Beberapa kali lagi aku berjalan memutar untuk memastikan kembali ada tidaknya koper bagasiku. Setelah yakin koper raib, aku langsung menyambangi petugas mempertanyakan keadaan koper, apakah masih bisa didapatkan dini hari itu juga atau tidak. Jika tidak, kapan aku dapat mendapatkannya kembali.

Petugas pun mempersilakanku untuk menuju pada petugas yang berada di bagian pojok. Kusampaikan bahwa koper tidak ada. Lantas, petugas mengeluarkan selembar kertas untuk mencatat identitasku hingga identitas koper bagasi.

Aku diberikan selembar salinan kertas yang berisi identitasku dan identitas koporku dan diminta menghubunginya esok lusa untuk memastikan keberadaan bagasiku itu.

Ini berarti, aku keluar dari bandara tanpa koper yang berisi bumbu-bumbu khas Indonesia, pakaian dan tentunya mie instan. Setelah keluar dari ruang custom, negeri ini menyambutku dengan orang yang berlalu lalang di international arrival, menjemput kawan, kerabat atau kolega lainnya. Begitu juga denganku, aku dan beberapa temanku ini juga telah dijemput teman-teman yang studi di India.

Kami meluncur dari Bandara Rajiv ke Ravindra Nagar dengan mengendarai taksi. Penilaian pertama melihat pemandangan pertama adalah, India tidak beda jauh dengan Indonesia, taman-taman di sekitar Bandara Rajiv tertata rapi, mirip dengan taman di sekitar jalanan pintu masuk menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Penilaian itu perlahan bergeser, setelah melalui perjalanan sekira 30 menit dari bandara, bangunan padat melilit di pinggir jalan raya.

Mungkin begini, dalam hati saya, upaya masyarakat India untuk mengatasi kepadatan penduduknya. Ya, bangunan di pinggir jalan begitu padat. Meskipun begitu, tampak tata kotanya begitu bagus yang terlihat melalui perencanaan yang matang. Namun, kepadatan itu tidak berbanding lurus dengan kebersihan kota.

Pukul 02.45 kami sampai di flat kakak PPI Hyderabad. Kami sahur dan menginap di tempat ini.

Jam 08.00 pagi kami berangkat ke blood bank, pusat pemeriksaan darah di Hyderabad. Kami penerima beasiswa ICCR wajib memiliki hasil tes darah yang menyatakan diri bebas dari HIV/AIDS.

Dalam perjalanan menuju tempat itu, tampak sekali masyarakat India dengan beragam aktivitasnya. Bangunan-bangunan yang di pinggir sepanjang jalan tampak kuno, seperti Indonesia di tahun 1970-an.

Begitu juga di blood bank ini. Untuk ukuran rumah sakit yang khusus perdarahan, tidak lebih elegan dari Puskesmas Wuluhan. Namun, itu baru lantai satu. Ternyata bangunan itu berlantai tiga, namun belakangan saya baru menyadarinya.

Setelah selesai tes HIV/AIDS, langsung menuju kantor ICCR Hyderabad. Sama halnya dengan blood bank tadi, meskipun berlantai tiga, kantor ICCR Hyderabad tanpak sederhana sekali. Kami menyerahkan beberapa dokumen yang diperlukan, yaitu fotokopi ijazah dan transkrip yang terlegalisir, fotokopi surat penerimaan beasiswa dari Kedutaan India, fotokopi Paspor dan Visa, foto 4×6 2 lembar dan mengisi formulir. Semua persyaratan itu untuk mendapatkan bonafide certificate dari ICCR (biasanya teman-teman menyebutnya ‘to whomsoever it may concern’). Bonafide certificate itu digunakan sebagai salah satu dokumen untuk mengurus pendaftaran di kampus.

Namun, kami tidak bisa mendapatkan bonafide certificate dari ICCR, karena hasil tes HIV/AIDs baru keluar di sore harinya. Jadi setelah dari ICCR, kami ke blood bank dulu untuk mengambil hasil tes HIV (yang kemudian alhamdulillah hasilnya non reactive).

Karena hasilnya baru kami dapatkan sore hari, berarti hari pertam hanya bisa sampai mendapatkan hasil tes HIV/AIDS, sedangkan untuk mendapatkan bonafide certificate dari ICCR baru kami urus besok harinya.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *