Saya mohon maaf karena kemarin tidak memposting artikel. Baru pagi ini saya berkesempatan menarasikannya. Dan sepertinya, saya akan memposting artikel harian setiap pagi saja, tidak lagi setiap malam. Saya akan menggunakan waktu malam untuk hal lain yang lebih produktif. Selain, karena menurut saya waktu malam di sini terasa sangat pendek. Entah, mungkin karena saya terlalu menikmati? 😀

Kemarin, di sini seharian gerimis. Hujan tipis-tipis, mirip musim monsoon di India saat saya awal-awal datang di 2013. Katanya, monsoon adalah musim transisi dari musim panas (summer) ke musim dingin (winter). Hujan seperti itu tidak akan membasahi seluruh badan hingga basah kuyup, cuma terkadang kita harus memakai payung, apalagi saat kita jalan dengan jarak yang relatif jauh, misalnya hingga 2-4 km seperti rutinitas saya setiap hari. Sayangnya, saya masih belum punya payung. Mungkin nanti atau besok, saya akan membelinya. Sekaligus, rencana hari ini adalah mau belanja ke supermarket. Persediaan dapur sudah mulai habis.

Hari ini, saya bertemu beberapa orang Indonesia yang sudah lama di sini. Satu adalah mahasiswa akhir master dan satu adalah mahasiswa akhir S3. Lumayan banyak juga mahasiswa Indonesia di sini.

Saat bertemu, tadi saya sedikit tanya-tanya tentang musim. Ada kesalahan penjelasan saya di postingan sebelumnya. Ternyata, saat ini baru mau memasuki musim gugur. Jadi, saat ini masa transisi menuju musim gugur yang kira-kira akan berpuncak pada bulan November. Pada pertengahan atau akhir Desember, akan disusul dengan musim dingin yang biasa disebut dengan winter. Saat musim dingin datang, kota ini akan disambut dengan salju. Kalau lebih cepat, bisa pada akhir Desember. Bisa juga salju baru akan turun di awal Januari.

Karena tidak memiliki payung, saya berangkat ke kampus dengan jarak 2 km tanpa payung. Lumayan juga, rintikan hujan tipisnya ternyata perlahan meresap ke dalam kain baju saya. Walaupun, baju masih enak dipakai. Tidak begitu membasahi.

Pagi hari, sebelum berangkat ke kampus, saya mendapatkan email dari supervisor. Beliau menginformasikan kembali bahwa hari ini akan ada kelas seminar yang akan dimulai pukul 14:47. Sebenarnya, jauh-jauh hari saya sudah diberitahu informasi ini dan beliau akan menginformasikan lagi melalui email.

Saya berangkat ke kampus siang hari dan pulang menjelang sore hari. Saya sengaja datang ke kampus pada siang hari hanya karena untuk menunggu shalat dhuhur dulu. Saya masih bingung saat harus sholat dzuhur di kampus. Katanya bisa menggunakan ruang di lantai 6, tapi saya belum mencobanya.

***

Hari ini adalah pengalaman pertama kali bagi saya mengikuti kegiatan formal. Kegiatan itu bertempat di Ruang Seminar 9, Ruang 710, pada lantai 7 Gedung Graduate School of International Development. Saya adalah orang kedua yang memasuki kelas pertama kali, tepat di belakang Ratta, mahasiswa exchange programme selama enam bulan dari Kamboja. Spesialisasi dia adalah ekonomi dan kewirausahaan. Dia adalah pengawai negeri di Kamboja. Ternyata, kita sama-sama baru, dia tidak begitu banyak teman di sini. Pada akhirnya kita ngobrol-ngobrol ringan dan duduk bersebelahan sampai kegiatan selesai.

Beberapa menit setelah kami berdua masuk ruangan, ada sekitar enam mahasiswa lain yang masuk ruangan. Tiga dari mereka adalah mahasiswa Indonesia, selebihnya dari Mongolia, Jepang dan Afghanistan. Kegiatan ini semacam seminar rutin, diadakan seminggu sekali yang berisi presentasi proposal riset, kemajuan riset dan seminar hasil riset. Semua memiliki topik penelitian masing-masing dengan satu tema utama, yaitu kajian Asia.

Supervisor datang di ruangan dua menit sebelum waktu dimulainya kegiatan, pukul 14:43. Kegiatan dimulai tepat waktu. Beliau membuka kegiatan dengan sedikit cerita kegiatan beliau dalam beberapa bulan terakhir, seperti acara seminar di Kamboja dan Indonesia berikut bercerita mengenai konteks masing-masing negara. Setelah itu juga menyampaikan mulai minggu ini akan ada tiga anggota baru yang akan bergabung di kegiatan ini. Saya yang akan meneliti aspek hukum nasional dan internasional tentang kebijakan pangan dan bioteknologi, Ratta yang akan meninjau aspek ekonomi dan kewirausahaan di Kamboja dan satunya lagi adalah Yati, mahasiswi S3 dari Semarang yang akan meneliti tentang arbitrase nasional dan internasional.

Sebelumnya, semua dari kita diminta untuk saling memperkenalkan diri berikut topik risetnya masing-masing. Secara umum, semua penelitian mereka memiliki aspek hukum. Namun, tidak semata aspek hukum yang akan dikaji, ada juga aspek ekonomi dan politiknya. Itu sebabnya Graduate School of International Development didesain lebih pada sekolah yang mendukung kajian multidisiplin dengan berbagai sudut pandang keilmuan.

Saya juga memahami itu, diskursus global memang sudah ke arah sana. Jangankan itu, kajian hukum pun sudah dituntut lebih multidisiplin, tidak hanya hukum murni. Itu yang juga disindir oleh supervisor bahwa kajian hukum di Indonesia itu relatif sangat normatif (baca: positivis). Ilmuwan hukum Indonesia terkesan melihat hukum sebagai ilmu yang harus murni dan menjadi kaku. Tidak mengaitkan hukum dan masyarakat. “Sepertinya itu sudah sangat konservatif, tradisional, kurang mengikuti perkembangan”, ungkapnya.

Beliau menambahkan bahwa banyak negara Asia itu adalah negara berkembang, developing countries, di mana negara memiliki posisi yang tidak begitu kuat. Ada yang namanya customary law atau hukum adat yang juga masih dipegang oleh masyarakatnya. Juga, posisi negara dalam penegakan hukum masih relatif tidak begitu kuat. Hal demikian yang seharusnya titik tekan kajian tidak hanya pada aspek norma, tetap juga ada masyarakat di dalamnya. Penjelasan beliau mengingatkan saya pada buku Francis Fukuyama berjudul, “State-Building: Governance and World Order in the 21st Century” yang sedikit banyak menjelaskan demikian. Juga, buku karya Werner Menski berjudul, “Comparative Law in a Global Context” yang mengutip pendapat William Twining menegaskan hukum di negara-negara post-kolonial Asia seringkali berciri monis, positivis dan statis.

Diskusi dalam kegiatan ini diakhiri dengan pembagian tugas presentasi, saya mendapatkan bagian untuk presentasi kemajuan riset saya tanggal 12 November. Waktu yang masih relatif lama, tapi akan berjalan begitu cepat saat riset saya jalankan. Saya akan kembali menghadapi tantangan dalam mengkonstruksi argumen demi argumen dalam paragraf demi paragraf.

Pengalaman hari ini kembali mengingatkan saya, saat saya membuat komunitas penelitian bersama mahasiswa terbaik yang saya jumpai di kampus Jember, khususnya mereka yang saya temui di kelas. Mereka saya kumpulkan dan saya rekrut menjadi bagian dari komunitas itu. Mereka sudah memiliki bahan riset yang mereka buat dari assignment papers saya saat perkuliahan. Tugas mereka adalah mengembangkan itu ke dalam bentuk artikel ilmiah dengan output publikasi. Kita memiliki kegiatan berkala, setiap Senin pukul 4:00 WIB. Selain saya, ada juga tiga dosen lain yang memiliki fokus pada riset bergabung dalam forum ini. Beberapa hasilnya, untuk tingkat mahasiswa sudah ada dua tim terseleksi lomba, satu lolos finalis PKM GT satunya lagi berhasil mendapatkan Juara I Lomba Karya Ilmiah beberapa minggu lalu. Selain itu juga berpartisipasi dalam forum internasional, menjadi pembicara konferensi internasional.

Satu hal yang dapat saya tarik kesimpulan bahwa ternyata kegiatan semacam ini penting dan harus dipertahankan dalam dunia akademik. Ini adalah salah satu dari kita seorang akademisi, untuk berpikir, mengembangkan dan menghasilkan ilmu pengetahuan. Hal yang relatif baru di kampus saya yang namun sudah lumrah di berbagai kampus lain. Setidaknya, ini adalah bentuk kemajuan yang akan mengantarkan akademisi dan mahasiswa kampus saya untuk menjadi ilmuwan dan calon ilmuwan yang produktif.

 

Read also the latest articles:

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *