Tulisan ini pertama kali saya posting di laman Facebook, enam tahun lalu. Tepatnya pada 10 Juni 2012 yang merupakan momen detik-detik SNMPTN 2012. Bagi saya, momen SNMPTN 2012 mengingatkan saya pada SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) di tahun 2007. Saya menganggapnya sebagai babak peruntungan, nasib dan masa depan hampir setiap remaja lulusan SMA. Oh iya, zaman saya dulu namanya masih SPMB . Baru tahun berikutnya, 2008 menjadi SNMPTN. Entah SPMB atau SNMPTN, itu hanya berbeda istilah. Semuanya tidak ada bedanya, hanya berubah namanya saja.

Waktu ngerjain soal sih udah ‘no problem’, soal-soal relatif bisa dijawab. Waktu itu saya juga ada keyakinan bisa lolos. Meskipun,, sedikit banyak masih merasa cemas sih, galau bertalu-talu sejak usai tes SPMB hingga pengumuman seleksi (sekitar sebulan setelahnya). Terus terang, layaknya semua anak SMA yang hendak kuliah di Universitas, mau nggak mau pasti sempat terbayang-bayang dalam kepala. Mungkin juga hingga cemas bagaimana kalau ternyata tidak terseleksi di PTN yang telah dipilih.

Oh iya, saya waktu itu memilih Ilmu Hukum dan Akuntansi. Jadi, pasti ada pikiran bagaimana kalau ternyata saya tidak jadi kuliah pada program yang sudah saya idamkan. Bagaimana juga dengan nasib saya nanti, kalau tahun ini gagal belum tentu juga tahun depan untuk kesempatan kali kedua tes masuk PTN itu berhasil. Dan haruskah perjuangan yang tidak kurang dari setahun lamanya, perjuangan yang tidak kurang dari 25 model soal yang saya pelajari akan hanya sia-sia. Apa gunanya juga saya harus berlelah-lelah mengoleksi soal-soal semua itu, dari soal Proyek Perintis, UMPTN hingga SPMB, soal-soal dari tahun 1980an hingga 2006 jika hasilnya nanti akan berbuah kecewa.

Jumat, 03 Agustus 2007, pukul 06.30 WIB, pengumuman resmi pun sudah dapat dicek di koran nasional. Sebenarnya malamya sudah bisa dilihat di website SPMB. Sayangnya, waktu itu koneksi internet masih sangat susah, bahkan di daerah saya masih belum ada warnet. Tidak seperti sekarang, akses internet bisa didapat dengan mudah hingga ke pelosok desa hanya dengan smartphone.

Saat itu, saya pagi-pagi buta harus pergi ke pasar, membeli koran. Setiap ada niatan dan usaha pasti ada harapan. Entah hasilnya bagaimana. setelah membeli koran, langsung saya telusuri halaman yang mengumumkan hasil SPMB. Di halaman tengah terpampang luas, nama-nama kecil yang menghiasi seluruh halaman, berlembar-lembar.

Inilah hasil para calon mahasiswa yang beruntung, mereka yang diterima di PTN untuk regional III. Di balik halaman tertulis nama-nama universitas, dan tertera Universitas Jember. Seketika hati saya jadi kalang kabut. Dengan hati yang sedikit goyah, dan terus memenangkan diri, sambil mencoba mengikhlaskan diri seandainya tidak masuk seleksi. Dan tidak ada nama yang cocok dengan nama saya.

Di bawah pepohonan yang rindang itu, pohon yang mulai bergoyang dengan hempasan angin. Matahari yang mulai bersinar dan alam yang menumpahkan keceriaan hari itu tak lekas membuat hati saya seceria nuansa pagi itu. Setelah bermenit-menit lamanya, saya masih tidak sukses menemukan nama saya. Belakangan baru sadar ternyata pengumumannya diurutkan sesuai dengan nomor ujian. Sayang sekali, saya tidak hapal nomor lengkap ujian. Saya lupa membawanya.

Dan akhirnya saya pasrah. Tawakal pada Sang Pencipta, Yang Kuasa, Yang Mendengarkan doa-do’a dan Yang Melihat usaha hamba-Nya. Saya harus merelakan itu semua. Saya harus berterima kasih pada semua yang sudah memotivasi saya. Dan saya harus meminta maaf masih belum bisa kuliah di tahun ini, seraya menutup lembaran koran yang berceceran, dan satu persatu mulai terapikan. Semuanya sudah tertutup dan tertumpuk rapi.

Pada lipatan terakhir, dalam sekejap, sepasang mata ini mampu merekam beberapa tulisan-tulisan kecil itu. “sepertinya barusan melihat nama saya, ‘MUHAMMAD BAHRUL ULUM’, ah mungkin ilusi, mungkin saja kalau benar juga bukan saya,” ungkap saya dalam batin.

Tapi tidak ada salahnya saya kembali membukanya. Dengan perlahan dan penuh lapang dada, saya kembali membukanya. Dan akhirnya, saya berhasil menemukan sebaris nama dengan tiga kata dalam huruf balok yang tertulis kecil itu MUHAMMAD BAHRUL ULUM – HUKUM. Alhamdulillah, ternyata saya bisa kuliah tahun ini.

Saya tidak lupa bersyukur, berterima kasih kepada Allah. Dan selekasnya, galau itu langsung hilang. 😀

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *