Posts in Japan

Kembali ke Indonesia

Tidak terasa sudah lebih dari tiga bulan saya kembali dari Jepang. Saya kembali ke Indonesia, kembali dengan rutinitas kampus. Seperti biasa, saya kembali menjalankan aktivitas dari mengajar dan menulis di kampus. Saat kembali ke kampus, kebetulan saat itu masih dalam masa liburan semester. Sekitar dua bulan waktu liburan saya habiskan dengan adaptasi.

Ternyata, tidak mudah untuk kembali beradaptasi dengan suasana Indonesia. Sama tidak mudahnya saat saya kembali adaptasi dengan lingkungan Indonesia sesaat saya kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan S2 di India sekitar 3.5 tahun lalu. Lingkungan Indonesia terasa relatif asing bagi saya. Rasanya, saya menjalani kehidupan di Indonesia dengan alam India. Begitu juga setelah pulang dari Jepang, saya menjalani kehidupan di Indonesia dengan alam Jepang.

Mungkin, perlunya adaptasi tersebut ditengarai adanya geografis, sosial, budaya maupun ekonomi masing-masing negara (India dan Jepang) terhadap Indonesia. Memang, suasana Indonesia jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan suasana India, sedangkan suasana Jepang tentu saja jauh lebih baik dari suasana Indonesia. Satu hal utama yang saya amati saat saya kembali dari Jepang ke Indonesia adalah memburuknya lingkungan saya. Jepang jauh lebih baik dari Indonesia dari semua aspek. Ini terasa berbeda, saat saya dari India kembali ke Indonesia. Lingkungan Indonesia terasa jauh lebih baik. Dibandingkan India, Indonesia terasa jauh lebih bersih, orangnya lebih ramah, cinta damai. Namun, saat dibandingkan Jepang, Jepang jauh lebih baik, lebih unggul. Jepang terasa jauh lebih bersih, aman, tenang, bebas polusi, sejuk, dengan orang-orang jauh lebih pendiam dan ramah.

Ada hal lain yang saya merasakan tidak mampu beradaptasi dengan cepat. Saya tidak pandai beradaptasi dengan makanan. Saat saya sampai di India, dibutuhkan waktu sekitar tiga minggu agar perut saya dapat berkompromi. Awalnya, saya ingin mencoba sekaligus memaksakan diri untuk mengenal makanan India, saya mencobanya. Sayangnya, setelah itu saya sakit perut. Bisa jadi itu karena faktor kebersihan makanan.

Selain itu, bisa jadi karena komposisi makanan India yang relatif kompleks yang saya tidak pernah menjumpai makanan serupa sebelumnya. Namun, hal yang menurut saya aneh adalah saat saya dari Jepang ke Indonesia, saya mengalami hal serupa. Setelah saya makan makanan Indonesia, perut saya seringkali sakit. Dan, saya membutuhkan waktu yang relatif sama, sekitar tiga minggu, untuk dapat beradaptasi dengan makanan Indonesia. Bisa jadi, karena makanan di Jepang benar-benar memiliki standar kebersihan. Selain karena makanan Jepang tidak berisi komposisi yang kompleks. Menurut saya, makanan di Indonesia memiliki komposisi yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan makanan di Jepang. Secara umum, makanan berkuah di Jepang relatif lebih bening daripada makanan di Indonesia. Ini menegaskan kompleks tidaknya bahan yang terkandung di dalamnya. Dan, rasanya saya belum menemukan makanan pedas di Jepang. Sepedas-pedasnya makanan Jepang, masih belum ada yang menandingi pedasnya sambal jawa, apalagi sambal medan.

Ada persamaan lain saat saya harus beradaptasi kembali dengan Indonesia, baik setelah dari India maupun Jepang. Saya menderita batuk hingga sekitar satu bulan. Saya menderita batuh sekitar satu bulan setelah kembali ke Indonesia selama satu bulan. Jadi, saya kemarin, dari Jepang, saya sampai Indonesia tanggal 27 Desember 2018. Sebulan setelahnya, di akhir Januari 2019, saya batuk-batuk hingga sekitar satu bulan lamanya. Seperti biasanya, saat saya sakit saya mencoba cara penyembuhannya dengan perbanyak istirahat maupun banyak minum air putih. Namun, usaha tersebut tidak begitu membuahkan hasil. Saya tetap batuk. Hingga, saya mencoba membeli beberapa obat batuk di apotek. Namun, batuk saya tak kunjung sembuh. Setelah sekitar satu bulan, batuk itu baru mulai reda.

Kira-kira demikianlah pengalaman saya saat kembali ke Indonesia. Saya harus menjalani masa adaptasi dengan durasi sekitar dua bulan. Mungkin, nanti saya akan perlu beradaptasi kembali, misalnya, setelah kuliah S3 di luar negeri.

Menghilang dari Peredaran

Maaf sempat menghilang. Begitulah mungkin bagian dari karakter saya. Orang-orang yang mungkin pernah tersakiti oleh saya juga bakal paham dengan sifat yang sepertinya mendarah daging pada diri saya. Apa itu? Suka menghilang, entah tanpa kabar maupun bertegur sapa. Bukan begitu juga sebenarnya. Saya belakangan relatif tidak bisa meluangkan waktu untuk menuliskan cerita. Saya menulis lain, untuk draft jurnal, selain membaca referensi penelitian, download artikel dan banyak lah. Cuaca di sini juga terlalu dingin. Sepertinya saya butuh adaptasi yang tidak cepat. Ya, begitulah. Saya juga tidak mudah beradaptasi untuk bisa lekas move on. 🙁

Hari ini saya baru berkesempatan menuliskan cerita kembali. Setelah satu bulan. Ternyata Sudan cukup lama juga. Padahal saya ingin menuliskan satu hari satu cerita. Pada kenyataannya, saya tidak sanggup. Waktu itu, saya sebenarnya ingin berhenti menulis selama satu minggu saja, ternyata sampai berhari-hari hingga hampir satu bulan lamanya.

Oh ya, saya tegaskan kembali. Kenapa saya berhenti update artikel, Karena saya ada beberapa draft artikel yang harus segera submit. Alhamdulillah, Salam satu bulan saya absen, Sudah ada dua artikel saya submit di jurnal berbahasa Inggris.

Saya mungkin akan update artikel lebih sering, meskipun tidak setiap hari. Mungkin seminggu sekali. Atau beberapa hari sekali, saat saya rasa punya waktu luang untuk menuliskan cerita.

Pertama-tama saya akan sedikit flashback ke belakang. Dalam satu bulan terakhir, suhu udara semakin dingin saja. Kadang hujan rintik-rintik. Wajah kota secara perlahan memerah. Dedaunan yang tadinya berwarna hijau menjadi kuning dan sebagian memerah. Dedaunan tiga warna ini hanya terjadi di musim gugur, sebelum musim dingin datang.

Sebenarnya, saat saya datang ke Jepang di awal Oktober 2018 kemarin, Jepang sudah memasuki musim gugur. Namun pada minggu-minggu ini lah, di akhir bulan November, puncaknya musim gugur, dengan segala keindahannya.

Memang, pemandangan musim gugur tampak indah. Tapi tahukan kalian, suhu udara semakin menurun. dari yang awal kali saya sampai Jepang sempat 23 derajat celcius, paling rendah 17 derajat celcius, sekarang berbeda. paling tinggi bahkan sempat 14 derajat celcius. Minggu ini sempat tercatat suhu udara terendah di smartphone saya mencapai 3 derajat celcius. Bagi orang Indonesia seperti saya, tentu suhu udara rentang 14 sampai 3 derajat celcius itu dingin sekali. Bahkan, saya masih ingat saat kecil dulu sehabis hujan-hujanan maupun kehujanan sepulang sekolah, sepanjang jalan sejauh 4 km menaiki sepeda pancal menuju rumah, sudah terasa betapa dinginnya. Ataupun saat pulang dari kampus menuju rumah sejarak 32 km menaiki sepeda motor, sesampai rumah saya langsung berlindung di balik jaket dan selimut.

Pengalaman saya di sini kurang lebih begitu juga. Memang, saya tidak begitu tahan dingin. Meskipun saya sendiri kalau sama perempuan yang saya sukai tiba-tiba menjadi sangat dingin.hehee…

Bukan. Bukan itu maksudnya. Saya sangat tidak tahan dingin di sini terlihat saya di awal-awal suhu tertinggi di bawah 15 derajat celcius itu, tidak lepas dari yang namanya selimut. Bahkan saya sempat beli sarung tangan, dua alas kaki, dua jaket, satu baju tebal, satu sweater. Karena, saya tidak membawa pakaian yang relatif tebal dari Indonesia. Asumsi saya, saya bakal bisa membeli pakaian di Jepang. Karena, saya berpikiran lebih mending kopor bagasi saya penuhi dengan Indomie. Ya, Indonesia. Pengalaman saat saya S2 alangkah bahagianya kami mahasiswa saat bertemu dengan yang namanya Indomie. Oh iya, di Jepang ada sih Mie Sedaap. Harganya 100 Yen atau sekitar 13.500 rupiah. Selisih sepuluh ribu? Iya.

Oh iya. Saya sudah makan di kantin kampus. Saya selalu minta referensi dari Mas Bangkit kantin mana aja yang bisa dicoba. Kali pertama, saya diajak di kantin belakangnya kampus School of Environmental Studies. Setelah itu referensi lain adalah kantin di sampingnya Graduate School of Engineering. Letaknya tepat di samping Akasaki Institute. Ngomong-ngomong lembaga penelitian Akasaki Institute sudah menelorkan profesor yang mendapatkan penghargaan Nobel Laureate tahun 2013. Kembali ngomong kantin ya. Kantin ini lebih jadul dari kantin pertama. Cuma saya lebih suka di kantin ini, karena kalau makan di sini saya bisa kenyang. Secara umum yang saya lihat, kantin ini menyediakan banyak makanan nasi. Kalau kantin sebelumnya lebih banyak ramen. Pilih yang mana kalian?

Kegiatan akhir pekan, 15 hari di Nagoya

Sepertinya saya belakangan sangat susah tidur. Bahkan hingga tengah malam masih belum bisa tidur. Termasuk malam ini, waktu sudah menunjukkan puku 01:00 dini hari. Daripada terlarut dalam keheningan, akhirnya saya putuskan untuk menulis catatan ini. Moga-moga setelah tulisan ini selesai saya bisa tidur pulas. Atau saya perlu mengubah ritme waktu saya? Saya gunakan waktu tengah malam untuk hal-hal yang lebih produktif hingga menjelang pagi. Ini dulu sempat jadi aktivitas saya dan saya merasa bekerja di waktu tengah malam bisa lebih fokus dan tenang.

Oh iya. Saya sudah absen posting artikel beberapa hari lalu. Saya tidak rutin lagi posting satu hari satu tulisan. Ternyata itu juga lumayan berat. Apalagi saat saya harus segera menyelesaikan draft artikel untuk publikasi. Baru tadi sore saya selesaikan terjemahan artikel yang akan saya kirimkan ke redaksi jurnal. Namun sebelumnya masih perlu tahap proofreading dari native speaker.

Saya mungkin tergolong perfeksionis. Itulah sebabnya saya membutuhkan waktu yang sedikit lama dari deadline saya yang seharusnya itu semua sudah selesai di minggu lalu. Saya merasa tidak puas. Tulisan yang tidak ada dinamika dan tidak berisi hal-hal kompleks itu kurang menantang. Justru adanya konflik menjadi hal yang menarik untuk dibaca, daripada sekedar deskriptif. Ini juga salah satu alasan bahwa saya sudah pernah dua kali ditolak redaksi jurnal terindeks scopus dengan alasan tulisan saya terlalu deskriptif dan kurang berisi challenging arguments.

Susahnya jadi ilmuwan zaman now!!! 😀

Tapi memang ilmuwan harus memiliki tulisan yang berisi kontribusi terhadap keilmuan. Sebaliknya, bukan sekedar menjelaskan kembali apa yang sudah ada dalam bahasa yang lebih deskriptif. Itulah tantangan yang selalu saya hadapi saat menulis artikel jurnal.

Saya menulis catatan ini pun sebenarnya sebagai pembiasaan untuk bisa mengungkapkan ide-ide yang ada di pikiran dan (perasaan juga lah,hee) dengan sebaik-baiknya dengan sejelas-jelasnya. Jadi inilah media bagaimana saya secara tidak langsung untuk membiasakan diri untuk terus menulis. Memang relatif lebih mudah sih, karena hanya mengungkapkan aja pengalaman dan pikiran yang ada. Beda dengan academic writing, harus memiliki refeensi yang cukup untuk menjustifikasi asumsi dan struktur kebahasaannya baik diksi, kalimat dan paragraf bebar-benar terkonsrtruksi dengan kuat dan padat.

I will remain to take such challenges.

***

Hari sabtu kemarin saya akhirnya, pertama kalinya, menghabiskan weekend dengan berkeliling Nagoya. Banyak tempat yang harus dikunjungi, tapi saya atas rekomendasi teman yang sudah lebih dulu di sini memutuskan hanya berkunjung ke tiga destinasi. Pertama adalah Nagoya Castle, kedua dalah Nagoya TV Tower dan yang terakhir adalah Osu Kannon. Destinasi lain mungkin di akhir pekan berikutnya.

Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, kita bertemu di Motoyama Sta. Kita pergi berempat, saya, Ratta Mbak Yati dan suaminya. Setelah bertemu di Motoyama Sta., petualangan dimulai. Kita memulainya dengan berangkat dari Motoyama Sta. Saya membeli one day ticket seharga 600 Yen. Itu harga yang murah, karena untuk harga selain akhir pekan adalah 870 Yen. Jadi, kalau jalan-jalan di Jepang ambil akhir pekan saja, karena bisa hemat hingga 270 Yen untuk biasa transport. Tiket itu bisa digunakan sepanjang hari baik menggunakan MRT/subway ataupun bus. Tapi, kali ini saya hanya menggunakan Subway.

Apa kurangnya coba. Jepang punya subway yang keren. Seluruh wilayah Nagoya terhubung dengan subway. Jadi, tidak perlu khawatir untuk jalan-jalan di kota dengan mengandalkan subway yang mirip dengan MRT-nya Singapura. Terasa sangat nyaman, aman dan tentu saja sangat tertib.

Saya hanya butuh waktu 30 menit untuk menjangkau Nagoya Castle dari Motoyama Sta. Waktu yang relatif cepat dan benar-benar efisien. Sesampai Nagoya Castle saya merasa beruntung. Memang, Mbak Yati bilang sedang ada festival di Nagoya Castle. Dan, selama festival berlangsung, kurang lebih dua hari, untuk masuk Nagoya Castle tidak dipungut biaya. Harga normal adalah 500 Yen.

Area Nagoya Castle tampaknya sudah tidak begitu mempertahankan kekunoannya. Beda jauh dengan suasana kekunoan dan kesejarahan bangunan-bangunan di India. Saat menginjakkan kaki di tempat-tempat bersejarah di India, saya merasakan seperti hidup di masa berjayanya kerajaan itu, Beda dengan di Nagoya Castle, tidak ada imajinasi hingga ke sana karena memang kekunoannya sangat terbatas. Pun itu ada hanya beberapa bangunan dan beberapa puing-puing yang tidak lebih baik dari puing-puing Hampi sebagai bekas markas Kerajaan Vijayanagara di India Selatan yang masih tersisa bangunan kuno dengan kokohnya.

Saya berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Nagoya Castle justru menurut saya lebih banyak pepohonannya daripada bangunannya. Sayangnya, saya datang di bulan yang tidak begitu tepat. Saat akhir November nanti, katanya, dedaunan pohon yang hijau itu akan memerah. Itulah yang disebut dengan tibanya musim gugur, ditandai dengan memerahnya dedaunan yang tadinya berwarna hijau. Mungkin nanti di akhir November apabila masih berkesempatan saya akan coba datang ke sini lagi.

Sebelum saya keliling Nagoya Castle, saya sempat menonton pertunjukan yang bertempat di padang rumput. Pertunjukan itu lebih familiar dengan nama samurai. Saya tidak tahu bahasa Jepang, tapi sepanjang yang saya tangkap dari pertunjukan itu adalah semacam drama tentang kesatriaan oleh para samurai. Saya merekam beberapa klip video dan mengambil beberapa foto. Nanti saya ingin coba kompilasi dan saya jadikan satu atau dua video petualangan saya selama di Jepang. Saya akan usahakan upload di Channel YouTube saya.

Sepertinya ceritanya sampai sini dulu. Untuk Nagoya TV Tower dan Osu Kannon akan saya ceritakan kemudian, menyusul.

Saat ini sudah pukul 1:20 dini hari. Selamat pagi!

.
Read also the latest articles:

Kegiatan di Hari Jum’at

Saat menuliskan catatan ini, saya sedang berada di bawah pohon dekat Motoyama Sta. Bicycle Parking. Hari ini, pukul 10:30 saya hendak menuju beberapa titik di Nagoya. Saya akan berangkat untuk melihat Nagoya Festival yang informasinya hanya akan berlangsung selama dua hari. Saya akan berangkat bersama Ratta dan Yati, keduanya merupakan exchange student dan visiting research fellow di Graduate School of International Development.

Saat ini, saya sedang menunggu mereka berdua. Kita sudah membuat kesepakatan akan bertemu pukul 10:00. Saat ini tepat waktu menunjukkan pukul 10:00. Namun, tadi pagi Yati meminta untuk diundur 30 menit. Saya sepertinya belakangan sudah terpengaruh orang-orang Jepang. Karena saya memberitahukan kepada Ratta bahwa kita akan bertemu pukul 10:00, saya harus sampat tempat pada pukul tersebut, atau setidaknya sebelumnya. Saya tadi sampai di sini pukul 09:52. Saya juga sudah informasikan kepada Ratta, meski mundur 30 menit saya akan tetap datang pukul 10:00.

Alhasil, tadi pagi saya jadi lumayan hectic juga. Seperti biasa, pagi selalu diawali dengan mandi, selanjutnya memasak dan membereskan kamar. Tadi pagi saya masak ala kadarnya saja, cuma membuat tumis kubis dan mengoreng krupuk. Tak lupa, saya sejak kemarin sudah mempersiapkan rebusan telur yang ditaruh di dalam rice cooker.

Tadi malam tidak terlalu dingin. Bahkan bisa dikatakan justru terasa panas. Saya lepaskan jaket dan saya tidak memakai selimut. Entah, mungkin kebetulan malam ini saja sedikit berbeda. Saat saya memeriksa suhu melalui smartphone tertuliskan 16 derajat celcius. Seharusnya itu lumayan dingin.

Entahlah, itu juga karena saya seharian juga sudah lumayan banyak jalan kaki. Tercatata saya berjalan sejauh 10.178 langkah dengan jarak lebih dari 7 km. Seharian saya menghabiskan waktu untuk menuju tempat shalat Jumat, makan siang di kantin, menghabiskan waktu diperpustakaan dan belanja beberapa makanan di Maxvalu.

***

Siang itu, saya menuju International Student Residence Higashiyama. Hanya di tempat inilah para muslim menunaikan shalat Jumat. Itu pun dilekasanakan di satu ruangan yang dalam beberapa jam sebelum menjelang waktu shalat Jumat, disulap menjadi aula dan digulungkan beberapa lembar tikar. Beberapa mahasiswa asing dari berbagai negara berdatangan beberapa waktu kemudian. Mas Bangkit, mahasiswa S3 di sini, yang memberitahu itu semua. Dia juga bercerita mereka kebanyakan yang akan mengikuti shalat Jumat nanti secara berurutan kebanyakan adalah mahasiswa dari Malaysia, Indonesia, Asia selatan dan Timur Tengah.

Beberapa sampai tempat sebelum khutbah dimulai. Saya sempat memunaikan shalat dua rakaat terlebih dahulu dan tidak lama setelahnya khutbah dimulai. Khutbah diisi oleh seorang mahasiswa Indonesia dengan muadzin yang tampaknya dari Timur Tengah.

Seperti biasanya, saya hampir tidak melewatkan khutbah dengan mencatat dalam note di smartphone saya.

  1. Mari kita bertaqwa kepada Allah subhanahu wataala. Ini adalah untuk mengingatkan kepada kita semua, khususnya saya sendiri. Kita sebagai muslim tentu juga memiliki pengalaman dalam hidup entah itu suka dan duka. Kita perlu kembali kepada Allah bahwa Allah ada di balik itu semua.
  2. Salah satu hal penting dalam Islam disebutkan di dalam Surat Albaqarah 177 yang pada intinya adalah seruan untuk melakukan kebajikan disertai dengan iman yang dibuktikan dengan kasih sayang kepada sesama manusia. Namun demikian, kebajikan itu tidak hanya termanifestasikan dalam ibadah shalat. Melainkan, terwujud pula dalam bentuk tindakan dan pengorbanan kepentingan pribadi demi kepentingan umum dengan rasa tulus semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah Swt. Selain itu, Allah juga akan memberikan penghargaan yang tinggi bagi tiap-tiap muslim yang mampu memiliki sifat sabar, mampu menahan diri dan berjuang atas kesulitan tang dihadapinya.
  3. Disebutkan bahwa sabar adalah setengah dari keimanan yang selajutnya juga dikenal bahwa sabar adalah dibalik semua kesuksesan. Semua pekerjaan baik itu oleh muslim maupun selain muslim akan dituntut untuk bersabar. Banyak orang putus asa karena tidak mengontrol dirinya sehingga keadaannya semakin memburuk. MEreka tidak dapat mempraktikkan sabar dengan menahan diri dalam kehidupannya dan mungkin akan menghancurkannya. Oleh karena itu, orang-orang yang sabar dalam konteks iman adalah mereka yang juga meyakini akan adanya kehidupan setelah meninggal.
  4. Apabila sabar telah menjadi bagian integral dalam kehidupan kita, menjadi karakter pada diri kita, termasuk bersabar untuk memenuhi kewajiban kepada Allah Swt. Ini dibuktikan dengan menunaikan shalat secara konsisten setidaknya pada shalat lima waktu. Sebagaimana kita alami bersama bahwa di Jepang sangat sulit untuk menjalankannya.
  5. Sebagaimana Surat Al Albaqarah 153 menyebutkan kepada tiap-tiap orang beriman untuk meminta pertolongan dengan sabar dan shalat karena Allah akan senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar. Oleh karena itu, pada shalat Jumat hari ini mari kita mempraktikkannya, shalat dengan shabar. Kita tidak bisa shalat tanpa adanya kesabaran, karena shalat mensyaratkan ibadah yang khusyu dan tuma’ninah. Itu semua untuk memastikan ketengangan baik dalam pikiran dan hati kita saat menjalankan ibadah.
  6. Tidak lupa dalam khutbah ini untuk ikut mendoakan saudara-saudara Indonesia di Palu dan Donggala yang baru saja mendapatkan musibah gempa dan tsunami. Mari kita juga mendoakan mereka dan bagi yang memiliki sisa rezeki untuk menyumbangkannya pada kotak sumbangan di belakang. Semoga saudara-saudara di Palu dan Donggala juga senantiasa diberikan kesabaran. Amin.

Seluruh khutbah disampaikan dalam bahasa Inggris. Catatan di atas hanyalah intisari yang saya catat saat khutbah berlangsung. Khutbah dilaksanakan dua kali dan ibadah shalat Jumat dilaksanakan menggunakan madzhab Imam Syafii, walaupun tampak beberapa orang-orang Asia selatan dan Timur Tengah bermadzhab Hanafi. Ini secara tidak langsung menegaskan bahwa jumlah mahasiswa muslim dari negara-negara Asia tenggara yang lazimnya bermadhab Syafii lebih dominan daripada mahasiswa dari negara-negara-negara lain.

Setelah shalat Jumat, kita bergegas keluar, mencari makan. Saya diajak Mas Bangkit membeli makan di kantin kampus. Ini bakal jadi pengalaman pertama saya makan di kantin kampus.

Kami dari International Student Residence menuju kantin berjalan, sekitar 700 meter. Terdapat banyak menu yang didisplay dalam papan elektronik. Menu makanan dipasang setelah pintu masuk dengan memasang nama dan gambar makanan, beserta komponen di dalamnya, misal terdiri atas kacang, daging ayam, daging sapi, daging babi, daging ikan dan sebagainya. Ini membuat kita yang muslim tidak merasa terlalu was-was saat makan daging. Namun demikian, saya memilih yang vegetarian. Saya lupa namanya, yang jelas termasuk mie semacam ramen.

Saat memesan makanan, kita hanya perlu menyebutkan nama makanan dan menunggu di tempat. Tidak membutuhkan waktu terlalu lama, sekitar satu menit makanan sudah siap disajikan. Di tempat itu juga disajikan tiga botol kecil yang berisi bubuk lada dan bubuk cabe. Kita bisa menaburkannya di atas makanan kita.

Setelah itu, kita tinggal menuju tempat makan. Namun sebelumnya, sebelum sampai pada tempat duduk, tempat makan, kita mesti membayar makanan tersebut. Selanjutnya kita bisa mengambil air minum baik itu air mineral maupun air teh yang bisa didapatkan secara gratis.

Seperti pengalaman saya makan pertama di Jepang yang diposting beberapa hari lalu, setelah kita selesai makan diwajibkan untuk merapikan tempat makan dan sisa makanan. Kita harus membawa kembali nampan, mangkuh dan sendok yang kita gunakan tadi ke tempatnya. Jangan sampai ditinggal di tempat ya, bakal dimarahin banyak orang nanti. Ini aturan yang berlaku di semua tempat di Jepang. Kecuali, tempat makan itu tergolong restorann mahal, kita akan dilayani dan tidak perlu merapikan sisa makanan.

Selanjutnya, setelah menghabiskan makan siang dengan diskusi dari permasalahan di Indonesia hingga kemajuan dan tradisi di Jepang, kami lanjut menuju kampus. Di kampus, saya langsung menuju perpustakaan lantai 4. Saya menghabiskan waktu di perpustakaan hingga magrib. Setelah selesai menunaikan shalat magrib di lantai 6, saya baru pulang.

Di tengah jalan, saya mampir ke Maxvalu, baru ingat minyak goreng habis. Selain itu, saya juga membeli mie, tahu, roti dan yoghurt. Saya ingin mencoba alternatif nasi, karena harga beras di sini mahal. 😅

.
Read also the latest articles:

Menengok ke belakang untuk bergerak maju

Sudah satu hari saya tidak menuliskan catatan harian, absen. Saya dua hari terakhir kurang bisa membagi waktu dengan baik, menghabiskan sebagian waktu membaca dan menulis di perpustakaan dan mengurus administrasi. Selain karena entah sejak kemarin lusa saya kurang enak badan. Tadi malam saya sempat terlupa tidur dengan menggunakan kaos kaki dan jaket. Alhasil, badan saya terasa panas dingin. Padahal, tadi malam suhu udara tidak terlalu turun, pada kisaran 14-17 derajat celcius. Berbeda dengan kemarin lusa yang tengah malam hinggai pagi hari bertahan pada 13 derajat celcius.

Sejak dua hari yang yang lalu, saya menghabiskan waktu di perpustakaan karena memang bacaan di perpustakaan menarik. Banyak buku kontemporer antara lain filsafat, sejarah, ilmu sosial, ilmu politik, hukum, dan banyak lagi lainnya. Buku-buku yang menggoda saya adalah pada section: General History of Asia dan beberapa buku kajian India, Indonesia dan Asia Tenggara. Saya memang lagi semangat untuk membaca literatur kajian-kajian Asia.

Saat ini pun, saat menuliskan artikel ini, saya masih di ruang perpustakaan Graduate School of International Development. Ruang perpustakannya tenang, bersih dan rapi. Itu mungkin juga menjadi kebiasaan di sini mereka terbiasa dengan kebersihan dan kerapian. Selain itu, seperti ada hukum yang tidak tertulis bahwa setelah membaca buku untuk mengembalikan pada tempat buku tersebut diambil.

***

Entah, beberapa hari terakhir, saya tiba-tiba teringat dengan kejadian beberapa bulan yang lalu. Saya lupa kapan awal kali pertama memulainya . Yang jelas, kejadian itu berawal setelah saya posting instastory beberapa halaman pertama buku memoar berjudul, “From Third World to First: Singapore and Asian Economic Boom” karya Lee Kuan Yew, Perdana Menteri Pertama Singapura. Beberapa halaman pertama memang menjadi kesukaan saya untuk membacanya, yang benar-benar mencerminkan bagaimana sebuah negara kecil dan miskin itu mampu menjadi negara yang maju pesat di bawah kepemiminannya

Sekitar satu jam setelahnya, ada pesan masuk. Ternyata ‘dia’ membalas instastory tersebut.

“Judulnya paan?” dia bertanya.

“Just want to know or really want to know?”, saya membalasnya.

“Really want to know.. ama beli di mana.. ama harganya berapa..” dia membalas.

“Berapa ya dulu. 1000 Rupee kayaknya. Download aja ini ada softfilenya… Punyaku yang terbaru, tapi cuma beda dikit”, saya kembali membalasnya.

“Huuumb maacih”, balasnya kembali.

“Aku inget sih… salah ama khilaf kamu banyak banget sama aku. Tapi gak papa aku dulu aja yang lebih muda ngucapin minalaidzin walfaizin. Mohon maaf lahir dan batin”, sapa dia yang memang waktu itu beberapa hari setelah Idul Fitri, tahun ini.

“Hmmm… Eid Mubarak ya…”, sahut saya.

“Btw, salahku apa ya?”, saya menambahkan.

“Nah, ini nih. Salah satu salah kamu adalah nggak inget salahnya apa. Kan jadinya salah”, jawab dia.

“Pusing kan”, dia menambahkan.

“Beneran gak inget. Salahku apa ya… Aku minta maaf ya,” saya kembali menjawab.

“Yaelah Baaang. Baper amat. Canda…”, jawab dia.

“Kan masih lebaran”, balas saya.

“Eman salah lu banyak ke umat, soalnya situ ngeselin.. Iye sama-sama. Minal aidzin walfaizin”, jawabnya.

Percapakan tersebut ternyata mengalir saja. Hingga, pada beberapa bulan setelahnya saya berinisiatif membuka pembicaraan.

Saya jadi teringkat kata-kata Ariel Heryanto saat menyampaikan kuliah umumnya di Jakarta. Saya mendapatinya dari Youtube. Dia mengemukakan bahwa kalau kita mau maju, mau tidak mau kita harus melihat ke belakang. Apabila terus melangkah maju, mungkin masih merasa ada yang kurang, ada yang hilang, sehingga untuk maju perlu melihat ke belakang.

Jika itu sebagai kelupaan, kelupaan pun sebagai suatu keniscayaan. Ada yang pernah terlupakan dan ingin terlupakan, yang hilang dalam sejarah hidup kita. Jadi, tidak kemudian kehidupan tidak berjalan dengan tiba-tiba. Misalnya saat kita mencerna suatu kisah seseorang dengan seirngkali melihat tiba-tiba seseorang sukses. Tapi bagaimana dengan jalan menuju kesuksesan?

Sukses pun memiliki makna yang relatif. Seperti yang saya pernah chat dengan adik-adik mahasiswa kemarin bahwa sukses bisa jadi memiliki dua makna, yaitu sebagai suatu proses maupun sebagai suatu hasil. Tergantung sudut pandang mana kita melihatnya.

Entah. Apa yang terjadi pada diri saya. Saya baru menyadari itu belakangan. Saat saya membuka hati, saya merasa semacam ada tembok besar yang membuat saya bingung dengan diri saya. Saya merasa, ada sesuatu yang hilang tapi masih terkenang dalam ingatan dan perasaan.

Itu yang mungkin disebut oleh Professor Ariel bahwa ada kalanya kita untuk melihat ke belakang, sebelum untuk melangkah maju.

“Aku abis baca-baca chat di atas. Enggak tau jadi tetiba ingat chat kita tanggal 17 Juni. Iya, aku minta maaf salah dan khilafku ya,” saya memulai pembicaraan kembali.

“Apaan 17 Juni?” dia sambil menunjukkan screenshotnya untuk memastikan.

“Aku boleh ngomong? atau mungkin bertanya” jawab saya.

“Boleh kak. 🙂 Aku juga mau nanya”, dia membalasnya.

“Aku dulu tiba-tiba menghilang dan tidak ada kabar lagi. Di Facebook dan Twitter gak ada kabar. Dan bahkan kita anehnya belum pernah saling ketemu. Sata sama-sama di Tuban tahun 2013, beberapa bulan sebelum aku S2, kita sebenarnya sempat bertukar kabar tapi juga tidak ketemu. Tapi aku gak tau, sampai sekarang masih belum berani jatuh cinta lagi. Setidaknya aku udah lega uneg-uneg ini udah aku sampaikan ke kamu”, saya mengungkapkan.

“Aku jadi makin kesel sama kamu”, dia menjawabnya singkat.

“Dipuasin dulu keselnya. Terus kamu benci sama aku?”, timpal saya

“Engga, pingin gigit doank,” balasnya singkat.

“Astaghfirullah, aku kayak makanan aja”, balas saya kembali.

“Gak benci sih, kamu aku gak ketemu kamu aku gak bakalan tahu”, jawab dia.

“Gak bakal tau gimana”, tanya saya.

“Rasanya ditinggalin gitu aja. Buahahahaa… Jadi pas aku ditinggalin lagi aku udah terlatih”, dia menimpali jawaban kembali.

“Aku masih curious. Terus kenapa kamu gak jadi dosen lagi sekarang?” tanya saya.

“Izin belajar kan. Aku kuliahnya juga beasiswa Budi DIN. NIDN masih aktif. Insyaa Allah. Tapi, aku kayaknya mo nyerah tapi. Otak aku gak nyampe. :-(“, jawabnya kembali.

Dalam percakapan selanjutnya dia mengungkapkan bahwa sejak bertemu saya saat masih mahasiswa, dia memutuskan untuk mengambil spesialisasi yang sama dengan saya. Setelah lulus, dia juga turut mengambil jalan yang sama dengan saya, menjadi dosen. Saya baru tahu itu. Terima kasih sudah mengungkapkannya dengan jujur.

Saya jadi teringat beberapa tahun lalu. Saya saat hendak tidak lagi memberi kabar, sempat menuliskan secarik surat yang saya kirimkan ke emailnya, berjudul, “Secarik kisah daku tuliskan ke hadapan adinda”. Saya menuliskan rencana hidup saya ke depan, cita-cita saya, tujuan hidup saya. Saya tegaskan kepadanya bahwa saya ingin menjadi seorang ilmuwan. Saya yakin akan hal itu dan saya merasa perjalanan untuk mengejar idealisme tentu tidak semudah orang berimajinasi. Setiap tekad yang saya genggam, akan selalu saya perjuangkan. Saya harus sampai pada tujuan itu.

Saya juga menyampaikan bahwa saya nanti saat hendak menjadi seorang ilmuwan, akan mencari beasiswa. Saya juga menyadari bahwa bahasa Inggris saya tidak bagus-bagus amat. Tapi saya yakin, saya akan bisa, saya akan berjuang untuk itu. Saya akan mengejar impian itu semua dengan beasiswa. Nanti akan mengambil S2 dan selanjutnya S3 dengan beasiswa ke luar negeri.

Percakapan sempat terhenti. Saat itu saya Shalat Ashar dulu. Percakapan pun akhirnya juga mengalir.

“Ini kamu gak mau ngechat pake WA aja?,” tanya dia.

“Nomorku tetap”, sambil saya mengetikkan nomor Whatsapp saya.

“Jadi sekarang pakai WA kita?” saya menambahkan.

Beberapa saat setelahnya, saya menerima kiriman pesan Whatsapp: “😒”.

“Halo.. Ini nomor kayaknya saya agak kenal. Meski udah ndak aku save”, sapa saya.

“Iya, nomor aku gak ganti, dari SMA”, jawabnya.

“😅”, jawab saya singkat dengan smiley.

“Kamu lagi di mana?”, tanya dia.

“Di Jember”, jawab saya singkat.

“Selama idul adha :-)” jawabnya.

“Kayaknya uda ngucapin. Gak ada ucapan balik atau ucapan kedua kalinya…”, jawab saya.

“Emang aku gak boleh ngulangin?” tanya dia.

“😄”, jawab saya hanya dengan smiley.

“Kayaknya kamu kemarin abis dari dekat-dekat sini?” tanya dia.

“Iya. Kapan hari itu aku datang di konferensi internasional”, jawab saya.

“Oh iya. Aku tau”, jawab dia singkat.

“Kamu pacarnya yang mana?”, tanya dia.

“Should I repeat again?” saya bertanya balik untuk menegaskan.

“Kembali tanggal 17 Juni, saat kita chat. Aku saat itu masih di jalan menuju rumah Mbah sekaligus mau mampir ke rumah teman perempuan. Entah saya gak tau seperti apa hubungan dengan perempuan itu, yang jelas aku belum pernah menyampaikan kepadanya bahwa aku suka. Entah, akhirnya aku tidak jadi mampir. Aku selalu ragu. Dan ternyata sejak setelah aku tidak jadi datang ke rumahnya, dia bilang bahwa dia dijodohkan orang tuanya”, terang saya.

“Kenapa?” tanyanya.

“Gak tau… That is the most difficult question I truly do not know to answer”, jawab saya.

“Sejak sama aku kamu gak pernah pacaran?”, tanyanya kembali.

“Endak”, jawab saya singkat.

“Buahahah… Sama”, tegas dia.

“Ingin tanya apa lagi?”, tanya saya.

“Udah ah. berasa jaksa”, jawab dia.

“Aku sama tetap dingin kayak dulu? 😄”, sahut saya.

“Siapa? Kamu? Iya… Kzl banget”, jawab dia.

“Aku duga kamu itu bukan takut jatuh cinta tapi gak ada yang mau ama kamu”, dia menambahkan.

“Enak aja…”, jawab saya.

Pembicaraan terus mengalir. Dia menerangkan bahwa dia masih menyimpat surat yang saya kirimkan melalui email itu. Dia menunjukkannya dengan mengirimkan screenshot seluruh isi surat itu kepada saya.

“Aku dulu jek enggaknya ya… 😅”, sahut saya.

“Gemes ya gemes… the cutest love letter I have ever received. Ada footnotenya 😂”, timpal dia.

“Enggak.. Ini lucu. Kalau iseng masih sering aku baca. Hahahaha…”, dia menambahkan.

“Aku maaf. Masa-masa itu kemudian memang aku tidak ada kepastian, hilang. Memang waktu juga tidak pernah bisa kembali. Bukan tentang aku, tentang dirimu yang juga berhak bahagia. Entah dengan siapapun. Aku di sini bukan bermaksud untuk kembali atau menyesali. Aku tidak tau. Seandainya kamu mungkin lebih sedikit terbuka mungkin aku bisa mengerti perasaan dan posisimu. Aku tidak tau sekarang, apakah kita masih punya jalan yang sama atau berbeda”, Saya memulai pembicaraan yang tampak sedikit serius.

“Kalau emang beneran ngerasa salah, hal terbaik yang bisa kamu lakuin cuma tolong yangan ngulangin lagi. :-)”, dia menjawab.

“Engga. Bukan ke aku. Hahha…. Ke siapapun nantinya kamu mau. Aku sakit banget sumpah, kamu yang ngajak barengan, terus tiba-tiba hilang gitu aja. Tiap kali kamu balik ngasih kabar aja aku pasti bahagia banget. Gak pernah mikirn gengsi, tapi ternyata ngilang beneran sampe gak tau masih idup apa enggak. hahahaha”, jawabnya lagi.

“Toh itu dulu. Aku udah gak papa. Udah gak usah dibahas lagi ya,” jawabnya lagi.

“Satu lagi. Kalau bisa ya, kalau dichat dibales. Bukan diread doank. Kan ini chat, bukan jurnal”, dia menambahkan.

“Iya, ini udah dibales”, jawab saya singkat.

“Aaaaaah… Kzl”, dia menjawab kembali.

Tindakan saya ini mungkin akan terasa aneh bagi sebagian orang. Inikah yang disebut bahwa saya terlalu mengedepankan rasionalitas? Entah, pemahaman saya adalah saya perlu menyelesaikan masa lalu saya. Setidaknya, sebelum membuka hati yang baru, saya harus menyelesaikannya. Saya pernah menyatakan jatuh cinta. Dan, saya juga perlu menyampaikannya, untuk mengakhiri semua.

Chat-chat di atas memang sempat membuat hati saya terketuk kembali. Saya sempat baper. Tapi, saya merasa bahwa kita sudah memiliki jalan masing-masing. Setidaknya, ini adalah ikhtiyar saya, berusaha untuk menghapus luka masa lalu, untu masa depan masing-masing yang lebih baik. Dan untuk ini hanya Tuhan yang jauh lebih mengetahui.

Saya masih mengejar cita-cita, menjemput harapan dan menjalani masa depan saya, dengan penuh optimis. Saya harus bergerak maju, meskipun sempat tertatih, saat sebelum menengok ke belakang.

.
Read also the latest articles:

Hari Ke-10: Belanja

Pagi ini saya kembali berkesempatan menuliskan catatan. Catatan untuk hari ke-10 saya tinggal di Nagoya. Seperti pagi pada hari-hari sebelumnya, pagi ini saya awali dengan mandi, memasak baru menuliskan catatan ini dan selanjutnya menuju perpustakaan kampus. Dan tentu saja, saya berangkat kampus berjalan kaki. Oh iya, hari ini saya tidak begitu hectic, karena saya sudah masak kemarin malam. Pagi ini saya tinggal menghangatkan saja.

Sebenarnya kemarin saya bermaksud memasak ayam kecap. Entah kenapa agak terlalu asin, akhirnya saya tambahkan air. Jadilah tampak seperti ayam pedas karena terlihat berwarna kemerahan. Merahnya dari mana? Itu dari cabe artifisial, cabe bubuk. Awalnya saya berharap itu akan membuat terasa pedas, ternyata tidak begitu. Sepertinya mencari cabe di sini tidaklah semudah mencarinya di Indonesia. Saya hanya mendapatkan paprika dan itu tentu tidak akan cukup untuk membuat masakan bisa terasa pedas.

Tapi, jangan salah. Jangan keburu negative thinking. Rasanya enak, masakan itu terasa enak dimakan. Terima kasih untuk Ajinomoto yang berkontribusi membuat masakan jadi lebih terasa sedap. :’(

Dalam tulisan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman saya berbelanja di Nagoya. Tidak mudah untuk menuliskan pengalaman belanja, sehingga membuat saya baru menuliskannya di hari ke-10. Setidaknya saya sudah survei ke beberapa tempat, baik itu koperasi kampus, Family Mart, Lawson Store, Halaliya maupun yang terakhir dan yang akan saya bahas lebih detil adalah Maxvalu.

***

Siang hari saya punya rencana untuk kembali belanja ke Maxvalu, setelah melihat persediaan bahan makanan di kulkas sudah mulai habis. Beras yang saya beli 2 kg seminggu lalu juga sudah habis. Saya memutuskan belanja di sore hari, tepat setelah shalat ashar. Waktu belanja membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain karena barang yang dibeli relatif banyak, saya juga harus berjalan kaki sekitar 2 km. Jadi, saya harus bisa mengatur waktu agar tidak ketinggalan waktu shalat.

Seperti biasa, menuju Maxvalu selalu diawali dengan menyusuri jalanan Sonoyama, Yotsuya-dori menuju Motoyama Sta. Jalanan yang awalnya saya anggap relatif jauh. Belakangan karena sudah terbiasa, terasa relatif dekat. Ini juga sekaligus awal-awal adalah rute jogging saya di pagi hari. Sayangnya, saya baru menemukan supermarket Maxvalu baru satu minggu terakhir. Saat saya jogging, yang saya lihat adalah KFC, terletak tepat di sebelah Maxvalue. 😀

Saya jadi ingat saat masih di Hyderabad. Supermarket terdekat dan paling fenomenal seperti Maxvalu adalah Big Bazaar. Jarak dari flat saya menuju tempat tujuan juga relatif sama, yaitu 2 km. Saat di India, saya juga seringkali jalan kaki. Dan, biasanya, sebelum atau setelah dari Big Bazaar rajin mampir ke toko KFC KW, namanya NYPFC. Entah toko itu sekarang masih ada atau tidak, rasa ayamnya tak beda jauh dengan KFC, namun dengan harga yang jauh lebih murah. Hehe….

Seminggu lalu, saat masuk Maxvalu kali pertama, saya sedikit bingung. Barang yang saya cari kali pertama adalah beras, tapi butuh waktu lama sekali menemukannya. Kenapa mencari beras? Karena saya butuh makan nasi. Selama tiga hari pertama, saya membeli nasi instan yang saya beli di Family Mart. Nasi dari Family Mart praktis, saat hendak dimakan Cuma perlu dipanaskan microwave selama 2 menit. Sayangnya, harganya mahal, 267 Yen untuk tiga bungkus kecil. Saya tidak bisa bergantung dari nasi seperti ini. Saya harus membeli beras untuk saya masak sendiri, agar bisa lebih hemat.

Kenapa lama menemukan beras? Karena saya mencarinya di lantai 1. Memang, lantai 1 berisi makanan dan minuman. Namun, beras dijual di lantai dasar bersama bahan dapur lainnya, seperti sayuran, daging, buah-buahan, minyak telor dan sebagainya. Saya baru tahu tempat itu setelah saya tanyakan kepada sales di toko itu yang tak begitu bahasa Inggris. Sedangkan saya tidak bisa sama sekali bahasa Jepang.

Untung sales tersebut memahami maksud saya, saya diarahkan menuju lantai dasar. Setelah berjuang beberapa belas menit, akhirnya saya menemukan beras. Kenapa lama? Karena hampir semua bungkus produk yang dijual berbahasa Jepang. Saya harus memastikan dan meraba-raba isi dari produk itu terlebih dahulu untuk memastikan itu benar-benar beras.

Harga beras di sini bisa terbilang sangat mahal, khususnya apabila dibandingkan dengan harga di Indonesia. Pekan lalu saya membeli 2 kg seharga 860 Yen. Kemarin, saya membeli 5 kg seharga 1990 Yen. Saya berpikir dengan membeli 5 kg akan jauh lebih hemat. Meskipun, saat pulang, saya membawanya cukup berat juga. Di Jepang tidak ada auto yang biasanya saya saat di India pulang belanja saya sering naik auto. Jadi, saya harus membawanya dengan berjalan kaki sekitar 2 km. By the way, harga segitu menurut saya paling murah. Ada yang lain dengan harga lebih tinggi dari itu.

Kemarin, sebelum membeli kebutuhan dapur, saya sempatkan untuk menuju lantai 2 dan lantai 3 terlebih dahulu. Awalnya, saya di lantai 2 hanya bermaksud membeli sabun cuci. Sama hanya dengan membeli beras, semua produk ditulis dengan bahasa Jepang. Saya amati dan hampir saya ambil, yang ternyata setelah saya amati baik-baik adalah pelembut pakaian, softener. Saya belakangan untuk memastikan itu produk apa, saya mengandalkan fitur photoscan google translate. Bungkus produk yang saya cari saya scan terlebih dahulu untuk selanjutnya akan diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Google Translate benar-benar sangat membantu di tengah keterbatasan saya.

Setelah mendapatkan sabun cuci, saya menuju 100 YEN Shop. Pekan lalu saya sudah menuju tempat ini, saya mengincar kontak nasi dan tumbler. Sayangnya, saya tidak menemukan harga seperti pada umumnya tercantum harga pada rak di bawahnya. Saya urungkan niat membelinya.

Baru kemarin saya kembali ke tempat ini dan baru tahu juga ternyata itu namanya 100 YEN Shop. Jadi, semua barang yang dijual di sini dibandrol harga 100 Yen. Akhirnya, saya ambil kotak nasi itu, tapi tumbler belum prioritas untuk dibeli. Selain kotak nasi, saya membeli headset, usb cable, usb connector, kaos kaki dan botol sabun cuci. Masing-masing semuanya saya dapatkan dengan harga 100 Yen, harga yang relatif murah. Hampir produk yang dijual di 100 YEN Shop ini adalah produk china. Meskipun begitu, barangnya oke punya.

Kenapa saya beli kotak nasi? Karena saya tidak punya kotak nasi untuk membawa makanan saat di kampus. Di sini sudah hal yang lumrah mahasiswa membawa makanan di kampus dan terkadang menghangatkannya di microwave yang disediakan kampus.

Kenapa kaos kaki? Pekan lalu saya sudah membeli satu kaos kaki. Kemarin saya beli lagi. Supaya saat satu saya cuci, masih ada satu lagi yang bisa saya pakai. Saat ini saya punya tiga kaos kaki. Dua untuk sepatu dan satu untuk menjelang malam dan tidur, untuk mengurangi rasa dingin saat malam.

Kenapa saya membeli headset? Saya lupa membawa headset. Saya jadi boring saat jalan menuju dan pulan dari kampus. Setidaknya headset bisa saya gunakan untuk mendengarkan musik saat jalan kaki. Ini juga lumrah dilakukan pemuda dan pemudi Jepang. Mereka di jalan umumnya memakai headset sambil menikmati berjalan kaki.

Kenapa membeli usb cable dan usb connector? Usb cable power bank saya kebetulan rusak. Sedangkan usb connector saya butuhkan untuk transfer data dari laptop ke handphone. Saya dulu saat di Indonesia pernah punya ini, tapi hilang entah kemana. Apalagi harganya murah meriah seperti itu. 😀

Setelah itu, saya menuju lantai 3. Saya berniat membeli pakaian yang bisa menghangatkan, untuk menyambut musim gugur dan musim dingin. Pada hari-hari belakangan ini saja, saya sudah kedinginan. Suhu udara tadi malam sudah turun ke 13 derajat celcius, dibanding seminggu lalu suhu terendah masih 16 derajat celcius. Tampaknya pada minggu-minggu berikutnya suhu akan semakin turun yang diikuti semakin cantiknya pepohonan pinggiran jalan saat musim gugur tiba.

Setelah itu, saya baru menuju lantai dasar, membeli bahan-bahan dapur. Selain barang-barang yang saya beli seperti saya tuliskan di atas, termasuk beras 5 kg, saya juga membeli telur 10 butir, seledri, kol, bawang merah bombay, toge, kentang dan jahe. Dengan pengecualian beras, dengan beras 2 kg dan barang-barang dapur itu semua bisa membuat saya bertahan selama 7-10 hari.

Kalian tahu semuanya habis berapa? Untuk bahan-bahan dapur saya habis 2995 dan apabila semua ditotal menjadi 5346 Yen atau senilai 716 ribu rupiah.

Jadi kira-kira barang-barang itu semua murah atau mahal?

.

Read also the latest articles:

Kegiatan akademik pertama di kampus

Saya mohon maaf karena kemarin tidak memposting artikel. Baru pagi ini saya berkesempatan menarasikannya. Dan sepertinya, saya akan memposting artikel harian setiap pagi saja, tidak lagi setiap malam. Saya akan menggunakan waktu malam untuk hal lain yang lebih produktif. Selain, karena menurut saya waktu malam di sini terasa sangat pendek. Entah, mungkin karena saya terlalu menikmati? 😀

Kemarin, di sini seharian gerimis. Hujan tipis-tipis, mirip musim monsoon di India saat saya awal-awal datang di 2013. Katanya, monsoon adalah musim transisi dari musim panas (summer) ke musim dingin (winter). Hujan seperti itu tidak akan membasahi seluruh badan hingga basah kuyup, cuma terkadang kita harus memakai payung, apalagi saat kita jalan dengan jarak yang relatif jauh, misalnya hingga 2-4 km seperti rutinitas saya setiap hari. Sayangnya, saya masih belum punya payung. Mungkin nanti atau besok, saya akan membelinya. Sekaligus, rencana hari ini adalah mau belanja ke supermarket. Persediaan dapur sudah mulai habis.

Hari ini, saya bertemu beberapa orang Indonesia yang sudah lama di sini. Satu adalah mahasiswa akhir master dan satu adalah mahasiswa akhir S3. Lumayan banyak juga mahasiswa Indonesia di sini.

Saat bertemu, tadi saya sedikit tanya-tanya tentang musim. Ada kesalahan penjelasan saya di postingan sebelumnya. Ternyata, saat ini baru mau memasuki musim gugur. Jadi, saat ini masa transisi menuju musim gugur yang kira-kira akan berpuncak pada bulan November. Pada pertengahan atau akhir Desember, akan disusul dengan musim dingin yang biasa disebut dengan winter. Saat musim dingin datang, kota ini akan disambut dengan salju. Kalau lebih cepat, bisa pada akhir Desember. Bisa juga salju baru akan turun di awal Januari.

Karena tidak memiliki payung, saya berangkat ke kampus dengan jarak 2 km tanpa payung. Lumayan juga, rintikan hujan tipisnya ternyata perlahan meresap ke dalam kain baju saya. Walaupun, baju masih enak dipakai. Tidak begitu membasahi.

Pagi hari, sebelum berangkat ke kampus, saya mendapatkan email dari supervisor. Beliau menginformasikan kembali bahwa hari ini akan ada kelas seminar yang akan dimulai pukul 14:47. Sebenarnya, jauh-jauh hari saya sudah diberitahu informasi ini dan beliau akan menginformasikan lagi melalui email.

Saya berangkat ke kampus siang hari dan pulang menjelang sore hari. Saya sengaja datang ke kampus pada siang hari hanya karena untuk menunggu shalat dhuhur dulu. Saya masih bingung saat harus sholat dzuhur di kampus. Katanya bisa menggunakan ruang di lantai 6, tapi saya belum mencobanya.

***

Hari ini adalah pengalaman pertama kali bagi saya mengikuti kegiatan formal. Kegiatan itu bertempat di Ruang Seminar 9, Ruang 710, pada lantai 7 Gedung Graduate School of International Development. Saya adalah orang kedua yang memasuki kelas pertama kali, tepat di belakang Ratta, mahasiswa exchange programme selama enam bulan dari Kamboja. Spesialisasi dia adalah ekonomi dan kewirausahaan. Dia adalah pengawai negeri di Kamboja. Ternyata, kita sama-sama baru, dia tidak begitu banyak teman di sini. Pada akhirnya kita ngobrol-ngobrol ringan dan duduk bersebelahan sampai kegiatan selesai.

Beberapa menit setelah kami berdua masuk ruangan, ada sekitar enam mahasiswa lain yang masuk ruangan. Tiga dari mereka adalah mahasiswa Indonesia, selebihnya dari Mongolia, Jepang dan Afghanistan. Kegiatan ini semacam seminar rutin, diadakan seminggu sekali yang berisi presentasi proposal riset, kemajuan riset dan seminar hasil riset. Semua memiliki topik penelitian masing-masing dengan satu tema utama, yaitu kajian Asia.

Supervisor datang di ruangan dua menit sebelum waktu dimulainya kegiatan, pukul 14:43. Kegiatan dimulai tepat waktu. Beliau membuka kegiatan dengan sedikit cerita kegiatan beliau dalam beberapa bulan terakhir, seperti acara seminar di Kamboja dan Indonesia berikut bercerita mengenai konteks masing-masing negara. Setelah itu juga menyampaikan mulai minggu ini akan ada tiga anggota baru yang akan bergabung di kegiatan ini. Saya yang akan meneliti aspek hukum nasional dan internasional tentang kebijakan pangan dan bioteknologi, Ratta yang akan meninjau aspek ekonomi dan kewirausahaan di Kamboja dan satunya lagi adalah Yati, mahasiswi S3 dari Semarang yang akan meneliti tentang arbitrase nasional dan internasional.

Sebelumnya, semua dari kita diminta untuk saling memperkenalkan diri berikut topik risetnya masing-masing. Secara umum, semua penelitian mereka memiliki aspek hukum. Namun, tidak semata aspek hukum yang akan dikaji, ada juga aspek ekonomi dan politiknya. Itu sebabnya Graduate School of International Development didesain lebih pada sekolah yang mendukung kajian multidisiplin dengan berbagai sudut pandang keilmuan.

Saya juga memahami itu, diskursus global memang sudah ke arah sana. Jangankan itu, kajian hukum pun sudah dituntut lebih multidisiplin, tidak hanya hukum murni. Itu yang juga disindir oleh supervisor bahwa kajian hukum di Indonesia itu relatif sangat normatif (baca: positivis). Ilmuwan hukum Indonesia terkesan melihat hukum sebagai ilmu yang harus murni dan menjadi kaku. Tidak mengaitkan hukum dan masyarakat. “Sepertinya itu sudah sangat konservatif, tradisional, kurang mengikuti perkembangan”, ungkapnya.

Beliau menambahkan bahwa banyak negara Asia itu adalah negara berkembang, developing countries, di mana negara memiliki posisi yang tidak begitu kuat. Ada yang namanya customary law atau hukum adat yang juga masih dipegang oleh masyarakatnya. Juga, posisi negara dalam penegakan hukum masih relatif tidak begitu kuat. Hal demikian yang seharusnya titik tekan kajian tidak hanya pada aspek norma, tetap juga ada masyarakat di dalamnya. Penjelasan beliau mengingatkan saya pada buku Francis Fukuyama berjudul, “State-Building: Governance and World Order in the 21st Century” yang sedikit banyak menjelaskan demikian. Juga, buku karya Werner Menski berjudul, “Comparative Law in a Global Context” yang mengutip pendapat William Twining menegaskan hukum di negara-negara post-kolonial Asia seringkali berciri monis, positivis dan statis.

Diskusi dalam kegiatan ini diakhiri dengan pembagian tugas presentasi, saya mendapatkan bagian untuk presentasi kemajuan riset saya tanggal 12 November. Waktu yang masih relatif lama, tapi akan berjalan begitu cepat saat riset saya jalankan. Saya akan kembali menghadapi tantangan dalam mengkonstruksi argumen demi argumen dalam paragraf demi paragraf.

Pengalaman hari ini kembali mengingatkan saya, saat saya membuat komunitas penelitian bersama mahasiswa terbaik yang saya jumpai di kampus Jember, khususnya mereka yang saya temui di kelas. Mereka saya kumpulkan dan saya rekrut menjadi bagian dari komunitas itu. Mereka sudah memiliki bahan riset yang mereka buat dari assignment papers saya saat perkuliahan. Tugas mereka adalah mengembangkan itu ke dalam bentuk artikel ilmiah dengan output publikasi. Kita memiliki kegiatan berkala, setiap Senin pukul 4:00 WIB. Selain saya, ada juga tiga dosen lain yang memiliki fokus pada riset bergabung dalam forum ini. Beberapa hasilnya, untuk tingkat mahasiswa sudah ada dua tim terseleksi lomba, satu lolos finalis PKM GT satunya lagi berhasil mendapatkan Juara I Lomba Karya Ilmiah beberapa minggu lalu. Selain itu juga berpartisipasi dalam forum internasional, menjadi pembicara konferensi internasional.

Satu hal yang dapat saya tarik kesimpulan bahwa ternyata kegiatan semacam ini penting dan harus dipertahankan dalam dunia akademik. Ini adalah salah satu dari kita seorang akademisi, untuk berpikir, mengembangkan dan menghasilkan ilmu pengetahuan. Hal yang relatif baru di kampus saya yang namun sudah lumrah di berbagai kampus lain. Setidaknya, ini adalah bentuk kemajuan yang akan mengantarkan akademisi dan mahasiswa kampus saya untuk menjadi ilmuwan dan calon ilmuwan yang produktif.

 

Read also the latest articles:

Bersama tamu dari UGM

Hari ini tepat satu minggu saya tinggal di Nagoya. Sudah tujuh hari saya menghuni flat dengan ukuran kira-kira 7×3 ini. Saya sudah mulai terbiasa melalui kehidupan secara normal di sini. Saya sudah mulai terbiasa dengan rutinitas baru, bangun tidur, membaca, menulis, mandi, memasak, berangkat dan pulang kampus, membaca dan menulis lagi, termasuk menulis catatan ini. Juga, termasuk belanja, berjalan kaki yang setidaknya sehari sekitar 5 km, bahkan pernah 13 km.

Hari ini sedikit berbeda dari hari-hari biasa. Ini sudah menjadi kebiasaan saya saat di Indonesia juga. Saat hari Minggu, saya pergunakan untuk bersantai di atas dipan, menghabiskan waktu tidur hampir seharian, lalu baca-baca buku di Google Play Book, hingga datang waktu malam. Hari ini, saya juga demikian. Saya ingin menikmati hak berlibur saya yang berarti saya tidak terikat aktivitas apapun seperti pada hari-hari kerja.

Bukan berarti hari ini saya tidak melakukan apa-apa. Selain kembali tidur di pagi hari, saya juga menghabiskan waktu untuk memasak, beres-beres kamar, memasak, mandi, membaca beberapa halaman buku di Google Play Book, telepon keluarga di Jember, serta menerjemahkan artikel untuk segera saya submit ke jurnal internasional. Target saya malam ini sudah selesai saya terjemahkan, tinggal 7 halaman lagi. Besok, saat di kampus, ingin saya baca-baca lagi sebelum saya kirim ke seorang teman Amerika yang sudah bersedia membantu saya proofread artikel ini, sebelum disubmit ke redaksi jurnal.

Kurang lebih, itulah aktivitas saya hari ini. Tidak begitu banyak pengalaman yang bisa saya bagikan terhadap untuk hari ini. Karena terbatasnya pengalaman hari ini, saya ingin bercerita sedikit ke belakang, sekitar empat hari lalu, saat bersama tamu dari UGM.

***

Pagi itu, saya sudah berada di kampus. Saya langsung menuju lantai 6 untuk menemui profesor saya, selain karena saya ingin memanfaatkan jaringan internet yang ada di ruangan beliau. Sehari sebelumnya saya diberikan username dan password wifi-nya. Itulah satu-satunya jaringan internet saat saya di kampus. Kehidupan maya saya tergantung pada sinyal wifi beliau.

Tidak begitu lama. Sekitar 5 menit saya berdiri di samping lift, di lantai 6, beliau keluar ruangan dan mengajak saya menuju ruangannya. Ini kali kedua saya memasuki ruangannya. Sudah sepantasnya sebagai ruangan ilmuwan, saat memasuki ruangannya kita akan disuguhkan dengan lemari-lemari yang padat dengan koleksi buku. Sekitar empat lemari panjang yang bersusun lima hingga enam tingkat, keseluruhannya dipadati dengan buku-buku. Saya suka dengan ruangan yang seperti ini. Sudah jauh-jauh hari saya pernah berimajinasi untuk memiliki ruangan seperti ini. Bagi saya, ruangan yang diisi dengan buku itu lebih bergengsi, baik itu ruangan maupun rumah.

Beliau menegaskan kembali kepada saya bahwa dia baru saja mengirim email dan Whatsapp berisi username dan password sementara yang bisa saya gunakan untuk mengakses wifi kampus. Setidaknya, itu memudahkan saya untuk tidak harus selalu berada di lantai 6 untuk dapat mengakses internet. Saya berterima kasih atas kebaikan beliau.

“Itu untuk sementara, kira-kira hanya bisa digunakan satu minggu. Setelah itu hangus dan harus diperbarui lagi”, ucapnya.

“Tapi bentar lagi kamu bakal punya username dan password permanen, nanti agak sore akan saya antarkan untuk mendapatkannya. Setelah saya bertemu dengan teman dari UGM”, beliau menambahkan.

“Thank you, Sensei”, jawab saya dengan ekspresi bahagia.

Seperti beberapa hari beliau sampaikan bahwa hari ini akan ada tamu dari UGM. Dia juga dosen yang kebetulan berkunjung ke Nagoya, sehingga sekaligus berkunjung ke kampus ini. Oleh supervisor, saya diajak bertemu dengan dosen UGM itu pukul 12:30 sekaligus makan siang. Kita bertemu di lantai satu.

Saya berkenalan dengan dosen UGM itu. Dosen itu ramah, low profile dan tampak sudah terbiasa dengan kehidupan dan suasana Jepang, khususnya kampus ini. Kita berjalan menuju warung makan yang tidak jauh dari gedung tempat kami tadi bertemu. Beliau mengajak untuk makan di warung kebab. Katanya, warung itu salah satu favorit dengan cita rasa yang bisa diterima banyak orang. Saya dipersilakan untuk memilih menu, sementara mereka memilih menu juga.

Saya tidak tahu masakan di warung ini. Semua masih terasa asing, meskipun sudah tersajikan gambar makanannya. Saya hanya bisa memahami harga makanan tersebut, saya memilih makanan yang tampaknya tidak begitu berat dengan harga yang lebih murah.

Setelah kita semua sudah memilih menu makanan, kita duduk sambil mengobrol. Awal-awal, saya hanya mendengaran pembicaraan mereka berdua. Tampaknya mereka berdua sudah sangat dekat.

Tidak begitu lama, mungkin sekitar 5 menit, makanan sudah siap. Saya mengambil makanan dari penjualnya. Kebiasaan di sini, makanan harus diambi sendiri. Termasuk, setelah selesai makan, kita harus merapikan piring, sendok dan semua sisa makanan. Keseluruhannya ditaruh dalam satu nampan dan dibawa kepada penjualnya lagi.

Saya mengetahui ini jauh-jauh hari. Waktu itu saya membaca dari postingan seorang teman di Backpacker Dunia di Facebook yang bercerita tentang etika atau kebiasaan yang harus diperhatikan saat kita membeli makanan di Jepang.

Belakangan saya juga mempraktikkan ini saat makan di kampus, di Jember. Saya mengambil makanan itu sendiri dan mengembalikannya kepada penjualnya. Saya ingin memastikan meja setelah saya tinggalkan rapi dan bersih. Karena, saya berpikir pengguna setelah saya juga berhak mendapatkan meja yang bersih dari sisa-sisa makanan saya. Awal-awal, saya dianggap aneh, baik oleh mahasiswa-mahasiswi maupun bapak dan ibu penjual makanan tersebut. Seiring waktu, itu menjadi hal yang biasa. Mereka akhirnya terbiasa.

Oh iya, kembali dengan percakapan antara dosen UGM dan sensei. Beliau bercerita tentang UGM dan Nagoya, hingga pada akhirnya sedikit menyinggung beberapa dosen di Indonesia. Mereka sangat berterus terang bahwa saat ini ada kecenderungan dosen di Indonesia tidak terlalu ahli di bidangnya. Mereka terjebak pada iming-iming jabatan, daripada mengejar karir akademik. Mereka juga cenderung tidak begitu rajin menulis. Melainkan, mereka lebih suka berbicara.

Ini belakangan yang saya ketahui dari membaca artikel di conversation.com bahwa ilmuwan sosial Indonesia terjebak pada insularitas. Mereka terlalu lambat untuk mengejar perkembangan dunia keilmuan yang begitu cepatnya tumbuh dan berkembang. Pada sisi lain, dosen justru terjebak dengan permasalahan politik hingga disibukkan dengan masalah administrasi.

Percakapan beliau mengingatkan saya dengan catatan perjalanan Niels Mulder, seorang Antropolog Belanda yang pernah menyusuri seluruh wilayah Jawa, termasuk Jember. Dalam catatan Niels Mulder, tampaknya adalah kampus UGM, disampaikan bahwa dosen-dosen di fakultas hukum saat itu Ia jumpai sudah tidak bisa berbahasa Belanda. Padahal, hukum-hukum Indonesia mewarisi hukum-hukum Belanda. Atau setidaknya, mereka berbahasa Inggris. Mereka juga tidak banyak yang cakap berbahasa Inggris. Oleh karena itu, menjadi sangat ironi saat mahasiswa harus dipaksakan membaca diktat dosen, kampus tidak untuk bernalar, melainkan menghapal.

Materi perkuliahan yang disampaikan oleh dosen juga tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Bahkan tidak jarang ditemukan dosen mengajar dengan bahan perkuliahan yang sama dalam tempo lima, sepuluh hingga lima belas tahun lalu. Kampus cenderung berisi dogma, tidak disertai kemampuan bernalar kritis. Relatif tidak ada perubahan di tengah dunia yang sudah sangat berubah pesat!

Apabila itu merujuk pada kampus Fakultas Hukum UGM, tampaknya kenyataan saat ini tidak begitu. Itu diakui oleh supervisor saya bahwa dengan segala kekurangan dan kelebihannya sesungguhnya kampus UGM tidak begitu jauh dengan kampus ini. Kampus-kampus negeri yang relatif kecil yang sepertinya sedikit menyedihkan. Meskipun berstatus negeri sepertinya tidak dilengkapi dengan infrastruktur SDM yang relatif memadai. Mungkin itu membutuhkan waktu beberapa tahun untuk bisa berbenah dan menjadi lebih baik.

Ini juga kembali mengingatkan saya tentang catatan Niels Mulder. Dalam catatannya disampaikan bahwa kampus UGM sudah kehilangan roh akademisnya. Kampus ditinggalkan oleh ilmuwan-ilmuwan handal menuju Jakarta. Sebagian juga tergeser karena memang peta politik nasional memang mengalami pergeseran kekuasaan. Di Jakarta, mereka menjadi bagian dari perumusan kebijakan. Intelektualitas seseorang pada akhirnya bergantung pada jabatan strategis di pemerintahan.

Itu pendapat Niels Mulder, beberapa dekade lalu.

Percakapan kami tidak begitu lama, mungkin hanya sekitar 15-20 menit. Setelah itu kita kembali ke kampus. Seperti yang dijanjikan supervisor saya, saya diantarkan ke ruang administrasi untuk mendapatkan kartu. Kartu tersebut digunakan saat di luar jam kantor atau pada hari libur agar sayatetap bisa memasuki gedung kampus. Kartu itu memilik chip, sehingga saat di luar jam kantor saya perlu memindai chip itu terlebih dahulu sebelum memasuki gedung kampus. Saya dijanjikan dua jam lagi. Pukul 16:00 saya diminta datang kembali ke ruangan tersebut.

Bagaimana dengan username dan password internet? Saya dijanjikan besok. Besok siang saya diminta ke ruang tersebut untuk mengambilnya.

 

Artikel Terkait:

Salam Rinduku dari Nagoya Daigaku Sta.

Di bawah rerimbunan pepohonan hijau yang tampak mulai memerah dedaunannya, terdapat pergerakan manusia, menunjukkan ragam aktivitasnya. Mobil melaju dengan kencang dan seksama saat mendekati lampu lalu lintas. Berduyun-duyun tampak orang-orang yang sudah menunggu tanda hijau diperbolehkannya pejalan kaki dan pengendara sepeda pit menyebrang, membelah jalan di antara puluhan kendaraan yang berhenti dengan tertibnya. Saat itu, sudah sore, menjelang magrib, kuhirup udara sore dari pedestrian Nagoya  Daigaku Sta. yang masih segar, sejuk. Suhu udara di handphone saya menunjukkan angka 18 derajat celcius.

Sebentar lagi, beberapa minggu ke depan di bulan ini dan tiga bulan ke depan, suhu udara akan semakin turun. Pentauan cuaca di handphone saya menunjukkan, dalam enam hari ke depan, suhu udara akan turun satu derajat celcius setiap harinya, hingga 10 derajat celcius. Mungkin di minggu-minggu depan akan mencapai di bawahnya.

Tampaknya, musim gugur sudah selesai. Saatnya tergantikan dengan musim dingin yang kabarnya akan diikuti dengan turunnya salju di kota ini. Turunnya suhu ini terlihat dari perilaku orang-orang sekitar dalam beberapa hari terakhir sudah mulai menggunakan busana panjang dari bahan yang relatif tebal. Sepertinya dalam beberapa hari ke depan saya juga akan seperti itu. Cuaca mengharuskan kita untuk segera beradaptasi.

Sudah seminggu, saya meninggalkan kampung halaman. Apabila dihitung mulai besok, sudah satu minggu saya tinggal di negeri sakura ini. Terbersit kerinduan saya pada kampung halaman, rindu pada keluarga, khususnya Ibu. Rindu itu juga terhadap suasana saat saya measuki ruang-ruang kelas perkuliahan. Saya rindu bercengkrama dengan mahasiswa dan mahasiswi yang santun sikapnya dan radikal pemikiran dan tindakannya. Ada keberanian, gairah dan semangat  yang menyala-nyala pada mereka yang membuat saya bangga. Setidaknya, dengan bersama mereka, saya dapat mengkondisikan pikiran dan semangat dalam jiwa ini untuk terus memiliki kemauan dan siap untuk menghadapi segala tantangan.

Nagoya Daigaku Sta. adalah stasiun subway yang terletak di tengah-tengah kampus. Setiap hari saya selalu melewati stasiun ini, baik saat pergi maupun pulang dari kampus. Sepertinya tempat ini adalah salah satu landscape paling cantik, yang menarik hati, di area kampus Nagoya University.

***

Hari ini Sabtu, hari libur. Saya tidak berangkat ke kampus. Saya tadi memang menuju kampus, tapi hanya lewat. Saya hari ini kembali mencari toko yang menjual daging ayam. Nama toko tersebut adalah Halaliya, terletak di belakang kampus Nagoya University. Saya ke kampus hanya ingin menjangkau toko Halaliya dengan jalan pintas melalui jalan-jalan kampus.

Tadi malam, setelah saya kemarin sore tidak berhasil mendapatkan toko yang menjual daging ayam halal dengan harga relatif murah itu, saya tanyakan itu kepada Mas Bangkit melalui Whatsapp. Dia adalah mahasiswa S3 di kampus ini, baru sekitar 10 hari dia sampai Nagoya. Cuma, dia sudah tinggal lama di sini, saat mengambil S2. Jadi, dia sudah banyak tahu spot-spot di sini. Dia membalas Whatsapp singkat dengan mengirimkan Maps tempat toko Halaliya.

Sebenarnya, kemarin saya sudah lewat di depan toko Halaliya itu. Sayangnya, nama toko tidak begitu besar. Di sini, memang nama-nama toko tidak begitu eye-catching, beda seperti kebanyakan toko di Indonesia. Jadi, saat mencari toko tersebut, saya tidak begitu perhatian dengan nama kecil yang akan kelihatan dengan jarak 5 meter saja.

Toko ini itu memang kecil, tapi menurut saya istimewa. Awal kali masuk, saya mencoba untuk melihat-lihat barang apa saja yang dijual di toko ini. Saya terkejut, ternyata toko ini tidak hanya menjual daging ayam, tetapi juga bahan makanan India, Timur Tengah maupun Asia Tenggara. Saya menemukan Parata, Paneer, Masala dan kerupuk yang biasa saya goreng saat di India. Ada daging sapi dan daging ayam yang merupakan produk dari Malaysia, sebagian dari Turki.

Sepertinya penjualnya sudah terbiasa dengan orang-orang Indonesia, dia bisa berbahasa Indonesia meskipun sedikit-sedikit. Sepertinya penjualnya dari India. Atau setidaknya, Bangladesh dan Pakistan juga lebih mendekati. Saya tanyakan, “apakah ini toko India?”

“Tidak, semuanya. Semua makanan Asia kita coba ada di sini, ada makanan untuk orang-orang Timur Tengah juga”, tandasnya.

Saya tadi membeli bubuk cabe seharga 110 Yen dan daging ayam 1.2 kg dari Turki seharga 450 Yen atau sekitar 60 ribu rupiah. Daging ayam tersebut dibekukan di dalam kulkas. Saat saya sampai di flat, berjalan sekitar 30 menit dengan jarak sekitar 2 km, daging ayam tersebut masih sangat beku. Pada akhirnya, untuk memasaknya, saya bilas terlebih dahulu dengan air agar bisa dipotong.

Dari itu semua, ternyata, juga mengingatkan saya saat masih S2. Kerindungan itu ternyata tidak hanya terhadap kampung halaman, tetapi juga tempat perantauan, saat merantau ilmu di Hyderabad selama dua tahun. Saat itu, saya juga masak sendiri, tidak begitu mengandalkan pada makanan dari luar. Itu semua dengan tujuan untuk berhemat, selain karena ingin makan makanan yang cita rasa khas Indonesia.

Di sini, kira-kira saya akan tinggal sebatas 80 hari. Waktu yang relatif singkat. Tinggal di negeri orang, setidaknya, mengingatkan saya akan cita-cita, untuk melanjutkan S3. Akan tiba saatnya di mana saya akan menghabiskan waktu setidaknya tiga kali 365 hari, dengan satu rutinitas utama, satu topik diskusi, menuliskannya mungkin lebih dari 365 halaman, disertasi!

Kerinduan itu ternyata adalah juga bagian dari harapan.

Semoga tahun depan. Segera!

.

Artikel Terkait: