Tidak terasa sudah lebih dari tiga bulan saya kembali dari Jepang. Saya kembali ke Indonesia, kembali dengan rutinitas kampus. Seperti biasa, saya kembali menjalankan aktivitas dari mengajar dan menulis di kampus. Saat kembali ke kampus, kebetulan saat itu masih dalam masa liburan semester. Sekitar dua bulan waktu liburan saya habiskan dengan adaptasi.

Ternyata, tidak mudah untuk kembali beradaptasi dengan suasana Indonesia. Sama tidak mudahnya saat saya kembali adaptasi dengan lingkungan Indonesia sesaat saya kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan S2 di India sekitar 3.5 tahun lalu. Lingkungan Indonesia terasa relatif asing bagi saya. Rasanya, saya menjalani kehidupan di Indonesia dengan alam India. Begitu juga setelah pulang dari Jepang, saya menjalani kehidupan di Indonesia dengan alam Jepang.

Mungkin, perlunya adaptasi tersebut ditengarai adanya geografis, sosial, budaya maupun ekonomi masing-masing negara (India dan Jepang) terhadap Indonesia. Memang, suasana Indonesia jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan suasana India, sedangkan suasana Jepang tentu saja jauh lebih baik dari suasana Indonesia. Satu hal utama yang saya amati saat saya kembali dari Jepang ke Indonesia adalah memburuknya lingkungan saya. Jepang jauh lebih baik dari Indonesia dari semua aspek. Ini terasa berbeda, saat saya dari India kembali ke Indonesia. Lingkungan Indonesia terasa jauh lebih baik. Dibandingkan India, Indonesia terasa jauh lebih bersih, orangnya lebih ramah, cinta damai. Namun, saat dibandingkan Jepang, Jepang jauh lebih baik, lebih unggul. Jepang terasa jauh lebih bersih, aman, tenang, bebas polusi, sejuk, dengan orang-orang jauh lebih pendiam dan ramah.

Ada hal lain yang saya merasakan tidak mampu beradaptasi dengan cepat. Saya tidak pandai beradaptasi dengan makanan. Saat saya sampai di India, dibutuhkan waktu sekitar tiga minggu agar perut saya dapat berkompromi. Awalnya, saya ingin mencoba sekaligus memaksakan diri untuk mengenal makanan India, saya mencobanya. Sayangnya, setelah itu saya sakit perut. Bisa jadi itu karena faktor kebersihan makanan.

Selain itu, bisa jadi karena komposisi makanan India yang relatif kompleks yang saya tidak pernah menjumpai makanan serupa sebelumnya. Namun, hal yang menurut saya aneh adalah saat saya dari Jepang ke Indonesia, saya mengalami hal serupa. Setelah saya makan makanan Indonesia, perut saya seringkali sakit. Dan, saya membutuhkan waktu yang relatif sama, sekitar tiga minggu, untuk dapat beradaptasi dengan makanan Indonesia. Bisa jadi, karena makanan di Jepang benar-benar memiliki standar kebersihan. Selain karena makanan Jepang tidak berisi komposisi yang kompleks. Menurut saya, makanan di Indonesia memiliki komposisi yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan makanan di Jepang. Secara umum, makanan berkuah di Jepang relatif lebih bening daripada makanan di Indonesia. Ini menegaskan kompleks tidaknya bahan yang terkandung di dalamnya. Dan, rasanya saya belum menemukan makanan pedas di Jepang. Sepedas-pedasnya makanan Jepang, masih belum ada yang menandingi pedasnya sambal jawa, apalagi sambal medan.

Ada persamaan lain saat saya harus beradaptasi kembali dengan Indonesia, baik setelah dari India maupun Jepang. Saya menderita batuk hingga sekitar satu bulan. Saya menderita batuh sekitar satu bulan setelah kembali ke Indonesia selama satu bulan. Jadi, saya kemarin, dari Jepang, saya sampai Indonesia tanggal 27 Desember 2018. Sebulan setelahnya, di akhir Januari 2019, saya batuk-batuk hingga sekitar satu bulan lamanya. Seperti biasanya, saat saya sakit saya mencoba cara penyembuhannya dengan perbanyak istirahat maupun banyak minum air putih. Namun, usaha tersebut tidak begitu membuahkan hasil. Saya tetap batuk. Hingga, saya mencoba membeli beberapa obat batuk di apotek. Namun, batuk saya tak kunjung sembuh. Setelah sekitar satu bulan, batuk itu baru mulai reda.

Kira-kira demikianlah pengalaman saya saat kembali ke Indonesia. Saya harus menjalani masa adaptasi dengan durasi sekitar dua bulan. Mungkin, nanti saya akan perlu beradaptasi kembali, misalnya, setelah kuliah S3 di luar negeri.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *