Posts in India

When I was and no longer a chairman

At that time, I read my report of chairmanship at national conference of Indonesian Student Association in India (PPI India) last year in August.

Once I was appointed as Vice Chairman in August 2014, there should be many experiences I got as part of National Board at PPI India. What I remember and never forget, especially after 4 months in the Board the Chairman resigned on 24 December in the same year.

Read More

West, Barat dan India

Banyak dari kita sering menggunakan istilah barat dan timur. Tak kecuali juga istilah negara barat dan negara timur. Namun, apa sih sebenarnya maksud barat dan negara barat itu? Mungkin di antara kita sering menggunakan istilah west atau barat merujuk pada bangsa Eropa. Atau Amerika? Banyak di antara kita juga sering menemukan literatur bahwa istilah ‘barat’ atau ‘west’ sering merujuk suatu tempat atau wilayah yg identik dengan kemajuan dan kejayaan.

Istilah barat itu sendiri dalam bahasa Indonesia (dan bahasa Melayu) berasal dari bahasa Sanskrit, yaitu ‘bharat’ yang berarti India. Di antara kira sering mendengar pula istilah Mahabharata, yang berarti India Raya atau Great India. Berangkat dari asal kata barat yang kita gunakan sebagai istilah sehari-hari, sekiranya dapat dilihat dengan dua arti.

Pertama, barat adalah arah ujung di mana tempat matahari terbenam yang letaknya hingga barat jauh (India). Kedua, bharat merujuk Negeri India karena kemajuan bangsa tersebut pada abad pertengahan dan sebelumnya. Ini juga didukung bahwa India adalah pusat peradaban kuno di mana kejayaan dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan terletak di sana. Hal ini dikuatkan pula oleh bukti sejarah bahwa India adalah negara yang maju berabad-abad lamanya (dari abad sebelum masehi hingga abad masehi) yang akhirnya runtuh pada 200 tahun terakhir.

Read More

Hari Batik dan Revolusi Mental Ala Gandhi

Beda Indonesia, beda India. Namun, keduanya tidak terlalu jauh dan dari India ada pengalaman yang perlu kita teladani, yaitu revolusi mental ala Mahatma Gandhi. Ia memulainya bukan dari sekadar retorika, melainkan dalam bentuk tindakan, tindakan dirinya. Pakaian khadi, dari pakaian yang mungkin dianggap sebagian orang sebagai hal yang sepele, namun itu sejatinya adalah hal yang esensial. Gerakan Khadi menjadi gerakan ideologi bangsa.

Gerakan Khadi sebagai gerakan moral melawan penjajahan. Bagi Gandhi, moral menjadi pertimbangan utama. Menariknya, Ia mengecam tajam kolonialisme, tetapi tidak membenci orang Inggris karena baginya Inggris tidak merebut India, melainkan bangsa India lah yang memberikannya.

Jika India Khadi, Indonesia punya Batik. Namun apa daya kini kecenderungannya banyak masyarakat Indonesia yang lebih suka membanggakan produk asing, termasuk fashion terbaru dengan kualitas impor, ketimbang memakai pakaian atau produk lokal. Padahal lokomotif pertumbuhan dan kemajuan suatu bangsa berawal dari mental dan kepribadian bangsa itu sendiri, dari kecintaan kita atas karya anak bangsa. Karakter demikian lah yang perlu kembali kita perkokoh untuk membangun dan mempertahankan bangsa kita.

Belajar dari pengalaman Gandhi dan India, mari di Hari Batik hari ini menjadi cara kita para pemuda untuk kembali memaknai identitas bangsa kita. Kita jadikan gerakan batik sebagai gerakan moral, ideologi dan kepribadian bangsa. Karena batik adalah Indonesia.

Selamat Hari Batik 02 Oktober 2014.

Read More

Semua Berawal dari Eksperimen

“Semua berawal dari eksperimen”, demikianlah apa yang saya yakini.

Ya, really, apapun itu hampir kejadian baru di dunia karena berawal dari eksperimen, demikian pula dengan apa yang seringkali saya lakukan.  Semua berasal dari coba-coba disertai dengan keyakinan, semangat dan kesungguhan. Belakangan saya baru saja melakukan hal yang baru juga.

Tentu saja ya, untuk memulai sesuatu yang baru tentu itu akan ada saja yang membuat kita tidak yakin, namun kita harus tetap yakin dan berhati-hati dalam melangkah. Ya, langkah transformatif harus ditempuh, tidak harus kita ‘was-was’ dengan suatu perubahan.

Read More

Pemilu Legislatif Indonesia di India

Indonesia pada tanggal 9 April 2014 kemarin berhasil menyelenggarakan pemilu legislatif yang keempat pasca reformasi. Dengan kata lain Indonesia kembali membangun demokrasi pada periode keempat setelah rezim otoritarianisme yang pemilu hanya sebagai alat legitimasi kekuasaan, bukan merupakan sebuah ruang aspirasi publik.

Pada pemilu ini akhirnya saya mendapatkan hak pilih juga, tidak seperti pada pelaksanaan pemilu 2009. Pemilu lima tahun lalu itu saya tidak termasuk dalam daftar pemilih tetap (DPT), baik untuk pemilu legislatif dan pemilu presiden. Beruntungnya, beberapa hari sebelum pelaksanaan pemilu presiden MK memutuskan bahwa warga negara yang tidak terdaftar dalam DPT dapat menggunakan hak pilihnya dengan menunjukkan KTP dan KK. Read More

Dari Pembuatan Film Hingga Miniatur Dunia

Minggu lalu saya dan teman-teman berkunjung ke salah satu tempat wisata ternama di India, khususnya di Hyderabad. Tempat wisata tersebut bernama Ramoji Film City atau biasa akrab dengan nama Ramoji. Tempat ini berjarak sekira 30 km dari tempat saya tinggal di area kampus Osmania University.

Tiket masuk di Ramoji adalah 800 Rupees, atau sekitar 150 ribu rupiah. Tarif ini tentu tidaklah begitu mahal untuk ukuran kantong masyarakat Indonesia (tapi yang mahal tiket pesawatnya ya,heee). Read More

Jadi Mahasiswa di Negeri Seberang

Jika tahun 2007 silam saya adalah seorang mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia, tahun ini saya kembali menjadi seorang mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi negeri. Namun bedanya, untuk tahun ini saya belajar di negeri seberang, India.

India disebut banyak orang sebagai Negeri Gandhi, Negeri Hindustan atau Negeri Anak Benua. India identik pula dengan kemiskinan, negeri berkembang, negeri kumuh dan negeri jorok. Namun India juga terkenal dengan sisi lainnya, yaitu Negeri Budaya, Negeri 1001 Tuhan, Negeri Peradaban Kuno, Negeri Teknologi, negeri yang mempunyai pertumbuhan ekonomi tinggi dan negeri yang diproyeksi sebagai negeri terkaya kedua di dunia pada 20 tahun mendatang. Read More

Dinginnya Hyderabad di Penghujung Tahun

Mulai seminggu ini Hyderabad mulai terasa dingin. Rasanya dingin tidak sekedar di kulit, tetapi sudah menusuk sampai tulang. Semenjak aku sampai di Hyderabad pada pertengahan bulan Juli lalu, minggu ketiga di bulan Oktober ini adalah yang terasa paling dingin.

Di India, khususnya di Hyderabad, memiliki tiga musim, yaitu musim panas, musim dingin dan musim pertengahan atau monsoon. Musim panas bisa sampai 42ºC yang pada puncaknya antara bulan Maret dan April. Setelah musim panas berlalu, maka berganti dengan musim pertengahan. Read More

Antara Ind(ones)ia dan Indo-one-asia

Minggu ini lumayan banyak kegiatan. Dibanding minggu-minggu sebelumnya, minggu-minggu ini lumayan lebih banyak kegiatan keluar. Nah, ketika banyak kegiatan di luar itu tentu juga bertemu banyak orang dari beragam suku, budaya, bahasa dan negara.

Dalam minggu ini yang paling kuingat ketika di tengah jalan setidaknya adalah tentang pertanyaan yang cukup absurd jika itu ditujukan kepadaku. Read More