Lembaran Cerita Mahasiswa – Adaptasi

The end is the beginning and the beginning is the end – Bagian akhir adalah permulaan dan permulaan adalah bagian akhir.

Itulah kutipan Smashing Pumpkins yang ditulis Abang Dizar Al Farizi di status Facebooknya. Dan pagi ini juga telah tersaji hangat ‘dangdut’ ala Rhoma Irama yang menjadi top hits-nya Pak Jono. Sewaktu dengan itu, jari tangan saya selekas menari-nari kompak di atas keyboard QWERTY netbook lenovo ini. Dan kini saya ingin bercerita tentang dunia.

Jangan takut menjadi diri sendiri
Cerita ini bukan sepenuhnya tentang saya, karena ini juga tentang teman saya, H. Adalah akibat dari pertemanan yang berlangsung sekira lebih dari lima tahun yang lalu, ketika beberapa saat setelah menyandang status mahasiswa.

Yang aku kenali, H adalah seorang mahasiswa yang pandai, rajin, giat dan aktif. Setidaknya itulah yang lahir dari pandangan dan penilaianku. Bahkan sesekali dan seduakali sempat membuat saya inferior. Betapa tidak, ia berasal dari SMA favorit, sedangkan aku dari SMA pinggiran.

Setidaknya, diferensiasi dan stratifikasi terus berkelindan dalam pengambilan keputusan akan penilaian itu, meskipun itu hanyalah satu dari sekian banyak parameter. Unsur subjektifitas seringkali tersatukan dalam menilai orang lain, saat itu benar-benar sulit untuk dipisahkan ataupun dihilangkan.

Padahal pula, unsur itu bak secawan racun, jika ditelan semakin menghanyutkan dan menghancurkan. Maksudnya, jika itu terus dipegang sebagai kriteria, menjadi pertimbangan dalam menilai seseorang, justru akan semakin menyesakkan dada hingga membuat kita sulit untuk bisa bangkit, untuk mengejar ketertinggalan dan untuk maju selangkah lebih baik.

Tidak heran juga jika gaya ‘metropolitan’ terkesan kuat dalam dirinya. Tidak dengan saya yang terkesan jauh tak berbatas dengannya. Tidak hanya dari sisi gaya, tetapi juga intelektualitas. Meskipun saya menilai bahwa saya masih tergolong average, tidak terlalu bodoh-bodoh amat, tapi semasa itu terdapat jurang pemisah yang amat curam.

Ia semasa itu berkawan dengan J, C dan B. Sedangkan aku sering disandingkan dengan inisial F, yang konon lebih norak dari saya sendiri, it feels ridiculous. Tapi entah, rasanya itu adalah dampak budaya toleransi waktu yang terasa sangat miskin, entah atau justru dimiskinkan. Atau bahkan merekalah aktor pendukung pemiskinan itu. Yang jelas saya hanya bisa melihat efeknya, di samping memang si F juga tidak tampak peduli melakukan upaya pembenahan diri untuk tidak seculun itu.

Ah lupakan saja, itu adalah sejarah kriminalisasi harga diri saya juga, karena saya juga dianggap culun. Ah itu tidak penting, ada yang lebih penting di sini dan nanti. “Karena yang perlu itu ditunjukkan adalah kualitas (bukan identitas), maka lihat saja nanti”, gumam saya dalam hati.

BE PART OF US is merely a promise
A adalah salah satu organisasi yang patut diperhitungkan bagi siapa saja, para mahasiswa baru, di fakultas saya. Mungkin karena berdasarkan pertimbangan namanya yang cukup elegan, di samping promosinya yang cukup dahsyat, “Be part of us, we are one and always be one”. Tentu saja membuat terkesima bagi siapa saja yang mendengar dan melihat promosinya.

Tidak lama bersela, kita menjadi bagian dari organisasi A. Dan ini adalah sifatku, aku adalah tipe observer. Maksudnya saya lebih suka diam dan hening daripada talk more but nothing, di samping karena saya juga masih belajar adaptasi. Tidak sekadar beradaptasi dengan teman-teman ini tetapi juga dengan organisasi baru ini. Dari situ saya diklaim sebagai ‘orang bodoh’, miskin inisiatif, tidak komunikatif atau apalah itu namanya. Setidaknya itu adalah penilaian saya terhadap apa yang menjadi sikap teman-teman terhadap saya.

Patut saya akui. Memang saya masih butuh banyak, belajar dari lingkungan sekitar dan dari orang lain. Intinya, yang aku cari adalah belajar untuk menjadi diri sendiri. Memang daam proses itu tidaklah semudah menyajikan mie instan. Di situ saya harus belajar untuk tidak mudah terpengaruh dengan orang lain.

Satu hal yang tidak dapat dipungkiri, bahkan jika harus mengelak, sebetulnya semasa itu saya hanya masih berkontemplasi secara rasio, namun senyatanya itu sangat tampak jelas juga berpengaruh pada sikap. Karena tampak selalu diam selaksa bahasa itulah saya sering diperlakukan inferior.

Bukanlah manusia jika hidup tanpa kepentingan. Prinsip umum itu telah berakibat pada diriku dan semua temanku. Organisasi A memiliki kepentingan dan kecederungan terhadap organisasi lain. Dengan kata lain, organisasi A telah sukses terintervensi oleh kaum-kaum pragmatis untuk bisa mengusung anggota-anggota dari organisasi A. It is the deceit of a promise.

Hiruk pikuk telah terjadi hampir setahun berlalu. Dan itu adalah setahun hiruk pikuk hati saya membuncah, ingin melampiaskan apa yang hati katakan, apa yang jiwa butuhkan dan apa yang pikiran inginkan. Hiruk pikuk karena gesekan gerilya kaum pragmatis sudah hampir menelanjangi organisasi A di bawah selimut. Bahkan secara terang-terangan saya sempat diajak untuk ikut menjadi bagian dari kaum pragmatis itu, ketika komando organisasi A mengetahui bahwa saya akan bergabung dengan U dengan alasan untuk mengasah kemampuan argumentasi dan berbahasa asing.

Tapi bukanlah Arul jika menuruti kehendak orang lain tanpa alasan yang jelas. Yang jelas sekali bahwa kepentingan anda bukan kepentingan saya dan bahwa sekali prinsip tetaplah prinsip, keputusan akan menjadi hilang kepastian hukumnya jika apa yang telah diputuskan ditarik kembali. Akhirnya, beberapa minggu setelah itu saya resmi menjadi bagian dari U, bersama dengan H.

Keikutsertaan saya dengan organisasi U itu lebih pada pertimbangan untuk mengondisikan pikiran untuk terus tetap maju dan aktif, menjadi pribadi yang optimis dan berwawasan luas. Sebab, anggota U tidak sebatas mahasiswa satu fakultas, tetapi mahasiswa seluruh fakultas di kampus saya.Selain juga pertimbangan karena U menawarkan prospek yang lebih jelas, berkat promosi yang digencarkan secara dramatis dari R, yang sudah dua tahun menjadi anggotanya yang juga merupakan anggota A.

It is that the end is the beginning
Keikutsertaan saya di U tentu berpengaruh banyak pada ketidakaktifan saya di A. Saya lebih merasa nyaman untuk tinggal dan bersua dengan teman-teman di U. Mungkin karena mereka lebih toleransi, mereka mau untuk saling berbagi dan belajar, mereka sangat terbuka dan sangat sportif. Dari situ saya bisa belajar banyak, dari situ pula saya merasakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang telah dan sedang terjadi di A.

Ini adalah permulaan, the beginning of the end. Bagian akhir saya untuk merelakan hari demi hari, waktu demi waktu untuk A, sekaligus bagian awal bagi saya untuk menjadi bagian dari U. Selanjutnya saya lebih banyak disibukkan pada beberapa kegiatan yang lebih cenderung pada pengembangan diri yang diadakan oleh U.

Dari sini, adalah pengalaman pertama saya untuk ikut berkompetisi. Tidak peduli apakah itu hanya tingkat lokal (kampus), yang penting saya bisa berkompetisi mewakili fakultas. Dari kedengarannya saya terasa intelektual sekali, saya mewakili Fakultas Hukum untuk english debate competition. Saya berani memutuskan untuk ikut menjadi bagian dari tim bersama dengan H dan Fa.

Duh, lagi-lagi bersama si H yang sok elitis itu. Tapi tidak apa-apa, karena saya di sini untuk berkompetisi, bukan untuk yang lain. Intinya saya harus bisa melakukan yang terbaik.
Hari yang ditunggu-tunggu pun datang, hari puncak euforia berkompetisi yang telah menjemput di balik pintu. Babak penyisihan sukses dilampaui melawan senior FISIP, meskipun dengan perdebatan yang tidak jelas dan tidak terarah. Maklum kami tim yang masih belajaran, belum mengetahui secara lengkap tentang metode dalam debat.Babak perempat final pun juga terlampaui dengan sukses.

Akhirnya, babak semifinal pun tiba. Ini adalah saat-saat yang dramatis dalam sejarah pedebatan d kompetisi ini. Betapa tidak, kami harus melawan tim Fakultas Kedokteran yang sudah mahir menggunakan Bahasa Inggris. Bahkan dari mereka ada yang sudah pernah menginjakkan kaki di Perancis dan Malaysia. Sedangkan saya, hanya masih menginjakkan kaki paling jauh hanya di area Jawa Timur. Sungguh ini menjadi beban yang terasa sangat berat, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang terasa ringan dan mudah tanpa kendala. But, nothing to lose, apapun hasilnya saya sudah berusaha, saya sudah mempersembahkan yang terbaik untuk tim, untuk Fakultas Hukum.

Detik-detik pengumuman pun tiba. Dari yang tadinya I hope seolah telah bergeser menjadi I wish. Unsur subjektifitas yang terus berlabuh telah sukses ikut serta mendukung raibnya prestasi dan menurunkan kreativitas dalam-dalam. Saya berhenti.

Saya harus berhenti di babak semifinal. Kami belum seberuntung mereka. Biarlah mereka mewakili chamber saya di semifinal. Saya merelakan sepenuh hati, meskipun sesekali menahan sesal. Tapi memang harus diakui tim mereka jauh lebih layak dari tim kami.

Saya pun mensyukurinya, tiada sesal sedikit pun. Ini adalah pengalaman terbesar dan sangat berharga, setidaknya untuk tahap adaptasi. Sekaligus ini adalah cerita penting yang perlu dicatat di tahun 2008.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *