Posts in India

Ramai Berita Persekusi Muslim di India: Ternyata India Punya Masa Lalu Ini

Dalam beberapa pekan terakhir, banyak dijumpai berita kekerasan terhadap Muslim di India. Kekerasan tersebut dipicu oleh pengesahan amandemen UU Kewarganegaraan 1955 pada 11 Desember 2019. UU ini memungkinkan diberikannya status kewarganegaraan India kepada migran ilegal yang beragama Hindu, Sikh, Buddha, Jain, Parsi, dan minoritas agama Kristen, yang telah melarikan diri dari penganiayaan dari Pakistan, Bangladesh dan Afghanistan sebelum Desember 2014. UU ini memberikan pengecualian terhadap Muslim. Pembedaan perlakuan ini yang selanjutnya melahirkan protes tak berkesudahan. Selanjutnya, keadaan ini melahirkan konflik sosial antarumat beragama, khususnya antara warga beragama Hindu dan Muslim.

India adalah negara yang kompleks

Satu hal yang harus dipahami bersama, India adalah negara yang kompleks. Keberagaman India seringkali memicu banyak konflik sosial. Sebenarnya, India tidak hanya menghadapi tantangan mewujudkan kehidupan harmonis antarumat beragama. Negara ini juga memiliki permasalahan kesenjangan ekonomi, kemiskinan, kesehatan, lingkungan, hingga tingginya tingkat kelahiran maupun kematian. Namun demikian, agama menjadi topik yang cukup sensitif dan dapat melahirkan konflik sosial yang tidak berkesudahan.

Dari sisi kerangka regulasi nasional, India tampak lebih baik daripada Indonesia dalam hal pemberian jaminan dan kebebasan beragama. Konstitusi India menegaskan diri India sebagai negara sekuler. Sekularisme India didefinisikan bahwa negara berada pada posisi netral, dengan adanya kebabasan warga negara untuk meyakini, beribadah maupun menyebarkan agamanya masing-masing. Tercatat, terdapat banyak sekali agama di India, termasuk Ahmadiyah dan Baha’i, yang dianggap sesat di Indonesia, tumbuh dan berkembang di India. Agama Jainisme dan Parsi juga hidup di India.

India juga bisa dibilang cukup netral dalam urusan ideologi. India di dalam konstitusi menegaskan diri sebagai negara sosialis. Prinsip-prinsip sosialisme terasa kuat tercantum baik di dalam pembukaan maupun isi pasal Konstitusi India. Seiring dengan berjalannya waktu, India tidak anti kapitalisme. India melakukan reinterpretasi konstitusi dengan terbuka menerima kapitalisme dalam kehidupan bernegara. India juga tidak melakukan pelarangan terhadap partai komunis. Ada dua partai komunisme, yaitu Communist Party of India (CPI) dan Communist Party of India Marxist (CPIM). Keduanya ikut serta dalam pemilihan umum, meskipun kurang diminati oleh warga India dan terkesan mandul.

India punya masa lalu

Tidak hanya manusia yang punya masa lalu. India juga punya masa lalu tentang usaha dan tantangan membina kerukunan dan keharmonisan umat beragama. Sudah banyak terjadi ketegangan antara umat Hindu vs umat Islam di India. Islam India seringkali dicurigai oleh Hindu karena dianggap memiliki hidden agenda dengan motif fanatisme agama. Umat Hindu juga tak jarang melawananya dengan atas dasar fanatisme agama pula.

Banyak sekali insiden teror yang melibatkan Muslim India. Selama saya tinggal di Hyderabad, banyak mendapatkan cerita tentang aksi teror yang melibatkan Muslim India. Pada 2007 misalnya, terjadi ledakan bom di Hyderabad, tepatnya di area Lumbini Park. Aksi ini diikuti dengan leadakan bom susulan di Gokul Chat Bhandar, salah satu restoran ternama di Hyderabad yang letaknya sekitar lima meter dari Lumbini Park. Kedua insiden ini telah menewaskan 42 jiwa. Pada 2013, ledakan bom terjadi kembali. Dua ledakan bom secara beruntun berlokasi di Dilsukhnagar, salah satu pusat perbelanjaan di Hyderabad. Keadaan seperti kemudian seringkali ditautkan dengan ancaman kehidupan beragama.

Kejadian serupa juga terjadi di banyak daerah. Kemampuan untuk menahan diri terhadap anarkisme dan pertikaian sosial seringkali menjadi tantangan bagi masyarakat India yang secara sosial, budaya dan agama cukup beragam.

Kelahiran India-Pakistan

Hingga saat ini, hubungan diplomasi India-Pakistan tidak berjalan dengan baik. Tentu, ada alasan-alasan di balik buruknya hubungan bilateral kedua negara yang bertetanggaan itu.

India dan Pakistan memiliki masalah yang hingga kini belum tuntas. Masalah tersebut lahir bersamaan dengan lahirnya kedua negara itu. Lahirnya Pakistan dilatarbelakangi keinginan terpisahnya masyarakat British India atas dasar agama. Permasalahan ini semakin mengemuka secara tajam sejak Inggris berencana akan memberikan kemerdekaan bagi British India.

Pakistan yang diwakili oleh Muhammad Ali Jinnah menginginkan adanya sebuah negara dengan penduduk Islam mayoritas. India yang diwakili oleh Jawaharlal Nehru menginginkan India bersifat inklusif dan berharap Jinnah mengurungkan ide atas lahirnya Pakistan sebagai negara tersendiri. Nehru bercita-cita India akan berdiri sebagai sebuah negara besar yang di dalamnya semua umat beragama dapat terwadahi, dengan memperlakukan seluruh warga negara sama.

Perundingan demi perundingan telah dilangsungkan. Perundingan demi perundingan berlangsung semakin sengit. Akhirnya, kelahiran Pakistan tidak lagi dapat terhindarkan. Beberapa alasan kenapa Pakistan harus lahir karena India didominasi oleh warga beragama Hindu. Secara politik, Islam tidak akan dapat mendapatkan posisi yang cukup dan kemenangan. Apalagi, sistem demokrasi yang diadopsi India menerapkan one person one vote.

Sejak diputuskannya Pemerintah Inggris akan meninggalkan India pada 1947, dan sejak diputuskannya India dan Pakistan akan berdiri masing-masing sebagai negara, terjadi gelombang besar migrasi. Umat Hindu yang berada di Pakistan berbondong-bondong berpindah ke wilayah India. Begitu juga dengan umat Islam yang tinggal di India, mereka berbondong-bondong meninggalkan India menuju Pakistan. Proses migrasi ini menelan jutaan korban jiwa di tengah perjalanan, selain banyaknya pemerkosaan dan penjarahan.

Kelahiran kedua negara ini diikuti dengan konflik atas nama agama. Meskipun India berdiri tidak atas dasar agama Hindu, dalam proses penyusunan konstitusi juga ada perdebatan untuk menjadikan India sebagai negara Hindu. Gagasan tersebut urung karena pemimpin India saat itu cenderung memiliki pandangan politik liberal dengan mengakomodasi keragaman yang dimiliki India.

Gerakan Hindu radikal

Tentu, hampir semua teman-teman yang membaca tulisan ini mengenal Mahatma Gandhi. Lebih akrab dipanggil Gandhi, namun sebetulnya nama lengkapnya adalah Mohandas Karamchand Gandhi. Gandi adalah simbol kebijaksanaan India. Lahirnya India yang menjujung keberagaman dalam persatuan India ini tidak lepas dari usaha Gandi untuk mempersatukan India. Gandhi seringkali dituduh tidak loyal terhadap Hindu karena kedekatan Gandhi dengan umat Muslim. Sebetulnya, Gandhi ingin membangun kepercayaan dan memiliki kedekatan dengan umat Muslim, sebagai cara untuk mempersatukan India.

Sikap akomodatif Gandhi ini melahirkan perlawanan dari gerakan radikal Hindu. Gerakan tersebut bernama Rashtrya Swayamsevak Sangh (RSS). Organisasi sayap kanan ini menginginkan India sebagai negara Hindu yang tentu saja berlawanan dengan sikap politik Gandhi. Singkat cerita, Gandhi dibunuh oleh aktor yang berafiliasi dengan RSS ini.

RSS ini sempat dibubarkan oleh Pemerintahan Indira Gandhi pada 1975. Namun, pembubaran RSS ini kemudian menjadi titik balik pembalasan dan insiden kekejaman yang terjadi di kemudian hari. Saat partai Indian National Congress (INC) berada pada titik krisis kepercayaan, terutama karena masifnya kasus korupsi yang melibatkan partai ini, gerakan radikal Hindu mendapat tempat besar. Bharatiya Janata Party (BJP) yang berafiliasi dengan RSS pada 2014 memenangkan pemilihan umum nasional. Konsekuensinya, partai ini menjadi partai berkuasa dan menempatkan Narendra Modi sebagai Perdana Menteri India.

Narenda Modi memiliki rekam jejak buruk dalam membina kerukunan umat beragama. Setidaknya, rekam jejak Modi bisa dilihat dari sikap diamnya saat Gujarat Riot 2002 berlangsung. Saat itu, Narendra Modi menjabat Gubernur Gujarat. Meninggalnya 60 jamaah Hindu yang dalam perjalanan di kereta api dari Ayodhya dibalas dengan penyerangan terhadap umat Islam dan masjid di Gujarat, menelan ribuan korban jiwa.

Ayodhya, Ramachandra, dan India

Tentu saja sangat ironis, saat agama menjadi alat tempur. Terlebih, sejarah ketuhanan di dalam agama Hindu tidak lepas dari nilai-nilai kebajikan. Dalam sejarahnya, saat itu, Raja Vikramaditya menemukan tanah yang disebut Ayodhya, tempat itu dipercaya sebagai tempat Ramachandraa mandi di Sungai Sarayu. Kemudian, Raja berusaha mencari tahu Rama dilahirkan. Setelah melakukan observasi, Raja Viramaditya membangun Ayodhya kota. Atas pembangunan kota tersebut, banyak orang dari tempat jauh mulai berbondong-bondong ke Ayodhya. Ayodhya yang sebelumnya merupakan hutan menjadi tempat besar, tempat suci.

Dari mitos menjadi fakta, kota legenda menjadi tempat nyata dan Rama diterima sebagai inkarnasi Tuhan di Bumi, dengan pusat di tepi sungai. Namun, kemudian, kisah yang sejak lama disucikan digunakan oleh kaum fundamentalis Hundu untuk melegitimasi supremasi Hindu di India, sebuah negara dengan banyak agama. Atas nama Rama, Rajanya Tuhan, manusia yang ideal, lambang keadilan, kekerasan sektarian menjadi tak terhindarkan di India.

Akbar vs Aurangzeb: tragedi kerukunan dan kekerasan

Banyak dari kita yang tidak asing dengan nama Akbar. Seringkali kita mendengar Jodha-Akbar di layar televisi. Akbar adalah salah satu kaisar dalam Dinasti Mughal. Dinasti Mughal sendiri adalah kekaisaran Islam yang memerintah hampir seluruh wilayah India. Salah satu peninggalan Dinasti Mughal adalah Taj Mahal, dibangun oleh Kaisar Shah Jahan sebagai bentuk cintanya kepada istrinya Mumtaz Mahal yang meninggal dunia.

Akbar identik dengan kaisar yang mengakomodasi perbedaan. Bahkan, untuk membangun kekuasaannya, Akbar menikahi perempuan Hindu bernama Jodha. Dalam pemerintahan, Akbar memperkenalkan filosofi negara bernama Dinul Ilahi (agama Tuhan). Dinul Ilahi adalah keimanan terhadap Tuhan secara sinkretis, disusun oleh Kaisar Akbar pada 1582 M. Dengan konsep ini, Akbar ingin menggabungkan beberapa elemen agama kekaisarannya, sehingga adanya rekonsiliasi atas perbedaan yang mengkotak-kotakkan warganya. Dinul Ilahi secara khusus disarikan dari unsur-unsur keagamaan yang terdapat dalam ajaran Islam dan Hindu, selain juga adanya akomodasi dari nilai-nilai ajaran agama Kristen, Jainisme, dan Zoroaster. Akbar dikenal sebagai kaisar yang mampu membawa India dalam kehidupan harmonis.

Pada dua generasi setelah Akbar, kaisar yang berkuasa adalah Aurangzeb. Berbeda dengan Akbar, banyak sumber menerangkan bahwa Aurangzeb menggunakan kekuasaannya untuk memerangi umat Hindu. Sebenarnya mungkin sudah menjadi watak Aurangzeb sendiri yang didorong oleh keinginan bertahta. Aurangzeb tercatat telah memenjarakan ayahnya (Shah Jahan) dan menjadi dalang pembunuhan ketiga saudara laki-lakinya. Anehnya, di balik sikap yang gila kekuasaan ini, Ia terkesan taat beragama, namun mengamalkan ajaran agama Islam secara kaku. Aurangzeb melarang penggunaan instrumen musik dan melakukan pembakaran terhadap alat-alat musik.

Satu hal dari tindakan Aurangzeb yang masih terekam kuat dalam ingatan umat Hindu dan seringkali digunakan oleh kelompok radikal Hindu adalah kebijaakannya melakukan persekusi terhadap umat Hindu. Selama berkuasa, Aurangzeb melakukan pembantaian terhadap umat Hindu dalam jumlah besar. Namun demikian, tentu saja, kontribusi Muslim India di masa lalu tidak hanya seburuk yang dilakukan oleh Aurangzeb. Ada kisah baik dan bijaksana yang telah dituliskan oleh Kaisar Akbar.


Sumber: kawanhukum.id

Menegasikan Stereotypes

Perjalanan malam ini mungkin akan menjadi bagian dari cerita paling dramatis sepanjang saya kuliah dan traveling di India. Perjalanan ini adalah saat saya bertolak dari Hampi menuju Hyderabad. Ini adalah perjalanan pulang saya, saat di Sleeper Class Train, yang merupakan akhir dari 14 hari traveling di India Selatan. Selama 14 hari, saya mengunjungi beberapa titik utama India selatan (Negara Bagian Kerala, Tamil Nadu dan Karnataka). Oh iya, ini sekaligus kali terakhir traveling saya selama tinggal di India. Hari ini 8 September, saya pulang ke Indonesia 14 September 2015.

Kereta yang saya naiki saat perjalanan dari Hampi menuju Hyderabad ini di pertengahan rute selalu melepaskan 3 gerbong paling belakangnya untuk selanjutnya disambung dengan kereta lain dengan rute Hyderabad. Sedangkan kereta utama berlanjut menuju Visakhapatnam (621 km dari Hyderabad). Saya tahu akan ada pemisahan rute, tapi itu tidak dijelaskan di tiket. Dan, sepanjang saya traveling menggunakan kereta, saya tidak pernah punya pengalaman pemisahan rute kereta.

Cerita berawal, saat itu, saya bersama seorang teman India yang saya kenal di Stasiun saat menunggu kereta datang. Seperti biasa, saat traveling, saya tidak hanya mengunjungi tempat-tempat baru tetap juga berusaha untuk mengenal orang-orang baru sebagai bagian dari traveling ‘antropologi’ saya.

Dia di Gerbong 6, saya di Gerbong 8. Karena terlalu asik ngobrol sampa tiba saatnya saya mau kembali ke gerbong saya. Saat saya turun dan menuju ke gerbong 8, ternyata gerbong yang saya naiki itu adalah gerbong paling akhir. Gerbong saya sudah tidak ada. Pada akhirnya, saya kembali menuju ke teman tadi yang barangkali tahu solusinya. Akhirnya kita tanyakan kondektur. Menunggu kondektur kereta cukup lama,sekitar 10 menit dan akhirnya kereta berjalan dan saya ikut dalam perjalanan kereta yang setelah saya cek di Google Maps ternyata arahnya semakin menjauh dari Hyderabad. Bodohnya dan mungkin karena panik, saya tidak tanya ke Bapak di Stasiun.

Setelah 10 menit menunggu, Bapak Kondektur mengatakan mengatakan bahwa gerbong saya dilepaskan di stasiun sebelum. Bapak kondektur kereta tidak memberikan solusi, hanya menginformasikan pelepasan gerbong kereta. Selebihnya dia hanya menjawab, “I don’t know” sambil dua tangan terangkat ke atas. Itu adalah ekspresi yang lazim orang India lakukan saat hendak lepas tangan.

Saya disarankan teman saya tadi turun di stasiun berikutnya, sekitar 15 km akan tiba di stasiun berikutnya. Saya harus turun di stasiun berikutnya, kembali ke arah stasiun pelepasan gerbong saya tadi (2 stasiun sebelumnya). Saya buka dompet, uang tersisa hanya 240 Rupees. Rekening SBI saya sudah habis saya buat traveling semua. Ini tidak mungkin kalau saya harus turun. Saya tidak punya uang untuk kembali, naik auto/bemo? Uang 240 Rupees tidak bakal cukup apalagi saat saya lihat di Google Maps, lokasi stasiun relatif sangat pelosok. Tapi, kalau saya kalau tetap di kereta itu, saya bakal semakin menjauh dari Hyderabad. Dan ini bakal semakin rumit permasalahannya.

Dan ternyata, di stasiun yang dibilang 15 km tadi, kereta tidak berhenti. Kereta hanya berjalan sedikit melambat. Saya mau loncat, tapi sedikit ragu. Dan akhirnya saya putuskan meloncak turun. Banyak orang pada teriak, baik yang di dalam kereta maupun di luar kereta. Pedagang asongan juga ikut berteriak, “Hi Chinese what are you doing?” Rupanya saya dianggap orang Chinese. Wajar, yang orang India tahu adalah China dan orang Asia Tenggara seringkali dianggap sebagai Chinese. Belakangan saya baru tahu, mereka mengira saya hendak bunuh diri!

Setelah saya turun dari kereta, saya dikerumuni banyak orang. Lazimnya orang India, setiap ada suatu kejadian, orang India akan pada berkerubung. Satu atau dua di antara mereka bertanya dan selebihnya menonton dengan seksama, dengan tangan terkunci ke belakang. Saya dianggap barang tontonan.

Parahnya! Mereka tidak bisa bahasa Inggris. Bahasa Inggris yang mereka ketahui hanya bahasa Inggris dasar. Saat saya tanya, mereka balik tanya, “Hindi ata, yaar?” Saya melempar jawaban balik, “Nei Hindi, English please bhaiya”. Bagaimana mungkin orang yang mereka anggap Chinese ini bisa bahasa Hindi. Mereka hanya bisa berbahasa Hindi, saya hanya bisa berbahasa Inggris. Akhirnya, kita hanya bisa menggunakan bahasa isyarat yang intinya saya disarankan menuju pegawai di loket stasiun. Stasiun itu kecil, kira-kira seperti Stasiun Arjasa di Jember. Saya bertemu langsung Bapak Ketua Stasiun, dia bisa berbahasa Inggris, meskipun kadang masih bercampur dengan bahasa lokal. Waktu menunjukan pukul 8.40 malam, saya disarankan tenang. Sebentar lagi, 5-10 menit akan ada kereta datang menuju arah stasiun tempat pelepasan gerbong saya.

Saya tanyakan, “memang waktunya cukup?”

“Semoga cukup, kalau kereta datangnya tidak telat” jawabnya.

Saya semakin panik. “Bagaimana kalau ternyata saat saya sudah sampai stasiun itu, tapi kereta saya sudah berangkat?”

Beberapa orang yang tidak bisa bahasa Inggris tadi kembali bergerombol. Ternyata, dalam rentang waktu saya komunikasi dengan Bapak Kepala Stasiun, mereka mencoba merangkai kalimat berbahasa Inggris. Satu orang mencoba berbicara dalam bahasa Inggris dengan sangat pelan, “tenang saja mas, pasti baik-baik saja.” Satunya lagi menambahkan, “oh iya, Ini minum dulu, chai atau kopi? Gratis tidak usah bayar. Saya tahu kamu lagi cemas.” Mereka adalah pedagang asongan di area itu yang mengklaim sudah berpengalaman dan tahu jadwal kereta.

Setelah kereta yang dimaksud datang, naiklah saya menuju tujuan stasiun saya tadi, Stasiun Guntakal. Perjalanan kira-kira sekitar 1 jam menuju Stasiun Guntakal. Saat itu waktu menunjukkan 8.52 malam. Berarti untuk sampai stasiun Guntakal setidaknya pukul 9.52 malam. Sedangkan kereta saya selanjutnya akan berangkat pukul 10.05 malam. Saya semakin cemas saja.

Saya di antarkan oleh dua Bapak pedangan asongan tersebut. Saya dicarikan tempat duduk dan diceritakan kalau saya mau kembali arah Guntakal karena rutenya ke Hyderabad. Bapaknya juga tidak lupa menawarkan saya chai kembali. Dalam benak saya masih ada kecurigaan tentang keburukan perilaku orang-orang India. Stereotypes yang dibangun media seringkali masih membuat saya banyak menaruh curiga kepada orang-orang India, khususnya di area yang saya sama sekali tidak mengenal itu. Padahal saya sudah dua tahun di India, kadang masih belum bisa percaya sepenuhnya tentang kebaikan dan kejujuran orang-orang India.

Saya duduk di dekat pintu antargerbong. Saya duduk yang tampaknya kelihatan masih sangat cemas yang akhirnya ada seorang India menanyakan ke saya, “ke Guntakal ya Mas? Santai saja Mas, estimasi saya pasti sampai. Tenang saja”.

“Iya, Pak. Saya harusnya dengan Kereta yang ke arah Hyderabad. Gerbong saya dilepaskan di Guntakal”, jawab saya.

Setelah berkenalan, ternyata Bapak ini juga akan turun di Guntakal. Bapak ini sesekali dua kali membuka smartphone dan bilang, “gerbongnya masi di Guntakal. Nanti berangkatnya jam 10.15. Terlambat 10 menit dari jadwal awal”.

“Bapak kok tau?”, tanya saya.

“Saya co-masinis, Mas. Saya bisa monitor seluruh jadwal kereta di India di hape saya. Semua akan baik baik saja. tengang saja Mas”, Sahut dia.

Saya juga ikut monitor perjalanan yang paling banter di Google Maps. Jarak semakin mendekat dan sampailah pada jarak 2 km, namun kereta tiba-tiba berhenti sekitar 10 menit.

“Lho kenapa kok berhenti, Pak? Ini sudah jam 9.55.”

“Pergantian track kereta ini. Mungkin 5 menit lagi akan jalan lagi”, Jawabnya.

Kereta sampai di Stasiun Guntakal pukul 10.07 malam. Saya langsung ditarik sama Bapaknya dan diajak lari ke arah platform gerbong kereta saya. Sesampai di Platform dan Gerbong kereta saya, saya diminta cek barang-barang saya apakah masih ada dan aman. Saya meninggalkan satu tas ransel yang sebelumnya saya titipkan ke dua orang yang saya sempat berkenalan singkat, mereka berdua Muslim. Dan ini sekaligus menepis stereotypes buruk tentang Muslim di India dari pengalama saat saya bersama seorang teman traveling di Gujarat. Saat itu kita di masjid dan dalam posisi tas ditinggal ambil wudhu. Tas teman saya digeledah dan hampir saja handphone-nya dicuri.

Setelah saya menemukan tas dan memastikan isi di dalam tas, semua tidak ada yang hilang. Memang tidak ada barang yang terlalu berharga. Dompet, kamera DSLR dan hape saya bawa semua. Tas hanya berisi oleh-oleh khas Kerala.

Setelah semua aman, saya mengucapkan terima kasih ke Bapaknya. Dan Bapaknya minta saya menunggu, “tunggu Mas. Bawakan tas saya.”

“Kenapa?” tanya saya agak heran.

“Saya mau ke toilet dulu.” jawab dia sambil lari menuju toilet dalam kereta.

Ternyata dia sudah sejak turun kereta tadi sudah ingin ke toilet, demi membantu saya agar tidak tertinggal kereta.

Malam ini, saya belajar banyak tentang India dan orang-orangnya. Stereotypes membuat orang-orang India buruk. Seringkali selanjutnya orang India dihakimi atas dasar hitam dan putih, terlalu digeneralisasi. ternyata tidak semua orang India seperti itu. Bahkan orang India sekelas pedagang asoangan pun, mereka masih memiliki hati nurani, rasa kemanusiaan untuk memberikan pertolongan kepada orang yang kesusahan. Bahkan dengan pekerjaan mereka sebagai pedagang asongan kereta yang tidak seberapa, mereka masih sempat menawarkan chai gratis.

—————————————————————

Status ini saya narasikan kembali dari status saya:
Tersesat di tengah jalan, 300 km away from Hyderabad, then mikir solusi cepat. Loncat dr kereta, turun di pedesaan, malam-malam lagi. Dann, saat lihat dompet tinggal Rs. 240. Wih, tambah seru. Traveling is the journey of adventure. 

 

Sumber: Status FB saya

Beginnings: India dan Traveling Saya

Menjadi hal yang lumrah saat banyak di antara orang-orang asing, khususnya para para mahasiswa luar negeri akan mengatakan bahwa tinggal di India cukup sulit. Hal demikian dikarenakan India memiliki lingkungan yang kompleks, budaya beragam dan sikap orang-orang India yang relatif berbeda. Namun, apabila asumsi demikian yang muncul dalam pikiran kita, berarti bahwa kita sesungguhnya masih perlu belajar banyak tentang India. Akan menjadi kesimpulan yang prematur apabila tiba-tiba kita mengatakan bahwa India merupakan tempat yang tidak tepat untuk disinggahi. Asumsi-asumsi tersebut dapat muncul apabila kita belum berkeliling ke beberapa penjuru India. Sehingga, kita perlu traveling untuk menemukan tempat-tempat baru dan belajar dari pengalaman selama traveling. Kita akan menemukan makna dan pengalaman yang tidak akan didapatkan selain di India. Karenanya, dari beragam paradoks tersebut layak apabila India seringkali disebut dengan Incredible India.

Read More

Hal yang unik dari lebaran di India

 

Ini adalah pertama kalinya saya menuliskan cerita tentang lebaran di India. Ide cerita ini muncul saat saya diminta bercerita oleh seorang mahasiswa sekaligus teman di K-Radio di Jember dengan tema merayakan lebaran di luar negeri. Saat itu saya diminta untuk bercerita tentang lebaran di India.

Oh iya, sebelumnya perlu saya ceritakan singkat bahwa baru saja menyelesaikan studi S2 hukum di Universitas Osmania, Hyderabad. Saya mendapatkan beasiswa Indian Council for Cultural Relations (ICCR) Scholarship atau biasa disebut dengan beasiswa ICCR. Saya berangkat awal Juli 2013 dan pulang bulan September 2015. Waktu itu, saat sampai di Hyderabad, adalah minggu awal puasaan. Jadi kalau dihitung, selama di India saya ikut merayakan lebaran selama tiga kali dalam waktu dua tahun.

Perlu saya sedikit cerita tentang Hyderabad, tempat saya tinggal di India untuk menimba ilmu. Hyderabad adalah kota terbesar kelima di India setelah Mumbai, New Delhi, Bangalore, dan Kolkata (nanti saya akan tuliskan cerita lengkap tentang traveling saya di kota-kota tersebut). Secara demografi, Hyderabad merupakan kota dengan penduduk muslim yang relatif besar, dengan taksiran mencapai 30%. Sehingga, tidak heran apabila teman-teman berkunjung ke Hyderabad akan menemukan banyak masjid. Cuma, arsitektur masjid di India, khususnya Hyderabad sedikit berbeda dengan kebanyakan masjid di Indonesia.  Jika di India terdapat bangunan berkubah menyerupai masjid, kebanyakan adalah makam raja atau wali. Masjid sendiri memiliki arsitektur tanpa kubah (atasnya datar). Biasanya diujung segi empat terdapat menara kecil.

Secara historis, Hyderabad menjadi salah satu pusat peradaban India dengan kerajaan Hindu dan kerajaan Islam (misal Kerajaan Nizam yang merupakan pecahan kerajaan Mughal) yang pernah berkuasa di wilayah ini. Saat ini, masyarakat Hyderabad lokal berbahasa Telugu. Telugu adalah salah satu bahasa lokal yang menjadi salah satu bahasa resmi negara bagian Andhra Pradesh (sejak 2014, menjadi Telangana). Sedangkan masyarakat muslim lebih suka menggunakan bahasa Urdu (mirip dengan bahasa Hindi, dengan aksara arab).

Kembali ke cerita awal. Saya ingin fokus pada cerita lebaran di India. Dengan melihat aspek demografi, sejarah maupun budaya, Hyderabad adalah tempat yang layak untuk mewakili India untuk bercerita tentang lebaran di India. Terdapat perbedaan, itu pasti. Terdapat persamaan, pasti juga banyak samanya. Terlepas dari persamaan ataupun perbedaan, saya ingin menguraikan hal-hal yang khas dan  dan unik dari lebaran di India.

1. Lebaran di India selalu terlambat satu hari
Selama tiga kali saya lebaran di India, Idul Fitri di India selalu jatuh sehari setelah Idul Fitri di Indonesia maupun di negara lain pada umumnya.  Ini yang kemudian seringkali terasa sedikit aneh saat  mengucapkan lebaran dan memohon maaf lahir batin kepada keluarga dan teman-teman di Indonesia, apalagi kepada orang tua. Kesannya mengucapkan lebaran dan memohon maaf lahir batinnya terlambat.

2. Libur lebaran hanya satu hari
Saat kita hendak merayakan Idul Fitri di Indonesia, sekolah-sekolah, kantor-kantor ataupun segala aktivitas lainnya akan libur. Biasanya dikenal dengan cuti bersama. Bisa satu minggu, sepuluh hari bahkan dua minggu. Kalau di India, liburnya hanya satu hari pada 1 Syawwal saja. Hari selanjutnya tetap masuk seperti biasa. Oleh karena itu, bersyukurlah kita yang tinggal di Indonesia bisa menikmati libur panjang selama lebaran.

3. Shalat Eid selesai kira-kira baru jam 10 pagi
Kalian yang tinggal di Indonesia, pasti jam 10 pagi sudah selesai shalat Eid. Mungkin yang tinggal di desa bahkan sudah selesai silaturahmi ke rumah-rumah tetangga. Kalau kalian di India, jam segitu kalian baru selesai Shalat Eid.

4. Ceramah Shalat Eid panjang sekali
Meskipun sekitar jam 10 pagi sudah selesai, namun kita harus datang sekitar satu jam sebelum berlangsungnya Shalat Eid. Jika tidak, kita tidak akan mendapatkan tempat di depan. Dengan datang lebih awal, dengan konsekuensi mendengarkan ceramah berbahasa Urdu yang tidak kita pahami dan lama sekali. Pengalaman saya saat shalat di area Aramghar, saking banyaknya, orang-orang yang ikut Shalat Eid sampai berceceran ke jalan-jalan kecil hingga ke jalan besar.

5. Shalat Eid tidak bisa dilaksanakan di sembarang masjid
Meskipun saat di Hyderabad bisa mudah menemukan masjid, tidak setiap masjid digunakan sebagai tempat Shalat Eid. Otoritas setempat telah menentukan titik-titik tertentu untuk melangsungkan shalat Eid. Shalat Eid selalu mendapatkan pengawalan polisi untuk alasan keamanan. Salah satunya, karena isu SARA di India relatif sensitif.

6. India tidak mengenal open house saat lebaran
Jangan pernah berharap ada open house oleh masyarakat muslim India. Masyarakat muslim di India tidak mengenal budaya open house ataupun silaturahmi selama lebaran. Jadi, kami orang-orang Indonesia merayakan lebaran sendiri. Kami pelajar Indonesia dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India di Hyderabad merayakan sendiri lebaran bersama dengan warga Indonesia yang bekerja di Hyderabad. 1 Syawal adalah momen bagi warga Indonesia untuk berkumpul dan merasakan masakan khas Indonesia. Di rumah warga Indonesia yang bekerja di Hyderabad, kami memasak dan berkumpul.

7. Jangan ucapkan minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir batin ke muslim India
Orang-orang muslim India tidak mengenal Idul Fitri sebagai momen perayaan. Saya pernah mencoba mengucapkan itu ke teman-teman saya. Respon mereka agak kikuk. Mereka menganggap bahwa Idul Fitri adalah penutup puasa ritual di bulan Ramadan. Mereka juga menganggap permohonan maaf sebaiknya disampaikan setelah mereka menyadari melakukan kesalahan, bukan cenderung mengakumulasi kesalahan dan mengajukan permohonan maaf di Idul Fitri.

CPI: Partai komunis yang masih hidup di India

Bisa dikatakan bahwa Indonesia memiliki sejarah buruk tentang keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berakhir dengan kudeta terhadap pemerintah. Terlepas siapa yang benar dan salah dalam kasus kudeta 30 September 1965 yang seringkali disebut dengan G30S PKI, menarik untuk memelajari partai komunis. Ternyata, partai komunis masih bisa kita temukan di India yang notabene sebagai negara demokrasi.

Secara historis, terdapat dua partai komunis di India, yaitu Partai Komunis India atau Communist Party of India (CPI) dan Partai Komunis India Marxist atau Communist Party of India Marxist (CPIM). CPI didirikan pada 26 Desember 1925, sedangkan CPIM merupakan partai yang relatif baru. Bisa dikatakan bahwa CPIM sebetulnya merupakan pecahan dari CPI yang memisahkan diri pada tahun 1920.

Read More

Wagah Border: Saksi Bisu Partisi India-Pakistan

Dengan meningkatnya perjuangan rakyat dan bangsa-bangsa terhadap penjajahan, akhir Perang Dunia II menjadi babak baru dekolonialisasi dalam sejarah dunia. Kolonalisme pada akhirnya digantikan dengan lahirnya negara-negara baru, seperti dengan lahirnya Pakistan dan India pada Agustus 1947.

Setelah hampir 200 tahun berkuasa di wilayah anak benua, akhirnya Inggris memenuhi janjinya untuk memberikan kemerdekaan bagi India. Pakistan merdeka pada 14 Agustus 1947 dan diikuti oleh India pada hari berikutnya, yaitu 15 Agustus 1947.

Dalam sejarahnya, sejak janji kemerdekaan itu sampaikan oleh Inggris, bangsa India bergejolak. Terdapat peningkatan eskalasi politik bagi calon negara baru India terkait dengan dua pertentangan yang sangat mendasar. Pertentangan argumentasi tersebut adalah mengenai apakah nantinya India akan berdiri sebagai India Raya atau harus terpisah menjadi dua bagian, yaitu India dan Pakistan.

Read More

Charminar: Tersimpan Sejarah dan Konflik Muslim Hyderabad

Terdapat banyak peristiwa sejarah di dunia ini. Khususnya saat peristiwa demi peristiwa membentuk rangkaian peradaban dunia. India memiliki kontribusi besar dalam sejarah peradaban dunia. Masa emas peradaban dicapai India pada abad kuno dan dicapai kembali pada abad pertengahan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa sepanjang sejarah, India adalah wilayah yang tidak pernah miskin. Kecuali, dalam 200 tahun terakhir setelah hadirnya kolonialisasi pada wilayah-wilayah anak benua.

Kedatangan Islam di India juga turut berkontribusi besar dalam meneruskan pembangunan peradaban dalam sejarah baru India modern. Saat ini, hampir sepertiga penduduk Islam dunia bertempat tinggal di India. Sedangkan dalam sejarahnya, pergerakan kota dalam rangkaian sejarah Asia telah membentuk dan mempertemukan dua peradaban besar, yaitu India dan Islam.

Read More

Malabar and First Muslims in India

I visited Malabar coast in August 2015 after completing my master degree (I received degree certificate on 21 August) and chairmanship at Indonesian Student Association in India (I delivered my tenure report on 22 August). I departed on 26 August from Secunderabad Station (Hyderabad) to Ernakulam Junction (Kochin). During the journey, I spent more than 24 hours on India’s sleeper class train.

It was my first journey to Kerala state, the southern state of India. It was part of my two-week adventure visiting Kochin, Kottayam, Thiruvananthapuram, Idukki, Chennai, Mysore, and Hampi. As the complement of saga I earlier visited eastern, western, central and northern parts of territory, it was my last episode of exploring India.

As I told that I did not visit south India before, I reveal that south India is fascinating. In fact, many similarities I had found here with my homeland. Particularly, if the region compared to other parts of India I visited before.

Read More

Secunderabad: tak pernah sepi

Sudah lebih dari setengah tahun tinggal (lagi) di Indonesia. Pulang dari India setelah menyelesaikan studi S2 disana. Tiga tahun yang lalu kira-kira, di bulan ramadan juga, sekitar setelah seminggu mulai berpuasa. Kalau dihitung menggunakan kalender masehi, kala itu 14 Juli 2013. Lebih tepatnya kalau dihitung saat ini adalah 3 tahun kurang satu bulan. Tepat. Itu adalah kala aku berangkat ke India, sekolah lagi.

Banyak cerita, banyak pelajaran, banyak pengalaman. Dari kuliah berbahasa Inggris, ujian (seat-in test) 30 halaman, traveling sana sini, berkegiatan di PPI, ikut festival budaya dan banyak lagi.

Read More