Hal yang unik dari lebaran di India

 

Ini adalah pertama kalinya saya menuliskan cerita tentang lebaran di India. Ide cerita ini muncul saat saya diminta bercerita oleh seorang mahasiswa sekaligus teman di K-Radio di Jember dengan tema merayakan lebaran di luar negeri. Saat itu saya diminta untuk bercerita tentang lebaran di India.

Oh iya, sebelumnya perlu saya ceritakan singkat bahwa baru saja menyelesaikan studi S2 hukum di Universitas Osmania, Hyderabad. Saya mendapatkan beasiswa Indian Council for Cultural Relations (ICCR) Scholarship atau biasa disebut dengan beasiswa ICCR. Saya berangkat awal Juli 2013 dan pulang bulan September 2015. Waktu itu, saat sampai di Hyderabad, adalah minggu awal puasaan. Jadi kalau dihitung, selama di India saya ikut merayakan lebaran selama tiga kali dalam waktu dua tahun.

Perlu saya sedikit cerita tentang Hyderabad, tempat saya tinggal di India untuk menimba ilmu. Hyderabad adalah kota terbesar kelima di India setelah Mumbai, New Delhi, Bangalore, dan Kolkata (nanti saya akan tuliskan cerita lengkap tentang traveling saya di kota-kota tersebut). Secara demografi, Hyderabad merupakan kota dengan penduduk muslim yang relatif besar, dengan taksiran mencapai 30%. Sehingga, tidak heran apabila teman-teman berkunjung ke Hyderabad akan menemukan banyak masjid. Cuma, arsitektur masjid di India, khususnya Hyderabad sedikit berbeda dengan kebanyakan masjid di Indonesia.  Jika di India terdapat bangunan berkubah menyerupai masjid, kebanyakan adalah makam raja atau wali. Masjid sendiri memiliki arsitektur tanpa kubah (atasnya datar). Biasanya diujung segi empat terdapat menara kecil.

Secara historis, Hyderabad menjadi salah satu pusat peradaban India dengan kerajaan Hindu dan kerajaan Islam (misal Kerajaan Nizam yang merupakan pecahan kerajaan Mughal) yang pernah berkuasa di wilayah ini. Saat ini, masyarakat Hyderabad lokal berbahasa Telugu. Telugu adalah salah satu bahasa lokal yang menjadi salah satu bahasa resmi negara bagian Andhra Pradesh (sejak 2014, menjadi Telangana). Sedangkan masyarakat muslim lebih suka menggunakan bahasa Urdu (mirip dengan bahasa Hindi, dengan aksara arab).

Kembali ke cerita awal. Saya ingin fokus pada cerita lebaran di India. Dengan melihat aspek demografi, sejarah maupun budaya, Hyderabad adalah tempat yang layak untuk mewakili India untuk bercerita tentang lebaran di India. Terdapat perbedaan, itu pasti. Terdapat persamaan, pasti juga banyak samanya. Terlepas dari persamaan ataupun perbedaan, saya ingin menguraikan hal-hal yang khas dan  dan unik dari lebaran di India.

1. Lebaran di India selalu terlambat satu hari
Selama tiga kali saya lebaran di India, Idul Fitri di India selalu jatuh sehari setelah Idul Fitri di Indonesia maupun di negara lain pada umumnya.  Ini yang kemudian seringkali terasa sedikit aneh saat  mengucapkan lebaran dan memohon maaf lahir batin kepada keluarga dan teman-teman di Indonesia, apalagi kepada orang tua. Kesannya mengucapkan lebaran dan memohon maaf lahir batinnya terlambat.

2. Libur lebaran hanya satu hari
Saat kita hendak merayakan Idul Fitri di Indonesia, sekolah-sekolah, kantor-kantor ataupun segala aktivitas lainnya akan libur. Biasanya dikenal dengan cuti bersama. Bisa satu minggu, sepuluh hari bahkan dua minggu. Kalau di India, liburnya hanya satu hari pada 1 Syawwal saja. Hari selanjutnya tetap masuk seperti biasa. Oleh karena itu, bersyukurlah kita yang tinggal di Indonesia bisa menikmati libur panjang selama lebaran.

3. Shalat Eid selesai kira-kira baru jam 10 pagi
Kalian yang tinggal di Indonesia, pasti jam 10 pagi sudah selesai shalat Eid. Mungkin yang tinggal di desa bahkan sudah selesai silaturahmi ke rumah-rumah tetangga. Kalau kalian di India, jam segitu kalian baru selesai Shalat Eid.

4. Ceramah Shalat Eid panjang sekali
Meskipun sekitar jam 10 pagi sudah selesai, namun kita harus datang sekitar satu jam sebelum berlangsungnya Shalat Eid. Jika tidak, kita tidak akan mendapatkan tempat di depan. Dengan datang lebih awal, dengan konsekuensi mendengarkan ceramah berbahasa Urdu yang tidak kita pahami dan lama sekali. Pengalaman saya saat shalat di area Aramghar, saking banyaknya, orang-orang yang ikut Shalat Eid sampai berceceran ke jalan-jalan kecil hingga ke jalan besar.

5. Shalat Eid tidak bisa dilaksanakan di sembarang masjid
Meskipun saat di Hyderabad bisa mudah menemukan masjid, tidak setiap masjid digunakan sebagai tempat Shalat Eid. Otoritas setempat telah menentukan titik-titik tertentu untuk melangsungkan shalat Eid. Shalat Eid selalu mendapatkan pengawalan polisi untuk alasan keamanan. Salah satunya, karena isu SARA di India relatif sensitif.

6. India tidak mengenal open house saat lebaran
Jangan pernah berharap ada open house oleh masyarakat muslim India. Masyarakat muslim di India tidak mengenal budaya open house ataupun silaturahmi selama lebaran. Jadi, kami orang-orang Indonesia merayakan lebaran sendiri. Kami pelajar Indonesia dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India di Hyderabad merayakan sendiri lebaran bersama dengan warga Indonesia yang bekerja di Hyderabad. 1 Syawal adalah momen bagi warga Indonesia untuk berkumpul dan merasakan masakan khas Indonesia. Di rumah warga Indonesia yang bekerja di Hyderabad, kami memasak dan berkumpul.

7. Jangan ucapkan minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir batin ke muslim India
Orang-orang muslim India tidak mengenal Idul Fitri sebagai momen perayaan. Saya pernah mencoba mengucapkan itu ke teman-teman saya. Respon mereka agak kikuk. Mereka menganggap bahwa Idul Fitri adalah penutup puasa ritual di bulan Ramadan. Mereka juga menganggap permohonan maaf sebaiknya disampaikan setelah mereka menyadari melakukan kesalahan, bukan cenderung mengakumulasi kesalahan dan mengajukan permohonan maaf di Idul Fitri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *