Artikel ini akan memaparkan analisis Henry Manampiring tentang pilihan paling dilematis yang dihadapi para gadis Indonesia saat ini. Pilihan tersebut adalah antara melanjutkan kuliah dan menikah. Pada satu sisi mereka ingin melanjutkan kuliah yang secara lazim merupakan bentuk kesetaraan gender. Pada sisi lain, tradisi patriarki masih mendikotomi antara laki-laki dan perempuan yang menghendaki perempuan untuk segera menikah. Jika tidak, perempuan akan mendapat cibiran dari masyarakat sebagai perawan tua.

Sejak hadirnya internet, sosial media dan telepon berbasis sistem operasi, Indonesia tampaknya telah memasuki generasi baru digital. Ini sekaligus menegaskan bahwa masyarakat Indonesia telah berevolusi menuju masyarakat modern. Diyakini bahwa dengan menjadi masyarakat modern, akan adanya negosiasi ulang terhadap sistem dan nilai-nilai tradisional yang masih hidup dan berlaku di masyarakat.

Faktanya, Itu tidak seluruhnya benar. Terkait hal itu, Henry yang mengamati tentang pemberdayaan perempuan di Indonesia melakukan penelusuran jejak digital di Ask.fm. Situs ini kurang diminati oleh Generasi X, meskipun mereka bekerja pada industri komunikasi digital. Saat Twitter dan Facebook tampak mulai menurun popularitasnya,  netizen Indonesia usia remaja tampak lebih interaktif pada platform media seperti Snapchat dan Ask.fm.

Awalnya, Ask.fm didirikan di Latvia, namun saat ini bermarkas di Irlandia. Pada perkembangannya, Ask.fm telah menarik sejumlah besar pengguna internet di Indonesia, negara dengan populasi 250 juta yang didominasi oleh generasi muda. Meskipun 250 juta bukan merupakan angka resmi, setidaknya dapat diperkirakan pengaruhnya terhadap statistik ‘selebriti’ pada platform ini. Satu akun selebriti Indonesia dapat mengumpulkan lebih dari 16 juta ‘like’ dari jawaban yang diberikan.

Tidak seperti kebanyakan platform media sosial di mana pengguna dapat memulai posting, Ask.fm pengguna harus terlebih dahulu merespon pertanyaan yang diajukan. Karenanya, Ask.fm lebih menghasilkan platform dua arah sehingga menjadi sangat interaktif. Pengguna dibagi dalam kluster-kluster berdasarkan persamaan minat, misalnya dari fashion hingga diskusi agama.

Pekerjaan saya sebagai perencana strategis (strategic planner) yang mendorong saya menggunakan platform ini. Secara berangsur-angsur, saya mencari hal-hal yang mengenai seni dan budaya populer yang mewadahi para generasi muda. Biasanya anak-anak muda akan sangat mudah ditemui di sana.

Motivasi awal yang sifatnya profesional tiba-tiba dengan cepat berubah menjadi hal-hal yang sifatnya pribadi saat saya mendapatkan pertanyaan yang sepertinya bukan sebagai pertanyaan abad saat ini, termasuk:

“Nasihat yang saya dapatkan bahwa perempuan harus berhenti dari perguruan tinggi karena mereka nanti akhirnya juga bakal mengurus dapur. Benar gak sih?”

“Guru saya pernah bercerita bahwa perempuan sebaiknya tidak mengambil S2 atau harus menanggung risiko tidak ada laki-laki yang mau meminangnya.”

Awalnya, saya kaget saat mendapatkan pertanyaan-pertanyaan ini dari para gadis remaja Indonesia. Mereka mungkin juga merupakan Generasi Z yang hidupnya, nafasnya ada di internet dan sosial media. Tapi kenapa pertanyaannya menjadi sangat terpuruk, mundur dan sangat kuno. Setidaknya itu adalah persepsi pribadi saya.

Namun, dari kaget saya kemudian menjadi marah, bukan karena saya adalah laki laki atau generasi milenial. Terlepas dari isu persamaan gender, dari perspektif yang lebih pragmatis, alangkah sia-sianya potensi mereka! Membayangkan perempuan-perempuan berhenti sekolah karena mereka percaya nantinya akan ditakdirkan akan mengurus dapur adalah hal yang rasanya sangat memalukan. Parahnya, bagi saya, bagaimana wanita mau dengan suka rela membuat diri mereka menjadi tampak bodoh hanya untuk mendapatkan seorang suami. Semua ini sangat berlawanan dengan kenyataan-kenyataan pesatnya ekonomi Indonesia di abad ke-21 sebagai abad Asia. Bagi saya, perempuan terlalu berat apabila harus menanggung itu semua.

Saya tidak bisa menutupi perasaan saya saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Saya menekankan jawaban tentang bagaimana wanita HARUS melanjutkan kuliah. Entah bagaimana caranya, mereka harus mandiri dan memiliki kemampuan untuk keberlangsungan mereka sendiri apabila sewaktu-waktu terjadi perceraian atau suami melakukan poligami (karena poligami diizinkan di Indonesia). Jika tidak, perempuan akan menjadi korban perkawinan saat terjadi permasalahan hubungan dalam keluarga yang berakibat pada hal-hal tersebut di atas.

Terkait dengan anggapan bahwa perempuan yang berpendidikan tinggi itu menakutkan bagi laki-laki, yang akhirnya menurunkan kesempatan untuk melangsungkan perkawinan, saya tidak bisa menolak. Ini menjadi hukum tidak tertulis yang hidup dan merupakan kenyataan dalam masyarakat Indonesia yang chauvinistik terhadap peran laki-laki. Mayoritas laki-laki Indonesia cenderung merasa tidak aman dan terintimidasi oleh perempuan yang lebih pintar atau berpendidikan lebih tinggi dari mereka. Kenyataan ini tentu akan memposisikan perempuan yang pintar sebagai pihak yang akan dirugikan yang pada saat bersamaan laki-laki memiliki banyak pilihan lain yang membuat mereka merasa tidak terancam. Karena itu, saya tetap berharap bahwa ada laki-laki Indonesia di luar sana merasakan hal yang sama seperti saya dan ingin sekali melihat adanya perubahan.

Coba bayangkan bahwa akan ada dunia di mana para perempuan secara bersama-sama menyepakati pentingnya pendidikan yang lebih tinggi dan adanya kebutuhan untuk mengejarnya. Tentu, hal ini akan mengubah dominasi pria terhadap perspepsi itu. Dan tentu juga akan melahirkan dorongan bagi laki-laki untuk meningkatkan kualitas pribadinya. Jika tidak, laki-laki tidak akan menemukan pasangan yang cocok. Bukankah pemahaman ini sebagai skenario yang ideal yang berpihak pada kemajuan bagi masyarakat?

Berbicara realistis, saat skenario di atas mungkin menjadi sangat ideal dan susah menjadi kenyataan, itu tidak berarti kita tidak boleh mencoba dan membuat perubahan ke arah yang lebih baik dan benar. Buka dengan wanita yang membatasi kemampuan mereka demi seorang pria yang akan meminangnya yang tentu ini merugikan masyarakat kita secara keseluruhan. Sebaliknya, kemajuan perempyan untuk berpendidikan tinggi secara kolektif tidak hanya akan mengangkat satu kelompok gender, tetapi juga seluruh bangsa.


Henry Manampiring adalah Direktur Eksekutif Bidang Perencanaan Strategis pada Leo Burnett Indonesia dan penulis buku “The Alpha Girl’s Guide”.

Artikel ini hasil terjemahan dari artikel berjudul Honours or Husbands? The Tough Choice of Indonesian Women.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *