Mulai senin kemarin saya belajar bahasa Jerman, atau biasa disebut dengan Deutsch. Di samping untuk mengisi kegiatan di pagi hari yang selalu luang, juga karena bahasa Jerman itu unik untuk menambah wawasan saya tentang bahasa di Eropa itu.

Satu hal pertama yang diajarkan oleh dosen kami adalah, belajar bahasa tidak hanya memelajari bahasa itu sendiri. Belajar bahasa juga perlu memelajari teritori atau geografi, sosial, kultur bahkan politik suatu negara di mana bahasa tersebut digunakan. Penjelasan ini langsung mengingatkan saya tentang memelajari Ilmu Hukum bahwa belajar hukum suatu negara tidak memelajari hukum dalam kerangka hukum suatu negara, tetapi juga memelajari kondisi fisik, sosial ekonomi, budaya dan politik negara itu. Saya berkesimpulan bahwa saat kita belajar satu ilmu tidak berhenti di ilmu itu sendiri, namun juga memelajari aspek-aspek dan pengetahuan lain di samping ilmu itu sendiri. Kita tidak bisa memisahkan aspek di sekelilingnya yabg sangat berkaitan dengan apa yg tengah kita pelajari.

Di hari pertama, serasa anak TK. Kami satu kelas belajar, “siapa namamu?” yang dalam bahasa Jerman setidaknya ada tiga kata tanya untuk itu.
– Wie ist ihr name?
– Wie heißen sie?
– Wer sind sie?

Ketiga kalimat di atas memiliki maksud yang sama, yaitu siapa namamu? Saat ditanya siapa namamu, maka jawabannya adalah:
– Mein name ist ______
– Ich heiße ______
– Ich bin ______

Pertanyaan berikutnya adalah, “where are you from?” atau “kamu dari mana?” dan “where do you live?” atau “kamu tinggalnya di mana?”yang dalam bahasa Jerman adalah seperti ini:
– Woher kommen sie? > where are you from?
– Wo wohnen sie? > where do you live?

Jawabannya adalah:
– Ich komme aus Indonesien > I am from Indonesia
-Ich wohne in Jakarta > I live in Jakarta

Satu hal yang menarik adalah alfabet dalam bahasa Jerman yang dalam pengucapan huruf memiliki persamaan dalam bahasa Indonesia. Pengucapan yang berbeda adalah:
C > se
J > yot
Q > qu
V > fau
X > iks
Y > ipsilon
Z > tset

Hal yang unik, dalam bahasa Jerman dikenal huruf ‘ß’ yang pengucapannya adalah ‘ss’. Selain itu untuk huruf a, o dan u ada penambahan titik dua di atasnya yang biasa disebut dengan ‘umlaut’, yaitu:
Ä : ā > pengucapannya ea
Ö : ö > pengucapannya eo
Ü : ü > pengucapannya eu

Satu hal yang ditekankan betul oleh dosen pada hari pertama kemarin, bahwa dalam belajar bahasa yang paling utama adalah bicara. Kita kali pertama untuk berkomunikasi saat balita adalah cukup dengan bicara, bukan dengan menulis atau membaca. Karenanya, dalam belajar bahasa apapun, termasuk bahasa Jerman aspek speaking adalah yang utama.

Oke sampai sini dulu, besok disambung lagi.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *