Merefleksikan Kepemudaan Indonesia

Hari ini tepat 85 tahun para pemuda Indonesia bangkit mengambil bagian dari perjuangan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Dengan ikrar satu tanah air, satu bangsa dan berbahasa persatuan, para pemuda bersatu erat-padu, memperjuangkan bangsa dan negara Indonesia.

Dasa warsa demi dasawarsa terus berjalan dan beberapa perubahan telah ditorehkan oleh para pemuda bangsa. Tetapi apa yang sudah ada tentu belumlah cukup. Kekuatan pemuda yang sesungguhnya belum pernah digunakan dan kontribusi dan perubahan yang sesungguhnya yang dilakukan oleh pemuda belum juga dapat dirasakan seutuhnya.

Bahkan yang sangat miris justru para pemuda Indonesia dalam perjalanannya masih belum seutuhnya bersedia mematuhi sumpah yang telah diikrarkan itu. Tidak jarang pemuda terpisah-pisah dan terpecah-pecah menjadi golongan-golongan yang rasanya sulit untuk bersatu padu. Rasanya pula, pemuda dalam perjalanannya masih didominasi dengan nuansa politis praktis, ketimbang tentang kepedulian sosial dan dialektika keilmuan, menjadi pemikir yang konstruktif tidak sekedar mengkritik, tetapi juga menawarkan pemecahan permasalahan yang tengah dikritiknya itu.

Sebagai bagian dari pemuda Indonesia, tentu kita tidak ingin Sumpah Pemuda akan ditikam oleh sejarah dan hanyut dalam peringatan yang seremonial. Semua dari kita tentu selalu menginginkan spiritnya masih hidup, terjaga dan terpelihara.

Dari refleksi ini, saya tidak lepas dari kritik dari apa yang saya tulis di atas, dan dari refleksi ini saya juga ingin mengatakan bahwa sesungguhnya saya merasa masih tidak pantas menjadi bagian dari pemuda jika tetap mempertahankan pemaknaan sumpah yang tampak bergeser itu.

Meski demikian, dari refleksi ini pula, saya menemukan secercah semangat dan harapan. Bahwa masih punya banyak kesempatan untuk menjadikan diri pantas menjadi bagian dari pemuda Indonesia dengan berkontribusi sebaik mungkin bagi bangsa dan negara ini. Tidak pernah berhenti bercita-cita besar, menolak pasrah dan menolak tunduk dalam keadaan apapun untuk mempertahankan Indonesia yang bermartabat.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *