Posts by MUHAMMAD

Ketidaktegasan Media Terhadap Politik Industri Ekstraktif

Saat ini, industri ekstraktif di Indonesia semakin meluas. Usaha untuk mengeksploitasi kekayaan alam banyak terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Kompleksitas permasalahan regulasi industri ekstraktif tidak hanya  menyisakan konflik agraria tetapi juga permasalahan keberlanjutan lingkungan dan pertarungan media.

Pertarungan media menghasilkan fragmentasi informasi yang berpengaruh pada persepsi publik. Media memiliki peran strategis untuk memecah pemahaman masyarakat untuk melanggengkan oligarki dalam upaya eksploitasi industri ekstraktif.

Independensi media menjadi pertanyaan di tengah sedikitnya media yang memiliki keberpihakan pada informasi yang seimbang dan merefleksikan permasalahan di lapangan. Pembatasan media juga menjadi penghambat akan hadirnya informasi yang seimbang.

Di Papua misalnya, pembatasan media berakibat terbatasnya informasi yang terjadi di wilayah tersebut. Pada saat adanya media yang menyajikan informasi di papua, Reuters misalnya, justru informasi yang disampaikan Reuters dianggap hoax oleh Pemerintah. Kenyataan ini mengindikasikan bahwa Pemerintah ingin memanipulasi informasi di atas kebutaan masyarakat atas keadaan yang sebetulnya terjadi di Papua.

Papua menjadi salah satu kawasan yang memiliki beragam kekayaan alam. Hadirnya kekayaan alam menjadi kepentingan oligarki untuk dapat memeras habis keuntungan yang dimiliki wilayah tersebut. Ada kepentingan oligarki dan melibatkan Pemerintah untuk melindungi kepentingan oligarki tersebut. Tidak jarang kepentingan oligarki yang bertentangan dengan kepentingan usaha memakmurkan kesejahteraan masyarakat tersebut berakhir dengan kriminalisasi aktivis. Para aktivis yang menyuarakan hak masyarakat setempat berakhir dengan jalur hukum.

Baru-baru ini, aktivis yang menyuarakan Papua, Veronica Koman dan Dandhy Dwi Laksono harus berurusan hukum karena pernyataan kritisnya. Jauh sebelumnya ada Budi Pego yang harus dituduh komunis dan berurusan proses hukum karena menolak penambangan emas Tumpang Pitu di Banyuwangi.

Satu hal yang menyatukan keadaan tersebut di atas ditengarai peran media. Tampaknya, media-media di Indonesia masih kurang memiliki posisi kritis dalam menyajikan pemberitaan eksploitasi sumber daya alam. Baru-baru ini, pemberitaan Radar Jember menyajikan pemberitaan yang sangat bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya di Puger. Ini menjadi salah satu indikasi tidak seimbangnya informasi media.

Pada 27 Mei 2019, Radar Jember memberitakan kebaikan PT. Semen Imasco yang membangun jalan aspal bagi masyarakat. Faktanya, berdasarkan informasi masyarakat di lapangan, pembangunan jalan aspal ditengarai protes masyarakat atas kebisingan pembangunan PT. Semen Imasco yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari pemukiman masyarakat. Protes tersebut dilayangkan oleh masyarakat dengan mengumpulkan tanda tangan dengan menuntut ganti rugi. Hasilnya, PT. Semen Imasco melakukan pembangunan jalan sebagai reaksi dari protes masyarakat tersebut.

Keterbatasan media yang memberikan pencerahan dan keberimbangan informasi tersebut dibarengi semakin suburnya buzzer. Belakangan ini, buzzer memiliki peran strategis dalam memainkan media masa dengan menambahkan sumber rujukan yang berpihak pada kepentingan pemerintah dan oligarki. Kenyataan-kenyataan demikian menjadi tantangan baru terhadap kebebasan pers di Indonesia dan persepsi publik yang partisan terhadap informasi yang sesungguhnya terjadi di lapangan.

Dimuat di: kawanhukum.id

8 Kampus Hukum Terbaik di Asia Tenggara 2019

Banyak yang mungkin sudah membaca peringkat perguruan tinggi, baik tingkat nasional maupun internasional. Kita juga sudah sering membaca peringkat kampus hukum terbaik di dunia maupun Asia. Lalu bagaimana dengan peringkat kampus hukum terbaik di Asia Tenggara? Pada 2019, QS World University Rankings telah merilis daftar kampus hukum terbaik di Asia Tenggara.

Kampus hukum mana saja kira-kira? Berikut daftarnya:

1. National University of Singapore (NUS) Faculty of Law.

Dengan jargon Asia’s Global Law School, NUS Faculty of Law sudah lebih dari lima tahun berturut-turut menyabet gelar kampus hukum terbaik di Asia. Dan, tentu saja terbaik di Asia Tenggara. Kuliah di kampus ini akan membawa kita pada dimensi global, berkat kurikulumnya sudah bertaraf internasional dan dosen-dosennya lulusan kampus top di dunia. Selengkapnya klik.

2. Nanyang Technological University (NTU) Business School.

NTU Business School menduduki peringkat kedua sebagai kampus hukum terbaik di Asia Tenggara. Fakultas Bisnis? Iya, Fakultas Bisnis di kampus ini juga menawarkan program ilmu hukum dengan fokus business law. Selengkapnya klik.

3. Singapore Management University (SMU) School of Law.

SMU adalah kampus swasta di Singapura. Kampus ini tergolong masih relatif muda, berusia 19 tahun. Meskipun demikian, kampus hukumnya dinobatkan sebagai kampus terbaik nomor tiga di Asia Tenggara. Selengkapnya klik.

4. Universiti Malaya (UM) Faculty of Law.

UM adalah kampus terbaik yang dimiliki Malaysia. Dalam sejarahnya, saat Singapura masih menjadi bagian dari Malaysia, NUS adalah bagian dari UM. Setelah dua negara ini bercerai kemudian memiliki manajemen yang terpisah. Fakultas Hukum UM sebagai kampus hukum terbaik di Malaysia memiliki cukup banyak dosen asing. Komponen ini juga menjadi salah satu indikator dalam penilaian peringkat kampus dunia. Selengkapnya klik.

5. Chulalongkorn University Faculty of Law.

Kampus hukum terbaik di Thailand ini mengklaim sebagai kampus hukum terbaik yang menggabungkan unsur akademis dan profesional untuk menghasilkan lulusan yang pandai dan berkeperibadian. Sebagai kampus hukum No. 1 di Thailand, Chulalongkorn University Faculty of Law tengah giat meningkatkan kualitas dengan standar internasional. Kampus ini unggul pada hukum bisnis. Selengkapnya klik.

6. Thammasat University (TU) Faculty of Law.

TU Faculty of Law menduduki peringkat kedua kampus terbaik di Thailand dan peringkat keenam di Asia Tenggara. Kampus ini memiliki jaringan internasional dan sangat giat mengadakan kegiatan-kegiatan internasional yang berkontribusi pada peningkatan mutu akademik. Selengkapnya klik.

7. Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Faculty of Law.

Kampus nomor dua di Malaysia ini semakin giat meningkatkan standar akademiknya berikut publikasi ilmiah dosen guna mendongkrak peringkatnya dalam jajaran kampus terbaik dunia. Selengkapnya klik.

8. University of the Philippines (UP) College of Law.

Kampus terbaik di Filipina ini adalah kampus tertua di Filipina. Kampus hukumnya memiliki relatif banyak dosen lulusan Amerika. Selengkapnya klik.

Demikianlah daftar kampus hukum terbaik di Asia Tenggara versi QS World University Rankings 2019. QS mencatat hanya terdapat delapan kampus hukum terbaik di Asia Tenggara sebagaimana daftar tersebut di atas. Untuk informasi lebih lanjut silakan kunjungi website resminya pada laman ini.

We don’t aim, then, to produce “lawyers”. We aim to produce leaders who can be successful in whatever path they choose.  Simon Chesterman

Tulisan ini dimuat di: kawanhukum.id

Indeks Modal Manusia Indonesia di bawah Filipina dan Vietnam, Lalu Bagaimana?

Pada akhir 2018, Bank Dunia merilis peringkat indeks modal manusia (human capital index) sebagai bagian dari laporan pembangunan dunia 2019. Peringkat ini menempatkan Indonesia berada pada peringkat ke-87 dari total 157 negara. Skor yang dicapai Indonesia adalah 0.53 yang menegaskan bahwa setiap anak yang lahir memiliki sekitar 53% kesempatan untuk tumbuh. Pertumbuhan ini dengan syarat mereka mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan.

Untuk tingkat ASEAN, Indonesia menempati posisi ke-6 setelah Singapura, Vietnam, Malaysia, Thailand dan Filipina. Ini juga menegaskan bahwa Indonesia mencatatkan posisi terendah ke-4 di ASEAN, hanya unggul di atas Kamboja, Myanmar, Laos dan Timor Leste.

Indeks Modal Manusia digunakan untuk mengukur derajat manusia sebagai modal suatu negara. Indeks ini mengukur kontribusi kesehatan dan pendidikan untuk melihat produktivitas generasi pekerja yang akan datang.

Laporan ini memiliki tiga komponen penilaian, yaitu kelangsungan hidup, jumlah dan kualitas pendidikan dan kesehatan. Kelangsungan hidup diukur dengan angka kematian balita. Jumlah dan kualitas pendidikan diujur dengan menyelaraskan nilai ujian dan kuantitas jumlah tahun sekolah yang diharapkan diperoleh anak pada usia 18 tahun. Kesehatan diujur dengan tingkat kelangsungan hidup orang dewasa dan tingkat stunting untuk anak di bawah usia 5 tahun. Di antaranya menyangkuindekt komponen peluang hidup hingga usia 5 tahun, kualitas dan kuantitas pendidikan, serta kesehatan termasuk isu stunting.

Kebijakan Pemerintah
Rendahnya nilai indeks yang dicapai oleh Indonesia menegaskan bahwa pemerintah belum memiliki kebijakan yang tepat dan reponsif terhadap permasalahan utama. Akses kesehatan menjadi aspek yang penting untuk memastikan generasi Indonesia dapat tumbuh dengan sehat. Selain itu, alokasi anggaran pendidikan yang setiap tahun lebih dari 20% dari APBN belum dapat menjamin akses pendidikan yang inklusif. Angka putus sekolah masih relatif tinggi dan masih belum meratanya kualitas pendidikan Indonesia menjadi tantangan besar dalam menyiapkan SDM yang berdaya saing.

Pembekalan keterampilan khusus dengan pelatihan-pelatihan menjadi sangat diperlukan. Peran Ketenagakerjaan menjadi penting di tengah persaingan global yang menuntut keterampilan-keterampilan baru dan menggeser keterampilan-keterampilan lama karena faktor efisiensi.

Usaha tersebut di atas perlu respon dalam waktu yang relatif cepat. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menyebutkan jika hal tersebut tak diperbaiki, dikhawatirkan anak-anak Indonesia kesulitan bersaing di tengah lajunya persaingan global. Penyiapan SDM yang unggul menjadi kebutuhan sebagai tolok ukur utama peningkatan derajat dan kualitas manusia yang berkontribusi sebagai modal Indonesia ke depan.

Tulisan ini dimuat di kawanhukum.id

Apakah Jakarta Sudah Saatnya Menggunakan Mobil Listrik?

Situs data yang menyediakan informasi polusi udara, AirVisual, hampir setiap hari mencatatakan Jakarta sebagai kota paling berpolusi di dunia. Dalam situs ini, tingginya polusi ditandai dengan warna merah hingga unggu. Jakarta berada di atas New Delhi, Chengdu, dan Mumbai yang seringkali menembus angka 210.

Tingginya polusi ini mendapatkan kritikan dari berbagai pihak. Green Peace Indonesia, misalnya, menyerukan masyarakat Jakarta untuk memakai masker untuk mengantisipasi pengaruh buruk dari polusi ini. Seruan ini didasarkan pada data dari satelit LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) yang mencatat polusi udara Jakarta sudah pada level waspada.

Pada awal Agustus 2019, telah resmi dimulai persidangan gugatan warga negara (citizen law suit) atas memburuknya kualitas udara di Jakarta. Gugatan yang menuntut hak atas kualitas udara ini diajukan oleh Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (LBH) Jakarta, Green Peace Indonesia dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta. Pihak tergugat antara lain Presiden, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, Gubernur DKI Jakarta, serta turut tergugat Gubernur Jawa Barat, dan Gubernur Banten.

Akun Instagram @akudanpolusi memaparkan bahwa gugatan tersebut diajukan karena warga memiliki hak atas peringatan kualitas udara yang buruk, termasuk sosialisasi dan informasi tentang keakuratan deteksi polusi udara yang dilakukan oleh Pemerintah. Tingginya tingkat polusi tersebut diketahui bukan dari Pemerintah, melainkan dari situs AirVisual tersebut di atas.

Jakarta Butuh Alternatif
Terdapat beberapa alternatif yang sudah diterapkan oleh Pemerintah. Misalnya, Pemerintah DKI Jakarta telah memberlakukan plat nomor ganjil-genap untuk kendaraan bermotor untuk mengurangi laju kendaraan bermotor di jalan raya. Program ini awalnya dimaksudkan untuk mengatasi kemacetan Jakarta yang semakin parah. Fokus Pemerintah DKI Jakarta waktu itu cenderung terbatas pada usaha menurunkan angka kemacetan. Kebijakan yang berperspektif lingkungan dan kesehatan tampaknya masih belum dimasukkan ke dalam pendekatan kebijakan.

Upaya untuk menurunkan kemacetan, yang tentu saja berpengaruh pada menurunnya polusi, adalah dengan pembangunan Mass Rapid Transit (MRT). Sayangnya, pembangunan MRT masih terbatas pada beberapa rute sehingga warga masih harus menggunakan kendaraan pribadinya untuk mendukung mobilitasnya.

Lalu alternatif lain apa lagi yang bisa diterapkan di Jakarta untuk mengurangi tingginya polusi udara? Apakah ini adalah pertanya bahwa sudah saatnya penduduk Jakarta berpindah dari mobil konvensional ke mobil listrik?

Kendaraan listrik mungkin bisa menjadi alternatif lain yang bisa diterapkan oleh Pemerintah. Tentu saja, transisi kendaraan bermotor ke kendaraan listrik tidak akan menjamin menurunnya kemacetan Jakarta. Setidaknya, penggunaan kendaraan listirk akan berkontribusi terhadap penurunan asap kendaraan dari kendaraan bermotor. Untuk penurunan kemacetan adalah permasalahan lain yang perlu mendapatkan tindakan serius dengan semakin memperluas penyediaan fasilitas transportasi masal.

Mobil Listrik
Kehadiran kendaraan listrik akan menjadi alternatif baru untuk menyelesaikan permasalahan polusi udara. Disebutkan bahwa mobil listrik ini diakui ramah lingkungan dengan 0% emisi dan tidak mengeluarkan suara bising, namun dengan harga jauh lebih mahal dari kendaraan bermotor (konvensional). Selain itu, Pemerintah juga masih memerlukan infrastruktur pengisian daya tersendiri dari model pengisian bahan bakar di SPBU.

Presiden Jokowi telah menandatangai payung hukum mobil listrik pada 5 Agustus 2019. Peraturan Presiden ini mengatur tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai untuk transportasi jalan. Selanjutnya, kementerian menggarap penyusunan peraturan teknis tentang mobil listrik. Penyusunan peraturan ini diharapkan akan selesai pada September 2019. Peraturan ini akan mengatur tentang uji tipe dan kelayakan mobil listrik sebelum dikomersialisasikan. Pemerintah menargetkan akan ada sekitar 20% kendaraan listrik bakal mengaspal di jalan raya pada 2025.

Tantangan Masa Depan
Jadi apakah Jakarta sudah membutuhkan mobil listrik? Kendati Pemerintah telah menyediakan payung hukum harga mobil listrik masih relatif mahal. Mobil Tesla model 3, misalnya, diakui memiliki harga berkali lipat dari harga di negara asalnya. Mahalnya harga mobil listrik ini disebabkan pajak impor yang cukup besar, kendati pajak penjualan atas barang mewah nol persen alias dibebaskan.

Era mobil listrik menjadi titik baru sistem transportasi ramah lingkungan. Alternatif ini akan diikuti dengan beragam kemudahan dan tantangan seiring dengan semakin canggihnya teknologi. Mobil listrik berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang diproduksi Tesla model S, misalnya, akan mengubah gaya hidup transportasi di masa depan. Kehadiran kecerdasan buatan akan memudahkan manusia berkendara dengan sistem otomatisasi.

Mobil Tesla model S dapat berjalan secara otomatis tanpa secara langsung dioperasikan oleh pengemudi. Kehadiran mobil listrik semacam Tesla model S ini akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru dan potensi permasalahan hukum apabila terjadi kesalahan jaringan dan sistem softwarenya.

Dimuat di kawanhukum.id

Bumi Manusia | Film Spoiler

Tanah Indies, Hindia Belanda

Tanah moyangku sedang mengenal satu kata, modern

Kata yang melambungkan anganku ke belahan dunia lain, Eropa

Selamat datang, kemajuan!

Selamat bersenang-senang atas segala yang baru

Penemuan teknologi baru yang mempersempit jarak perjalanan

Beruntung sekali umur beliaku ada di sana

Terbius bujuk rayu ilmu pengetahuan dan pemikiran Eropa

Hingga membuatku terlena

Dan lupa pada kenyataan kalau aku seorang pribumi

Bangsa yang berada di bawah Belanda dan Indo

Sebuah bangsa yang menjadi tamu di negeri moyangnya sendiri

Dibentuk untuk mengagumi kehebatan bangsa Eropa, pendidikan Eropa, gaya hidup Eropa

Menjadi pemelajar sepanjang hidup

Kata orang, semakin bertambahnya pengetahuan dan pengalaman akan membantu kita dalam pembuatan keputusan yang lebih baik. Tentu, setiap orang ingin semua keputusan yang diambil merupakan yang terbaik dan hal ini akan terwujud apabila kita terus berusaha untuk belajar. Saya menyebutnya dnegan istilah pemelajar sepanjang hidup (lifelong learners).

Sejak kecil, kita sudah mulai belajar dalam menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Pelajaran paling besar dan berharga adalah pengalaman yang bisa kita sebut dengan belajar melalui tindakan (learning by doing). Banyak orang menyebutnya sebagai pengalaman namun saya menganggap itu merupakan bagian dari usaha manusia untuk terus belajar. Pada usia yang masih belia, kita juga mendapatkan pendidikan, baik dari TK, SD, SMP, SMA dan beberapa di antara berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, dengan gelar sarjana. Bagi yang lebih beruntung melanjutkan jenjang master hingga doktor. Belajar dalam institusi pendidikan formal ini juga dapat turut disebut sebagai belajar.

Selain dalam lingkungan institusi pendidikan, kita dalam kehidupan sehari-hari juga perlu mengikuti perkembangan dan kemajuan zaman. Perubahan zaman turut mendorong kita untuk terus belajar, meskipun telah menyelesaikan pendidikan formal. Belajar tidak mengenal waktu dan tempat, tidak pula mengenal usia maupun jenis kelamin. Dorongan untuk terus belajar ini yang dapat mendorong kita untuk terus mengikuti perubahan zaman, seperti kemajuan teknologi yang berjalan begitu cepat. Saat kita turut mengikuti perkembangan itu dengan terus belajar, kita berkontribusi untuk memajukan negara kita. Karena, kemajuan suatu negara selalu dimulai dari kemajuan berpikir warga negaranya terlebih dahulu.

Indonesia, negara yang memiliki penduduk lebih dari 250 juta dengan gap ekonomi dan pendidikan yang relatif tinggi, memiliki tantangan dalam mewujudkan kemajuannya. Usaha telah dilakukan melalui reformasi pendidikan yang tampaknya tidak begitu meningkat secara signifikan. Bahkan survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2015 masih menempatkan Indonesia dalam jajaran negara juru kunci. Artinya, masih banyak tugas besar yang dimiliki negara ini dalam peningkatan kualitas pendidikan, kualitas dan metode belajar warga negaranya, sebagai penopang kemajuan Indonesia.

Alternatif yang bisa kita lakukan adalah dengan mengembangkan dan memupuk tradisi belajar mandiri dan terus menerus. Simon Chesterman, guru besar dan dekan Fakultas Hukum National University of Singapore (NUS), dalam tulisannya berjudul, “Why Study?” menekankan motivasi belajar harus dipupuk menjadi motivasi internal. Saat kita sekolah, nilai seringkali menjadi tujuan praktis dan ini tergolong sebagai motivasi eksternal. Beliau menegaskan belajar sesungguhnya adalah saat kita punya perasaan yang lebih dengan ilmu yang kita dapatkan dan larut dalam kebahagiaan dengan dunia ilmu dan pengetahuan. Saat kita telah merasa bahagia dengan semakin bertambahnya ilmu pengetahuan, memiliki kecintaan yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Saat kita sudah masuk dalam perasaan ini, kita sudah melangkahkan hidup kita dalam zona pemelajar sepanjang hidup.

Lalu apa indikator bahwa kita adalah pemelajar sepanjang hidup? Situs lifehack.org menyebutkan 12 tanda berikut yang akan mendefinisikan kita menjadi pemelajar sepanjang hidup.

Pertama,  saat kita terdorong untuk membaca setiap hari. Apapun masalah yang tengah kita hadapi, setidaknya ada bacaan yang dapat menyajikan beragam solusi. Dengan membaca, wawasan kita akan bertambah melatih otak untuk terus berpikir dan dapat berkontribusi memperbaiki pola pikir kita. Dengan membaca, kita juga dapat terhubung dengan orang-orang sukses dan belajar dari kesuksesan yang mereka bagikan dalam tulisan-tulisannya. Bill Gates menyadari bahwa kesuksesannya tidak lepas dari tradisinya yang gemar membaca. Kita dapat belajar dari orang-orang seperti beliau.

Kedua, saat kita juga mengikuti beragam perkuliahan. Terdapat banyak perkuliahan yang dapat kita ikuti baik dalam media daring maupun luring. Dengan mengikuti beragam perkuliahan tersebut, kita akan mendapatkan kesempatan yang besar terhubung dengan orang-orang pandai dan terbuka pikirannya sekaligus belajar banyak hal dari mereka. Seiring dengan teknologi informasi yang semakin canggih, kita saat ini bisa dengan sangat mudah mendapatkan pengetahuan baru mekalui program daring, bahkan dari universitas tenama di dunia sekalipun.

Ketiga, saat kita mencari kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Daripada menghabiskan waktu berlama-lama di depan televisi, kita akan lebih baik menghabiskan waktu luang kita dengan hal-hal yang kreatif dan praktis. Satu hal yang perlu dipahami bahwa setiap menit yang terbuang akan pergi selamanya. Kita harus cermat menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk hal yang membuat kita lebih maju.

Keempat, saat kita juga menjaga kesehatan fisik kita. John F. Kennedy mengatakan bahwa kesehatan fisik tidak hanya penting terhadap kesehatan tubuh kita karena itu juga mempengaruhi aktivitas kreatif dan dinamis dari kemampuan intelektual kita. Orang-orang pandai adalah mereka yang mampu mengkombinasikan kecerdasannya dan kebugaran tubuh dan memahaminya sebagai aset besar yang mendukung  kehidupannya.

Kelima, saat kita punya banyak passion. Steve Jobs pernah mengatakan bahwa kita tidak dapat menghubungkan titik-titik ke depan, melainkan kita hanya dapat menghubungkannya dengan melihat ke belakang. Kita harus memiliki keyakinan bahwa titik-titik itu suatu saat akan menghubungkan dengan masa depan. Masing-masing titik-titik tadi dapat berupa kejadian atau keterampilan dalam hidup kita. Ketika suatu saat kita dapat mengkombinasikannya akan menjadi hal yang akan mendukung kehidupan kita yang lebih baik dan akan dapat menghasilkan pencapaian yang luar biasa dalam hidup kita. Memili beragam keinginan, minat atau passion mengindikasikan bahwa kita memiliki kecintaan yang besar terhadap terhadap kemajuan. Juga, perlu dipahami dan dicatat dengan baik-baik bahwa pada masa-masa sulit kita membutuhkan tindakan cerdas dan menyelesaikan masalah dengan lebih efisien.

Keenam, saat kita suka dengan kemajuan. Usaha keras akan berbuah dengan hasil yang lebih baik. Seringkali hasil dari usaha maksimal kita masih belum begitu tampak namun ada titik-titik kemajuan yang akan mengantarkan kita pada kemajuan dalam jangka panjang. Kita tidak harus terjebak dengan hasil instan. Sepanjang ada peningkatan dari usaha kita, kita perlu terus menekuninya.

Ketujuh, saat kita menentukan tujuan tertentu yang jelas. Agar tetap tumbuh, kita perlu memiliki tujuan yang jelas. Tujuan yang jelas ini adalah salah satu faktor yang akan terus memastikan pertumbuhan dan kemajuan kehidupan kita. Saat kita menyukai tantangan, kita dapat menaklukkan ketakutan-ketakutan yang kita hadapi dalam kehidupan kita. Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa tujuan-tujuan yang penuh ambisi dan jelas akan meningkatkan kinerja individu. Tentu kita sepakat bahwa pemelajar sepanjang hidup adalah mereka yang peduli dengan kinerjanya sehingga mereka tidak berhenti untuk memajukan kualitas dirinya.

Kedelapan, saat kita suka dengan perubahan. Seringkali, perubahan membuat orang merasa risih karena banyak kemapanan yang harus ditinggalkan. Sebagai pemelajar sepanjang hidup, kita mampu mengidentifikasi perubahan dan dapat memimpin perubahan-perubahan untuk hasil dan kemajuan yang lebih baik. Usaha ini akan tercapat saat kita memiliki pikiran terbuka untuk mengawal perubahan itu.

Kesembilan, saat kita percaya bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai. Banyak orang cenderung berpikir setelah melewati usia tertentu, mereka tidak lagi dapat belajar sesuatu dan menjadi berhasil. Kita perlu memiliki pemikiran bahwa tidak ada kata terlambat dan perlu meninggalkan zona nyaman untuk memulai hal-hal baru yang akan mengantarkan kita pada kesuksesan. Tentu saja, tidak ada ukuran harus pada usia tertentu kita mencapai kesuksesan. Di usia 45, Henry Ford baru menemukan For Model T car yang merupakan automobile murah pertama di dunia. Seperti atlit, untuk menjadi atlit profesional, memulai lebih awal adalah keputusan yang lebih baik dan diikuti dengan terus belajar dan berlatih secara rutin. Intinya, untuk memulai sesuatu, jangan pernah memiliki anggapan bahwa kita sudah terlalu tua untuk memulainya.

Kesepuluh, saat kita dengan senang hati mau berbagi. Peter Drucker mengatakan bahwa kita perlu menerima kenyataan bahwa belajar adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup agar kita dapat mengikuti perubahan. Dan, tugas yang paling mendesak adalah mengajari orang lain bagaimana untuk belajar. Tidak ada yang lebih baik daripada mengajak orang-orang di sekeliling kita untuk terlibat secara aktif untuk mendukung kemajuan. Seringkali, cara terbaik untuk menginsipirasi orang lain adalah dengan menjadi contoh terlebih dahulu bagi mereka. Mahatma Gandhi menyebutkan bahwa kita perlu menjadi perubahan dengan begitu kita dapat melihat dunia. Sebagai pemelajar sepanjang hidup, kita akan memiliki passion untuk tumbuh dan berkembang dan sikap ini akan menjadi energi positif bagi orang-orang di sekitar kita. Selanjutnya, orang-orang di sekitar kita akan bersikap serupa dengan apa yang sudah kita lakukan.

Kesebelas, saat kita meninggalkan zona nyaman. Meninggalkan zona nyaman tentu saja tidak mudah dan ini perlu dicoba. Edmund Hillary, pendaki gunung ternama, mengatakan bahwa tentangan terberat manusia sesungguhnya bukan saat mereka berhasil menaklukkan gunung-gunung yang tinggi. Saat berhasil menaiki gunung-gunung, Ia mengatakan bahwa ternyata saat menaiki gunung tantangan terbesarnya adalah menaklukkan diri sendiri dengan memacu diri untuk belajar meningkatkan keuletan, ketahanan dan kesiapan dalam segala tantangan. Dengan meninggalkan zona nyaman, kita akan belajar hal-hal yang baru yang akan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kita beradaptasi dengan hal-hal yang baru.

Keduabelas, saat kita tidak pernah merasa nyaman atau mapan. Anti kemapanan adalah salah satu modal kita untuk terus berkembang dan maju. Merasa menjadi orang yang cukup pandai adalah sesuai yang tidak pernah ada dalam pikiran orang dalam kategori ini. Tanpa ragu, kita akan mengapresiasi apa yang sudah diketahui dan tanpa henti terus mengejar apa yang masih belum diketahui. Kita dapat memprediksi saat berhenti belajar akan ada kehilangan kesempatan istimewa, yaitu kemampuan pengembangan intelektual yang akan berlangsung tanpa batas.


Cukup banyak bukan? Tentu tidak harus semuanya langsung kita penuhi. Kita perlu berusaha keduabelas indikator tersebut dapat kita penuhi secara bertahap, agar secara berangsur-angsur menjadi pribadi yang memiliki dorongan kuat terus belajar sepanjang hidup. Dengan kita memenuhi keduabelas indikator tersebut, tentu kita akan terus mengikuti segala perubahan zaman dan bahkan menjadi bagian pemimpin perubahan itu.

Memulai kembali gaya hidup sehat

Rasanya sudah lama sekali saya tidak melakukan aktivitas olahraga. Dulu, saya lumayan rajin berolahraga, meskipun itu masuk kategori olahraga ringan. Seperti, jogging dan bersepeda. Terkadang juga masih bermain bulu tangkis. Tujuan saya satu, untuk mengkondisikan tubuh tetap bugar dan sehat. Itu yang saya tuliskan di story instagram saya tadi: Try to keep my body healthy and fit again.

Seiring dengan semakin padatnya pekerjaan, seringkali orang-orang semakin terlarut dalam dunia pekerjaannya. Banyak di antara mereka tidak lagi dapat meluangkan waktu untuk olahraga, setidaknya membakar lemak dan membuat perenggangan otot lebih baik lagi.

Udah kayak dokter aja bukan? Hee…

Tentu, olahraga adalah salah satu aspek dari gaya hidup sehat. Untuk sehat, olahraga saya masih belum cukup. Namun, olahraga memiliki peran penting untuk mewujudkan gaya hidup sehat tersebut. Misalnya, situs Harvard Health Blog menyebutkan gaya hidup sehat memiliki hubungan dengan harapan hidup atau usia manusia. Artikel ini menjelaskan aktivitas fisik menjadi bagian dari gaya hidup sehat tersebut selain diet sehat, berat badan ideal, tidak merokok maupun mengkonsumsi alkohol.

Pentingnya aktivitas fisik, menjadi tantangan seseorang tentang aktivitas fisik apa yang kira-kira mudah dilakukan? Sebenarnya aktivitas fisik tidak harus dimaknai olahraga  yang membutuhkan banyak teman atau berbiaya mahal. Menurut saya, jogging adalah olahraga yang paling murah dan mudah, tergantung dorongan diri kita apakah mau memulainya dan membuatnya sebagai bagian dari gaya hidup. Dengan pertimbangan mudah dan bahkan tanpa biaya sekalipun, nyatanya saya sendiri misalnya, bisa dianggap seringkali lalai untuk menjadikannya sebagai gaya hidup.

Entah, hari ini saya tersadar kembali. Saya memulai aktivitas ini sejak berhasil memperbaiki tidur saya; biasanya saya tidur setelah pukul 00:00. Tidur yang terlalu malam ternyata membuat tubuh kurang bugar di pagi hari dan ini berpengaruh pada kinerja kita pada hari itu. Kini, karena saya tidurnya sudah tidak terlalu malam dan bangun di pagi hari tanpa tidur lagi, saya memanfaatkan waktu pagi hari dengan jogging. 

Oh ya, saya tidur tengah malam itu masih baru-baru ini. Sebelumnya saya sebelum jam 10 malam sudah tidur. Sepertinya pengaruh sosial media membuat dunia tengah malam masih terasa ramai. Heee.. Dan, akhirnya saya memutuskan harus bisa memperbaiki jadwal saya kembali.

Sebelumnya, saya malah memanfaatkan pagi hari lebih dari jogging. Saya bersih-bersih, berkebun hingga memasak. Hehee… Kadang bantu Ibu, kadang memang masak sendiri (pas S2 di LN).

Seiring dengan membaiknya jadwal harian saya, ini menurut saya adalah awalan yang bagus. Saya merasa dengan membiasakan diri rajin jogging, saya bisa lebih produktif sepanjang hari. Termasuk saya bisa menulis artikel ini. Dan, setelah ini saya masih harus menyelesaikan paper saya untuk segera dikirimkan ke redaksi jurnal akhir bulan ini.

Sementara sudah dulu ya. Selamat melanjutkan aktivitas kembali. Selamat berakhir pekan. 😀

Bisa jadi kita tengah mengidap inferiority complex

Apakah kalian pernah merasa kurang percaya diri dan menganggap lebih rendah dari orang lain? Apakah kalian juga pernah berpikir bahwa banyak usaha yang telah dilakukan tetapi tak juga berbuah manis, lalu meragukan kemampuan diri sendiri? Apakah juga pernah menganggap diri kalian tidak mampu mencapai standar tertentu yang dirasa terlalu tinggi?

Atau, di antara kalian pernah berpandangan begini, “Ah kalau si A wajar lah begitu, dia kan memang pinter dan banyak prestasi. Tapi tau gak sih, denger-denger dia berprestasi begitu karena permainan curang. Lalu apa istimewanya coba?”

Jika jawaban kalian adalah iya, bisa jadi kalian tengah mengidap inferiority complex.

.

Apa sih inferiority complex itu?

Secara singkat, inferiority complex adalah suatu keadaan di mana seseorang merasa rendah diri atau tidak mampu memenuhi standar tertentu yang dirasa tinggi. Keadaan ini selanjutnya membentuk cara berpikir untuk memilih posisi aman namun tetap ingin dianggap kompetitif. Salah satu konsekuensinya, seseorang tersebut mencari pembenaran-pembenaran lain secara sepihak untuk mendapatkan pengakuan bahwa dirinya memiliki kehebatan yang perlu dibanggakan. Atau, disertai dengan merendahkan orang lain. Kebanggaan ini seringkali diungkapkan secara berlebihan sebagai kompensasi atas ketidakmampuannya.

Bisa dibayangkan, bagaimana saat inferiority complex telah menguasai alam bawah sadar dengan meyakini persepsi yang sangat tidak kooperatif untuk mendukung kemajuan berpikir kita. Dalam keseharian, misalnya, pemikiran tersebut tecermin dalam perasaan ataupun sikap kurang percaya diri atau merasa lebih rendah dari teman lain dengan anggapan otak temannya moncer. Namun hal ini seringkali berujung adanya seseorang yang merasa tidak mau dianggap tidak lebih baik dari teman lainnya melalui pembenaran-pembenaran tertentu demi meraih pengakuan.

.

Minder atau Inferiority complex?

Minder bisa terjadi pada siapapun. Biasanya, minder muncul karena perasaan kurang percaya diri atau seseorang kurang memiliki persiapan yang baik atas tindakan tertentu sehingga terdapat perasaan kurang dapat melakukan tindakan secara maksimal. Terlebih, misalnya, saat melihat teman-teman lain telah melakukan hal-hal yang dianggapnya sangat baik. Minder bisa sangat fluktuatif, saat kita mempersiapkan semua persiapan dengan baik, biasanya minder dapat diatasi secara perlahan-lahan.

Minder tidak hanya muncul atas dasar kemampuan, intelektualitas atau kecerdasan. Minder juga bisa disebabkan karena hal-hal fisik yang menghasilkan kesimpulan siapa yang lebih baik atau sempurna. Minder masih bisa diatasi dan tidak akan sampai menjadi inferiority complex sepanjang seseorang tidak membawanya pada ranah berpikir hingga alam bawah sadar.

Jika tidak, kalian harus siap-siap. Inferiority complex secara perlahan dapat dengan mudah menyusup dalam diri manusia saat tidak adanya kemampuan mengatasi gejolak pemikiran pribadi. Ketidakmampuan untuk mengendalikan konflik pemikiran ini seringkali berujung pada penghakiman tertentu dalam ranah berpikir dan memengaruhi seseorang dalam pembuatan keputusan.

.

Inferiority complex menjangkit siapa saja?

Inferiority complex dapat menyasar semua kalangan. Saat manusia tidak mampu mengendalikan konflik dalam pemikiran pribadinya, kurang referensi atau terjebak pada cerita tunggal, setiap orang rawan terjangkit penyakit ini. Juga, siapapun yang tidak dapat mempertahankan keyakinannya atas kemampuan diri sendiri bisa saja dengan mudah mengidap inferiority complex.

Tentu saja. Inferiority complex adalah kondisi di mana mental kita dalam tekanan. Adalah keadaan di mana kita merasa tidak nyaman dengan kemampuan diri sendiri namun tidak tahu bagaimana cara untuk bangkit dan membuat diri sendiri setara dengan yang lain. Kepercayaan diri seperti ini adalah hal mutlak dibutuhkan di era saat ini. Era saat ini menuntut kita memiliki kompetensi yang tinggi. Kenyataan saat ini mau tidak mau sudah semakin meluas, tidak hanya tingkat nasional tetapi antarbangsa.

Betapa mudahnya teknologi membuat kehidupan kita jauh lebih mudah dan efisien. Kemudahan dan efisiensi tersebut pada akhirnya telah menembus batas geografis. Persaingan telah luas dalam arena global. Pada saat itu, kita perlu mampu sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Jika terus-terusan kita tidak mau lepas dari inferiority complex, kita bisa jadi akan selalu merasa rendah terhadap diri sendiri. Akibatnya, di tengah derasnya arus globalisasi, kita bisa jadi hanya sebagai pengguna dan penonton, bukan pemain. Dan, untuk menikmati dan menontonnya, tentu saja, kita masih harus mengeluarkan duit juga.

Terdapat hal-hal kecil yang seringkali dapat menjadi indikator seseorang terjangkit inferiority complex. Anak desa seperti saya, misalnya, masih banyak yang memiliki pemikiran bahwa anak kota akan selalu unggul karena mereka lebih sejahtera dengan akses pendidikan yang lebih baik. Menurut saya itu tidak salah, namun tidak lengkap. Seiring dengan mudahnya akses teknologi, belajar bisa dilakukan di mana-mana, bahkan bisa sampai ke desa-desa. Butuh kesungguhan niat untuk bisa melawan pemikiran-pemikiran yang menjatuhkan diri sendiri seperti itu. Justru dengan keterbatasan itulah, saat bisa keluar dari inferiority complex, anak desa akan jauh lebih kreatif dan menyediakan alternatif-alternatif.

Kalian yang kuliah di kampus swasta atau yang seringkali dianggap kampus pinggiran, misalnya, mungkin ada yang merasa lebih rendah diri saat bertemu dengan mahasiswa dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, ataupun Universitas Gadjah Mada. Pendidikan di tiga kampus ini jelas lebih baik. Pemikiran demikian tidak salah, tetapi itu masih tidak lengkap. Kita bisa memanfaatkan alternatif-alternatif lain agar kita memiliki kemampuan yang setara dengan mahasiswa di kampus tersebut.

Contoh lain, kalian yang lulusan PTN bisa jadi masih merasa tidak lebih baik, tidak percaya diri, dari teman-teman yang lulusan luar negeri. Memang mereka belajar yang mayoritas berbahasa Inggris. Akses pengetahuan jauh terbuka lebar berkat penggunaan bahasa internasional dalam pergaulan akademik dan non-akademik sehari-hari. Namun, itu tidak berarti kalian yang belajar di dalam negeri juga tidak mendapatkan akses dan kesempatan membaca referensi yang sama.

Biasanya, pada batas ketidakmampuan namun ingin kompensasi lainnya, ujung-ujungnya seseorang tak jarang berkelakar, “jangan lupa cinta negeri woy, kuliah di dalam negeri itu lebih cinta negeri Indonesia sendiri.” hehee…

Singkatnya, inferiority complex perlahan tumbuh dari seringnya penghakiman-penghakiman oleh diri sendiri yang bisa jadi karena tidak tahu bagaimana seharusnya kita berpikir dua arah sehingga memiliki pemikiran yang terbuka.

.

Tanda-tanda inferiority complex

Situs Bustle menyebutkan beberapa tanda yang mungkin seseorang mengidap inferiority complex.

Pertama, terlalu perfeksionis. Karena menginginkan adanya kompensasi yang berlebihan, seseorang terus merasa kurang dan ingin mencoba mengejar kesempurnaan. Sikap perfeksionis ini seringkali membuat orang larut dalam inferiority complex. Kedua, sangat sensitif terhadap kritik. Orang dengan inferiority complex sangat peka terhadap perkataan orang lain tentang dirinya. Tidak mau menerima kritik karena anggapan kritik itu merendahkannya.

Ketiga, cenderung mencari kesalahan orang lain. Seseorang tidak mau introspeksi diri, melainkan justru menyalahkan orang lain. Saat ada teman yang sukses, seseorang tidak mau mengakui kehebatan temannya demi membuat dirinya bahagia atas kesuksesan temannya. Keempat, ada perasaan aman saat diri sendiri merasa lebih baik dari orang lain. Jika anda mengindap inferiority complex, fokus anda adalah untuk selalu menjadi lebih baik dari orang lain. 

Kelima, tidak percaya pujian. Hal ini biasanya dipengaruhi persepsi harga diri yang tinggi sejak kecil sehingga berpengaruh terhadap cara merespon pujian, Pada akhirnya, orang dengan inferiority complex bisa enggan menerima saran, meskipun positif. Keenam, gampang berpersepsi buruk. Tidak hanya melakukan penghakiman terhadap diri sendiri tetapi juga saat melihat posisinya kurang menguntungkan, seseorang dengan inferiority complex gemar play victim untuk memenuhi egonya.


Bagi yang merasa tengah terjangkit inferiority complex, kalian tidak perlu terlalu cemas. Tentu, kalian perlu segera bangkit dan memperbaiki cara berpikir. Apalagi diperkirakan banyak orang Indonesia tengah mengidap inferiority complex ini. 😀

Hal yang perlu dipahami bersama adalah bahwa hakikat manusia sesungguhnya adalah saling melengkapi, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tugas manusia adalah saling mengisi dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.  Pada akhirnya, di atas kelebihan dan kekurangan yang dimiliki manusia, ketekunan, kerajinan dan konsistensi lah yang memiliki pengaruh besar untuk membuat orang memiliki kemampuan yang lebih.

.

Bangga boleh, tapi tak harus berlebihan

Satu hal yang akut akibat mengidap inferiority complex adalah adanya perasaan yang berlebihan atas kehebatan kita yang biasa-biasa saja. Bangga ini bisa jadi sebatas kekecewaan atau terlalu sempitnya pikiran seseorang. Contoh gampangnya, masih banyak di antara kita seringkali menyalahkan negara asing, anti asing, karena asing dituduh telah mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia. Faktanya, investor asing tidak akan pernah bisa masuk ke Indonesia kecuali telah mendapatkan kesepakatan dari Pemerintah Indonesia.

Sebaliknya, kita seringkali membanggakan Indonesia kepada teman-teman dari luar negeri, bangga Indonesia dengan pantainya, keanekaragaman hayatinya, budayanya, dan sebagainya. Namun kita bisa dengan sangat sinis dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Singapura dituduh sebagai negeri cukong, Malaysia sebagai negara pencuri budaya dan pulau Indonesia.


Kesungguhan, keyakinan dan kerja keras untuk meningkatkan kualitas diri adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Kembali pada pemikiran bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan, tidak seharusnya manusia melakukan penghakiman dan merendahkan diri. Menjadi awal kesempatan yang baik saat kita berhenti menghakimi diri sendiri dan menggantinya dengan memulai belajar untuk bisa menemukan kemampuan alami kita. Tidak semua orang harus menjadi dan melakukan hal yang sama, tetapi esensinya mereka sama-sama memiliki kelebihan.

Selain itu, seseorang juga perlu introspeksi diri, saat usaha yang dilakukan sudah maksimal, saatnya manusia untuk berpasrah, belajar ikhlas menerima hasilnya. Untuk bisa berhasil, tugas pertama manusia adalah membuat sebab. Akibat adalah hasil dari sebab yang kita buat. Sebagai manusia yang terus belajar (lifelong-learners), apapun hasilnya akan menjadi kesempatan untuk selalu berbenah dan refleksi agar terus menjadi lebih baik lagi.

Kembali ke Indonesia

Tidak terasa sudah lebih dari tiga bulan saya kembali dari Jepang. Saya kembali ke Indonesia, kembali dengan rutinitas kampus. Seperti biasa, saya kembali menjalankan aktivitas dari mengajar dan menulis di kampus. Saat kembali ke kampus, kebetulan saat itu masih dalam masa liburan semester. Sekitar dua bulan waktu liburan saya habiskan dengan adaptasi.

Ternyata, tidak mudah untuk kembali beradaptasi dengan suasana Indonesia. Sama tidak mudahnya saat saya kembali adaptasi dengan lingkungan Indonesia sesaat saya kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan S2 di India sekitar 3.5 tahun lalu. Lingkungan Indonesia terasa relatif asing bagi saya. Rasanya, saya menjalani kehidupan di Indonesia dengan alam India. Begitu juga setelah pulang dari Jepang, saya menjalani kehidupan di Indonesia dengan alam Jepang.

Mungkin, perlunya adaptasi tersebut ditengarai adanya geografis, sosial, budaya maupun ekonomi masing-masing negara (India dan Jepang) terhadap Indonesia. Memang, suasana Indonesia jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan suasana India, sedangkan suasana Jepang tentu saja jauh lebih baik dari suasana Indonesia. Satu hal utama yang saya amati saat saya kembali dari Jepang ke Indonesia adalah memburuknya lingkungan saya. Jepang jauh lebih baik dari Indonesia dari semua aspek. Ini terasa berbeda, saat saya dari India kembali ke Indonesia. Lingkungan Indonesia terasa jauh lebih baik. Dibandingkan India, Indonesia terasa jauh lebih bersih, orangnya lebih ramah, cinta damai. Namun, saat dibandingkan Jepang, Jepang jauh lebih baik, lebih unggul. Jepang terasa jauh lebih bersih, aman, tenang, bebas polusi, sejuk, dengan orang-orang jauh lebih pendiam dan ramah.

Ada hal lain yang saya merasakan tidak mampu beradaptasi dengan cepat. Saya tidak pandai beradaptasi dengan makanan. Saat saya sampai di India, dibutuhkan waktu sekitar tiga minggu agar perut saya dapat berkompromi. Awalnya, saya ingin mencoba sekaligus memaksakan diri untuk mengenal makanan India, saya mencobanya. Sayangnya, setelah itu saya sakit perut. Bisa jadi itu karena faktor kebersihan makanan.

Selain itu, bisa jadi karena komposisi makanan India yang relatif kompleks yang saya tidak pernah menjumpai makanan serupa sebelumnya. Namun, hal yang menurut saya aneh adalah saat saya dari Jepang ke Indonesia, saya mengalami hal serupa. Setelah saya makan makanan Indonesia, perut saya seringkali sakit. Dan, saya membutuhkan waktu yang relatif sama, sekitar tiga minggu, untuk dapat beradaptasi dengan makanan Indonesia. Bisa jadi, karena makanan di Jepang benar-benar memiliki standar kebersihan. Selain karena makanan Jepang tidak berisi komposisi yang kompleks. Menurut saya, makanan di Indonesia memiliki komposisi yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan makanan di Jepang. Secara umum, makanan berkuah di Jepang relatif lebih bening daripada makanan di Indonesia. Ini menegaskan kompleks tidaknya bahan yang terkandung di dalamnya. Dan, rasanya saya belum menemukan makanan pedas di Jepang. Sepedas-pedasnya makanan Jepang, masih belum ada yang menandingi pedasnya sambal jawa, apalagi sambal medan.

Ada persamaan lain saat saya harus beradaptasi kembali dengan Indonesia, baik setelah dari India maupun Jepang. Saya menderita batuk hingga sekitar satu bulan. Saya menderita batuh sekitar satu bulan setelah kembali ke Indonesia selama satu bulan. Jadi, saya kemarin, dari Jepang, saya sampai Indonesia tanggal 27 Desember 2018. Sebulan setelahnya, di akhir Januari 2019, saya batuk-batuk hingga sekitar satu bulan lamanya. Seperti biasanya, saat saya sakit saya mencoba cara penyembuhannya dengan perbanyak istirahat maupun banyak minum air putih. Namun, usaha tersebut tidak begitu membuahkan hasil. Saya tetap batuk. Hingga, saya mencoba membeli beberapa obat batuk di apotek. Namun, batuk saya tak kunjung sembuh. Setelah sekitar satu bulan, batuk itu baru mulai reda.

Kira-kira demikianlah pengalaman saya saat kembali ke Indonesia. Saya harus menjalani masa adaptasi dengan durasi sekitar dua bulan. Mungkin, nanti saya akan perlu beradaptasi kembali, misalnya, setelah kuliah S3 di luar negeri.