Menegasikan Stereotypes

Perjalanan malam ini mungkin akan menjadi bagian dari cerita paling dramatis sepanjang saya kuliah dan traveling di India. Perjalanan ini adalah saat saya bertolak dari Hampi menuju Hyderabad. Ini adalah perjalanan pulang saya, saat di Sleeper Class Train, yang merupakan akhir dari 14 hari traveling di India Selatan. Selama 14 hari, saya mengunjungi beberapa titik utama India selatan (Negara Bagian Kerala, Tamil Nadu dan Karnataka). Oh iya, ini sekaligus kali terakhir traveling saya selama tinggal di India. Hari ini 8 September, saya pulang ke Indonesia 14 September 2015.

Kereta yang saya naiki saat perjalanan dari Hampi menuju Hyderabad ini di pertengahan rute selalu melepaskan 3 gerbong paling belakangnya untuk selanjutnya disambung dengan kereta lain dengan rute Hyderabad. Sedangkan kereta utama berlanjut menuju Visakhapatnam (621 km dari Hyderabad). Saya tahu akan ada pemisahan rute, tapi itu tidak dijelaskan di tiket. Dan, sepanjang saya traveling menggunakan kereta, saya tidak pernah punya pengalaman pemisahan rute kereta.

Cerita berawal, saat itu, saya bersama seorang teman India yang saya kenal di Stasiun saat menunggu kereta datang. Seperti biasa, saat traveling, saya tidak hanya mengunjungi tempat-tempat baru tetap juga berusaha untuk mengenal orang-orang baru sebagai bagian dari traveling ‘antropologi’ saya.

Dia di Gerbong 6, saya di Gerbong 8. Karena terlalu asik ngobrol sampa tiba saatnya saya mau kembali ke gerbong saya. Saat saya turun dan menuju ke gerbong 8, ternyata gerbong yang saya naiki itu adalah gerbong paling akhir. Gerbong saya sudah tidak ada. Pada akhirnya, saya kembali menuju ke teman tadi yang barangkali tahu solusinya. Akhirnya kita tanyakan kondektur. Menunggu kondektur kereta cukup lama,sekitar 10 menit dan akhirnya kereta berjalan dan saya ikut dalam perjalanan kereta yang setelah saya cek di Google Maps ternyata arahnya semakin menjauh dari Hyderabad. Bodohnya dan mungkin karena panik, saya tidak tanya ke Bapak di Stasiun.

Setelah 10 menit menunggu, Bapak Kondektur mengatakan mengatakan bahwa gerbong saya dilepaskan di stasiun sebelum. Bapak kondektur kereta tidak memberikan solusi, hanya menginformasikan pelepasan gerbong kereta. Selebihnya dia hanya menjawab, “I don’t know” sambil dua tangan terangkat ke atas. Itu adalah ekspresi yang lazim orang India lakukan saat hendak lepas tangan.

Saya disarankan teman saya tadi turun di stasiun berikutnya, sekitar 15 km akan tiba di stasiun berikutnya. Saya harus turun di stasiun berikutnya, kembali ke arah stasiun pelepasan gerbong saya tadi (2 stasiun sebelumnya). Saya buka dompet, uang tersisa hanya 240 Rupees. Rekening SBI saya sudah habis saya buat traveling semua. Ini tidak mungkin kalau saya harus turun. Saya tidak punya uang untuk kembali, naik auto/bemo? Uang 240 Rupees tidak bakal cukup apalagi saat saya lihat di Google Maps, lokasi stasiun relatif sangat pelosok. Tapi, kalau saya kalau tetap di kereta itu, saya bakal semakin menjauh dari Hyderabad. Dan ini bakal semakin rumit permasalahannya.

Dan ternyata, di stasiun yang dibilang 15 km tadi, kereta tidak berhenti. Kereta hanya berjalan sedikit melambat. Saya mau loncat, tapi sedikit ragu. Dan akhirnya saya putuskan meloncak turun. Banyak orang pada teriak, baik yang di dalam kereta maupun di luar kereta. Pedagang asongan juga ikut berteriak, “Hi Chinese what are you doing?” Rupanya saya dianggap orang Chinese. Wajar, yang orang India tahu adalah China dan orang Asia Tenggara seringkali dianggap sebagai Chinese. Belakangan saya baru tahu, mereka mengira saya hendak bunuh diri!

Setelah saya turun dari kereta, saya dikerumuni banyak orang. Lazimnya orang India, setiap ada suatu kejadian, orang India akan pada berkerubung. Satu atau dua di antara mereka bertanya dan selebihnya menonton dengan seksama, dengan tangan terkunci ke belakang. Saya dianggap barang tontonan.

Parahnya! Mereka tidak bisa bahasa Inggris. Bahasa Inggris yang mereka ketahui hanya bahasa Inggris dasar. Saat saya tanya, mereka balik tanya, “Hindi ata, yaar?” Saya melempar jawaban balik, “Nei Hindi, English please bhaiya”. Bagaimana mungkin orang yang mereka anggap Chinese ini bisa bahasa Hindi. Mereka hanya bisa berbahasa Hindi, saya hanya bisa berbahasa Inggris. Akhirnya, kita hanya bisa menggunakan bahasa isyarat yang intinya saya disarankan menuju pegawai di loket stasiun. Stasiun itu kecil, kira-kira seperti Stasiun Arjasa di Jember. Saya bertemu langsung Bapak Ketua Stasiun, dia bisa berbahasa Inggris, meskipun kadang masih bercampur dengan bahasa lokal. Waktu menunjukan pukul 8.40 malam, saya disarankan tenang. Sebentar lagi, 5-10 menit akan ada kereta datang menuju arah stasiun tempat pelepasan gerbong saya.

Saya tanyakan, “memang waktunya cukup?”

“Semoga cukup, kalau kereta datangnya tidak telat” jawabnya.

Saya semakin panik. “Bagaimana kalau ternyata saat saya sudah sampai stasiun itu, tapi kereta saya sudah berangkat?”

Beberapa orang yang tidak bisa bahasa Inggris tadi kembali bergerombol. Ternyata, dalam rentang waktu saya komunikasi dengan Bapak Kepala Stasiun, mereka mencoba merangkai kalimat berbahasa Inggris. Satu orang mencoba berbicara dalam bahasa Inggris dengan sangat pelan, “tenang saja mas, pasti baik-baik saja.” Satunya lagi menambahkan, “oh iya, Ini minum dulu, chai atau kopi? Gratis tidak usah bayar. Saya tahu kamu lagi cemas.” Mereka adalah pedagang asongan di area itu yang mengklaim sudah berpengalaman dan tahu jadwal kereta.

Setelah kereta yang dimaksud datang, naiklah saya menuju tujuan stasiun saya tadi, Stasiun Guntakal. Perjalanan kira-kira sekitar 1 jam menuju Stasiun Guntakal. Saat itu waktu menunjukkan 8.52 malam. Berarti untuk sampai stasiun Guntakal setidaknya pukul 9.52 malam. Sedangkan kereta saya selanjutnya akan berangkat pukul 10.05 malam. Saya semakin cemas saja.

Saya di antarkan oleh dua Bapak pedangan asongan tersebut. Saya dicarikan tempat duduk dan diceritakan kalau saya mau kembali arah Guntakal karena rutenya ke Hyderabad. Bapaknya juga tidak lupa menawarkan saya chai kembali. Dalam benak saya masih ada kecurigaan tentang keburukan perilaku orang-orang India. Stereotypes yang dibangun media seringkali masih membuat saya banyak menaruh curiga kepada orang-orang India, khususnya di area yang saya sama sekali tidak mengenal itu. Padahal saya sudah dua tahun di India, kadang masih belum bisa percaya sepenuhnya tentang kebaikan dan kejujuran orang-orang India.

Saya duduk di dekat pintu antargerbong. Saya duduk yang tampaknya kelihatan masih sangat cemas yang akhirnya ada seorang India menanyakan ke saya, “ke Guntakal ya Mas? Santai saja Mas, estimasi saya pasti sampai. Tenang saja”.

“Iya, Pak. Saya harusnya dengan Kereta yang ke arah Hyderabad. Gerbong saya dilepaskan di Guntakal”, jawab saya.

Setelah berkenalan, ternyata Bapak ini juga akan turun di Guntakal. Bapak ini sesekali dua kali membuka smartphone dan bilang, “gerbongnya masi di Guntakal. Nanti berangkatnya jam 10.15. Terlambat 10 menit dari jadwal awal”.

“Bapak kok tau?”, tanya saya.

“Saya co-masinis, Mas. Saya bisa monitor seluruh jadwal kereta di India di hape saya. Semua akan baik baik saja. tengang saja Mas”, Sahut dia.

Saya juga ikut monitor perjalanan yang paling banter di Google Maps. Jarak semakin mendekat dan sampailah pada jarak 2 km, namun kereta tiba-tiba berhenti sekitar 10 menit.

“Lho kenapa kok berhenti, Pak? Ini sudah jam 9.55.”

“Pergantian track kereta ini. Mungkin 5 menit lagi akan jalan lagi”, Jawabnya.

Kereta sampai di Stasiun Guntakal pukul 10.07 malam. Saya langsung ditarik sama Bapaknya dan diajak lari ke arah platform gerbong kereta saya. Sesampai di Platform dan Gerbong kereta saya, saya diminta cek barang-barang saya apakah masih ada dan aman. Saya meninggalkan satu tas ransel yang sebelumnya saya titipkan ke dua orang yang saya sempat berkenalan singkat, mereka berdua Muslim. Dan ini sekaligus menepis stereotypes buruk tentang Muslim di India dari pengalama saat saya bersama seorang teman traveling di Gujarat. Saat itu kita di masjid dan dalam posisi tas ditinggal ambil wudhu. Tas teman saya digeledah dan hampir saja handphone-nya dicuri.

Setelah saya menemukan tas dan memastikan isi di dalam tas, semua tidak ada yang hilang. Memang tidak ada barang yang terlalu berharga. Dompet, kamera DSLR dan hape saya bawa semua. Tas hanya berisi oleh-oleh khas Kerala.

Setelah semua aman, saya mengucapkan terima kasih ke Bapaknya. Dan Bapaknya minta saya menunggu, “tunggu Mas. Bawakan tas saya.”

“Kenapa?” tanya saya agak heran.

“Saya mau ke toilet dulu.” jawab dia sambil lari menuju toilet dalam kereta.

Ternyata dia sudah sejak turun kereta tadi sudah ingin ke toilet, demi membantu saya agar tidak tertinggal kereta.

Malam ini, saya belajar banyak tentang India dan orang-orangnya. Stereotypes membuat orang-orang India buruk. Seringkali selanjutnya orang India dihakimi atas dasar hitam dan putih, terlalu digeneralisasi. ternyata tidak semua orang India seperti itu. Bahkan orang India sekelas pedagang asoangan pun, mereka masih memiliki hati nurani, rasa kemanusiaan untuk memberikan pertolongan kepada orang yang kesusahan. Bahkan dengan pekerjaan mereka sebagai pedagang asongan kereta yang tidak seberapa, mereka masih sempat menawarkan chai gratis.

—————————————————————

Status ini saya narasikan kembali dari status saya:
Tersesat di tengah jalan, 300 km away from Hyderabad, then mikir solusi cepat. Loncat dr kereta, turun di pedesaan, malam-malam lagi. Dann, saat lihat dompet tinggal Rs. 240. Wih, tambah seru. Traveling is the journey of adventure. 

 

Sumber: Status FB saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *