HUT RI, PPI Hyderabad dan Tradisi Intelektual

Sebagai aktualisasi pelajar Indonesia yang menimba ilmu di negeri orang, secara rutin PPI Hyderabad kembali menyelenggarakan diskusi ilmiah.

Tidak seperti biasanya, bertepatan dengan HUT Republik Indonesia, kegiatan kali ini dikemas dalam bentuk diskusi kebangsaan.

Tujuan utama dikusi ini adalah untuk memperkokoh pemahaman atas keindonesiaan dan semangat patriotisme yang kian luntur di tengah arus globalisasi.

Kegiatan yang berlangsung 17 Agustus 2013 ini tidak hanya mendapatkan sambutan baik dari Konsulat Jenderal RI di Mumbai, tetapi juga dari Atase Pendidikan di KBRI New Delhi, Dr. Son Kuswadi.

Dalam diskusi ini, terdapat dua tema yang disajikan oleh dua pembicara, yaitu “Indonesia as Imagined Community” yang disampaikan oleh Dr. Deri Sis Nanda (Alumni EFL University) dan “Patriotism in Globalisation” yang disampaikan oleh Amalul Umam (Kandidat MA dari EFL University).

Deri menyebutkan bahwa Indonesia merupakan sebuah “imagined community”, sebagai sebuah negara besar yang semua komponen dasarnya merupakan bentukan dan buah pikiran rakyatnya. Sejak kemerdekaan Indonesia 68 tahun silam, semua yang ada di Indonesia adalah hasil dan karya anak bangsa. Meliputi nama negara, bahasa negara, dasar negara maupun konstitusi. Tentunya, berkat kerja keras para pendahulu, apa yang kita rasakan hingga saat ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi kita terhadap tanah air.

Meskipun demikian, kebanggaan tersebut tidak berhenti dalam kata-kata, karena setiap perjalanan tentu memiliki tantangan masing-masing. Kesiapan mentalitas melalui kontribusi konkret harus tetap dilahirkan oleh anak-anak bangsa dalan pembangunan negara yang lebih baik dan mandiri.

Bangsa Indonesia, tambah Deri, telah disatukan atas dasar saling memiliki terhadap bangsa dan negara untuk berjuang dan berkorban demi Indonesia. Mereka, sebagai kesatuan bangsa, tidak melihat apa agamanya dan dari suku apa ia berasal, untuk terus menyambung perjuangan membangun bangsa dan negara. “Itulah nasionalisme”, tegas Deri.

Selain itu, masalah terbesar bangsa ini terletak pada krisis kepemimpinan. Menurut Deri, Indonesia membutuhkan sosok calon pemimpin yang dapat memimpin negara dengan tegas dan tidak hanya memikirkan golongan tertentu. Hal demikian dikarenakan Indonesia pada hakikatnya terdiri dari berbagai elemen yang plural, baik agama, suku maupun bangsa. Imbuhnya, pemimpin Indonesia harus benar-benar berjiwa pemimpin sehingga mampu mengangkat harga diri bangsa untuk sejajar dengan negara lain di dunia. “Kita juga butuh pemimpin yang mampu menghentikan pengiriman para pembantu rumah tangga yang telah mendapat perlakuan tidak adil di luar negeri dan pemimpin yang mampu memberi lapangan pekerjaan yang layak di tanah air bagi rakyat Indonesia”, kata peneliti senior di Konsorsium Masyarakat Indonesia ini.

Ia juga merasa miris melihat banyak sumber daya alam di tanah air yang dikelola oleh pihak asing. Sedangkan bahan-bahan seharusnya bisa kita produksi, justru didapatkan melalui impor, misalnya garam. Padahal Indonesia memiliki teritorial laut yang luas yang seharusnya layak sebagai sumber utama garam dapur.

Pada sesi berikutnya, dilanjutkan oleh Amalul Umam tentang patriotisme yang harus diperkokoh, sebagai semangat yang sudah dibangun sejak zaman pra kemerdekaan. Ia menambahkan relevansi patriotisme dengan Islam. Ia menceritakan Rasullullah SAW yang hijrah dari Mekkah ke Madinah, tentang bagaimana semangat patriotisme ia bangun.

Setelah sesi pemaparan selesai, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Noprival, dalam pertanyaannya apakah nasionalisme juga menuntut bangsa peduli dengan perjuangan-perjuangan yang dilakukan di negara lain, di Mesir misalnya. Dalam kesimpulannya, bahwa nasionalisme tidak pula dapat dipisahkan dengan internasionalisme, yang keduanya ditanamkan dalam Pancasila, sehingga secara otomatis mendukung perdamaian dunia dan stabilitas keamanan internasional.

Acara ini dihadiri oleh para mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di English and Foreign Languages University (EFLU), Osmania University dan National Institute of Technology (NIT), Warangal dan beberapa dosen dari STAIN Salatiga yang sedang mengikuti shortcourse di EFLU.

Acara ini kemudian dilanjutkan dengan rapat anggota PPI Hyderabad untuk konsolidasi kepengurusan dan pembahasan program PPI Hyderabad untuk setahun kedepan.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *