Posts in Notes

Tidak harus selalu menjadi yang pertama

Banyak orang tua menginginkan anak-anaknya unggul, pandai, cerdas dan berprestasi. Keinginan tersebut seringkali diwujudkan dengan dorongan kepada anak-anaknya untuk menjadi nomor satu. Sejak kecil, banyak anak didorong untuk kompetitif. Semacam ada penanaman pemikiran bahwa seolah anak yang unggul, pandai, cerdas dan berprestasi adalah dengan menjadi yang pertama.

Prestasi seringkali diukur berdasarkan pemeringkatan. Anak yang berprestasi seringkali diidentikkan dengan menyandang gelar juara. Pembagian kelas kualitas anak diranking dari juara 1, juara 2, dan juara 3. Keadaan ini lazim dalam dunia anak-anak, dan termasuk di bangku sekolah.

Meskipun saat ini pemeringkatan kelas di sekolah sudah dihapuskan, masih ada pemeringkatan-pemeringkatan lain. Seperti lomba, baik dari yang receh sampai lomba akademik. Ini semua masih sering kita jumpai baik pada tingkat pendidikan dasar, menengah maupun perguruan tinggi.

Juara sebagai kebanggaan

Pemahaman tunggal atas kualitas seseorang diukur dari kemampuan mendapatkan juara seringkali menjadi beban bagi anak. Seluruh hidupnya dari kecil dituntut untuk dapat berkompetisi. Khususnya, secara tidak langsung, anak-anak harus mampu menahan tekanan agar dapat bersaing dan mampu mengalahkan teman-temannya.

Tentu saja, usaha untuk menjadi juara, menjadi yang pertama, tidaklah mudah. Namun, mau tidak mau, standar itu semacam kenyataan hidup yang mesti dijalani. Hingga pada saat kita mencapainya, kita akan merasa bangga telah mampu menjadi yang pertama. Sampailah pada kesadaran diri bahwa ternyata kita bisa mencapainya. Kita bangga.

Tuntutan lebih tinggi

Semua tidak berhenti di situ. Cerita masih panjang. Setelah kita dapat menjadi yang pertama, akan ada dua tuntutan baru. Pertama, kita harus menjadi yang pertama lagi pada episode selanjutnya. Kedua, saat kita gagal menjadi yang pertama kembali, akan ada beban berat terhadap mental.

Semua berawal dari asumsi ini. Sebelumnya, kita sudah mendapatkan prestasi dengan menjadi yang pertama. Kita telah dipercaya sehingga tidak ingin mengecewakan orang tua, guru atau teman-teman kita. Juga, kita tidak ingin kecewa terhadap diri sendiri saat mencoba peruntungan berikutnya.

Ini semua tidak salah. Namun, satu hal yang tidak begitu tepat adalah saat tuntutan tersebut tinggi, anak juga perlu ditanamkan kebijaksanaan agar lebih siap apabila luput mencapai tujuannya. Menjadi pertama itu menyenangkan, namun saat terjatuh atau tidak beruntung, kemampuan menghargai orang lain dan menoleransi diri sendiri menjadi sangat penting.

Ajari menaklukkan diri sendiri

Banyak literatur menuturkan bahwa pemenang sesungguhnya bukan terbatas menjadi nomor satu. Dunia ini luas dan luas juga ukuran dan pemaknaan kesuksesan yang tidak bisa dinilai sebatas dengan angka dan urutan.

Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya anak, bekal pemahaman menjadi manusia bermartabat dan memahami kehidupan menjadi sangat penting. Saat anak beranjak dewasa akan semakin memahami luasnya dan kompleksnya kehidupan yang tidak sesempit tentang kemenangan atas orang lain atau kemampuan mengalahkan orang lain.

Edmund Hillary, pendaki kelas dunia, mengatakan bahwa kemampuan pendaki itu bukan tentang menaklukkan gunung. Makna dari pendakian gunung tersebut jauh lebih penting daripada ambisi sempit untuk menaklukkannya. Dengan kita mendaki gunung, sesungguhnya ada satu hal yang harus ditaklukkan, yaitu diri sendiri. Kita akan semakin mawas diri tentang pentingnya perencanaan, kegigihan dan kesabaran untuk mencapai puncak. Tanpa ketiganya akan sangat susah bagi kita berhasil mencapainya. Oleh karena itu, kebijaksanaan menempati posisi utama sebelum kita beranjak untuk dapat mencapai tujuan, dengan menaklukkan diri sendiri terlebih dahulu.

Tidak harus menjadi yang pertama

Banyak orang sudah telanjur kecewa. Sebagian yang lain menilai semuanya telah sia-sia. Barangkali, pemaknaan untuk menjadi yang pertama adalah tentang kemampuan untuk mengalahkan orang lain, tanpa melibatkan diri sendiri sebagai musuh utama.

Saat usaha yang dilakukan sudah maksimal, refleksi terhadap diri sendiri menjadi penting. Perjuangan menaklukkan diri sendiri jauh lebih berliku daripada mengejar menjadi yang pertama. Barangkali, memperbaiki manajemen diri jauh lebih esensi daripada hanya mengejar prestasi demi membusungkan diri. Hal yang terpenting, saat menjadi yang pertama untuk dapat tetap rendah hati.

Begitu juga, saat tidak berhasil mencapai target yang diinginkan sudah siap untuk menerima kenyataan dan keadaan dengan sabar dan ikhlas. Saat sudah menjadi orang, hal yang terpenting bagi kita bukan di mana kita berposisi tetapi sejauh mana kontribusi kita dapat berguna bagi orang lain.

Semoga bermanfaat. 🙏

Kritik saran bisa tulis komentar di bawah yaa…

Ramai Berita Persekusi Muslim di India: Ternyata India Punya Masa Lalu Ini

Dalam beberapa pekan terakhir, banyak dijumpai berita kekerasan terhadap Muslim di India. Kekerasan tersebut dipicu oleh pengesahan amandemen UU Kewarganegaraan 1955 pada 11 Desember 2019. UU ini memungkinkan diberikannya status kewarganegaraan India kepada migran ilegal yang beragama Hindu, Sikh, Buddha, Jain, Parsi, dan minoritas agama Kristen, yang telah melarikan diri dari penganiayaan dari Pakistan, Bangladesh dan Afghanistan sebelum Desember 2014. UU ini memberikan pengecualian terhadap Muslim. Pembedaan perlakuan ini yang selanjutnya melahirkan protes tak berkesudahan. Selanjutnya, keadaan ini melahirkan konflik sosial antarumat beragama, khususnya antara warga beragama Hindu dan Muslim.

India adalah negara yang kompleks

Satu hal yang harus dipahami bersama, India adalah negara yang kompleks. Keberagaman India seringkali memicu banyak konflik sosial. Sebenarnya, India tidak hanya menghadapi tantangan mewujudkan kehidupan harmonis antarumat beragama. Negara ini juga memiliki permasalahan kesenjangan ekonomi, kemiskinan, kesehatan, lingkungan, hingga tingginya tingkat kelahiran maupun kematian. Namun demikian, agama menjadi topik yang cukup sensitif dan dapat melahirkan konflik sosial yang tidak berkesudahan.

Dari sisi kerangka regulasi nasional, India tampak lebih baik daripada Indonesia dalam hal pemberian jaminan dan kebebasan beragama. Konstitusi India menegaskan diri India sebagai negara sekuler. Sekularisme India didefinisikan bahwa negara berada pada posisi netral, dengan adanya kebabasan warga negara untuk meyakini, beribadah maupun menyebarkan agamanya masing-masing. Tercatat, terdapat banyak sekali agama di India, termasuk Ahmadiyah dan Baha’i, yang dianggap sesat di Indonesia, tumbuh dan berkembang di India. Agama Jainisme dan Parsi juga hidup di India.

India juga bisa dibilang cukup netral dalam urusan ideologi. India di dalam konstitusi menegaskan diri sebagai negara sosialis. Prinsip-prinsip sosialisme terasa kuat tercantum baik di dalam pembukaan maupun isi pasal Konstitusi India. Seiring dengan berjalannya waktu, India tidak anti kapitalisme. India melakukan reinterpretasi konstitusi dengan terbuka menerima kapitalisme dalam kehidupan bernegara. India juga tidak melakukan pelarangan terhadap partai komunis. Ada dua partai komunisme, yaitu Communist Party of India (CPI) dan Communist Party of India Marxist (CPIM). Keduanya ikut serta dalam pemilihan umum, meskipun kurang diminati oleh warga India dan terkesan mandul.

India punya masa lalu

Tidak hanya manusia yang punya masa lalu. India juga punya masa lalu tentang usaha dan tantangan membina kerukunan dan keharmonisan umat beragama. Sudah banyak terjadi ketegangan antara umat Hindu vs umat Islam di India. Islam India seringkali dicurigai oleh Hindu karena dianggap memiliki hidden agenda dengan motif fanatisme agama. Umat Hindu juga tak jarang melawananya dengan atas dasar fanatisme agama pula.

Banyak sekali insiden teror yang melibatkan Muslim India. Selama saya tinggal di Hyderabad, banyak mendapatkan cerita tentang aksi teror yang melibatkan Muslim India. Pada 2007 misalnya, terjadi ledakan bom di Hyderabad, tepatnya di area Lumbini Park. Aksi ini diikuti dengan leadakan bom susulan di Gokul Chat Bhandar, salah satu restoran ternama di Hyderabad yang letaknya sekitar lima meter dari Lumbini Park. Kedua insiden ini telah menewaskan 42 jiwa. Pada 2013, ledakan bom terjadi kembali. Dua ledakan bom secara beruntun berlokasi di Dilsukhnagar, salah satu pusat perbelanjaan di Hyderabad. Keadaan seperti kemudian seringkali ditautkan dengan ancaman kehidupan beragama.

Kejadian serupa juga terjadi di banyak daerah. Kemampuan untuk menahan diri terhadap anarkisme dan pertikaian sosial seringkali menjadi tantangan bagi masyarakat India yang secara sosial, budaya dan agama cukup beragam.

Kelahiran India-Pakistan

Hingga saat ini, hubungan diplomasi India-Pakistan tidak berjalan dengan baik. Tentu, ada alasan-alasan di balik buruknya hubungan bilateral kedua negara yang bertetanggaan itu.

India dan Pakistan memiliki masalah yang hingga kini belum tuntas. Masalah tersebut lahir bersamaan dengan lahirnya kedua negara itu. Lahirnya Pakistan dilatarbelakangi keinginan terpisahnya masyarakat British India atas dasar agama. Permasalahan ini semakin mengemuka secara tajam sejak Inggris berencana akan memberikan kemerdekaan bagi British India.

Pakistan yang diwakili oleh Muhammad Ali Jinnah menginginkan adanya sebuah negara dengan penduduk Islam mayoritas. India yang diwakili oleh Jawaharlal Nehru menginginkan India bersifat inklusif dan berharap Jinnah mengurungkan ide atas lahirnya Pakistan sebagai negara tersendiri. Nehru bercita-cita India akan berdiri sebagai sebuah negara besar yang di dalamnya semua umat beragama dapat terwadahi, dengan memperlakukan seluruh warga negara sama.

Perundingan demi perundingan telah dilangsungkan. Perundingan demi perundingan berlangsung semakin sengit. Akhirnya, kelahiran Pakistan tidak lagi dapat terhindarkan. Beberapa alasan kenapa Pakistan harus lahir karena India didominasi oleh warga beragama Hindu. Secara politik, Islam tidak akan dapat mendapatkan posisi yang cukup dan kemenangan. Apalagi, sistem demokrasi yang diadopsi India menerapkan one person one vote.

Sejak diputuskannya Pemerintah Inggris akan meninggalkan India pada 1947, dan sejak diputuskannya India dan Pakistan akan berdiri masing-masing sebagai negara, terjadi gelombang besar migrasi. Umat Hindu yang berada di Pakistan berbondong-bondong berpindah ke wilayah India. Begitu juga dengan umat Islam yang tinggal di India, mereka berbondong-bondong meninggalkan India menuju Pakistan. Proses migrasi ini menelan jutaan korban jiwa di tengah perjalanan, selain banyaknya pemerkosaan dan penjarahan.

Kelahiran kedua negara ini diikuti dengan konflik atas nama agama. Meskipun India berdiri tidak atas dasar agama Hindu, dalam proses penyusunan konstitusi juga ada perdebatan untuk menjadikan India sebagai negara Hindu. Gagasan tersebut urung karena pemimpin India saat itu cenderung memiliki pandangan politik liberal dengan mengakomodasi keragaman yang dimiliki India.

Gerakan Hindu radikal

Tentu, hampir semua teman-teman yang membaca tulisan ini mengenal Mahatma Gandhi. Lebih akrab dipanggil Gandhi, namun sebetulnya nama lengkapnya adalah Mohandas Karamchand Gandhi. Gandi adalah simbol kebijaksanaan India. Lahirnya India yang menjujung keberagaman dalam persatuan India ini tidak lepas dari usaha Gandi untuk mempersatukan India. Gandhi seringkali dituduh tidak loyal terhadap Hindu karena kedekatan Gandhi dengan umat Muslim. Sebetulnya, Gandhi ingin membangun kepercayaan dan memiliki kedekatan dengan umat Muslim, sebagai cara untuk mempersatukan India.

Sikap akomodatif Gandhi ini melahirkan perlawanan dari gerakan radikal Hindu. Gerakan tersebut bernama Rashtrya Swayamsevak Sangh (RSS). Organisasi sayap kanan ini menginginkan India sebagai negara Hindu yang tentu saja berlawanan dengan sikap politik Gandhi. Singkat cerita, Gandhi dibunuh oleh aktor yang berafiliasi dengan RSS ini.

RSS ini sempat dibubarkan oleh Pemerintahan Indira Gandhi pada 1975. Namun, pembubaran RSS ini kemudian menjadi titik balik pembalasan dan insiden kekejaman yang terjadi di kemudian hari. Saat partai Indian National Congress (INC) berada pada titik krisis kepercayaan, terutama karena masifnya kasus korupsi yang melibatkan partai ini, gerakan radikal Hindu mendapat tempat besar. Bharatiya Janata Party (BJP) yang berafiliasi dengan RSS pada 2014 memenangkan pemilihan umum nasional. Konsekuensinya, partai ini menjadi partai berkuasa dan menempatkan Narendra Modi sebagai Perdana Menteri India.

Narenda Modi memiliki rekam jejak buruk dalam membina kerukunan umat beragama. Setidaknya, rekam jejak Modi bisa dilihat dari sikap diamnya saat Gujarat Riot 2002 berlangsung. Saat itu, Narendra Modi menjabat Gubernur Gujarat. Meninggalnya 60 jamaah Hindu yang dalam perjalanan di kereta api dari Ayodhya dibalas dengan penyerangan terhadap umat Islam dan masjid di Gujarat, menelan ribuan korban jiwa.

Ayodhya, Ramachandra, dan India

Tentu saja sangat ironis, saat agama menjadi alat tempur. Terlebih, sejarah ketuhanan di dalam agama Hindu tidak lepas dari nilai-nilai kebajikan. Dalam sejarahnya, saat itu, Raja Vikramaditya menemukan tanah yang disebut Ayodhya, tempat itu dipercaya sebagai tempat Ramachandraa mandi di Sungai Sarayu. Kemudian, Raja berusaha mencari tahu Rama dilahirkan. Setelah melakukan observasi, Raja Viramaditya membangun Ayodhya kota. Atas pembangunan kota tersebut, banyak orang dari tempat jauh mulai berbondong-bondong ke Ayodhya. Ayodhya yang sebelumnya merupakan hutan menjadi tempat besar, tempat suci.

Dari mitos menjadi fakta, kota legenda menjadi tempat nyata dan Rama diterima sebagai inkarnasi Tuhan di Bumi, dengan pusat di tepi sungai. Namun, kemudian, kisah yang sejak lama disucikan digunakan oleh kaum fundamentalis Hundu untuk melegitimasi supremasi Hindu di India, sebuah negara dengan banyak agama. Atas nama Rama, Rajanya Tuhan, manusia yang ideal, lambang keadilan, kekerasan sektarian menjadi tak terhindarkan di India.

Akbar vs Aurangzeb: tragedi kerukunan dan kekerasan

Banyak dari kita yang tidak asing dengan nama Akbar. Seringkali kita mendengar Jodha-Akbar di layar televisi. Akbar adalah salah satu kaisar dalam Dinasti Mughal. Dinasti Mughal sendiri adalah kekaisaran Islam yang memerintah hampir seluruh wilayah India. Salah satu peninggalan Dinasti Mughal adalah Taj Mahal, dibangun oleh Kaisar Shah Jahan sebagai bentuk cintanya kepada istrinya Mumtaz Mahal yang meninggal dunia.

Akbar identik dengan kaisar yang mengakomodasi perbedaan. Bahkan, untuk membangun kekuasaannya, Akbar menikahi perempuan Hindu bernama Jodha. Dalam pemerintahan, Akbar memperkenalkan filosofi negara bernama Dinul Ilahi (agama Tuhan). Dinul Ilahi adalah keimanan terhadap Tuhan secara sinkretis, disusun oleh Kaisar Akbar pada 1582 M. Dengan konsep ini, Akbar ingin menggabungkan beberapa elemen agama kekaisarannya, sehingga adanya rekonsiliasi atas perbedaan yang mengkotak-kotakkan warganya. Dinul Ilahi secara khusus disarikan dari unsur-unsur keagamaan yang terdapat dalam ajaran Islam dan Hindu, selain juga adanya akomodasi dari nilai-nilai ajaran agama Kristen, Jainisme, dan Zoroaster. Akbar dikenal sebagai kaisar yang mampu membawa India dalam kehidupan harmonis.

Pada dua generasi setelah Akbar, kaisar yang berkuasa adalah Aurangzeb. Berbeda dengan Akbar, banyak sumber menerangkan bahwa Aurangzeb menggunakan kekuasaannya untuk memerangi umat Hindu. Sebenarnya mungkin sudah menjadi watak Aurangzeb sendiri yang didorong oleh keinginan bertahta. Aurangzeb tercatat telah memenjarakan ayahnya (Shah Jahan) dan menjadi dalang pembunuhan ketiga saudara laki-lakinya. Anehnya, di balik sikap yang gila kekuasaan ini, Ia terkesan taat beragama, namun mengamalkan ajaran agama Islam secara kaku. Aurangzeb melarang penggunaan instrumen musik dan melakukan pembakaran terhadap alat-alat musik.

Satu hal dari tindakan Aurangzeb yang masih terekam kuat dalam ingatan umat Hindu dan seringkali digunakan oleh kelompok radikal Hindu adalah kebijaakannya melakukan persekusi terhadap umat Hindu. Selama berkuasa, Aurangzeb melakukan pembantaian terhadap umat Hindu dalam jumlah besar. Namun demikian, tentu saja, kontribusi Muslim India di masa lalu tidak hanya seburuk yang dilakukan oleh Aurangzeb. Ada kisah baik dan bijaksana yang telah dituliskan oleh Kaisar Akbar.


Sumber: kawanhukum.id

Indeks Modal Manusia Indonesia di bawah Filipina dan Vietnam, Lalu Bagaimana?

Pada akhir 2018, Bank Dunia merilis peringkat indeks modal manusia (human capital index) sebagai bagian dari laporan pembangunan dunia 2019. Peringkat ini menempatkan Indonesia berada pada peringkat ke-87 dari total 157 negara. Skor yang dicapai Indonesia adalah 0.53 yang menegaskan bahwa setiap anak yang lahir memiliki sekitar 53% kesempatan untuk tumbuh. Pertumbuhan ini dengan syarat mereka mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan.

Untuk tingkat ASEAN, Indonesia menempati posisi ke-6 setelah Singapura, Vietnam, Malaysia, Thailand dan Filipina. Ini juga menegaskan bahwa Indonesia mencatatkan posisi terendah ke-4 di ASEAN, hanya unggul di atas Kamboja, Myanmar, Laos dan Timor Leste.

Indeks Modal Manusia digunakan untuk mengukur derajat manusia sebagai modal suatu negara. Indeks ini mengukur kontribusi kesehatan dan pendidikan untuk melihat produktivitas generasi pekerja yang akan datang.

Laporan ini memiliki tiga komponen penilaian, yaitu kelangsungan hidup, jumlah dan kualitas pendidikan dan kesehatan. Kelangsungan hidup diukur dengan angka kematian balita. Jumlah dan kualitas pendidikan diujur dengan menyelaraskan nilai ujian dan kuantitas jumlah tahun sekolah yang diharapkan diperoleh anak pada usia 18 tahun. Kesehatan diujur dengan tingkat kelangsungan hidup orang dewasa dan tingkat stunting untuk anak di bawah usia 5 tahun. Di antaranya menyangkuindekt komponen peluang hidup hingga usia 5 tahun, kualitas dan kuantitas pendidikan, serta kesehatan termasuk isu stunting.

Kebijakan Pemerintah
Rendahnya nilai indeks yang dicapai oleh Indonesia menegaskan bahwa pemerintah belum memiliki kebijakan yang tepat dan reponsif terhadap permasalahan utama. Akses kesehatan menjadi aspek yang penting untuk memastikan generasi Indonesia dapat tumbuh dengan sehat. Selain itu, alokasi anggaran pendidikan yang setiap tahun lebih dari 20% dari APBN belum dapat menjamin akses pendidikan yang inklusif. Angka putus sekolah masih relatif tinggi dan masih belum meratanya kualitas pendidikan Indonesia menjadi tantangan besar dalam menyiapkan SDM yang berdaya saing.

Pembekalan keterampilan khusus dengan pelatihan-pelatihan menjadi sangat diperlukan. Peran Ketenagakerjaan menjadi penting di tengah persaingan global yang menuntut keterampilan-keterampilan baru dan menggeser keterampilan-keterampilan lama karena faktor efisiensi.

Usaha tersebut di atas perlu respon dalam waktu yang relatif cepat. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menyebutkan jika hal tersebut tak diperbaiki, dikhawatirkan anak-anak Indonesia kesulitan bersaing di tengah lajunya persaingan global. Penyiapan SDM yang unggul menjadi kebutuhan sebagai tolok ukur utama peningkatan derajat dan kualitas manusia yang berkontribusi sebagai modal Indonesia ke depan.

Tulisan ini dimuat di kawanhukum.id

Bisa jadi kita tengah mengidap inferiority complex

Apakah kalian pernah merasa kurang percaya diri dan menganggap lebih rendah dari orang lain? Apakah kalian juga pernah berpikir bahwa banyak usaha yang telah dilakukan tetapi tak juga berbuah manis, lalu meragukan kemampuan diri sendiri? Apakah juga pernah menganggap diri kalian tidak mampu mencapai standar tertentu yang dirasa terlalu tinggi?

Atau, di antara kalian pernah berpandangan begini, “Ah kalau si A wajar lah begitu, dia kan memang pinter dan banyak prestasi. Tapi tau gak sih, denger-denger dia berprestasi begitu karena permainan curang. Lalu apa istimewanya coba?”

Jika jawaban kalian adalah iya, bisa jadi kalian tengah mengidap inferiority complex.

.

Apa sih inferiority complex itu?

Secara singkat, inferiority complex adalah suatu keadaan di mana seseorang merasa rendah diri atau tidak mampu memenuhi standar tertentu yang dirasa tinggi. Keadaan ini selanjutnya membentuk cara berpikir untuk memilih posisi aman namun tetap ingin dianggap kompetitif. Salah satu konsekuensinya, seseorang tersebut mencari pembenaran-pembenaran lain secara sepihak untuk mendapatkan pengakuan bahwa dirinya memiliki kehebatan yang perlu dibanggakan. Atau, disertai dengan merendahkan orang lain. Kebanggaan ini seringkali diungkapkan secara berlebihan sebagai kompensasi atas ketidakmampuannya.

Bisa dibayangkan, bagaimana saat inferiority complex telah menguasai alam bawah sadar dengan meyakini persepsi yang sangat tidak kooperatif untuk mendukung kemajuan berpikir kita. Dalam keseharian, misalnya, pemikiran tersebut tecermin dalam perasaan ataupun sikap kurang percaya diri atau merasa lebih rendah dari teman lain dengan anggapan otak temannya moncer. Namun hal ini seringkali berujung adanya seseorang yang merasa tidak mau dianggap tidak lebih baik dari teman lainnya melalui pembenaran-pembenaran tertentu demi meraih pengakuan.

.

Minder atau Inferiority complex?

Minder bisa terjadi pada siapapun. Biasanya, minder muncul karena perasaan kurang percaya diri atau seseorang kurang memiliki persiapan yang baik atas tindakan tertentu sehingga terdapat perasaan kurang dapat melakukan tindakan secara maksimal. Terlebih, misalnya, saat melihat teman-teman lain telah melakukan hal-hal yang dianggapnya sangat baik. Minder bisa sangat fluktuatif, saat kita mempersiapkan semua persiapan dengan baik, biasanya minder dapat diatasi secara perlahan-lahan.

Minder tidak hanya muncul atas dasar kemampuan, intelektualitas atau kecerdasan. Minder juga bisa disebabkan karena hal-hal fisik yang menghasilkan kesimpulan siapa yang lebih baik atau sempurna. Minder masih bisa diatasi dan tidak akan sampai menjadi inferiority complex sepanjang seseorang tidak membawanya pada ranah berpikir hingga alam bawah sadar.

Jika tidak, kalian harus siap-siap. Inferiority complex secara perlahan dapat dengan mudah menyusup dalam diri manusia saat tidak adanya kemampuan mengatasi gejolak pemikiran pribadi. Ketidakmampuan untuk mengendalikan konflik pemikiran ini seringkali berujung pada penghakiman tertentu dalam ranah berpikir dan memengaruhi seseorang dalam pembuatan keputusan.

.

Inferiority complex menjangkit siapa saja?

Inferiority complex dapat menyasar semua kalangan. Saat manusia tidak mampu mengendalikan konflik dalam pemikiran pribadinya, kurang referensi atau terjebak pada cerita tunggal, setiap orang rawan terjangkit penyakit ini. Juga, siapapun yang tidak dapat mempertahankan keyakinannya atas kemampuan diri sendiri bisa saja dengan mudah mengidap inferiority complex.

Tentu saja. Inferiority complex adalah kondisi di mana mental kita dalam tekanan. Adalah keadaan di mana kita merasa tidak nyaman dengan kemampuan diri sendiri namun tidak tahu bagaimana cara untuk bangkit dan membuat diri sendiri setara dengan yang lain. Kepercayaan diri seperti ini adalah hal mutlak dibutuhkan di era saat ini. Era saat ini menuntut kita memiliki kompetensi yang tinggi. Kenyataan saat ini mau tidak mau sudah semakin meluas, tidak hanya tingkat nasional tetapi antarbangsa.

Betapa mudahnya teknologi membuat kehidupan kita jauh lebih mudah dan efisien. Kemudahan dan efisiensi tersebut pada akhirnya telah menembus batas geografis. Persaingan telah luas dalam arena global. Pada saat itu, kita perlu mampu sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Jika terus-terusan kita tidak mau lepas dari inferiority complex, kita bisa jadi akan selalu merasa rendah terhadap diri sendiri. Akibatnya, di tengah derasnya arus globalisasi, kita bisa jadi hanya sebagai pengguna dan penonton, bukan pemain. Dan, untuk menikmati dan menontonnya, tentu saja, kita masih harus mengeluarkan duit juga.

Terdapat hal-hal kecil yang seringkali dapat menjadi indikator seseorang terjangkit inferiority complex. Anak desa seperti saya, misalnya, masih banyak yang memiliki pemikiran bahwa anak kota akan selalu unggul karena mereka lebih sejahtera dengan akses pendidikan yang lebih baik. Menurut saya itu tidak salah, namun tidak lengkap. Seiring dengan mudahnya akses teknologi, belajar bisa dilakukan di mana-mana, bahkan bisa sampai ke desa-desa. Butuh kesungguhan niat untuk bisa melawan pemikiran-pemikiran yang menjatuhkan diri sendiri seperti itu. Justru dengan keterbatasan itulah, saat bisa keluar dari inferiority complex, anak desa akan jauh lebih kreatif dan menyediakan alternatif-alternatif.

Kalian yang kuliah di kampus swasta atau yang seringkali dianggap kampus pinggiran, misalnya, mungkin ada yang merasa lebih rendah diri saat bertemu dengan mahasiswa dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, ataupun Universitas Gadjah Mada. Pendidikan di tiga kampus ini jelas lebih baik. Pemikiran demikian tidak salah, tetapi itu masih tidak lengkap. Kita bisa memanfaatkan alternatif-alternatif lain agar kita memiliki kemampuan yang setara dengan mahasiswa di kampus tersebut.

Contoh lain, kalian yang lulusan PTN bisa jadi masih merasa tidak lebih baik, tidak percaya diri, dari teman-teman yang lulusan luar negeri. Memang mereka belajar yang mayoritas berbahasa Inggris. Akses pengetahuan jauh terbuka lebar berkat penggunaan bahasa internasional dalam pergaulan akademik dan non-akademik sehari-hari. Namun, itu tidak berarti kalian yang belajar di dalam negeri juga tidak mendapatkan akses dan kesempatan membaca referensi yang sama.

Biasanya, pada batas ketidakmampuan namun ingin kompensasi lainnya, ujung-ujungnya seseorang tak jarang berkelakar, “jangan lupa cinta negeri woy, kuliah di dalam negeri itu lebih cinta negeri Indonesia sendiri.” hehee…

Singkatnya, inferiority complex perlahan tumbuh dari seringnya penghakiman-penghakiman oleh diri sendiri yang bisa jadi karena tidak tahu bagaimana seharusnya kita berpikir dua arah sehingga memiliki pemikiran yang terbuka.

.

Tanda-tanda inferiority complex

Situs Bustle menyebutkan beberapa tanda yang mungkin seseorang mengidap inferiority complex.

Pertama, terlalu perfeksionis. Karena menginginkan adanya kompensasi yang berlebihan, seseorang terus merasa kurang dan ingin mencoba mengejar kesempurnaan. Sikap perfeksionis ini seringkali membuat orang larut dalam inferiority complex. Kedua, sangat sensitif terhadap kritik. Orang dengan inferiority complex sangat peka terhadap perkataan orang lain tentang dirinya. Tidak mau menerima kritik karena anggapan kritik itu merendahkannya.

Ketiga, cenderung mencari kesalahan orang lain. Seseorang tidak mau introspeksi diri, melainkan justru menyalahkan orang lain. Saat ada teman yang sukses, seseorang tidak mau mengakui kehebatan temannya demi membuat dirinya bahagia atas kesuksesan temannya. Keempat, ada perasaan aman saat diri sendiri merasa lebih baik dari orang lain. Jika anda mengindap inferiority complex, fokus anda adalah untuk selalu menjadi lebih baik dari orang lain. 

Kelima, tidak percaya pujian. Hal ini biasanya dipengaruhi persepsi harga diri yang tinggi sejak kecil sehingga berpengaruh terhadap cara merespon pujian, Pada akhirnya, orang dengan inferiority complex bisa enggan menerima saran, meskipun positif. Keenam, gampang berpersepsi buruk. Tidak hanya melakukan penghakiman terhadap diri sendiri tetapi juga saat melihat posisinya kurang menguntungkan, seseorang dengan inferiority complex gemar play victim untuk memenuhi egonya.


Bagi yang merasa tengah terjangkit inferiority complex, kalian tidak perlu terlalu cemas. Tentu, kalian perlu segera bangkit dan memperbaiki cara berpikir. Apalagi diperkirakan banyak orang Indonesia tengah mengidap inferiority complex ini. 😀

Hal yang perlu dipahami bersama adalah bahwa hakikat manusia sesungguhnya adalah saling melengkapi, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tugas manusia adalah saling mengisi dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.  Pada akhirnya, di atas kelebihan dan kekurangan yang dimiliki manusia, ketekunan, kerajinan dan konsistensi lah yang memiliki pengaruh besar untuk membuat orang memiliki kemampuan yang lebih.

.

Bangga boleh, tapi tak harus berlebihan

Satu hal yang akut akibat mengidap inferiority complex adalah adanya perasaan yang berlebihan atas kehebatan kita yang biasa-biasa saja. Bangga ini bisa jadi sebatas kekecewaan atau terlalu sempitnya pikiran seseorang. Contoh gampangnya, masih banyak di antara kita seringkali menyalahkan negara asing, anti asing, karena asing dituduh telah mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia. Faktanya, investor asing tidak akan pernah bisa masuk ke Indonesia kecuali telah mendapatkan kesepakatan dari Pemerintah Indonesia.

Sebaliknya, kita seringkali membanggakan Indonesia kepada teman-teman dari luar negeri, bangga Indonesia dengan pantainya, keanekaragaman hayatinya, budayanya, dan sebagainya. Namun kita bisa dengan sangat sinis dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Singapura dituduh sebagai negeri cukong, Malaysia sebagai negara pencuri budaya dan pulau Indonesia.


Kesungguhan, keyakinan dan kerja keras untuk meningkatkan kualitas diri adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Kembali pada pemikiran bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan, tidak seharusnya manusia melakukan penghakiman dan merendahkan diri. Menjadi awal kesempatan yang baik saat kita berhenti menghakimi diri sendiri dan menggantinya dengan memulai belajar untuk bisa menemukan kemampuan alami kita. Tidak semua orang harus menjadi dan melakukan hal yang sama, tetapi esensinya mereka sama-sama memiliki kelebihan.

Selain itu, seseorang juga perlu introspeksi diri, saat usaha yang dilakukan sudah maksimal, saatnya manusia untuk berpasrah, belajar ikhlas menerima hasilnya. Untuk bisa berhasil, tugas pertama manusia adalah membuat sebab. Akibat adalah hasil dari sebab yang kita buat. Sebagai manusia yang terus belajar (lifelong-learners), apapun hasilnya akan menjadi kesempatan untuk selalu berbenah dan refleksi agar terus menjadi lebih baik lagi.

The 9th FK2H Anniversary, it is time for reflection

This article is aimed at the younger generations of FK2H, with them sustainability and prosperity for granted. Today, they seem to struggle over divided identities and communalities and reshape into an inclusive community. I want them to know how difficult the new community built only by four people dispersed from their original organization, without any infrastructure. With limited members, we paced for excellence to be our tradition and therefore it subsequently what defines us.

I want to tell you about FK2H’s formative years. I was among the first person made an open announcement on the emergence of FK2H. Then, I gathered all interested students around Mushola and I introduced them to this community and how it worked. It was difficult one as this community did not have any significant track record, except what the founders had got already. Therefore, we tell them that we were committed to regenerate the new members to be successive members to obtain the same. Frankly speaking, I was truly doubting on how to assure them.

The establishment of FK2H was not more than the reflection on the compelling need to regenerate new scientific members actively involved in a wide array of academic activities. It was prepared soon before the founding people graduated, by multiplying our unrelenting spirits and efforts. To be sure, the establishment considered our experiences in a number of scientific competitions that most of our friends were affiliated with an effective and rigorous scientific organization at their universities. We were truly inspired by them. In fact, there was a few students were involved due to no effective institution to accommodate their interests at the UNEJ Law.

It is important to tell you that we started to build the community just after our proposal was kicked by our previous organization because we were regarded as the burden of the organization with the costly demand for a scientific competition. As a consequence, after completed our presentation at Universitas Indonesia Faculty of Law, we considered the importance of having a new professional community specialized in academic activities to develop our interests and accommodate the future best students with the best minds.

Effectively on 10 November 2009, the Student Forum for Progressive Legal Studies was established (just after two years, it was officially recognized by Universitas Jember Faculty of Law as a student organization, the Forum for Juridical Science Studies). It was inaugurated by the Vice Dean in Student and I was the first chairman. The establishment was the hallmark how the achievement should be sustained, not capitalized by certain persons and we rejected one-man show so that it can be inherited to the future generations. We admitted that what we have got should be shared with others to ensure that we can walk together because the shared knowledge and experience are the real power.

In the formative years, FK2H was lack of leadership. From the class of 2007, it jumped to the class of 2009. The next chairman was from the class of 2009. Indeed, he was too young with no many experiences in an organization. But, we did not have any other choices due to limited human resources. During his leadership, he showed good leadership but the organizer members were not so skillful and experienced to handle their responsibility. Still, his leadership made part of great history.

Yet, we should admit that we still could not embrace significant human resources from the class of 2009. Therefore, we only relied upon students from the class of 2010 and we did successfully to regenerate before all the remaining founders had graduated. I want to tell you that I am truly proud of the class of 2010 due to their commitment, dedication, and excellence. It is important to acknowledge that the third period of FK2H was the first glorious history that we had. We got many human resources, achievements, and innovations.

It was the last period that I could be along with them with the following my graduation in the same year in 2011. After my graduation, I was not so intense with FK2H as I heavily focused on my preparation for masters’ degree abroad. To be true, my intention for studying abroad was no more than I wanted to put the first history of which the alumni of FK2H graduated from a foreign law school, in addition to my dream to be a scientist. In my mind, it should be–and subsequently more than– like what LK2 FHUI did as it was primarily aimed to define it as part of the new tradition.

Let us reflect our nine years journey of excellence

I do not want to exaggerate. It is true that it is from being left behind becomes today what so-called FK2H as the leading and most scientific organization, at the forefront of the UNEJ Law. FK2H has led to the dozen of achievements due to collaborative and sharing strategy, since 2009. Indeed, your founding members were left behind, treated unfairly due to such twist treatment. In turn, we proved what we believed to chase excellence to be what it is.

As the intellectual platform, FK2H was intended as the hub of the best students with the best minds. Thus, if you choose FK2H, congratulations! You are currently part of such an intellectual movement and expected to innovate and make changes in the near future. We envisioned FK2H to stimulate transformational moves for all members on the path of life they would choose.

Regardless, I want to ask you to reflect on how FK2H was previously defined and in turn how it has subsequently shifted.

In retrospect, FK2H is now nine years old and it is important to reiterate the history. Since its inception, FK2H has been intended to commit building a model of pluralistic community– which subsequently organization. We started from a few members to be what it is today (more than 500 current members). Indeed, we are proud of our great achievements due to our tradition of excellence and fraternity, collaboration. We are also proud of our alumni networks, from judges, lawyers, solicitors, law teachers, politicians, government officials, entrepreneurs, and so on.

Yet, the problem is now in the front. Such a big body is currently challenged by the diversity, not the diversity itself but the ability to accept the diversity as what makes FK2H great. Parochial minds are part of such a leading organization in the law faculty. To be sure, it is such a vulnerable threat to the sustainability and prosperity of members and generations. It is dangerous for nurturing excellence. I want you all to be aware and awake!

The success of FK2H was due to our belief to manage diversity as the true power. Therefore, we committed to considering FK2H as the first priority among other interests. We believed that FK2H has her own sovereignty so that other organizations should respect for it. FK2H is not for political wrestlings from external and/or political organizations. Rather, FK2H belongs to all members but still not a political-based organization. We defined it as a non-political organization with a scientific basis so that the successive leadership would be based on merit, intellectual, dedication, and exceptional track record. Only persons with those criteria deserved the leadership at FK2H. Therefore, in this nine years of living, it is important to reflect and it is expected that FK2H will be able to struggle over her idealism to (re)drive the organization to the right path.

It is also important to reiterate that no other reasons that we remain united, then, everyone should have the place, equal, regardless of race, religion, culture, student’s affiliation background, or other kinds what typically make differences.

For young and not so old, and everyone that did not know before how FK2H made great formative years. Since the beginning, we had tried to treat all members equals and we did not want our future generations will undergo as we all the founders got, terrible discrimination from the previous organization. It must be clear that it is impossible FK2H will do the same. Please do not forget your beginning history!

Globalization and its Challenges

Currently, we live in the 21st century. Some people say that it is the disruptive changes that many things have emerged as we did not expect before. It is also the Asian century where Asia by the mid of 21st century will be the true hub of the world. It will provide big opportunities and serious threats as well for us. It depends on how we rapidly adapt to such changes.

The challenge of FK2H, like many other professional institutions in Indonesia, is now about internationalization. To the extent, how FK2H can take benefits from global exposure. It is impossible your generation will be stagnant without any innovation and improvement following the disruptive changes and challenges. And if doing so in innovation the most important is that how you will translate it to the best policy that is really needed for the sustainability and prosperity of members (short-term planning up to long-term planning). It needs scientific approaches with the high level of critical thinking rather than merely electoral and politicized votes as it has begun recently.

Finally, FK2H is on your hand, the current and future generations. My last message to you is that, if you can, FK2H’s new generations should have the foresight and courage for making the new landmarks of glory. Specifically, if you can, FK2H needs to transcend the boundaries of knowledge and experience, making a quantum leap by considering the true journey of discovery. Leave the great history in FK2H by your hand!

Yet, amidst the rhetoric of development and success story, it is impossible without paying heavy attention to the importance of developing human resources.

Indeed, it is now about you and your maturity. And, keep in your mind, you are part of history to make FK2H more than great!

Happy 9th Anniversary, FK2H. Leading in collaboration, innovation, and achievement!

Aichi Prefecture, November 11, 2018
Salam dari Nagoya!
Muhammad Bahrul Ulum, the founding director

Modern vs Tradisional

Banyak kalangan masyarakat, termasuk para ilmuwan, mengemukakan pendapat yang sering sampai pada kesimpulan bahwa tradisional adalah negasi dari modern. Hal-hal yang sifatnya tradisional cenderung dianggap kuno dan sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman dan masyarakat. Dapat dimaklumi bahwa pandangan ini muncul karena masyarakat dinamis. Mereka menginginkan unsur kebaruan untuk menemukan parameter baru akan kehidupannya.

Sayangnya, di antara mereka sering lupa bahwa meskipun unsur kebaruan adalah hal yang sangat penting, namun itu tidak secara otomatis selalu membawa kebaikan dan menawarkan hal-hal yang lebih baik dari apa yang sudah hidup dalam masyarakat. Read More

Menjenguk Orang Sakit

Hari ini, selasa, saya memiliki jadwal menjenguk dan menemani seseorang di rumah sakit. Ah, beberapa orang sih yang saya temani. Dia yang sakit adalah seorang bayi berusia empat bulan karena sakit kanker mata. Rumah sakit di Indonesia tak sanggup menyembuhkan sakit itu dan karenanya kedua orang tuanya membawanya berobat ke Hyderabad, India.

Berobat sakit kok di India sih? Ya, hampi orang yang memandang India secara kasar akan hanya melihat sisi umumnya bahwa India adl negara yg jorok, kumuh, kotor, banyak orang miskin, atau apalah itu. Tapi di balik itu ternyata kualitas pengobatan atau rumah sakit di India jauh melampaui yang di Indonesia. Read More

Hukum dan Moral

Kita manusia itu sebetulnya tidak butuh hukum dalam kehidupan sosial. Karena sesungguhnya prinsip dan aturan itu sudah ada dalam hati nurani setiap manusia. Hati yg menggerakkan baik buruknya dan patut tidaknya suatu tindakan serta adil tidaknya suatu keputusan. Kehadiran hukum dlm masyarakat kemudian sesungguhnya tidak lebih untuk meluruskan prinsip dan hukum dalam hati nurani yang manusia langgar sendiri. Jika manusia mampu berhukum terhadap dirinya sendiri, mampu menghidupkan hati nuraninya, maka tidak perlu ada hukum normatif yg serumit saat ini. Karena, apa yang sering kita saksikan kini hukum dlm masyarakat juga tidak selamanya mampu memberikan solusi yg maksimal; sebaik apapun hukum itu tanpa ada dorongan moral yang baik juga tidak akan pernah ada ketertiban dan keadilan.

Terima kasih, Ibu

Bagi saya, Ibu adalah orang yang nomor satu. Mendengar namanya saja hati ini terasa teduh sekali, menenteramkan dan menenangkan.

Hampir segalanya dalam hidup saya tidak pernah lepas dari peran Ibu. Ketika saya lemah, Ibu selalu menguatkan. Ketika saya putus asa, Ibu tidak pernah lelah menyambung harapan.

Ketika saya lalai, Ibu juga tak pernah sekalipun enggan mengingatkan. Kebaikan demi kebaikannya sungguh tak tergantikan oleh siapapun seorang. Entah dalam bisikan hati di pagi hari tadi saya merasakan kehangatan Ibu, dan seperti biasa yang tak pernah lupa, yang kembali mengingatkan saya jangan lupa sholat dan makan. Read More