Dari Terminal 1, terminal kedatangan saya dari Surabaya, Terminal 3 saya jangkau dengan kereta bandara. Kereta bandara benar-benar memudahkan kita apabila hendak pergi dari satu terminal ke terminal lain. Kereta bandara tersebut mengintegrasikan seluruh terminal di Bandara Soekarno Hatta berikut stasiun kereta api yang biasa disebut dengan Kalayang. Tidak perlu menunggu waktu terlalu lama, kereta bandara pun datang. Saya menaiki kereta yang dalam fantasi saya sudah seperti menaiki kereta di Bandara Changi. Tampak pembangunan Bandara Soekarno Hatta sudah semakin megah, apalagi saat berada di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta.

Sesampai Terminal 3, saya langsung check-in, menuju arah Korean Air, kode penerbangan KE 628. Petugas menawarkan kursi kepada saya.

“Ingin duduk di mana mas? Apa dekat jendela?” tanyanya.

“Iya, Mas. Itu keren,” jawab saya.

Saya dipilihkan tempat duduk di ujung, dekat jendela. Baik itu saat penerbangan Tangerang-Seoul maupun Seoul-Nagoya. Setelah itu, kopor saya letakkan ke atas untuk selanjutnya sudah menjadi tanggung jawab maskapai. Namun, saya sempat sempat bertanya.

“Ini nanti sampai Seoul saya ambil kopor manual, cukup lapor atau gimana Mas”, saya ingin menegaskan.

“Tidak perlu, langsung sampai Nagoya”, jawabnya.

“Ini beneran, nanti pasti sampai Nagoya” saya kembali ingin memastikan.

“Iya, tinggal ditunggu di Nagoya aja tanpa harus melapor”, jawabnya kembali.

Dari penjelasannya, saya menjadi semakin yakin kopor saya akan baik-baik saja.

Selanjutya saya langsung menuju gerbang keberangkatan untuk selanjutnya sampai pada Gate 9. Saya menunggu sekitar tiga jam, sambil saya gunakan untuk mengetik pesan Whatsapp, membuka Instagram, membuka laptop, termasuk shalat. Saya lupa, belum makan malam.

Pukul 21:40 saya boarding. Pukul 22:10 pesawat take off menuju Seoul.

Sesampai di dalam pesawat, sepasang mata saya dihadapkan pada ratusan orang Korea Selatan. Dari sikapnya, mereka kelihatan sangat ramah, berterus terang, sopan, murah senyum dan energik. Para pramugari dan pramugara benar-benar semangat dan totalitas dalam melayani penumpang. Beberapa jam setelah pesawat take off, kira-kira dua atau tiga jam, mereka menghidangkan makanan kepada para penumpang. Seluruh penumpang diberikan tiga pilihan jenis makanan yang akan mereka pilih untuk menu makan malam, termasuk saya.

Saya tidak tahu jenis makanan Korea. Mungkin sebaiknya, sebelumnya, sesekali saya perlu menonton film Korea, setidaknya untuk bisa mengidentifikasi jenis makanan di sana. Namun, sudah tidak ada waktu. Saya memilih makanan yang disebutkan ada kata rice and fish. Sekitar satu menit, makanan sudah disajikan di hadapan saya.

Saya bingung bagaimana cara makannya. Tidak kekurangan akal. Saya sengaja sedikit menunda makan untuk melihat penumpang sebelah bagaimana mereka memakannya. Walaupun kondisi perut sudah dalam keadaan sangat lapar. Saya perlahan-lahan mengikutinya dari makanan apa saja yang pertama dimakan, dengan apa mereka makan dan bagaimana mereka mencampurkan makanan satu dengan yang lainnya. Akhirnya berhasil, tuntas!

Selanjutnya saya memutuskan untuk tidur. Saya menutupkan selimut yang merupakan fasilitas pesawat hingga tidur lelap. Saya terbangun saat kira-kira pukul 3:00 WIB, sebagaimana terpampang di jam tangan saya. Saat terbangun, saya sedikit menghadapkan muka ke arah jendela pesawat, untuk melihat-lihat suasana di luar. Saya terkagum!

Di tengah gelapnya pagi, muncul dari ujung bumi cahaya putih dengan garis berwarna orange sedikit kekuningan. Saya menduga arah yang saya lihat itu adalah bagian timur bumi. Saya langsung mengambil handphone dan secepat mungkin membidik pemandangan itu dengan tangkasnya, berkali-kali. Dalam waktu yang relatif cepat, di tengah-tengah cahaya itu tumbuh cahaya putih sedikit kekuningan menandakan matahari menampakkan bentuknya, hingga penuh.

Sebelum saya menginjakkan kaki, baik di Seoul maupun Nagoya, saya menyaksikan bagaimana sang surya terbit dari ujung timur cakrawala Asia. Ini adalah pengalaman yang tidak setiap orang dapat menyaksikan langsung detik-detik surya menampakkan diri dari ujung timur langit Asia. Ini juga sekaligus pengalaman berharga, sebelum melihat sinar matahari di negeri matahari terbit, saya sudah melihat matahari di antara dua perbatasan negara, Korea dan Jepang.

Sekitar satu setengah jam setelahnya, pesawat mulai menurunkan ketinggiannya. Pesawat bersiap mendarat di Seoul. Dari kejauhan tampak bangunan menjulang tinggi, bangunan-bangunan pencakar langit di Kota Seoul yang berjajar di satu titik dan di titik lain. Terlihat jalan raya yang luas dengan kendaran yang relatif lengang.

Sebagaiamana layar di depan tempat duduk saya, waktu menunjukkan pukul 06:50 waktu Korea Selatan. Tampak jalan raya yang membelah teluk menuju semanjung kota ini. Di bawahnya, tampak puluhan kapal berlayar pada banyak titik. Ini sangat jelas menunjukkan betapa bergairahnya perekonomian melalui perdagangan di kota ini.

Pesawat mendarat dengan sangat halus pukul 07:15 waktu setempat. Dan, saya berada di Korea Selatan!

.

Artikel Terkait:

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *