Mungkin ini terasa agak berbeda. Atau bahkan ini terdengar aneh bagi kalian. Tahukah kalian bahwa saya adalah penggemar nyanyian pengamen yang berbakat.

Saya bukan bermaksud mendikotomikan kualitas pengamen, namun yang terjadi di lapangan memang begitu adanya. Coba perhatikan, pasti kalian juga akan menemukan dan bisa membedakan antara pengamen mana yang berbakat dan asal-asalan. Yang asal-asalan ini yang kerapkali membuat saya ‘eneg’, tak sebanding dengan keberanian dan kenekatannya.

Berbeda dengan yang sudah terlatih atau yang berbakat. Ketika mendengarkan nyanyian para musisi jalanan seperti ini, seolah satu harapan merekah dan membuat saya merasa salut. Sambil bertanya-tanya dalam ubun-ubun pikiran ini, kenapa mereka tidak mencoba mengikuti seleksi Indonesia Mencari Bakat? Mungkin dari situ satu dua langkah tersusun menjadi bukit. Terasa sangat disayangkan jika sebuah bakat emas sekadar tersodorkan demi selembar uang seribu atau bahkan koin ratusan itu.

Dan kini pengamen yang bersuara merdu itulah yang mengantarkan perjalanan hatiku. Adalah perjalanan dari Pasar Jumat-Kuningan. Meskipun pengamen berbakat itu hanya mampu menemani sekira 5 menit, saya sangat menikmatinya, saya mendengarkan baik-baik di setiap jengkal suaranya, alunan suara merdu yang kompak dengan iringan bunyi guitarnya yang semakin memperindah suasana. Bahkan suasananya seolah terasa mampu mengalahkan konser besar para musisi papan atas sekalipun.

Benar-benar saya merasa terhibur. Benar-benar suatu kebahagiaan itu tidak harus mahal. Dan benar-benar kebahagiaan itu bisa diraih dengan kesederhanaan.

Ternyata di saat pemerintah tengah menilai mereka sebagai sampah jalanan, begitu halnya dengan sebagian masyarakat kastanis yang kian berpikiran demikian, justru saya berpandangan berbeda. Di situ ada sebuah kekuatan, terkandung sisi positifnya, yang senyatanya mereka telah berjasa besar, dengan mereka berfungsi sebagai penghibur lelah di tengah suntuknya kemacetan jakarta yang hampir tak pernah lengang sedetik pun itu. Penglipur lara kebijakan pemerintah yang hingga kini masih tak mampu mengentaskan kemacetan ibu kota ini.

Di tengah lamunan ini, dendang lagu yang dilantunkan mereka adalah lagu-lagu lama, lagu perjuangan remaja tahun 2000an, lagu ketika saya masih SMA. Nyanyian itu seolah telah membisikkan sesuatu ke dalam jiwaku untuk merasakan kembali masa-masa SMA. Seraya alunan musiknya yang seolah bermaksud menyampaikan suatu kata ke dalam hatiku tentang sesuatu hal yang masih terasa sendu.

Pada waktu yang bersamaan, entah pula apa kehendak Tuhan hari ini. Saya tak tahu betul dan saya tak habis pikir. Saya tak tahu apa maksudnya ini, kala saya menatap sebuah tulisan di dalam Kopaja 20, yang tengah saya naiki. Di dalamnya terpampang melintang sebuah goresan bertuliskan, “Akhir Penantian Panjang”.

Saya tak bisa lebih, hanya kuasa untuk tersenyum kecil, sambil mengernyitkan dahi sambil berpikir, memutar otak, mencari makna yang terkandung di dalamnya dan tentang apa hubungannya dengan yang telah dan baru saja terjadi pada diri saya.

Dalam perjalanan ini, saya terus mencari arti itu, kembali berulang-ulang bertanya dalam pikiran hati, berusaha menerka-nerka, apa maksudnya. Dan saya pun terus terang, saya harus jujur, bahwa saya juga kurang tahu kedalaman arti itu. Namun ketika dirunut ke belakang dalam perjalanan hidup saya, ternyata saya menemukan banyak hal tentang penantian panjang itu. Mungkin sama banyaknya juga dengan penantian panjang kalian.

Mungkin pula karena tulisan itu yang membuat saya merasa nyaman berada di sini, berlama-lama sambil berdiri di sini, di tengah himpitan para penumpang lain yang akan sibuk dengan aktivitas paginya.

Ya, saya kali ini tidak bisa berbohong, saya benar-benar merasakan sesuatu yang indah dari rangkaian kata itu. Namun satu makna pertama dari rangkaian tiga kata itu jelas bahwa saya telah lama menunggu, dan penantian itupun telah berakhir. Saya hampir setengah jam menunggunya di Pasar Jumat, menunggu Kopaja 20, hingga kutemukan bus yang bertuliskan akhir penantian panjang itu untuk menuju arah ke Kuningan. Dan akhirnya, saya sampai juga di salah satu kedutaan di Jalan Rasuna Said itu.

Ini adalah makna penantian panjang yang pertama. Di kemudian, tentu masih ada banyak penantian-penantian panjang yang lain. Bahkan mungkin juga tentang penantian panjang yang tertunda lainnya. Dari semua itu, dalam penantian, sikap yang perlu saya lakukan adalah menikmati. Menanti tidak harus terasa benar-benar menanti dan letih karena penantian itu.

Dalam penantian itu, terbersit sebuah makna, untuk menikmati betapa indahnya perjalanan itu, betapa indahnya rencanaNya yang menjadikan betapa lengkapnya petualangan hidup. Karena hidup bukan semata tujuan, melainkan tentang proses, perjalanan dan petualangan. Yang paling penting dari kesemuanya adalah kemampuan manusia untuk mensyukurinya, mengambil hikmah di balik kejadian-demi kejadian, suka dan duka, dan terus menikmatinya.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *