Adalah efek ketergantungan dari yang tadinya barang tersier seolah kini menjadi barang primer, karena dimanjakan dengan fasilitas bermotor, bbm melahirkan generasi manja. Perlu diingat bahwa awal kali harga murah karena Indonesia adalah negeri pengekspor minyak, tapi itu industri ekstraktif yang masih mentah, tidak bisa diproses sendiri sehingga harga jualnya juga rendah. Seiring dengan waktu mungkin kita lupa bahwa minyak itu tidak bisa ditanam seperti padi, adalah barang yg tidak dapat diperbaharui dan kini stok minyak Indonesia semakin menipis yang menjadikan Indonesia kini resmi sebagai negara pengimpor BBM. Ada beberapa hal yang perlu disimak.

Pertama, adalah kesalahan konstitusi dalam Pasal 33 dimana ada ketentuan yang bermuatan eksploitasi kekayaan alam, mengenai kekayaan alam dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Istilah dipergunakan sebesar-besar tampak wujud dari model imperialisme yang mengatasnamakan rakyat. Ketika berbicara rakyat, yang perlu digarisbawahi adl rakyat memiliki tafsir politik, apakah rakyat dalam entitas perwakilan atau rakyat secara individu? Bandingkan juga dengan istilah masyarakat dalam Pasal 18B, 28C dan 28J, serta istilah warga negara dan penduduk dalam Pasal 26. Berbicara faktanya hingga kini pemanfaatan sumber daya alam yg sebesar-besarnya itu tidak mampu mewujudkan kesejahteraan rakyat individual, selain daripada ekspor barang mentah yang eksploitatif, penjarahan aset sumber daya alam yang sebetulnya dapat dikelola generasi masa depan yang bisa menggunakannya dengan terampil di masa mendatang, dengan keuntungan lebih besar.

Kedua, subsidi yang tadinya menjadi solusi kenaikan bbm justru dalam pembangunan yang berkelanjutan dalam jangka panjang membahayakan baik dari risiko konsumerisme, infisiensi dan inefektivitas penggunaan anggaran. Subsidi harga bbm justru menjadi penghambat pemerataan kesejahteraan dan pembangunan baik di kota maupun di desa. Alokasi anggaran yang seharusnya diperuntukkan pemerataan pembangunan justru itu untuk subsidi harga bbm, alokasi yang tidak untuk program yang membangun dan tak juga produktif.

Ketiga, ada kecenderungan kenaikan harga bbm diikuti dengan kenaikan barang pokok. Bagi saya ini anomali, menjadi tren baru, karena bahan pokok itu sebetulnya diproduksi di desa dan di pelosok-pelosok, tapi yang mengalami dampak kenaikan harga bbm adalah mereka juga, masyarakat desa yang mayoritas dengan penghasilan ekonomi tidak tinggi. Bisa jadi kenaikan harga bahan pokok sebagai akibat kenaikan harga bbm karena faktor transportasi. Sehingga sebetulnya kembali lagi, yaitu masalahnya sistem transportasi di negeri kita tidak terpadu, jalanan padat tetapi tidak efektif, tidak ada mode transportasi masal yang memadai. Transportasi kereta barang mungkin akan bisa menjadi solusi, tapi masalahnya rel kereta di Indonesia misalnya yang paling bagus di Jawa masih satu jalur, itu tidak cukup.

Keempat, mendorong terbangunnya mode transportasi publik yang meminimalisasi penggunaan jalanan oleh kendaraan pribadi. Pada satu sisi mengurangi tingkat kemacetan dan pada sisi lain menjadi transformasi masyarakat untuk mengurangi ketergantungan terhadap bbm. Selain itu juga meminimalisasi produksi karbondioksida dan karbonmonoksida, yang berarti sebagai kebijakan yang ramah lingkungan untuk mewujudkan Indonesia lebih segar dan bersih. Sekaligus perwujudan dari semangat konstitusi hijau dlm UUD 1945.

Kelima, pengurangan hingga penghentian subsidi harga bbm mengajarkan akan kebijaksanaan, untuk menggunakan energi sewajarnya dg bijaksana. Saya dulu SMP naik sepeda gowes sekira 4 km dan bahkan banyak teman-teman saya yang menempuh jarak tak kurang dari 7 km. Bandingkan dengan sekarang, berapa banyak yang tidak naik sepeda motor. No gain no pain. Banyak hal lain yang bisa menjadi contoh mencakup pula orang dewasa.

Keenam, pengurangan dan penghapusan subsidi merangsang tumbuhnya inovasi melalui energi alternatif. Hal ini sekaligus untuk memotong rantai candu masyarakat pada bbm tersebut. Misalnya BBG dan mungkin menggunakan energi lainnya, bisa jadi dengan tenaga surya.

Sekian.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *