Bukan daging, tapi wortel

Lumayan padat juga aktivitas hari ini, sehingga baru sempat menulis catatan harian di malam hari. Sejak pagi saya sibuk dengan laptop, menerjemahkan artikel dalam bahasa Inggris. Ya, belakangan saya inisiatif untuk mencoba freelance. Ternyata lumayan juga, menambah kesibukan saya di tengah keseharian yang semakin padat kegiatan.

Awal saya jadi dosen, saya tidak sampai sesibuk ini. Kira-kira sekitar awal 2017 saya mulai banyak kesibukan. Itu mulai saya menjadi editor jurnal di kampus. Akhirnya keseharian selalu berkutat dengan artikel jurnal maupun artikel ilmiah lainnya. Sejak 2017 saya juga mulai aktif meneliti, setidaknya ada beberapa artikel yang saya tulis pada tahun itu, baik diterbitkan dalam book section maupun jurnal serta beberapa dipresentasikan dalam seminar baik nasional maupun internasional.

Sebenarnya kegemaran saya menulis sudah sejak mahasiswa. Tercatat ada dua tulisan saya saat mahasiswa terbit di jurnal nasional. Selain itu saya juga menulis sekitar 10 tulisan yang saya presentasikan dalam lomba karya ilmiah nasional. Pernah merasa jenuh dengan hal begituan. Tetapi akhirnya mencoba lagi dan semakin tertantang. Belakangan saya mulai belajar academic writing dan menyadari betapa tulisan-tulisan saya terdahulu masih harus diimprove seiring dengan saya semakin mengetahui kriteria tulisan yang memenuhi standar academic writing.

Kembali lagi ke cerita awal ya. Pagi hari setelah Shalat Shubuh hingga malam hari, tepat pukul 22:00 waktu Jepang, saya menyelesaikan terjemahan artikel 28 halaman. Lumayan berat untuk kelas pemula seperti saya. Tapi, alhamdulillah saya kerjakan dengan sabar. Akibatnya, saya baru ke kampus sekitar jam 2 siang dan tidak terasa tiba-tiba sudah jam 5 sore aja. Memang kalau kita sudah fokus dan menikmati semua akan terasa begitu cepatnya.

Sebenarnya tadi saya agak begitu curiga. Kenapa jam 3 sore kok sudah mulai gelap? Jadi, jam tangan saya itu ada dua waktu, satu untuk waktu WIB dan satunya untuk waktu Jepang. Saat saya tengok jam yang tampak jam 3 itu ternyata waktu WIB. Perasaan saya tidak salah, saya yang kurang teliti saja.

Setelah tahu sudah jam 5 sore, saya segera bergegas. Saya menutup laptop dan memasukkannya ke dalam tas. Tidak lupa saya kembali memeriksa semua barang yang mungkin saya lupa untuk memasukkan. Kehidupan di Jepang mengajarkan saya lebih teliti.

Oh iya, sejak saya di Jepang saya semakin mengurangi ketergantungan saya pada lift. Mobilisasi saya dari lantai ke lantai, kalau itu hanya selisih satu atau dua lantai, saya akan menggunakan tangga. Saya melakukan ini karena belajar dari kebijaksanaan orang-orang Jepang yang memang mereka relatif memilih untuk tidak menggunakan lift apabila itu hanya selisih beberapa lantai. Dan, termasuk ada tulisan di pintu lift yang sebaiknya kita dapat mengurangi ketergantungan pada lift.

***

Sebenarnya, rencana awal saya hari ini adalah membeli daging ayam. Kemarin, salah satu orang Indonesia yang sedang mengambil S3 di sini cerita ada toko daging ayam halal yang dekat kampus dengan harga yang lumayan miring. Saya hanya diberikan arah-arahnya dan saya berusaha untuk mencerna dan memahami arah-arahnya. Saya tidak pernah lewat jalan yang dimaksudkan mahasiswa S3 tadi, tapi setidaknya sedikit tahu beberapa spot dari dan ke mana saya harus menyusuri jalan sesuai dengan arah-arah yang diberikannya kepada saya. Apalagi beberapa hari lalu Sensei saya menraktir makanan tidak jauh dari arah-arah yang disampaikan oleh mahasiswa S3 tadi. Saya optimis tahu arah-arahnya.

Sore tadi, sekitar pukul 17:15 saya keluar dari kampus dan menuju toko daging ayam. Enam hari di Nagoya, saya sudah berjalan seperti orang Jepang pada umumnya saja. Termasuk ketika menemukan lampu merah dan semua kendaraan sudah berhenti, saya tidak boleh langsung menyebrang. Ada lampu lalu lintas yang diperuntukkan pejalan kaki dan pengendara sepeda pit agar saat menyebrang jalan dalam keadaan masih tertib.

Lampu menyebrang jalan pun berwarna hijau. Saya menyebrang jalan tepat di samping toko kebab yang sedang ada diskon 50%. Saya sempat tergoda. Cuma, saya harus sedikit berhemat di bulan ini, atau setidaknya pada minggu-minggu ini. Kemarin saja saya habis belanja keperluan dapur dari beras, minyak, bawang, kentang, kubis dan sebagainya habis sampai senilai 500 ribu rupiah. Saya harus lebih bisa mengendalikan keuangan.

Saya tetap berjalan untuk mencari toko daging ayam. Berjalan di sore hari dengan cahaya matahari yangs semakin meredup dan semakin dinginnya sore hari membuat tarikan napas saya semakin terasa dingin. Entah, dua hari terakhir kota ini semakin terasa dingin saja. Sepanjang pantauan saya, tadi pagi sekitar jam tujuh cuaca menunjukkan 18 derajat celcius, pada siang hari agak naik pada kisaran 20 sampai 22 derajat celcius. Sedangkan di sore hari sudah kembali ke 18 derajat celcius. Saat saya menuliskan artikel ini, cuaca menunjukkan pada angka 16 derajat celcius. Mungkin nanti malam akan semakin turun.

Saya menyusuri jalanan kecil, kira-kira seperti gang Jalan Jawa II, Jawa IV dan Jawa VI di Jember. Uniknya, jalan seperti itu juga terpasang lampu lalu lintas. Saya jadi ingat saat saya pernah sedikit meledek teman-teman dari Bondowoso dengan mengatakan jalanan kecil di Bondowoso yang sekelas Jawa II di Jember ya kok ada lampu lalu lintasnya. Apalagi kendaraan yang lalu lalang juga masih sedikit.

Pengalaman Jepang memberikan pelajaran bagi saya. Saya harus minta maaf ke teman yang dari Bondowoso tadi. Ini bukan masalah kecil atau besar. Ini masalah ketertiban dan kedisiplinan dalam berlalu lintas. Saya mengakui salah dan saya mohon maaf atas kecerobohan dan kesombongan saya dalam beropini. Itu tidak lebih karena cakrawala pengetahuan saya waktu itu masih sempit dan sangat terbatas. Dan yang paling penting lagi, karena saya waktu itu belum pernah tinggal di Jepang.

Saya sudah berjalan kira-kira sudah sampai 400 meter. Saya melihat arah jalan ke depan semakin sepi dari area pertokoan. Saya memutuskan untuk berbelok ke kanan dengan harapan mungkin toko daging ayam tadi di area situ. Atau jika tidak, saya bakal pulang dengan jalan pintas. Akhirnya saya berbelok arah hingga kira-kira 200 meter. Semakin ke depan, saya lihat semakin sepi dari keramaian. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk membuka Google Maps.

Saya selama di Jepang berusaha mengurangi penggunaan internet dari handphone. Bukan karena saya tidak lagi tertarik untuk berinternetan dengan handphone, saya cuma merasa tidak enak, sungkan, kepada supervisor saya. Kehidupan saya di internet melalui handphone berkat kebaikan beliau. Saya tidak enak apabila terlalu banyak menggunakan data internet milik beliau.

Dengan sedikit terpaksa, saya membuka Google Maps. Google Maps lumayan menguras banyak kuota! Tapi saya mencoba untuk membukanya. Saya mencoba memahami lokasi saya dan beberapa titik yang mulai saya kenali. Ternyata, apabila saya meneruskan jalan ini, jarak saya pulang ke flat justru akan semakin jauh.

Saya memutuskan kembali. Saya kembali berjalan dari arah yang sudah saya lewati tadi sambil kembali mencari-cari di mana sih letak toko daging ayam itu. Saya tetap tidak berhasil menemukannya. Hingga pada akhirnya saya sedikit tergoda dengan minimarket Lawson Store. Toko anak hukum? 😀

Bukan! Saya melihat toko tersebut menjual aneka sayuran dan buah-buahan dan tertulis angka 100. Saya menduga toko ini akan menjual seluruh barangnya dengan harga sama, yaitu 100 Yen.

Ternyata benar. Hampir semua barang yang dijual di toko tersebut dengan harga 100 Yen. Saya dapat beberapa sayuran dan beberapa barang dapur lainnya juga dengan harga 100 Yen. Sebagian justru memiliki harga yang jauh lebih murah dibanding dengan harga-harga yang sudah saya beli hari kemarin. Padahal toko tempat saya beli barang dapur kemarin itu adalah rekomendasi teman-teman Indonesia di sini dan supervisor saya yang katanya harganya murah-murah.

Tidak menemukan daging, tapi menemukan wortel. Saya mendapatkan dua buah wortel besar dengan harga 100 Yen. Saya membelinya untuk melengkapi sayuran lain yang sudah saya beli kemarin, untuk nanti saya membuat sup. Saya juga membeli cambah, toge panjang untuk ditumis, kaos kaki, jamur tiram, sabun cuci piring, saus dan kecap. Masing-masing semua saya dapatkan dengan harga 100 Yen. Menurut saya ini relatif murah.

Waktu semakin malam, saya belum sholat magrib. Saya bergegas pulang menuju arah kampus dan berjalan sekitar 2 km menuju arah flat. Tidak butuh waktu lama. Sekitar 15 sampai 20 menit saja.

Sesampai flat dan selesai sholat magrib, saya memasak sup sederhana dan lanjut dengan kembali menerjemahkan artikel yang tadi pagi dan tadi siang belum selesai. Tidak membutuhkan waktu begitu lama, sisa 10 halaman saya selesaikan dalam waktu 2.5 jam sudah terselesaikan dan sudah saya emailkan kepada yang bersangkutan.

Dari semua aktivitas hari ini, saya belajar satu hal. Seringkali kita akan dihadapkan pilihan lain saat apa yang kita cari ternyata tidak didapatkan, tidak memberikan jawaban ataupun tidak memberikan kepastian. Kehidupan harus terus berjalan. Akan terdapat pengalaman baru dari apa yang tidak kita ketahui sebelumnya.

.

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *