapat berjalan beriringan. Pada sisi lain, pendidikan yang merdeka ini ditengarai sebagai pemuas kebutuhan pasar. Pendidikan menjadi alat untuk menyerap tenaga kerja.

Kampus Merdeka

Sejak ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem menggunakan jargon ‘Merdeka’ dalam paket kebijakannya. Istilah ini bisa menggambarkan dobrakan atau bahkan revolusi dalam sistem pendidikan Indonesia.

Paket pertama digulirkan setelah dikeluarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang diterbitkan pada Desember 2019. Tidak berbeda jauh dengan hasil-hasil PISA sebelumnya, pendidikan Indonesia kembali masuk dalam jajaran terbawah peringkat dunia. Nadiem sengaja menunggu hasil PISA 2018 untuk menyusun kebijakan baru yang kemudian dikenal dengan Merdeka Belajar.

Paket kedua digulirkan setelah mengevaluasi betapa rumitnya birokrasi kampus yang dianggap tidak responsif sehingga menghambat dunia kampus mewujudkan tridharma pendidikan tinggi. Kampus Merdeka memiliki empat substansi dasar, yaitu percepatan PTN satuan kerja menjadi PTN BH, penyederhanaan akreditasi, syarat baru pembukaan program studi baru, dan kuliah di luar program studi serta kebijakan magang.

Terlepas dari masing-masing permasalahan yang cukup beragam, baik paket kebijakan pertama maupun paket kebijakan kedua, bisa dibilang keduanya disatukan dengan keinginan pendidikan Indonesia dapat out of the box. Pendidikan diharapkan dapat mengikuti perkembangan zamannya dan dapat menjawab permasalahan saat ini dan masa mendatang. Pemerintah berusaha mendorong peningkatan kualitas pendidikan nasional yang lebih responsif terhadap kebutuhan pasar dan tantangan global.

Globalisasi Ekonomi dan Kebutuhan Industri 

Seiring dengan cepatnya arus globalisasi, pendidikan turut mengikuti standar global. Inovasi menjadi salah satu faktor yang menentukan untuk keberlangsungan dan kemajuan pendidikan, khususnya pada tingkat perguruan tinggi. Selanjutnya, globalisasi ekonomi dan inovasi menjadi faktor utama penggerak peningkatan efisiensi. Konsekuensinya, peluang kerja menjadi semakin kompetitif. Keadaan ini mendorong universitas menjadi lebih responsif dari sekedar menerapkan pola pengajaran konvensional atau sebatas mengejar nilai dan mendapatkan ijazah.

Lebih dari itu, universitas harus menawarkan keterampilan-keterampilan baru yang lazim disebut dengan soft-skills. Keterampilan ini harus didapatkan mahasiswa selain hard-skills yang sejalan dengan jurusan atau program studi yang diambil mahasiswa. Seiring dengan perkembangan zaman, soft-skills terus berubah dan semakin kompleks. World Economic Forum secara rutin merilis perkembangan soft-skills yang dibutuhkan dari tahun ke tahun di abad ke-21.

Sepertinya, Nadiem ingin perguruan tinggi melihat ke arah ini. Perguruan tinggi tidak hanya sebatas bergerak ke dalam dengan menguasai ilmu di bidangnya, tetapi juga ada persilangan dan percakapan ilmu pengetahuan agar lulusan perguruan tinggi lebih siap menghadapi tantangan-tantangan baru di abad ini.

Perbaikan Kualitas dengan PTN BH

Banyak kalangan optimis dengan terobosan yang dikeluarkan oleh Nadiem. Namun, banyak juga kalangan pesimis terhadap kebijakan ini. Kalangan yang optimis memandang Indonesia perlu terobosan, sedangkan kalangan yang pesimis melihat bahwa kebijakan ini tak bedanya sebagai usaha mempercepat liberalisasi dan privatisasi perguruan tinggi berikut mempersiapkan lulusan perguruan tinggi sebatas menjadi calon buruh yang terampil di dunia industri.

Salah satu indikator usaha liberalisasi dan privatisasi adalah dengan kemudahan perguruan tinggi mendapatkan status PTN BH. Diskursus tentang keberadaan PTN BH sudah berlangsung sejak lama, sebelum Mahkamah Konstitusi membatalkan UU Badan Hukum Pendidikan yang terkandung dorongan pemerintah untuk liberalisasi dan privatisasi perguruan tinggi. Sejak itu, status beberapa perguruan tinggi terbaik menjadi BHMN. Perguruan tinggi dengan status BHMN mendapatkan kemudahan dalam administrasi, khususnya administrasi keuangan. Sebaliknya, kemudahan yang merupakan bagian dari otonomi kampus tersebut seringkali ditukar dengan pengenaan biaya pendidikan yang lebih mahal, dibebankan kepada mahasiswa.

Seiring waktu, status PTN terdiri atas tiga jenis, yaitu PTN BH, PTN BLU dan PTN Satker. PTN berlomba-lomba meningkatkan statusnya hingga menjadi PTN BH. Proses dan tahapan tertentu harus dilalui untuk mendapatkan status tersebut. Oleh karena itu, banyak PTN Satker secara bertahap menjadi PTN BLU, begitu juga PTN BLU meningkatkan statusnya menjadi PTN BH. Dalam kebijakan Nadiem terbaru, PTN yang masih Satker mendapatkan kemudahan untuk menjadi PTN BH.

Usaha pemerintah agar PTN mendapatkan status PTN BH tampaknya dorongan untuk privatisasi dan liberalisasi pendidikan agar PTN lebih responsif dalam tata kelola, meskipun secara tidak langsung berdampak pada mahalnya biaya pendidikan. Dalam praktiknya, PTN BH mengarah pada komersialisasi pendidikan dan menjadikan akses pendidikan tinggi menjadi semakin sulit.

Terlepas dari itu, usaha ini bisa diklaim sebagai langkah awal untuk memperbaiki kualitas PTN. Banyak PTN yang harus terkendala permasalahan administrasi karena keterbatasan pendanaan dan pada sisi lain ada batas-batas birokrasi yang sangat panjang untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi. Usaha ini sekaligus untuk mengejar perguruan tinggi agar masuk dalam jajaran top 100 universities.

Saat PTN telah diatur sedemikian rupa, bagaimana dengan perguruan tinggi swasta (PTS)? Sejauh ini, kebijakan ini hanya diperuntukkan bagi PTN. Tentu, seharusnya saat bicara perguruan tinggi juga mencakup PTN dan PTS. Pada akhirnya, dengan semangat liberalisasi dan privatisasi, bisa dibilang ke depannya akan semakin tidak ada perbedaan yang signifikan antara PTN dan PTS.

Mahasiswa Sebagai Komoditas Pasar

Ketatnya persaingan kerja mendorong penguasaan keterampilan-keterampilan baru. Sebagai akibat globalisasi, persaingan kerja tidak hanya pada level domestik tetapi juga global. Tentu kita masih ingat, globalisasi juga mencakup kebebasan perpindahan tenaga kerja terampil antarnegara. Perusahaan akan mencari calon tenaga kerja yang sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan terlepas kewarganegaraan apa.

Keadaan ini akan semakin mewarnai dunia ketenagakerjaan di Indonesia ke depan. Tenaga kerja Indonesia tidak akan sebatas bersaing dengan tenaga kerja Indonesia lainnya. Di sini, peran perguruan tinggi menjadi semakin penting, khususnya untuk mencetak calon lulusan yang akan siap dalam persaingan kerja dengan standar global. Fenomena seperti ini selanjutnya secara perlahan-lahan akan mengubah peran dan fungsi pendidikan sebagai agen untuk memenuhi kebutuhan pasar. Mahasiswa menjadi komoditas pasar sumber daya manusia (SDM) yang akan bersaing dengan mahasiswa lainnya.

Kualitas perguruan tinggi dalam membesut mahasiswa sebagai calon komoditas pasar SDM ini juga ditentukan dari kebijakan akreditasi yang diperkenalkan Nadiem. Masa akreditasi perguruan tinggi lebih lama namun dengan syarat banyak lulusan dapat terserap dunia kerja. Apabila syarat daya keterserapan lulusan dalam dunia tidak terpenuhi, akan dilakukan evaluasi.

Terlepas dengan administrasi terbaru tersebut, lalu bagaimana dengan posisi perguruan tinggi sebagai pusat ilmu pengetahuan?


Tulisan ini dimuat di: kawanhukum.id

Peneliti UNEJ Terpilih dalam 43rd Southeast Asian Seminar oleh Kyoto University

Pada bulan November 2019, Peneliti Centre for Human Rights, Multiculturalism, and Migration (CHRM2) sekaligus dosen Fakultas Hukum Universitas Jember, Muhammad Bahrul Ulum, menjadi salah satu dari 11 peserta di seluruh Asia untuk mengikuti Seminar Asia Tenggara ke-43 2019. Seminar ini diadakan setiap tahun oleh Centre for Southeast Asian Studies (CSEAS), Universitas Kyoto sejak 1977. Sebagai program seminar multidisiplin, program ini secara tematis tersusun dalam berbagai topik dan berlangsung selama tujuh hari. Kegiatan ini terdiri atas workshop, studi banding, penelitian lapangan, diskusi dan presentasi oleh peserta dan para peneliti CSEAS Kyoto University.

Tahun ini, Seminar ini diadakan di Hanoi, Vietnam, diselenggarakan bersama oleh Centre for Southeast Asian Studies (CSEAS), Universitas Kyoto dan Central Institute for Natural Resources and Environmental Studies (VNU-CRES), Vietnam National University.

Tema seminar adalah Economic Growth, Ecology, and Equality: Learning from Vietnam. Secara umum, di seluruh dunia, pertumbuhan ekonomi sering menyebabkan degradasi ekologis dan ketidaksetaraan. Banyak negara telah mengalami kerusakan ekologis dan berbagai bentuk ketidaksetaraan, misalnya, akses yang tidak merata ke sumber daya alam, kesempatan kerja dan pendidikan yang tidak merata, serta kesenjangan regional, antara lain. Kesulitan seperti itu juga menjadi salah satu masalah paling kritis dan mendesak di Asia Tenggara.

Vietnam dipilih menjadi tempat Seminar Asia Tenggara tahun ini karena keunikannya, saat ini, salah satu negara paling kuat secara ekonomi di kawasan itu yang bergeser dari rezim sosialis ke ekonomi berorientasi pasar. Di tengah perkembangan pesatnya dalam beberapa dekade terakhir, Vietnam, dalam berbagai cara, telah berupaya untuk memastikan keseimbangan yang baik antara pertumbuhan, ekologi, dan kesetaraan. Oleh karena itu, tujuan seminar ini adalah untuk belajar dari pengalaman transisi sosial-ekonomi Vietnam dibandingkan dengan kasus-kasus lain di Asia Tenggara.

Perwakilan dari Jepang sekaligus koordinator program ini adalah Professor Yanagisawa Masayuki dari CSEAS Kyoto University Jepang. Pembicara dari Vietnam yang memberikan kuliah di awal program yaitu Director VNU-CRES Dr Luu The Anh tentang Risks and Challenges to Sustainable Development in Vietnam dan Vice President Vietnam Academy of Agricultural Sciences Dr Dao The Anh tentang Agricultural Policy to Minimize Inequality in Agricultural Sector in Vietnam. Turut hadir Director CSEAS Kyoto University Jepang Professor Hayami Yoko yang memberikan kuliah Different But/and Equal: Gender and Diversity in Southeast Asia.

Seluruh peserta di bawa ke lapangan untuk menganalisis beberapa kasus dalam konteks ekonomi, sosial, dan lingkukan misalnya di Ay Tuu flower village (Làng hoa Tây Tựu, Từ Liêm, Hà Nội), Chang Son paper fan village (Làng nghề quạt giấy Chàng Sơn, Thạch Thất, Hanoi), Phu Vinh Rattan-Bamboo craft village (Làng nghề mây tre đan Phú Vinh, Chương Mỹ, Hà Nội), Lang Chuong making conical-hat village (Làng nghề làm nón Làng Chuông, Phương Trung, Thanh Oai, Hà Nội), dan juga berkunjung ke daerah perbatasan Vietnam dan Laos yaitu Nghe An Province, Anh Son district.

Sumber: chrm2.unej.ac.id

Ketidaktegasan Media Terhadap Politik Industri Ekstraktif

Saat ini, industri ekstraktif di Indonesia semakin meluas. Usaha untuk mengeksploitasi kekayaan alam banyak terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Kompleksitas permasalahan regulasi industri ekstraktif tidak hanya  menyisakan konflik agraria tetapi juga permasalahan keberlanjutan lingkungan dan pertarungan media.

Pertarungan media menghasilkan fragmentasi informasi yang berpengaruh pada persepsi publik. Media memiliki peran strategis untuk memecah pemahaman masyarakat untuk melanggengkan oligarki dalam upaya eksploitasi industri ekstraktif.

Independensi media menjadi pertanyaan di tengah sedikitnya media yang memiliki keberpihakan pada informasi yang seimbang dan merefleksikan permasalahan di lapangan. Pembatasan media juga menjadi penghambat akan hadirnya informasi yang seimbang.

Di Papua misalnya, pembatasan media berakibat terbatasnya informasi yang terjadi di wilayah tersebut. Pada saat adanya media yang menyajikan informasi di papua, Reuters misalnya, justru informasi yang disampaikan Reuters dianggap hoax oleh Pemerintah. Kenyataan ini mengindikasikan bahwa Pemerintah ingin memanipulasi informasi di atas kebutaan masyarakat atas keadaan yang sebetulnya terjadi di Papua.

Papua menjadi salah satu kawasan yang memiliki beragam kekayaan alam. Hadirnya kekayaan alam menjadi kepentingan oligarki untuk dapat memeras habis keuntungan yang dimiliki wilayah tersebut. Ada kepentingan oligarki dan melibatkan Pemerintah untuk melindungi kepentingan oligarki tersebut. Tidak jarang kepentingan oligarki yang bertentangan dengan kepentingan usaha memakmurkan kesejahteraan masyarakat tersebut berakhir dengan kriminalisasi aktivis. Para aktivis yang menyuarakan hak masyarakat setempat berakhir dengan jalur hukum.

Baru-baru ini, aktivis yang menyuarakan Papua, Veronica Koman dan Dandhy Dwi Laksono harus berurusan hukum karena pernyataan kritisnya. Jauh sebelumnya ada Budi Pego yang harus dituduh komunis dan berurusan proses hukum karena menolak penambangan emas Tumpang Pitu di Banyuwangi.

Satu hal yang menyatukan keadaan tersebut di atas ditengarai peran media. Tampaknya, media-media di Indonesia masih kurang memiliki posisi kritis dalam menyajikan pemberitaan eksploitasi sumber daya alam. Baru-baru ini, pemberitaan Radar Jember menyajikan pemberitaan yang sangat bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya di Puger. Ini menjadi salah satu indikasi tidak seimbangnya informasi media.

Pada 27 Mei 2019, Radar Jember memberitakan kebaikan PT. Semen Imasco yang membangun jalan aspal bagi masyarakat. Faktanya, berdasarkan informasi masyarakat di lapangan, pembangunan jalan aspal ditengarai protes masyarakat atas kebisingan pembangunan PT. Semen Imasco yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari pemukiman masyarakat. Protes tersebut dilayangkan oleh masyarakat dengan mengumpulkan tanda tangan dengan menuntut ganti rugi. Hasilnya, PT. Semen Imasco melakukan pembangunan jalan sebagai reaksi dari protes masyarakat tersebut.

Keterbatasan media yang memberikan pencerahan dan keberimbangan informasi tersebut dibarengi semakin suburnya buzzer. Belakangan ini, buzzer memiliki peran strategis dalam memainkan media masa dengan menambahkan sumber rujukan yang berpihak pada kepentingan pemerintah dan oligarki. Kenyataan-kenyataan demikian menjadi tantangan baru terhadap kebebasan pers di Indonesia dan persepsi publik yang partisan terhadap informasi yang sesungguhnya terjadi di lapangan.

Dimuat di: kawanhukum.id