Jadi Mahasiswa di Negeri Seberang

Jika tahun 2007 silam saya adalah seorang mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia, tahun ini saya kembali menjadi seorang mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi negeri. Namun bedanya, untuk tahun ini saya belajar di negeri seberang, India.

India disebut banyak orang sebagai Negeri Gandhi, Negeri Hindustan atau Negeri Anak Benua. India identik pula dengan kemiskinan, negeri berkembang, negeri kumuh dan negeri jorok. Namun India juga terkenal dengan sisi lainnya, yaitu Negeri Budaya, Negeri 1001 Tuhan, Negeri Peradaban Kuno, Negeri Teknologi, negeri yang mempunyai pertumbuhan ekonomi tinggi dan negeri yang diproyeksi sebagai negeri terkaya kedua di dunia pada 20 tahun mendatang.

Selain itu, India juga terkenal dengan negeri yang sederhana dan penuh dengan kebijaksanaan hidup. Semuanya tampak dan tercermin dalam setiap aktivitas masyarakatnya, tak terkecuali dalam bidang pendidikan, termasuk di kampus tempat saya melanjutkan kuliah S2 ini.

**

Awal bulan ini kuliah saya baru saja dimulai. Untuk S2 ini saya mengambil Master of Laws (LL.M.) dengan spealisasi di International Trade and Economic Law di College of Law Osmania University. Program ini ternyata adalah program yang paling favorit di antara 6 branch atau spesialisasi yang ditawarkan di college tempat saya belajar. Keenam spesialisasi LLM yang ditawarkan tersebut adalah Corporate Law, Constitutional Law, Labour Law, Alternative Dispute Resolution, Intellectual and Property Rights dan International Trade and Economic Law.

Jumlah mahasiswa di kelas saya (khusus untuk spesialisasi International Trade and Economic Law) adalah 12 orang, dimana mahasiswa lokalnya (asli India) hanya 2 orang. Sedangkan yang lainnya adalah mahasiswa asing yang datang dari Iraq, Jordan, Ethiopia, Afghanistan dan saya sendiri dari Indonesia.

Perkuliahan di kampus kami hampir tidak beda jauh di Indonesia, yaitu mendengarkan ceramah dosen, sedangkan mahasiswa mencatat apa yang disampaikan oleh dosen. Mahasiswa juga memiliki kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi dengan dosen. Namun tampaknya yang menjadi perbedaan yang signifikan terletak pada sistem ujian. Ujian dilaksanakan tiga kali dalam satu semester dan tugas makalah. Ujian tersebut dapat dibagi menjadi internal exam dan final exam. Untuk internal exam dibagi menjadi first internal exam dan second internal exam. Nilai internal exam maksimal adalah 20 poin, sedangkan nilai maksimal final exam adalah 80 poin.

Final exam tampaknya merupakan ujian yang cukup mengerikan bagi mahasiswa baru. Sebagaimana penjelasan dosen di awal perkuliahan bahwa akan ada 4 soal yang masing-masing terdiri atas dua pilihan soal (jadi total soal ada 8) dengan alokasi waktu 3 jam. Mahasiswa dapat menjawab salah satu dari pilihan tersebut dengan total 4 jawaban soal. Seluruh jawaban soal rata-rata dijawab sebanyak 25 halaman.

Sebanyak 25 halaman ini yang membuat saya sedikit susah bernapas. Kalau berbahasa Indonesia mungin tidak akan menjadi masalah yang besar bagi saya. Namun apabila jawaban itu dengan bahasa Inggris, sekilas ini merupakan masalah yang cukup besar, tetapi setelah saya pikir kembali justru ini menjadi sebuah tantangan yang perlu ditaklukkan dengan baik.

Artinya, sebelum waktu ujian datang sudah sewajibnya saya sudah memulai membaca beragam referensi dan memahami dengan baik. Tidak mungkin tanpa pemahaman yang baik saya akan mampu mengerjakan soal sesuai dengan target kuantitas, di samping kualitas.

Selain itu, dengan pembiasaan menulis jawaban soal yang banyak akan memberikan dampak yang baik dalam penguasaan bahasa Inggris saya. Di samping tuntutan untuk menulis yang panjang, ini uga melatih saya untuk dapat menulis yang sistematis yang dalam jangka panjang akan dapat meningkatkan skills menulis saya, terlebih mampu meningkatkan nilai writing untuk tes IELTS.

Beruntungnya di kampus ini tersedia beragam referensi yang tersedia di perpustakaan college. Menurut infomasi, perpustakaan college ini merupakan yang paling bagus, paling lengkap dan paling besar di antara college hukum lain di India selatan. Artinya, dengan bantuan perpustakaan akselerasi dapat saya lakukan dengan baik.

Selamat belajar! ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *