Rewriting Excellence

Excellence is not a destination, but a journey that may never end.

Kutipan di atas adalah salah satu motivasi dalam hidup saya. Selain memiliki tujuan, diperlukan juga menikmati perjalanan hidup.


Saya adalah satu di antara anak Indonesia yang menghabiskan seluruh usia belia hingga remaja di kampung halaman. Seperti anak kampung pada umumnya, saya mengenal dan belajar hidup dengan bercengkrama dengan alam. Bermain di sawah, naik gunung, hingga mandi di sungai adalah medan belajar sekaligus menjadi ruang berpikir bagi saya.

Mungkin, saya adalah dari sekian anak Indonesia yang kurang beruntung. Saat masih kecil, saya tinggal di kampung dan tidak begitu banyak akses untuk mengenal dunia luar, tidak banyak kesempatan layaknya yang didapatkan oleh anak-anak seusia di pusat kota maupun ibu kota. Namun demikian, pendidikan agama yang ditanamkan orang tua, terlebih tinggal dalam lingkungan pesantren, menjadi bagian lain yang tak ternilai dalam hidup saya. Tidak banyak anak seusia saya mendapatkan pengalaman serupa. Terlebih, pengalaman ini semakin mengajarkan saya untuk memahami Indonesia yang beranekaragam budaya dan memiliki permasalahan sosial yang kompleks. Kompeksitas tersebut baru mulai saya pahami saat saya mulai duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA). Pemahaman ini berkat saya semakin rajin membaca ensiklopedia dunia dan mulai gemar membaca buku bertemakan kajian sosial dan kebudayaan Indonesia dan Islam yang tersedia di perpustakaan.

Saat memulai usia remaja, saya harus duduk di bangku MA, sama sekali bukan keinginan saya pribadi. Itu adalah keinginan kedua orang tua saya dengan tujuan agar pergaulan saya bisa lebih terkendali dan dapat seimbang antara keilmuan dan perilaku; sebenarnya saya masih merasa belum begitu menemukan relevansi dengan menghubungkan antara menjaga pergaulan dan sekolah di MA. Bukan menjadi keinginan pribadi karena saat itu saya merasa layak untuk duduk di SMA Negeri yang secara luas dianggap sebagai sekolah yang lebih baik. Lebih baik karena embel-embel negeri selain nama SMA lebih bergengsi daripada MA. Saat itu, saya sudah mengukur dari nilai hasil UN saat kelulusan dari MTs, yang sudah mencukupi batas minimum untuk bisa diterima di SMAN.

Karena bukan kehendak pribadi saya duduk di bangku MA, mulai terlahirlah sikap kritis. Saya seringkali dalam hati menolak sistem administrasi maupun sistem pengajaran di MA, termasuk sering menolak retorika guru-guru yang tidak mengajarkan siswa berpikir kritis. Saya terkadang memprovokasi teman-teman terhadap guru yang datang mengajar hanya sebagai syarat masuk sekolah. Terlebih, jam sekolah saat MA seringkali kosong; saya selalu membandingkan tidak seperti saat duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang sangat disiplin, gurunya lebih tekun, lebih serius mengajar dan penuh ruang diskursus.

Sudah menjadi rutinitas sejak MTs, hampir setiap jam kosong dan waktu istirahat saya meluangkan waktu membaca koleksi buku di perpustakaan. Sampai-sampai, sehabis lulus pun pegawai perpustakaan selalu ingat saya adalah salah satu di antara siswa yang rajin berkunjung ke perpustakaan. Kebiasaan ini juga berlanjut saat saya duduk di MA. Terlebih, saat belajar di MA saya mendapati lebih banyak jam kosong yang membuat saya selalu resah. Keresahan tersebut muncul karena merasa tertinggal oleh teman-teman seusia yang duduk di SMA lebih bagus dan favorit. Saya merasa menjadi semakin tertinggal dan saya perlu mengejar itu. Saya merasa tidak bisa mengandalkan jam pelajaran sekolah yang isinya hanya itu-itu saya. Melainkan, saya harus giat dan rajin berkunjung ke perpustakaan agar saya bisa setara dengan teman-teman di sekolah lain. Keresahan itu setidaknya terobati dengan berkunjung ke perpustakaan.

Setelah lulus dari MA, saya melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN). Ini adalah cita-cita terakhir saya, setelah keinginan besar melanjutkan ke SMAN kandas. Kali ini, saya merasa tidak ada seorang pun bisa melarang saya termasuk orang tua untuk melanjutkan kuliah di PTN. Saya mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) — saat ini bernama SBMPTN. Ini adalah seleksi nasional yang cukup kompetitif dan saya sudah mempersiapkan ini sudah setahun lebih, bahkan jauh lebih sungguh-sungguh mempersiapkan SPMB daripada UN.

 

Patience, persistence, and perspiration make an unbeatable combination. Napoleon Hill

Banyak cerita dari kenapa saya kemudian memutuskan kuliah ilmu hukum yang padahal saat duduk di bangku MA kurang menyukai pelajaran PPKN. Maupun cerita kenapa saya terus berkeinginan kuliah di luar Indonesia yang untuk mencapainya ternyata penuh dengan keterbatasan dan tantangan. Sejak kelas 2 MTs saya memang pernah bermimpi menjadi seorang ilmuwan yang mengenyam pendidikan di luar negeri. Cita-cita ini lahir karena terinspirasi banyak dari guru bahasa Inggris yang selalu meledak-ledakkan semangat setiap pertemuan kelas dan terus mendorong saya secara pribadi untuk mampu menembus batas-batas kemampuan saya. Pesan utamanya, dengan mengutip ayat Alquran yang kurang lebih terjemahannya begini, “kejarlah baik dunia maupun akhirat dengan ilmu, kehormatan bisa didapatkan hanya dengan ilmu pengetahuan; keagungan sesungguhnya didapatkan oleh mereka yang menguasai ilmu pengetahuan.”

Namun, perjalanan yang sudah saya jalani hingga saat ini tidak sama sekali terpikirkan sebelumnya, apalagi menekuni bidang hukum. Cita-cita awal, saya ingin menekuni bidang IPA, khususnya biologi. Saat itu, saat duduk di bangku MA, saya merasa bangga saat guru biologi berterus terang terhadap kemampuan saya dalam memahami dan menganalisis soal-soal yang diberikan saat ujian. Ini sangat memotivasi saya, apalagi semasa MTs nilai biologi saya memang cukup bagus. Bahkan, guru biologi ini sempat melarang saya mengambil jurusan IPS, sempat mengusahakan bagaimana caranya saya bisa mengambil jurusan IPA; Beliau meyakini saya akan jauh lebih berkembang apabila mengambil jurusan IPA.

Sayangnya, saya tetap yakin dengan jurusan IPS, gara-gara saya takut pelajaran kimia; guru kimia saya waktu itu galak dan tidak bisa menjelaskan materi dengan baik, saya takut nilai saya jatuh kalau ambil IPA. Singkat cerita, setelah saya ambil jurusan IPS, akhirnya tertarik untuk memelajari ilmu ekonomi, selain sosiologi. Ilmu hukum sebetulnya merupakan pilihan yang tidak begitu saya sukai.

Sejak duduk di bangku MA, saya kurang berminat memelajari PPKN atau hal-hal yang berbau hukum dan kenegaraan. Setidaknya, sosiologi justru jauh lebih menarik bagi saya; saya tertantang materi-materi konflik sosial, menurut saya Indonesia membutuhkan alternatif melalui kajian yang lebih mendalam. Itulah alasan kenapa saya akhirnya memutuskan untuk mengambil jurusan IPS.

Perjalanan tersebut juga terasa mengalir begitu saja. Saat saya yang merupakan lulusan MA, swasta lagi, pernah merasa inferior terhadap lulusan SMA Negeri. Sempat minder hingga hampir saja terjatuh dalam inferiority complex. Begitulah memang karena terdapat hukum tak tertulis yang seringkali berlaku untuk membeda-bedakan status dan intelektualitas atas dasar negeri dan swasta.

Untung saja, sepertinya cita-cita yang sudah tertanam sejak MTs masih saya rawat. Saya meyakini masa depan yang lebih baik berkat mimpi besar yang masih terus tergenggam erat. Usaha yang lebih adalah kunci dari itu semua. Karena saya meyakini bahwa sesungguhnya di dunia ini tidak ada orang yang bodoh apabila mau belajar dan berlatih. Kuncinya adalah usaha, berdoa dan tetap optimis!

 

We advance on our journey only when we face our goal, we are confident and believe we are going to succeed. Orison Swett Marden

Setelah lolos SPMB, saya memulai kuliah pada Fakultas Hukum Universitas Jember. Masa kuliah saya berlangsung dari tahun 2007 hingga 2011. Dalam transkrip ijazah saya, tertulis durasi kuliah selama 4 tahun 4 hari.

Selama menjadi mahasiswa, saya mengalami pasang surut. Dari Indeks Prestasi (IP) 2.76, 2.67, 2.85 hingga lulus dengan IPK 3.30. Saya pernah menduga mendapatkan IP di bawah 3.00 adalah bukti bahwa saya kemampuan akademik saya rendah. Saya sempat membuat penghakiman pribadi atas hasil ini dan ini terasa sangat menyakitkan. Saya sudah berusaha rajin belajar namun hasilnya tetap saja.

Belakangan, saya memahami. Ternyata ada ‘kesalahan’ dalam cara belajar dan menjawab soal ujian. Pertama, saat itu saya cenderung membaca referensi buku daripada materi dosen yang berisi slide-slide, biasanya dikumpulkan dari hasil mencatat di kelas, fotokopi catatan teman atau fotokopi materi PPT yang diberikan dosen. Kedua, saya menjawab soal ujian dengan parafrase. Saya berpandangan sangat mudah menjawab soal dengan redaksi yang sama bahkan dosen bakal menganggap saya menyontek atau bermodal hapalan yang tidak mendukung kemampuan berpikir kritis. Ternyata, saya harus sebaliknya, sikap ini ‘salah’ apabila ingin mendapatkan IPK yang bagus.

Itulah kenapa saya saat menjadi dosen saat ini tidak pernah membuat soal yang menuntut mahasiswa menghapal. Melainkan, mendorong kemampuan berpikir kritis dengan jawaban-jawaban analisis dengan rujukan kepustakaan yang jelas. Tidak hanya agar mahasiswa menghindari jawaban verbatim, tetapi juga untuk membangun dan meningkatkan karakter ilmiah (scientific temper) serta jiwa investigasi sehingga menjadi lifelong-learners. Saya meyakini, asesmen model ini yang lebih akurat untuk mengukur kesungguhan belajar mahasiswa saat akhir perkuliahan.

Terlepas dari itu, saya sebenarnya adalah tipe mahasiswa yang peduli dan tidak peduli dengan IPK. Maksud Peduli, masih penting bagi saya mengejar formalitas dengan nilai aman di atas 3.25. Maksud tidak peduli, karena asesmen perkuliahan tidak mampu menjamin kualitas mahasiswa, sebab berbasis hapalan, bukan analisis.

Bagi saya, belajar tidak selalu harus diukur dengan angka dan nilai. Ada hal yang tidak kalah dari itu semua, yaitu pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan lebih mengantarkan kita untuk menemukan kebenaran, pengalaman mengantarkan kita untuk menjalani hidup lebih matang. Nyatanya, semua itu tidak mesti bisa didapatkan di dalam kelas. Dan karenanya, saya melibatkan diri pada organisasi kampus untuk mengejar itu semua. Harapan terbaiknya memang seringkali begitu, istilahnya mengasah softskills. Faktanya belum tentu demikian. Semua juga masih tergantung pada diri kita sendiri.


Setelah lulus sarjana, saya pernah menjadi guru SMP di kampung, selanjutnya sebagai volunteer dan bekerja di LBH yang merupakan peta jalan baru dalam hidup saya. Lantaran, setelah lulus sarjana saya tidak bisa kemana-mana, sakit hampir satu tahun lamanya. Namun demikian, saya tidak begitu lama, sekitar enam bulan di LBH.

Selanjutnya saya mendapatkan beasiswa master dari Pemerintah India, Indian Council for Cultural Relations (ICCR) Scholarship. Saya memelajari hukum ekonomi internasional pada Osmania University dari 2013 hingga 2015. Di samping kuliah, saya juga aktif berorganisasi pada Perhimpunan Pelajar Indonesia di India (PPI India), sebagai ketua umum. Keaktifan di PPI semata terinspirasi dari sejarah Pelajar Indonesia di luar negeri yang berkontribusi menjadi lokomotif perubahan dan kemerdekaan Indonesia. Tidak lebih dari itu.

Saat ini, saya mengajar di Fakultas Hukum Universitas Jember. Bagi saya menjadi dosen adalah passion. Passion tersebut sudah mulai tertanam semenjak saya menjadi mahasiswa dengan terlibat pada kegiatan dan organisasi kajian dan penelitian. Saat itu, pada 2009, saya bersama tiga teman lain berinisiatif mendirikan Forum Kajian Keilmuan Hukum, yaitu organisasi dengan spesialisasi kajian dan penelitian hukum. Saya menjadi ketua periode pertama.

Sekalipun menjadi ketua, saya masih bisa meluangkan waktu untuk aktif mengikuti perlombaan nasional, seperti kompetisi karya tulis ilmiah maupun debat. Tidak sekedar partisipasi dan membusungkan diri saat sebagai juara. Pemenang sesungguhnya saya maknai saat mampu mencetak juara-juara baru. Bukan one man show! Karenanya, pada tahun akhir saya memutuskan untuk menjadi pemain di belakang layar. Karena, saya meyakini bahwa organisasi yang sehat harus memiliki warisan tradisi dan orientasi yang jelas ke depan.

Sepanjang menjadi mahasiswa, saya mendapatkan penghargaan sebagai Juara I lomba karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh Mahkamah Konstitusi (2009) dan lomba debat hukum nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia (2010). Pada 2011, saya terpilih sebagai Runner up mahasiswa berprestasi Universitas Jember. Saat S2, di tahun 2013, saya mendapatkan Ambassador Awards for Excellence dari KBRI New Delhi.

Regardless, apa yang telah terjadi menjadi cerita, sejarah dalam hidup saya. Banyak cerita-cerita baru, sejarah-sejarah yang perlu saya ukir, saya kejar, saya perjuangkan. Dan karena, hidup berjalan ke depan, catatan-catatan sejarah baru telah menunggu saya di depan mata. Dan tentu saja, blog ini sekaligus dimaksudkan untuk saling memotivasi dalam melakukan hal-hal terbaik yang masih bisa kita lakukan.


#Kepribadian
Sesuai dengan asesmen kepribadian menurut MBTI, tipe kepribadian saya adalah INTJ. Secara teoretis, tipe ini cenderung pragmatis, logis dan kreatif yang diidentifikasi sebagai individu yang analitis dengan standar intelektual yang tinggi dan jauh lebih merasa nyaman bekerja sendiri. Selain itu, INTJ adalah individu yang tegas, orisinil, berwawasan dan paling mandiri dari 15 tipe kepribadian MBTI lainnya. Sebagai salah satu tipe kepribadian paling langka, prosentase INTJ hanya sekitar 1-2% dari seluruh populasi dunia. Selengkapnya baca di sini.


#Milestones
2007:
Admitted to study law at Universitas Jember, Indonesia
2007:
Joined Asian Law Student’s Association (ALSA) Universitas Jember
2008:
Joined University Student English Forum (USEF) Universitas Jember
2009: Won as the 1st Place of the Constitutional Court’s National Writing Competition

2009: Founded and Elected as the 1st Executive Director of Forum Kajian Keilmuan Hukum (FK2H) Universitas Jember
2010: Won as the 1st Place of the National Law Debate Competition held by Universitas Indonesia
2011: Won as the 2nd Place of the Best Student of the Year (Mawapres) Universitas Jember
2011: Graduated from Universitas Jember Faculty of Law
2012: Worked as an Assistant Public Lawyer at Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya
2013: Got the Indian Council for Cultural Relations (ICCR) Scholarship, Awardee 2013-15
2013: Won the 2nd Place of the Ambassador Award held by the Embassy of the Republic of Indonesia, New Delhi
2014: Appointed as Vice Chairman of the Indonesian Student’s Association in India
2015: Appointed as the Chairman of the Indonesian Student’s Association in India, Chairman
2015: Graduated from Osmania University College of Law
2015: Appointed as the Director of the Al Bukhori Islamic Foundation

2016: Working  as a lecturer of law Universitas Jember
2017: Joined as the Researcher at the UNEJ Centre for Human Rights, Multiculturalism, and Migration
2017: Appointed as the Managing Editor of LENTERA HUKUM
2018: Became a visiting scholar at Nagoya University, Japan under the scheme of the Islamic Development Bank
2019: Founded and became the Director of kawanhukum.id
2019: Selected among 11 Participants from Southeast Asia to join the 43rd Southeast Asia Seminar held by Kyoto University, Japan
2019: Became a visiting scholar at Universitas Airlangga, Indonesia
2020: Founded and appointed as the Managing Editor of the Indonesian Journal of Law and Society