Posts in Receh

Selamat datang 2019!

Tidak terasa kita telah membuka lembaran 2019. Sejak dituliskannya artikel ini, lembaran 2019 sudah telah berlalu hampir satu bulan lamanya. Banyak harapan dan kesempatan baru yang hendak ditorehkan, menjadi catatan penting dalam perjalanan hidupku. Dan sebelum aku banyak bercerita panjang, inginku tuliskan selamat datang 2019!

Tidak terasa perjalananku sudah berlangsung satu dekade lamanya. Satu dekade aku menjalani kehidupan dalam masa pencerahan. Satu dekade aku memacu optimisme dan percaya bahwa aku dapat melakukan apa saja, berhasil pada jalan apa saja yang aku yakini. Satu dekade kebangkitanku menjadi seorang pemimpi yang meyakini dapat memimpin perubahan-perubahan besar yang dimulai dengan perubahan kecil, oleh tindakanku.

Menengok perjalanan satu dekade 
Sepuluh tahun lalu aku memulai milestone dalam hidupku. 2009 adalah tahun di mana aku pertama kali mendapatkan penghargaan nasional dalam sebuah lomba menulis. Sekaligus, tahun itu aku menjadi pelopor lahirnya sebuah komunitas intelektual di kampusku. Kini, komunitas itu berevolusi menjadi organisasi primadona para mahasiswa yang berisi kumpulan intelektual.

Tidak lama setelah itu, aku juga memenangkan lomba debat nasional. Setelah berjuang hampir satu tahun lamanya, akhirnya bersama dua rekan lainnya kami dapat merebut juara melawan mahasiswa dari kampus-kampus top nasional. Setahun kemudian, sebelum lulus jenjang sarjana, melalui seleksi yang relatif ketat, aku terpilih menjadi mahasiswa berprestasi Universitas Jember.

I did not think to have all those achievements before.

Itu semua aku yakini sebagai the journey of excellence. Perjalanan yang mengantarkanku pada tahap yang lebih baik lagi, peningkatan kualitas diri, menjadi seorang pemuda yang meyakini memiliki kontribusi untuk negeri ini.

Hingga, saat kelulusan tiba. Aku sarjana. Aku bangga. Aku berhasil meraih apa yang diinginkan, menjadi sarjana lulusan universitas negeri. Itu menjadi trajektori baru dalam hidupku, baru kali itu aku berhasil lulus dari institusi negeri. Semua pendidikanku pada jenjang sebelumnya adalah sekolah swasta. Setidaknya itu telah menjadi penawar optimisme setelah tidak diperkenankannya aku sekolah pada SMA negeri oleh orang tua. Aku membuktikan sebagai seorang yang kompetitif, memiliki daya saing, kemampuan. Aku mencapainya.

Setelah kelulusan, ternyata pengalaman mengantarkanku pada paradoksal. Lulus dari kampus negeri tidaklah cukup. Aku merasa banyak hal yang masih belum aku dapatkan. Aku merasa masih banyak pesaing berat lainnya yang membuat aku harus semakin meningkatkan kemampuanku agar dapat memiliki daya saing yang lebih baik. Baik saat mencari pekerjaan maupun mencari beasiswa. Ijazah dari kampus negeri bukanlah satu-satunya parameter menunjukkan kualitas. Melainkan, adanya tuntutan lain yang membuatku memiliki keterampilan dan kemampuan lain yang harus aku kejar.

Perjalanan mengejar beasiswa mengantarkanku mendapatkan beasiswa ICCR. Aku diterima kuliah master di India dengan beasiswa yang diberikan oleh Pemerintah India. Perjalanan itu membutuhkan waktu hampir dua tahun sejak kelulusanku dari jenjang sarjana. Banyak hal yang aku pelajari dari proses mendapatkan beasiswa itu, khususnya saat belajar bahasa Inggris. Tadinya aku sempat berpikir bahwa bahasa Inggris itu cukup mudah apalagi nilai bahasa Inggrisku saat SMA sudah cukup bagus. Kenyataannya, kemampuan bahasa Inggris memiliki standar kefasihan yang diukur dengan TOEFL maupun IELTS. Untuk mencapainya, mendapatkan nilai yang layak, membutuhkan perjuangan dan kerja keras.

Aku mengambil kursus, latihan mandiri. Selain itu aku mencoba membiasakan mendengarkan musik berbahasa Inggris dan memaksa diri untuk suka menonton movie. Aku tidak begitu suka menonton film. Tapi, tuntutan pembiasaan diri membuat aku harus bersedia belajar dan membiasakan diri dengan menonton film berbahasa Inggris. Ini juga berlaku pada bahasa handphone yang harus berbahasa Inggris, akun Facebook, Twitter dan blog yang juga berbahasa Inggris. Hehe….

Tidak semua pencapaian itu didapatkan dengan begitu saja, dengan cara yang mudah. Aku meyakini untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu semuanya membutuhkan perjuangan dan semangat yang tak kenal menyerah.

Hingga pada akhirnya, seluruh perjuangan itu mengantarkan aku saat ini menjadi dosen di kampus saat aku belajar pada jenjang S1. Namun itu semua setelah aku berhasil lulus master. Aku bergelar Master of Laws (LLM) dari kampus India.

Kegiatan yang aku tekuni saat menjadi dosen tidaklah begitu berbeda dengan apa yang aku lakukan saat masih menjadi mahasiswas S1. Apabila saat S1 kegiatan sering dari kampus ke kampus untuk lomba, baik lomba menulis maupun lomba debat, saat menjadi dosen aku lebih disibukkan dengan kegiatan konferensi. Saat S1 menjadi aktivis organisasi keilmuan, saat menjadi dosen aku memutuskan diri menjadi aktivis jurnal. Selain menulis artikel untuk diterbitkan di jurnal, aku juga bertanggung jawab mengelola jurnal kampus dan mengantarkannya menjadi jurnal terakreditasi. Aktivitas lain, aku berkesempatan menjadi visiting research scholar di Japan sekitar tiga bulan dengan tanggung jawab menghasilkan draft artikel yang berkolaborasi dengan profesor di tempat aku melakukan penelitian itu.

Satu dekade berikutnya
Ada merasa ada hal masih terasa mengganjal. Belakangan aku tau, ternyata ada cita-cita yang masih tertunda. Aku masih menunda cita-citaku untuk mengambil program doktoral di luar negeri dengan beasiswa. Itu adalah cita-cita yang sudah aku tanam sekitar 15 tahun lalu, saat masih MTs kelas 8. Aku ingin menjadi bagian dari ilmuwan internasional dan Albert Einstein adalah tokoh yang sangat menginspirasiku hingga sejauh ini.

Tahun 2019 adalah perjalanan untuk memulai satu dekade berikutnya, untuk mewujudkan cita-cita, mengejar impian, agar dapat menjadi orang yang berguna. Awal tahun ini aku mulai dengan persiapan untuk mendapatkan beasiswa luar negeri. Aku setiap akhir pekan ada kelas IELTS Preparation di Surabaya sebelum aku benar-benar yakin mengambil IELTS sebagai syarat untuk melamar beasiswa. Ada beberapa daftar beasiswa yang akan aku jajaki yang aku selalu berharap semog beruntung mendapatkan salah satunya.

Sama seperti sebelumnya, aku sadar bahwa semua membutuhkan perjuangan, kerja keras dan kesabaran. Semuanya sedang aku persiapkan dengan baik, dengan seksama.

Tapi, perjalanan satu dekade berikutnya tidak sekedar tentang beasiswa. Ada dorongan kuat pada diriku untuk semakin membuka cakrawala baru. Aku ingin menyusuri berbagai daerah, kota, negara. Aku ingin melebarkan pengalaman traveling. Aku meyakini, kelak semua pengalaman itu akan mengantarkanku untuk membuatku mampu mendefinisikan diriku, mematangkan kepribadian, memperluas wawasan dan kebijaksanaan tentang kehidupan. 😀

Pada titik ini, saat ini, refleksi diri mengantarkanku pada satu pemahaman. Kita hidup adalah untuk mengisi kehidupan itu, mencatat sejarah-sejarah baru. Karenanya, aku tak mau hidup harus disibukkan dengan pekerjaan dan ketertundukan pada orang lain. Aku adalah orang yang merdeka dan kemerdekaan itu aku pergunakan dengan memerdekakan pikiranku, pengalamanku, pengetahuanku. Aku sedang mencari titik keseimbangan.

 

Salam hangat dari Surabaya!

Stasiun Gubeng, di pagi hari.
Sabtu, 26 Januari 2019

Menengok ke belakang untuk bergerak maju

Sudah satu hari saya tidak menuliskan catatan harian, absen. Saya dua hari terakhir kurang bisa membagi waktu dengan baik, menghabiskan sebagian waktu membaca dan menulis di perpustakaan dan mengurus administrasi. Selain karena entah sejak kemarin lusa saya kurang enak badan. Tadi malam saya sempat terlupa tidur dengan menggunakan kaos kaki dan jaket. Alhasil, badan saya terasa panas dingin. Padahal, tadi malam suhu udara tidak terlalu turun, pada kisaran 14-17 derajat celcius. Berbeda dengan kemarin lusa yang tengah malam hinggai pagi hari bertahan pada 13 derajat celcius.

Sejak dua hari yang yang lalu, saya menghabiskan waktu di perpustakaan karena memang bacaan di perpustakaan menarik. Banyak buku kontemporer antara lain filsafat, sejarah, ilmu sosial, ilmu politik, hukum, dan banyak lagi lainnya. Buku-buku yang menggoda saya adalah pada section: General History of Asia dan beberapa buku kajian India, Indonesia dan Asia Tenggara. Saya memang lagi semangat untuk membaca literatur kajian-kajian Asia.

Saat ini pun, saat menuliskan artikel ini, saya masih di ruang perpustakaan Graduate School of International Development. Ruang perpustakannya tenang, bersih dan rapi. Itu mungkin juga menjadi kebiasaan di sini mereka terbiasa dengan kebersihan dan kerapian. Selain itu, seperti ada hukum yang tidak tertulis bahwa setelah membaca buku untuk mengembalikan pada tempat buku tersebut diambil.

***

Entah, beberapa hari terakhir, saya tiba-tiba teringat dengan kejadian beberapa bulan yang lalu. Saya lupa kapan awal kali pertama memulainya . Yang jelas, kejadian itu berawal setelah saya posting instastory beberapa halaman pertama buku memoar berjudul, “From Third World to First: Singapore and Asian Economic Boom” karya Lee Kuan Yew, Perdana Menteri Pertama Singapura. Beberapa halaman pertama memang menjadi kesukaan saya untuk membacanya, yang benar-benar mencerminkan bagaimana sebuah negara kecil dan miskin itu mampu menjadi negara yang maju pesat di bawah kepemiminannya

Sekitar satu jam setelahnya, ada pesan masuk. Ternyata ‘dia’ membalas instastory tersebut.

“Judulnya paan?” dia bertanya.

“Just want to know or really want to know?”, saya membalasnya.

“Really want to know.. ama beli di mana.. ama harganya berapa..” dia membalas.

“Berapa ya dulu. 1000 Rupee kayaknya. Download aja ini ada softfilenya… Punyaku yang terbaru, tapi cuma beda dikit”, saya kembali membalasnya.

“Huuumb maacih”, balasnya kembali.

“Aku inget sih… salah ama khilaf kamu banyak banget sama aku. Tapi gak papa aku dulu aja yang lebih muda ngucapin minalaidzin walfaizin. Mohon maaf lahir dan batin”, sapa dia yang memang waktu itu beberapa hari setelah Idul Fitri, tahun ini.

“Hmmm… Eid Mubarak ya…”, sahut saya.

“Btw, salahku apa ya?”, saya menambahkan.

“Nah, ini nih. Salah satu salah kamu adalah nggak inget salahnya apa. Kan jadinya salah”, jawab dia.

“Pusing kan”, dia menambahkan.

“Beneran gak inget. Salahku apa ya… Aku minta maaf ya,” saya kembali menjawab.

“Yaelah Baaang. Baper amat. Canda…”, jawab dia.

“Kan masih lebaran”, balas saya.

“Eman salah lu banyak ke umat, soalnya situ ngeselin.. Iye sama-sama. Minal aidzin walfaizin”, jawabnya.

Percapakan tersebut ternyata mengalir saja. Hingga, pada beberapa bulan setelahnya saya berinisiatif membuka pembicaraan.

Saya jadi teringkat kata-kata Ariel Heryanto saat menyampaikan kuliah umumnya di Jakarta. Saya mendapatinya dari Youtube. Dia mengemukakan bahwa kalau kita mau maju, mau tidak mau kita harus melihat ke belakang. Apabila terus melangkah maju, mungkin masih merasa ada yang kurang, ada yang hilang, sehingga untuk maju perlu melihat ke belakang.

Jika itu sebagai kelupaan, kelupaan pun sebagai suatu keniscayaan. Ada yang pernah terlupakan dan ingin terlupakan, yang hilang dalam sejarah hidup kita. Jadi, tidak kemudian kehidupan tidak berjalan dengan tiba-tiba. Misalnya saat kita mencerna suatu kisah seseorang dengan seirngkali melihat tiba-tiba seseorang sukses. Tapi bagaimana dengan jalan menuju kesuksesan?

Sukses pun memiliki makna yang relatif. Seperti yang saya pernah chat dengan adik-adik mahasiswa kemarin bahwa sukses bisa jadi memiliki dua makna, yaitu sebagai suatu proses maupun sebagai suatu hasil. Tergantung sudut pandang mana kita melihatnya.

Entah. Apa yang terjadi pada diri saya. Saya baru menyadari itu belakangan. Saat saya membuka hati, saya merasa semacam ada tembok besar yang membuat saya bingung dengan diri saya. Saya merasa, ada sesuatu yang hilang tapi masih terkenang dalam ingatan dan perasaan.

Itu yang mungkin disebut oleh Professor Ariel bahwa ada kalanya kita untuk melihat ke belakang, sebelum untuk melangkah maju.

“Aku abis baca-baca chat di atas. Enggak tau jadi tetiba ingat chat kita tanggal 17 Juni. Iya, aku minta maaf salah dan khilafku ya,” saya memulai pembicaraan kembali.

“Apaan 17 Juni?” dia sambil menunjukkan screenshotnya untuk memastikan.

“Aku boleh ngomong? atau mungkin bertanya” jawab saya.

“Boleh kak. 🙂 Aku juga mau nanya”, dia membalasnya.

“Aku dulu tiba-tiba menghilang dan tidak ada kabar lagi. Di Facebook dan Twitter gak ada kabar. Dan bahkan kita anehnya belum pernah saling ketemu. Sata sama-sama di Tuban tahun 2013, beberapa bulan sebelum aku S2, kita sebenarnya sempat bertukar kabar tapi juga tidak ketemu. Tapi aku gak tau, sampai sekarang masih belum berani jatuh cinta lagi. Setidaknya aku udah lega uneg-uneg ini udah aku sampaikan ke kamu”, saya mengungkapkan.

“Aku jadi makin kesel sama kamu”, dia menjawabnya singkat.

“Dipuasin dulu keselnya. Terus kamu benci sama aku?”, timpal saya

“Engga, pingin gigit doank,” balasnya singkat.

“Astaghfirullah, aku kayak makanan aja”, balas saya kembali.

“Gak benci sih, kamu aku gak ketemu kamu aku gak bakalan tahu”, jawab dia.

“Gak bakal tau gimana”, tanya saya.

“Rasanya ditinggalin gitu aja. Buahahahaa… Jadi pas aku ditinggalin lagi aku udah terlatih”, dia menimpali jawaban kembali.

“Aku masih curious. Terus kenapa kamu gak jadi dosen lagi sekarang?” tanya saya.

“Izin belajar kan. Aku kuliahnya juga beasiswa Budi DIN. NIDN masih aktif. Insyaa Allah. Tapi, aku kayaknya mo nyerah tapi. Otak aku gak nyampe. :-(“, jawabnya kembali.

Dalam percakapan selanjutnya dia mengungkapkan bahwa sejak bertemu saya saat masih mahasiswa, dia memutuskan untuk mengambil spesialisasi yang sama dengan saya. Setelah lulus, dia juga turut mengambil jalan yang sama dengan saya, menjadi dosen. Saya baru tahu itu. Terima kasih sudah mengungkapkannya dengan jujur.

Saya jadi teringat beberapa tahun lalu. Saya saat hendak tidak lagi memberi kabar, sempat menuliskan secarik surat yang saya kirimkan ke emailnya, berjudul, “Secarik kisah daku tuliskan ke hadapan adinda”. Saya menuliskan rencana hidup saya ke depan, cita-cita saya, tujuan hidup saya. Saya tegaskan kepadanya bahwa saya ingin menjadi seorang ilmuwan. Saya yakin akan hal itu dan saya merasa perjalanan untuk mengejar idealisme tentu tidak semudah orang berimajinasi. Setiap tekad yang saya genggam, akan selalu saya perjuangkan. Saya harus sampai pada tujuan itu.

Saya juga menyampaikan bahwa saya nanti saat hendak menjadi seorang ilmuwan, akan mencari beasiswa. Saya juga menyadari bahwa bahasa Inggris saya tidak bagus-bagus amat. Tapi saya yakin, saya akan bisa, saya akan berjuang untuk itu. Saya akan mengejar impian itu semua dengan beasiswa. Nanti akan mengambil S2 dan selanjutnya S3 dengan beasiswa ke luar negeri.

Percakapan sempat terhenti. Saat itu saya Shalat Ashar dulu. Percakapan pun akhirnya juga mengalir.

“Ini kamu gak mau ngechat pake WA aja?,” tanya dia.

“Nomorku tetap”, sambil saya mengetikkan nomor Whatsapp saya.

“Jadi sekarang pakai WA kita?” saya menambahkan.

Beberapa saat setelahnya, saya menerima kiriman pesan Whatsapp: “😒”.

“Halo.. Ini nomor kayaknya saya agak kenal. Meski udah ndak aku save”, sapa saya.

“Iya, nomor aku gak ganti, dari SMA”, jawabnya.

“😅”, jawab saya singkat dengan smiley.

“Kamu lagi di mana?”, tanya dia.

“Di Jember”, jawab saya singkat.

“Selama idul adha :-)” jawabnya.

“Kayaknya uda ngucapin. Gak ada ucapan balik atau ucapan kedua kalinya…”, jawab saya.

“Emang aku gak boleh ngulangin?” tanya dia.

“😄”, jawab saya hanya dengan smiley.

“Kayaknya kamu kemarin abis dari dekat-dekat sini?” tanya dia.

“Iya. Kapan hari itu aku datang di konferensi internasional”, jawab saya.

“Oh iya. Aku tau”, jawab dia singkat.

“Kamu pacarnya yang mana?”, tanya dia.

“Should I repeat again?” saya bertanya balik untuk menegaskan.

“Kembali tanggal 17 Juni, saat kita chat. Aku saat itu masih di jalan menuju rumah Mbah sekaligus mau mampir ke rumah teman perempuan. Entah saya gak tau seperti apa hubungan dengan perempuan itu, yang jelas aku belum pernah menyampaikan kepadanya bahwa aku suka. Entah, akhirnya aku tidak jadi mampir. Aku selalu ragu. Dan ternyata sejak setelah aku tidak jadi datang ke rumahnya, dia bilang bahwa dia dijodohkan orang tuanya”, terang saya.

“Kenapa?” tanyanya.

“Gak tau… That is the most difficult question I truly do not know to answer”, jawab saya.

“Sejak sama aku kamu gak pernah pacaran?”, tanyanya kembali.

“Endak”, jawab saya singkat.

“Buahahah… Sama”, tegas dia.

“Ingin tanya apa lagi?”, tanya saya.

“Udah ah. berasa jaksa”, jawab dia.

“Aku sama tetap dingin kayak dulu? 😄”, sahut saya.

“Siapa? Kamu? Iya… Kzl banget”, jawab dia.

“Aku duga kamu itu bukan takut jatuh cinta tapi gak ada yang mau ama kamu”, dia menambahkan.

“Enak aja…”, jawab saya.

Pembicaraan terus mengalir. Dia menerangkan bahwa dia masih menyimpat surat yang saya kirimkan melalui email itu. Dia menunjukkannya dengan mengirimkan screenshot seluruh isi surat itu kepada saya.

“Aku dulu jek enggaknya ya… 😅”, sahut saya.

“Gemes ya gemes… the cutest love letter I have ever received. Ada footnotenya 😂”, timpal dia.

“Enggak.. Ini lucu. Kalau iseng masih sering aku baca. Hahahaha…”, dia menambahkan.

“Aku maaf. Masa-masa itu kemudian memang aku tidak ada kepastian, hilang. Memang waktu juga tidak pernah bisa kembali. Bukan tentang aku, tentang dirimu yang juga berhak bahagia. Entah dengan siapapun. Aku di sini bukan bermaksud untuk kembali atau menyesali. Aku tidak tau. Seandainya kamu mungkin lebih sedikit terbuka mungkin aku bisa mengerti perasaan dan posisimu. Aku tidak tau sekarang, apakah kita masih punya jalan yang sama atau berbeda”, Saya memulai pembicaraan yang tampak sedikit serius.

“Kalau emang beneran ngerasa salah, hal terbaik yang bisa kamu lakuin cuma tolong yangan ngulangin lagi. :-)”, dia menjawab.

“Engga. Bukan ke aku. Hahha…. Ke siapapun nantinya kamu mau. Aku sakit banget sumpah, kamu yang ngajak barengan, terus tiba-tiba hilang gitu aja. Tiap kali kamu balik ngasih kabar aja aku pasti bahagia banget. Gak pernah mikirn gengsi, tapi ternyata ngilang beneran sampe gak tau masih idup apa enggak. hahahaha”, jawabnya lagi.

“Toh itu dulu. Aku udah gak papa. Udah gak usah dibahas lagi ya,” jawabnya lagi.

“Satu lagi. Kalau bisa ya, kalau dichat dibales. Bukan diread doank. Kan ini chat, bukan jurnal”, dia menambahkan.

“Iya, ini udah dibales”, jawab saya singkat.

“Aaaaaah… Kzl”, dia menjawab kembali.

Tindakan saya ini mungkin akan terasa aneh bagi sebagian orang. Inikah yang disebut bahwa saya terlalu mengedepankan rasionalitas? Entah, pemahaman saya adalah saya perlu menyelesaikan masa lalu saya. Setidaknya, sebelum membuka hati yang baru, saya harus menyelesaikannya. Saya pernah menyatakan jatuh cinta. Dan, saya juga perlu menyampaikannya, untuk mengakhiri semua.

Chat-chat di atas memang sempat membuat hati saya terketuk kembali. Saya sempat baper. Tapi, saya merasa bahwa kita sudah memiliki jalan masing-masing. Setidaknya, ini adalah ikhtiyar saya, berusaha untuk menghapus luka masa lalu, untu masa depan masing-masing yang lebih baik. Dan untuk ini hanya Tuhan yang jauh lebih mengetahui.

Saya masih mengejar cita-cita, menjemput harapan dan menjalani masa depan saya, dengan penuh optimis. Saya harus bergerak maju, meskipun sempat tertatih, saat sebelum menengok ke belakang.

.
Read also the latest articles:

Sebuah Catatan dari SPMB 2007

Tulisan ini pertama kali saya posting di laman Facebook, enam tahun lalu. Tepatnya pada 10 Juni 2012 yang merupakan momen detik-detik SNMPTN 2012. Bagi saya, momen SNMPTN 2012 mengingatkan saya pada SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) di tahun 2007. Saya menganggapnya sebagai babak peruntungan, nasib dan masa depan hampir setiap remaja lulusan SMA. Oh iya, zaman saya dulu namanya masih SPMB . Baru tahun berikutnya, 2008 menjadi SNMPTN. Entah SPMB atau SNMPTN, itu hanya berbeda istilah. Semuanya tidak ada bedanya, hanya berubah namanya saja.

Read More

Welcome to September

Welcome to September!

September is the special month, at least it is for me, or otherwise it is just for me. This month, I am 26 years old. Somewhat weird, guys! Sure, I do not realise that time flies as fast as what I do not expect. Lol 😀

Later, I said. I do not know what happened to me in the last two weeks. In the month that I actually happy, I am not really happy. I still do not know. It may come because I feel today that I get weight loss. Read More

Orbituari

Orang tua menahan ragam, menyimpan rasa dan segudang pengalaman. Mereka banyak bercerita kpd kehidupan. Mereka pernah merasakan dan mengukir perjalanan kehidupannya, pernah merasakan masa muda dan manis getirnya kehidupan. Adalah masa dimana mereka mengenal dunia dan belajar tentang kehidupan, menuju masa dimana mereka memiliki generasi di bawahnya, sebagai penyambung kehidupan. Itulah takdir kehidupan dari Sang Hidup.

Namun, terkadang saya sebagai manusia juga sempat berpikir dalam kepenatan. Orang yang tua (dan dituakan) banyak yang seringkali tidak merasa bahwa dirinya itu sebetulnya melekat kebijaksanaan, dimuliakan, menjadi panutan, menentramkan, menghangatkan, dan menjadi pelipur lara. Mereka dan sikapnya sebetulnya adalah contoh bagi generasi masa depannya. Read More

BBM dan Subsidi

Adalah efek ketergantungan dari yang tadinya barang tersier seolah kini menjadi barang primer, karena dimanjakan dengan fasilitas bermotor, bbm melahirkan generasi manja. Perlu diingat bahwa awal kali harga murah karena Indonesia adalah negeri pengekspor minyak, tapi itu industri ekstraktif yang masih mentah, tidak bisa diproses sendiri sehingga harga jualnya juga rendah. Seiring dengan waktu mungkin kita lupa bahwa minyak itu tidak bisa ditanam seperti padi, adalah barang yg tidak dapat diperbaharui dan kini stok minyak Indonesia semakin menipis yang menjadikan Indonesia kini resmi sebagai negara pengimpor BBM. Ada beberapa hal yang perlu disimak. Read More

Karena Manusia Tak Pernah Tahu

Jangankan besok, beberapa jam ke depan saja alur kehidupan kita dapat berubah seketika. Rencana yang disusun baik-baik pun bisa buyar dalam waktu relatif singkat. Itulah kenapa hidup membutuhkan alternatif-alternatif. Itulah bukti bahwa manusia tidak pernah sendiri dalam perjalanan petualangan hidupnya, ada yang lebih kuasa daripadanya.

Tapi, terkadang manusia sering memaksakan.
Tapi, terkadang manusia sering menyalahkan.
Tapi, terkadang manusia menyesali masa lalunya. Read More

Evolusi

Beragam hewan yang ada di India kini mulanya bukan berasal dari India. Harimau, misalnya, meski masih tersisa banyak perdebatan mengenai dari mana hewan ini berasal para peneliti mengatakannya berasal dari daratan Asia Timur, yaitu sisa-sisa induk moyang harimau pada 2 juta tahun yang lalu ditemukan di Siberia, China, Sumatera dan Jawa. Sehingga hewan-hewan yang ada di India itu sebetulnya hewan pendatang.

Lalu bagaimana dengan manusia? Menurut kesepakatan umum para ilmuwan, secara anatomi, manusia modern berevolusi di Afrika sekitar 200 ribu tahun yang lalu. Ini sesuai dengan data genetik maupun data arkeologi. Meski demikian, manusia modern bukan berarti adalah hominid pertama yang mengarungi bumi. Sekira satu juta tahun yang lalu, manusia pra modern seperti homo erektus telah berjalan hingga menembus daratan China dan Jawa. Sedangkan pada saat manusia modern di Afrika tsb berevolusi, sejenis dari mereka juga telah ada di Eropa dan Asia Barat. Read More

Ah, Sudahlah

Ah, sudahlah. Angin itu masih terlalu kuat. Angin di pesisir itu masih ingin terus berdesir menghabiskan malamnya. Tak berharap banyak dari malam ini kecuali kedatangan pagi esok. Namun pagi pun masih lama dan barak-barak tampak mulai hancur. Di ujung persimpangan empat menuju jalan perkampungan itu daun-daun muda kian berguguran. Di samping bebatuan di balik bukit itu, pepohonan mulai roboh berderet menutup bahu jalan.

Entah apa yang terjadi esok jika matahari tak yakin bisa menampakkan dirinya, ketika bulatan sinar terangnya meredup. Entah juga apa yang terjadi saat kedatangan sinar sang surya esok disambut dengan selimut kabut pekat, isyarat rencana langit segera mengguyur perkampungan itu.  Read More