Hari Ke-10: Belanja

Pagi ini saya kembali berkesempatan menuliskan catatan. Catatan untuk hari ke-10 saya tinggal di Nagoya. Seperti pagi pada hari-hari sebelumnya, pagi ini saya awali dengan mandi, memasak baru menuliskan catatan ini dan selanjutnya menuju perpustakaan kampus. Dan tentu saja, saya berangkat kampus berjalan kaki. Oh iya, hari ini saya tidak begitu hectic, karena saya sudah masak kemarin malam. Pagi ini saya tinggal menghangatkan saja.

Sebenarnya kemarin saya bermaksud memasak ayam kecap. Entah kenapa agak terlalu asin, akhirnya saya tambahkan air. Jadilah tampak seperti ayam pedas karena terlihat berwarna kemerahan. Merahnya dari mana? Itu dari cabe artifisial, cabe bubuk. Awalnya saya berharap itu akan membuat terasa pedas, ternyata tidak begitu. Sepertinya mencari cabe di sini tidaklah semudah mencarinya di Indonesia. Saya hanya mendapatkan paprika dan itu tentu tidak akan cukup untuk membuat masakan bisa terasa pedas.

Tapi, jangan salah. Jangan keburu negative thinking. Rasanya enak, masakan itu terasa enak dimakan. Terima kasih untuk Ajinomoto yang berkontribusi membuat masakan jadi lebih terasa sedap. :’(

Dalam tulisan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman saya berbelanja di Nagoya. Tidak mudah untuk menuliskan pengalaman belanja, sehingga membuat saya baru menuliskannya di hari ke-10. Setidaknya saya sudah survei ke beberapa tempat, baik itu koperasi kampus, Family Mart, Lawson Store, Halaliya maupun yang terakhir dan yang akan saya bahas lebih detil adalah Maxvalu.

***

Siang hari saya punya rencana untuk kembali belanja ke Maxvalu, setelah melihat persediaan bahan makanan di kulkas sudah mulai habis. Beras yang saya beli 2 kg seminggu lalu juga sudah habis. Saya memutuskan belanja di sore hari, tepat setelah shalat ashar. Waktu belanja membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain karena barang yang dibeli relatif banyak, saya juga harus berjalan kaki sekitar 2 km. Jadi, saya harus bisa mengatur waktu agar tidak ketinggalan waktu shalat.

Seperti biasa, menuju Maxvalu selalu diawali dengan menyusuri jalanan Sonoyama, Yotsuya-dori menuju Motoyama Sta. Jalanan yang awalnya saya anggap relatif jauh. Belakangan karena sudah terbiasa, terasa relatif dekat. Ini juga sekaligus awal-awal adalah rute jogging saya di pagi hari. Sayangnya, saya baru menemukan supermarket Maxvalu baru satu minggu terakhir. Saat saya jogging, yang saya lihat adalah KFC, terletak tepat di sebelah Maxvalue. 😀

Saya jadi ingat saat masih di Hyderabad. Supermarket terdekat dan paling fenomenal seperti Maxvalu adalah Big Bazaar. Jarak dari flat saya menuju tempat tujuan juga relatif sama, yaitu 2 km. Saat di India, saya juga seringkali jalan kaki. Dan, biasanya, sebelum atau setelah dari Big Bazaar rajin mampir ke toko KFC KW, namanya NYPFC. Entah toko itu sekarang masih ada atau tidak, rasa ayamnya tak beda jauh dengan KFC, namun dengan harga yang jauh lebih murah. Hehe….

Seminggu lalu, saat masuk Maxvalu kali pertama, saya sedikit bingung. Barang yang saya cari kali pertama adalah beras, tapi butuh waktu lama sekali menemukannya. Kenapa mencari beras? Karena saya butuh makan nasi. Selama tiga hari pertama, saya membeli nasi instan yang saya beli di Family Mart. Nasi dari Family Mart praktis, saat hendak dimakan Cuma perlu dipanaskan microwave selama 2 menit. Sayangnya, harganya mahal, 267 Yen untuk tiga bungkus kecil. Saya tidak bisa bergantung dari nasi seperti ini. Saya harus membeli beras untuk saya masak sendiri, agar bisa lebih hemat.

Kenapa lama menemukan beras? Karena saya mencarinya di lantai 1. Memang, lantai 1 berisi makanan dan minuman. Namun, beras dijual di lantai dasar bersama bahan dapur lainnya, seperti sayuran, daging, buah-buahan, minyak telor dan sebagainya. Saya baru tahu tempat itu setelah saya tanyakan kepada sales di toko itu yang tak begitu bahasa Inggris. Sedangkan saya tidak bisa sama sekali bahasa Jepang.

Untung sales tersebut memahami maksud saya, saya diarahkan menuju lantai dasar. Setelah berjuang beberapa belas menit, akhirnya saya menemukan beras. Kenapa lama? Karena hampir semua bungkus produk yang dijual berbahasa Jepang. Saya harus memastikan dan meraba-raba isi dari produk itu terlebih dahulu untuk memastikan itu benar-benar beras.

Harga beras di sini bisa terbilang sangat mahal, khususnya apabila dibandingkan dengan harga di Indonesia. Pekan lalu saya membeli 2 kg seharga 860 Yen. Kemarin, saya membeli 5 kg seharga 1990 Yen. Saya berpikir dengan membeli 5 kg akan jauh lebih hemat. Meskipun, saat pulang, saya membawanya cukup berat juga. Di Jepang tidak ada auto yang biasanya saya saat di India pulang belanja saya sering naik auto. Jadi, saya harus membawanya dengan berjalan kaki sekitar 2 km. By the way, harga segitu menurut saya paling murah. Ada yang lain dengan harga lebih tinggi dari itu.

Kemarin, sebelum membeli kebutuhan dapur, saya sempatkan untuk menuju lantai 2 dan lantai 3 terlebih dahulu. Awalnya, saya di lantai 2 hanya bermaksud membeli sabun cuci. Sama hanya dengan membeli beras, semua produk ditulis dengan bahasa Jepang. Saya amati dan hampir saya ambil, yang ternyata setelah saya amati baik-baik adalah pelembut pakaian, softener. Saya belakangan untuk memastikan itu produk apa, saya mengandalkan fitur photoscan google translate. Bungkus produk yang saya cari saya scan terlebih dahulu untuk selanjutnya akan diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Google Translate benar-benar sangat membantu di tengah keterbatasan saya.

Setelah mendapatkan sabun cuci, saya menuju 100 YEN Shop. Pekan lalu saya sudah menuju tempat ini, saya mengincar kontak nasi dan tumbler. Sayangnya, saya tidak menemukan harga seperti pada umumnya tercantum harga pada rak di bawahnya. Saya urungkan niat membelinya.

Baru kemarin saya kembali ke tempat ini dan baru tahu juga ternyata itu namanya 100 YEN Shop. Jadi, semua barang yang dijual di sini dibandrol harga 100 Yen. Akhirnya, saya ambil kotak nasi itu, tapi tumbler belum prioritas untuk dibeli. Selain kotak nasi, saya membeli headset, usb cable, usb connector, kaos kaki dan botol sabun cuci. Masing-masing semuanya saya dapatkan dengan harga 100 Yen, harga yang relatif murah. Hampir produk yang dijual di 100 YEN Shop ini adalah produk china. Meskipun begitu, barangnya oke punya.

Kenapa saya beli kotak nasi? Karena saya tidak punya kotak nasi untuk membawa makanan saat di kampus. Di sini sudah hal yang lumrah mahasiswa membawa makanan di kampus dan terkadang menghangatkannya di microwave yang disediakan kampus.

Kenapa kaos kaki? Pekan lalu saya sudah membeli satu kaos kaki. Kemarin saya beli lagi. Supaya saat satu saya cuci, masih ada satu lagi yang bisa saya pakai. Saat ini saya punya tiga kaos kaki. Dua untuk sepatu dan satu untuk menjelang malam dan tidur, untuk mengurangi rasa dingin saat malam.

Kenapa saya membeli headset? Saya lupa membawa headset. Saya jadi boring saat jalan menuju dan pulan dari kampus. Setidaknya headset bisa saya gunakan untuk mendengarkan musik saat jalan kaki. Ini juga lumrah dilakukan pemuda dan pemudi Jepang. Mereka di jalan umumnya memakai headset sambil menikmati berjalan kaki.

Kenapa membeli usb cable dan usb connector? Usb cable power bank saya kebetulan rusak. Sedangkan usb connector saya butuhkan untuk transfer data dari laptop ke handphone. Saya dulu saat di Indonesia pernah punya ini, tapi hilang entah kemana. Apalagi harganya murah meriah seperti itu. 😀

Setelah itu, saya menuju lantai 3. Saya berniat membeli pakaian yang bisa menghangatkan, untuk menyambut musim gugur dan musim dingin. Pada hari-hari belakangan ini saja, saya sudah kedinginan. Suhu udara tadi malam sudah turun ke 13 derajat celcius, dibanding seminggu lalu suhu terendah masih 16 derajat celcius. Tampaknya pada minggu-minggu berikutnya suhu akan semakin turun yang diikuti semakin cantiknya pepohonan pinggiran jalan saat musim gugur tiba.

Setelah itu, saya baru menuju lantai dasar, membeli bahan-bahan dapur. Selain barang-barang yang saya beli seperti saya tuliskan di atas, termasuk beras 5 kg, saya juga membeli telur 10 butir, seledri, kol, bawang merah bombay, toge, kentang dan jahe. Dengan pengecualian beras, dengan beras 2 kg dan barang-barang dapur itu semua bisa membuat saya bertahan selama 7-10 hari.

Kalian tahu semuanya habis berapa? Untuk bahan-bahan dapur saya habis 2995 dan apabila semua ditotal menjadi 5346 Yen atau senilai 716 ribu rupiah.

Jadi kira-kira barang-barang itu semua murah atau mahal?

.

Read also the latest articles:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *