Posts in Notes

Merefleksikan Kepemudaan Indonesia

Hari ini tepat 85 tahun para pemuda Indonesia bangkit mengambil bagian dari perjuangan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Dengan ikrar satu tanah air, satu bangsa dan berbahasa persatuan, para pemuda bersatu erat-padu, memperjuangkan bangsa dan negara Indonesia.

Dasa warsa demi dasawarsa terus berjalan dan beberapa perubahan telah ditorehkan oleh para pemuda bangsa. Tetapi apa yang sudah ada tentu belumlah cukup. Kekuatan pemuda yang sesungguhnya belum pernah digunakan dan kontribusi dan perubahan yang sesungguhnya yang dilakukan oleh pemuda belum juga dapat dirasakan seutuhnya. Read More

Optimisme, Usaha dan Janji Kehidupan

Tidak semua yang kalian inginkan bisa dengan mudahnya didapat seketika. Karena kita hidup di dunia, bukan di surga yang semuanya serba ada.

Kita hidup di dunia, semua keinginan tak akan pernah terwujud tanpa lahir kemauan dan usaha. Bahkan dengan usaha saja, keinginan itu masih belum tentu dapat terwujud sepenuhnya, apalagi jika tanpa usaha dan kerja keras.

Bahkan, di balik keinginan itu, terkadang ‘mbah’ Google dengan tangan-tangan ajaibnya pun juga masih bingung mewujudkan keinginan yang paling sesuai dengan yang kau cari. Ya, manusia memang dituntut harus selalu sabar dan kondisi apapun. Apalagi karena Google juga manusia buatan manusia. Read More

Sebungkus Pesan dari Kehidupan

Tahukah kita bahwa hidup tidak seperti apa yang telihat dengan kasat mata. Kehidupan terkadang dan seringkali terasa menipu. Kehidupan dengan sejuta alasan hanya menawarkan dua pilihan, harus salah satu, yaitu manis atau pahit.

Meskipun manis jangan lantas gegabah dalam memilihnya. Kita harus jeli, apakah manis itu juga terasa sampai kedalaman isinya atau manisnya sekadar di kulit saja. Begitu juga dengan pahit. Apakah rasa pahit itu sampai kedalaman atau hanya pahit di bagian kulitnya. Read More

Refleksi pendidikan kita

Kalau saya lihat terkesan Pemerintah itu memang melakukan pembiaran pembodohan bangsa Indonesia. Sekolah itu pokoknya siswa sekolah bawa buku (entah dibaca dan dipahami atau tidak), pokoknya lulus UN, pokoknya dapat nilai bagus; tanpa diajarkan bahwa proses untuk mencapainya tidak terlepaskan dari kamauan yang tinggi dan usaha keras, tanpa diajarkan pula nilai-nilai dan moralitas yang mulia agar menjadi bekal bagi generasi muda sbg pedoman hidup, tanpa adanya pendidikan yg integratif untuk mempertahankan optimisme dan nasionalisme Indonesia. Dan itu juga sudah merambah sampai pendidikan tinggi.

Ilmu dapat hanya sedikit (meskipun nilainya bagus-bagus), mentalnya juga masih inlander, sikapnya tergantung untuk tetap mempertahankan konsumerisme. Akhirnya, kreativitas dan inovasi kandas pula, selain tidak adanya penghargaan terhadap prestasi yang cukup.

Hasilnya juga tidak terlalu jauh dari prosesnya. Pendidikan jadi formalitas saja. Karena ilmu hanya dipahami dengan selembar ijazah, maka yang terjadi adalah minim inovasi, minim kreativitas, minim produktivitas. Lalu kalau memenuhi kebutuhan dari mana?

Jadinya, siapa yang punya uang dia ‘dapat segalanya’. Jadi yang di atas cenderung bukan lagi ilmu. Jadinya pemahaman masyarakat ikut bergeser bukan lagi berpikir: Bagaimana dan dari mana untuk memenuhi kebutuhan?

Bahkan Indonesia yang kaya akan minyak bumi pun harus rela membeli minyak di negeri sendiri yang kaya minyak sendiri dengan harga yang tinggi. Dibohongi pula oleh pemerintah agar mereka kepincut dengan iklan, iklan dibuat seilmiah mungkin dan serasional mungkin, agar masyarakat setuju dengan iklan yang beropini bahwa BBM memang harus naik, agar mereka legowo mereka merugi.

Terus, biaya iklan untuk mengompori warga itu duitnya rakyat atau BEYE? Kalau BBM naik yang nanggung beban ekonomi rakyat atau BEYE? Dana BLSM yang menikmati benar-benar warga miskin atau warga miskin gadungan? Penyaluran BLSM ada jaminan efektif ndak? Dan yang tidak kalah penting, itu dananya BLSM benar-benar dari APBN atau hutang dari luar negeri?

Mari kita merenung sebentar, kalau orang miskin itu meding dikasih cangkul atau dikasih uang? Kalau dikasih uang mesti dibeliin cangkul atau rokok atau baju atau HP? Orang miskin juga tidak begitu paham mana itu kebutuhan primer, sekunder dan tersier, karena rendahnya tingkat pendidikan.

Dari semuanya ini, yang bodoh pemerintahnya atau masyarakatnya? Atau kedua-duanya sama-sama bodoh?

UN dan Pembenihan Bakat Korupsi

Catatan lepas oleh: Muhammad Bahrul Ulum

educationBeberapa minggu yang lalu, Ujian Nasional (UN) telah selesai digelar. Celakanya, UN tetap dijadikan sebagai acuan dan parameter untuk menentukan kelulusan siswa dan untuk masuk sekolah pada jenjang selanjutnya. Read More

Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana

Oleh: K.H. A. Mustofa Bisri

Kau ini bagaimana?
Kau bilang Aku merdeka, Kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh Aku berpikir, Aku berpikir Kau tuduh Aku kapir

Aku harus bagaimana?
Kau bilang bergeraklah, Aku bergerak Kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, Aku diam saja Kau waspadai Read More

Menelusur Jejak Pejuang Sarekat Islam, Imam Bukhari

Budaya literasi di Indonesia memang sungguh sangat lemah, jauh apabila dibandingkan dengan Belanda. Bagi belanda, setiap hal yang terjadi dalam hidup hampir selalu dituliskan, semua dicatat dan disimpan baik-baik. Mungkin karena hal inilah yang menjadikan Belanda menerapkan hukum kodifikasi, yang selanjutnya hukum tersebut diberlakukan di Indonesia, misalnya Burgerlijke Wetboek (BW) yang apabila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer). Read More

Sepucuk Surat dari Ibu dan Ayah

Anakku, ketika aku semakin tua
Aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku
Suatu Ketika aku memecahkan piring atau menumpahkan sup di atas meja karena penglihatanku berkurang
Aku harap kamu tidak memarahiku
Orang tua itu sensitif, selalu merasa bersalah saat kamu berteriak
Ketika pendengaranku semakin memburuk dan aku tak bisa mendengar apa yang kamu katakan
Aku harap kamu tak memanggilku “tuli!”
Mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya

Read More

Tuhan Sembilan Senti

Tuhan Sembilan Senti

Oleh: Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok. Read More