Posts tagged #Trending

Menjadi pemelajar sepanjang hidup

Kata orang, semakin bertambahnya pengetahuan dan pengalaman akan membantu kita dalam pembuatan keputusan yang lebih baik. Tentu, setiap orang ingin semua keputusan yang diambil merupakan yang terbaik dan hal ini akan terwujud apabila kita terus berusaha untuk belajar. Saya menyebutnya dnegan istilah pemelajar sepanjang hidup (lifelong learners).

Sejak kecil, kita sudah mulai belajar dalam menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Pelajaran paling besar dan berharga adalah pengalaman yang bisa kita sebut dengan belajar melalui tindakan (learning by doing). Banyak orang menyebutnya sebagai pengalaman namun saya menganggap itu merupakan bagian dari usaha manusia untuk terus belajar. Pada usia yang masih belia, kita juga mendapatkan pendidikan, baik dari TK, SD, SMP, SMA dan beberapa di antara berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, dengan gelar sarjana. Bagi yang lebih beruntung melanjutkan jenjang master hingga doktor. Belajar dalam institusi pendidikan formal ini juga dapat turut disebut sebagai belajar.

Selain dalam lingkungan institusi pendidikan, kita dalam kehidupan sehari-hari juga perlu mengikuti perkembangan dan kemajuan zaman. Perubahan zaman turut mendorong kita untuk terus belajar, meskipun telah menyelesaikan pendidikan formal. Belajar tidak mengenal waktu dan tempat, tidak pula mengenal usia maupun jenis kelamin. Dorongan untuk terus belajar ini yang dapat mendorong kita untuk terus mengikuti perubahan zaman, seperti kemajuan teknologi yang berjalan begitu cepat. Saat kita turut mengikuti perkembangan itu dengan terus belajar, kita berkontribusi untuk memajukan negara kita. Karena, kemajuan suatu negara selalu dimulai dari kemajuan berpikir warga negaranya terlebih dahulu.

Indonesia, negara yang memiliki penduduk lebih dari 250 juta dengan gap ekonomi dan pendidikan yang relatif tinggi, memiliki tantangan dalam mewujudkan kemajuannya. Usaha telah dilakukan melalui reformasi pendidikan yang tampaknya tidak begitu meningkat secara signifikan. Bahkan survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2015 masih menempatkan Indonesia dalam jajaran negara juru kunci. Artinya, masih banyak tugas besar yang dimiliki negara ini dalam peningkatan kualitas pendidikan, kualitas dan metode belajar warga negaranya, sebagai penopang kemajuan Indonesia.

Alternatif yang bisa kita lakukan adalah dengan mengembangkan dan memupuk tradisi belajar mandiri dan terus menerus. Simon Chesterman, guru besar dan dekan Fakultas Hukum National University of Singapore (NUS), dalam tulisannya berjudul, “Why Study?” menekankan motivasi belajar harus dipupuk menjadi motivasi internal. Saat kita sekolah, nilai seringkali menjadi tujuan praktis dan ini tergolong sebagai motivasi eksternal. Beliau menegaskan belajar sesungguhnya adalah saat kita punya perasaan yang lebih dengan ilmu yang kita dapatkan dan larut dalam kebahagiaan dengan dunia ilmu dan pengetahuan. Saat kita telah merasa bahagia dengan semakin bertambahnya ilmu pengetahuan, memiliki kecintaan yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Saat kita sudah masuk dalam perasaan ini, kita sudah melangkahkan hidup kita dalam zona pemelajar sepanjang hidup.

Lalu apa indikator bahwa kita adalah pemelajar sepanjang hidup? Situs lifehack.org menyebutkan 12 tanda berikut yang akan mendefinisikan kita menjadi pemelajar sepanjang hidup.

Pertama,  saat kita terdorong untuk membaca setiap hari. Apapun masalah yang tengah kita hadapi, setidaknya ada bacaan yang dapat menyajikan beragam solusi. Dengan membaca, wawasan kita akan bertambah melatih otak untuk terus berpikir dan dapat berkontribusi memperbaiki pola pikir kita. Dengan membaca, kita juga dapat terhubung dengan orang-orang sukses dan belajar dari kesuksesan yang mereka bagikan dalam tulisan-tulisannya. Bill Gates menyadari bahwa kesuksesannya tidak lepas dari tradisinya yang gemar membaca. Kita dapat belajar dari orang-orang seperti beliau.

Kedua, saat kita juga mengikuti beragam perkuliahan. Terdapat banyak perkuliahan yang dapat kita ikuti baik dalam media daring maupun luring. Dengan mengikuti beragam perkuliahan tersebut, kita akan mendapatkan kesempatan yang besar terhubung dengan orang-orang pandai dan terbuka pikirannya sekaligus belajar banyak hal dari mereka. Seiring dengan teknologi informasi yang semakin canggih, kita saat ini bisa dengan sangat mudah mendapatkan pengetahuan baru mekalui program daring, bahkan dari universitas tenama di dunia sekalipun.

Ketiga, saat kita mencari kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Daripada menghabiskan waktu berlama-lama di depan televisi, kita akan lebih baik menghabiskan waktu luang kita dengan hal-hal yang kreatif dan praktis. Satu hal yang perlu dipahami bahwa setiap menit yang terbuang akan pergi selamanya. Kita harus cermat menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk hal yang membuat kita lebih maju.

Keempat, saat kita juga menjaga kesehatan fisik kita. John F. Kennedy mengatakan bahwa kesehatan fisik tidak hanya penting terhadap kesehatan tubuh kita karena itu juga mempengaruhi aktivitas kreatif dan dinamis dari kemampuan intelektual kita. Orang-orang pandai adalah mereka yang mampu mengkombinasikan kecerdasannya dan kebugaran tubuh dan memahaminya sebagai aset besar yang mendukung  kehidupannya.

Kelima, saat kita punya banyak passion. Steve Jobs pernah mengatakan bahwa kita tidak dapat menghubungkan titik-titik ke depan, melainkan kita hanya dapat menghubungkannya dengan melihat ke belakang. Kita harus memiliki keyakinan bahwa titik-titik itu suatu saat akan menghubungkan dengan masa depan. Masing-masing titik-titik tadi dapat berupa kejadian atau keterampilan dalam hidup kita. Ketika suatu saat kita dapat mengkombinasikannya akan menjadi hal yang akan mendukung kehidupan kita yang lebih baik dan akan dapat menghasilkan pencapaian yang luar biasa dalam hidup kita. Memili beragam keinginan, minat atau passion mengindikasikan bahwa kita memiliki kecintaan yang besar terhadap terhadap kemajuan. Juga, perlu dipahami dan dicatat dengan baik-baik bahwa pada masa-masa sulit kita membutuhkan tindakan cerdas dan menyelesaikan masalah dengan lebih efisien.

Keenam, saat kita suka dengan kemajuan. Usaha keras akan berbuah dengan hasil yang lebih baik. Seringkali hasil dari usaha maksimal kita masih belum begitu tampak namun ada titik-titik kemajuan yang akan mengantarkan kita pada kemajuan dalam jangka panjang. Kita tidak harus terjebak dengan hasil instan. Sepanjang ada peningkatan dari usaha kita, kita perlu terus menekuninya.

Ketujuh, saat kita menentukan tujuan tertentu yang jelas. Agar tetap tumbuh, kita perlu memiliki tujuan yang jelas. Tujuan yang jelas ini adalah salah satu faktor yang akan terus memastikan pertumbuhan dan kemajuan kehidupan kita. Saat kita menyukai tantangan, kita dapat menaklukkan ketakutan-ketakutan yang kita hadapi dalam kehidupan kita. Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa tujuan-tujuan yang penuh ambisi dan jelas akan meningkatkan kinerja individu. Tentu kita sepakat bahwa pemelajar sepanjang hidup adalah mereka yang peduli dengan kinerjanya sehingga mereka tidak berhenti untuk memajukan kualitas dirinya.

Kedelapan, saat kita suka dengan perubahan. Seringkali, perubahan membuat orang merasa risih karena banyak kemapanan yang harus ditinggalkan. Sebagai pemelajar sepanjang hidup, kita mampu mengidentifikasi perubahan dan dapat memimpin perubahan-perubahan untuk hasil dan kemajuan yang lebih baik. Usaha ini akan tercapat saat kita memiliki pikiran terbuka untuk mengawal perubahan itu.

Kesembilan, saat kita percaya bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai. Banyak orang cenderung berpikir setelah melewati usia tertentu, mereka tidak lagi dapat belajar sesuatu dan menjadi berhasil. Kita perlu memiliki pemikiran bahwa tidak ada kata terlambat dan perlu meninggalkan zona nyaman untuk memulai hal-hal baru yang akan mengantarkan kita pada kesuksesan. Tentu saja, tidak ada ukuran harus pada usia tertentu kita mencapai kesuksesan. Di usia 45, Henry Ford baru menemukan For Model T car yang merupakan automobile murah pertama di dunia. Seperti atlit, untuk menjadi atlit profesional, memulai lebih awal adalah keputusan yang lebih baik dan diikuti dengan terus belajar dan berlatih secara rutin. Intinya, untuk memulai sesuatu, jangan pernah memiliki anggapan bahwa kita sudah terlalu tua untuk memulainya.

Kesepuluh, saat kita dengan senang hati mau berbagi. Peter Drucker mengatakan bahwa kita perlu menerima kenyataan bahwa belajar adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup agar kita dapat mengikuti perubahan. Dan, tugas yang paling mendesak adalah mengajari orang lain bagaimana untuk belajar. Tidak ada yang lebih baik daripada mengajak orang-orang di sekeliling kita untuk terlibat secara aktif untuk mendukung kemajuan. Seringkali, cara terbaik untuk menginsipirasi orang lain adalah dengan menjadi contoh terlebih dahulu bagi mereka. Mahatma Gandhi menyebutkan bahwa kita perlu menjadi perubahan dengan begitu kita dapat melihat dunia. Sebagai pemelajar sepanjang hidup, kita akan memiliki passion untuk tumbuh dan berkembang dan sikap ini akan menjadi energi positif bagi orang-orang di sekitar kita. Selanjutnya, orang-orang di sekitar kita akan bersikap serupa dengan apa yang sudah kita lakukan.

Kesebelas, saat kita meninggalkan zona nyaman. Meninggalkan zona nyaman tentu saja tidak mudah dan ini perlu dicoba. Edmund Hillary, pendaki gunung ternama, mengatakan bahwa tentangan terberat manusia sesungguhnya bukan saat mereka berhasil menaklukkan gunung-gunung yang tinggi. Saat berhasil menaiki gunung-gunung, Ia mengatakan bahwa ternyata saat menaiki gunung tantangan terbesarnya adalah menaklukkan diri sendiri dengan memacu diri untuk belajar meningkatkan keuletan, ketahanan dan kesiapan dalam segala tantangan. Dengan meninggalkan zona nyaman, kita akan belajar hal-hal yang baru yang akan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kita beradaptasi dengan hal-hal yang baru.

Keduabelas, saat kita tidak pernah merasa nyaman atau mapan. Anti kemapanan adalah salah satu modal kita untuk terus berkembang dan maju. Merasa menjadi orang yang cukup pandai adalah sesuai yang tidak pernah ada dalam pikiran orang dalam kategori ini. Tanpa ragu, kita akan mengapresiasi apa yang sudah diketahui dan tanpa henti terus mengejar apa yang masih belum diketahui. Kita dapat memprediksi saat berhenti belajar akan ada kehilangan kesempatan istimewa, yaitu kemampuan pengembangan intelektual yang akan berlangsung tanpa batas.


Cukup banyak bukan? Tentu tidak harus semuanya langsung kita penuhi. Kita perlu berusaha keduabelas indikator tersebut dapat kita penuhi secara bertahap, agar secara berangsur-angsur menjadi pribadi yang memiliki dorongan kuat terus belajar sepanjang hidup. Dengan kita memenuhi keduabelas indikator tersebut, tentu kita akan terus mengikuti segala perubahan zaman dan bahkan menjadi bagian pemimpin perubahan itu.

Bisa jadi kita tengah mengidap inferiority complex

Apakah kalian pernah merasa kurang percaya diri dan menganggap lebih rendah dari orang lain? Apakah kalian juga pernah berpikir bahwa banyak usaha yang telah dilakukan tetapi tak juga berbuah manis, lalu meragukan kemampuan diri sendiri? Apakah juga pernah menganggap diri kalian tidak mampu mencapai standar tertentu yang dirasa terlalu tinggi?

Atau, di antara kalian pernah berpandangan begini, “Ah kalau si A wajar lah begitu, dia kan memang pinter dan banyak prestasi. Tapi tau gak sih, denger-denger dia berprestasi begitu karena permainan curang. Lalu apa istimewanya coba?”

Jika jawaban kalian adalah iya, bisa jadi kalian tengah mengidap inferiority complex.

.

Apa sih inferiority complex itu?

Secara singkat, inferiority complex adalah suatu keadaan di mana seseorang merasa rendah diri atau tidak mampu memenuhi standar tertentu yang dirasa tinggi. Keadaan ini selanjutnya membentuk cara berpikir untuk memilih posisi aman namun tetap ingin dianggap kompetitif. Salah satu konsekuensinya, seseorang tersebut mencari pembenaran-pembenaran lain secara sepihak untuk mendapatkan pengakuan bahwa dirinya memiliki kehebatan yang perlu dibanggakan. Atau, disertai dengan merendahkan orang lain. Kebanggaan ini seringkali diungkapkan secara berlebihan sebagai kompensasi atas ketidakmampuannya.

Bisa dibayangkan, bagaimana saat inferiority complex telah menguasai alam bawah sadar dengan meyakini persepsi yang sangat tidak kooperatif untuk mendukung kemajuan berpikir kita. Dalam keseharian, misalnya, pemikiran tersebut tecermin dalam perasaan ataupun sikap kurang percaya diri atau merasa lebih rendah dari teman lain dengan anggapan otak temannya moncer. Namun hal ini seringkali berujung adanya seseorang yang merasa tidak mau dianggap tidak lebih baik dari teman lainnya melalui pembenaran-pembenaran tertentu demi meraih pengakuan.

.

Minder atau Inferiority complex?

Minder bisa terjadi pada siapapun. Biasanya, minder muncul karena perasaan kurang percaya diri atau seseorang kurang memiliki persiapan yang baik atas tindakan tertentu sehingga terdapat perasaan kurang dapat melakukan tindakan secara maksimal. Terlebih, misalnya, saat melihat teman-teman lain telah melakukan hal-hal yang dianggapnya sangat baik. Minder bisa sangat fluktuatif, saat kita mempersiapkan semua persiapan dengan baik, biasanya minder dapat diatasi secara perlahan-lahan.

Minder tidak hanya muncul atas dasar kemampuan, intelektualitas atau kecerdasan. Minder juga bisa disebabkan karena hal-hal fisik yang menghasilkan kesimpulan siapa yang lebih baik atau sempurna. Minder masih bisa diatasi dan tidak akan sampai menjadi inferiority complex sepanjang seseorang tidak membawanya pada ranah berpikir hingga alam bawah sadar.

Jika tidak, kalian harus siap-siap. Inferiority complex secara perlahan dapat dengan mudah menyusup dalam diri manusia saat tidak adanya kemampuan mengatasi gejolak pemikiran pribadi. Ketidakmampuan untuk mengendalikan konflik pemikiran ini seringkali berujung pada penghakiman tertentu dalam ranah berpikir dan memengaruhi seseorang dalam pembuatan keputusan.

.

Inferiority complex menjangkit siapa saja?

Inferiority complex dapat menyasar semua kalangan. Saat manusia tidak mampu mengendalikan konflik dalam pemikiran pribadinya, kurang referensi atau terjebak pada cerita tunggal, setiap orang rawan terjangkit penyakit ini. Juga, siapapun yang tidak dapat mempertahankan keyakinannya atas kemampuan diri sendiri bisa saja dengan mudah mengidap inferiority complex.

Tentu saja. Inferiority complex adalah kondisi di mana mental kita dalam tekanan. Adalah keadaan di mana kita merasa tidak nyaman dengan kemampuan diri sendiri namun tidak tahu bagaimana cara untuk bangkit dan membuat diri sendiri setara dengan yang lain. Kepercayaan diri seperti ini adalah hal mutlak dibutuhkan di era saat ini. Era saat ini menuntut kita memiliki kompetensi yang tinggi. Kenyataan saat ini mau tidak mau sudah semakin meluas, tidak hanya tingkat nasional tetapi antarbangsa.

Betapa mudahnya teknologi membuat kehidupan kita jauh lebih mudah dan efisien. Kemudahan dan efisiensi tersebut pada akhirnya telah menembus batas geografis. Persaingan telah luas dalam arena global. Pada saat itu, kita perlu mampu sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Jika terus-terusan kita tidak mau lepas dari inferiority complex, kita bisa jadi akan selalu merasa rendah terhadap diri sendiri. Akibatnya, di tengah derasnya arus globalisasi, kita bisa jadi hanya sebagai pengguna dan penonton, bukan pemain. Dan, untuk menikmati dan menontonnya, tentu saja, kita masih harus mengeluarkan duit juga.

Terdapat hal-hal kecil yang seringkali dapat menjadi indikator seseorang terjangkit inferiority complex. Anak desa seperti saya, misalnya, masih banyak yang memiliki pemikiran bahwa anak kota akan selalu unggul karena mereka lebih sejahtera dengan akses pendidikan yang lebih baik. Menurut saya itu tidak salah, namun tidak lengkap. Seiring dengan mudahnya akses teknologi, belajar bisa dilakukan di mana-mana, bahkan bisa sampai ke desa-desa. Butuh kesungguhan niat untuk bisa melawan pemikiran-pemikiran yang menjatuhkan diri sendiri seperti itu. Justru dengan keterbatasan itulah, saat bisa keluar dari inferiority complex, anak desa akan jauh lebih kreatif dan menyediakan alternatif-alternatif.

Kalian yang kuliah di kampus swasta atau yang seringkali dianggap kampus pinggiran, misalnya, mungkin ada yang merasa lebih rendah diri saat bertemu dengan mahasiswa dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, ataupun Universitas Gadjah Mada. Pendidikan di tiga kampus ini jelas lebih baik. Pemikiran demikian tidak salah, tetapi itu masih tidak lengkap. Kita bisa memanfaatkan alternatif-alternatif lain agar kita memiliki kemampuan yang setara dengan mahasiswa di kampus tersebut.

Contoh lain, kalian yang lulusan PTN bisa jadi masih merasa tidak lebih baik, tidak percaya diri, dari teman-teman yang lulusan luar negeri. Memang mereka belajar yang mayoritas berbahasa Inggris. Akses pengetahuan jauh terbuka lebar berkat penggunaan bahasa internasional dalam pergaulan akademik dan non-akademik sehari-hari. Namun, itu tidak berarti kalian yang belajar di dalam negeri juga tidak mendapatkan akses dan kesempatan membaca referensi yang sama.

Biasanya, pada batas ketidakmampuan namun ingin kompensasi lainnya, ujung-ujungnya seseorang tak jarang berkelakar, “jangan lupa cinta negeri woy, kuliah di dalam negeri itu lebih cinta negeri Indonesia sendiri.” hehee…

Singkatnya, inferiority complex perlahan tumbuh dari seringnya penghakiman-penghakiman oleh diri sendiri yang bisa jadi karena tidak tahu bagaimana seharusnya kita berpikir dua arah sehingga memiliki pemikiran yang terbuka.

.

Tanda-tanda inferiority complex

Situs Bustle menyebutkan beberapa tanda yang mungkin seseorang mengidap inferiority complex.

Pertama, terlalu perfeksionis. Karena menginginkan adanya kompensasi yang berlebihan, seseorang terus merasa kurang dan ingin mencoba mengejar kesempurnaan. Sikap perfeksionis ini seringkali membuat orang larut dalam inferiority complex. Kedua, sangat sensitif terhadap kritik. Orang dengan inferiority complex sangat peka terhadap perkataan orang lain tentang dirinya. Tidak mau menerima kritik karena anggapan kritik itu merendahkannya.

Ketiga, cenderung mencari kesalahan orang lain. Seseorang tidak mau introspeksi diri, melainkan justru menyalahkan orang lain. Saat ada teman yang sukses, seseorang tidak mau mengakui kehebatan temannya demi membuat dirinya bahagia atas kesuksesan temannya. Keempat, ada perasaan aman saat diri sendiri merasa lebih baik dari orang lain. Jika anda mengindap inferiority complex, fokus anda adalah untuk selalu menjadi lebih baik dari orang lain. 

Kelima, tidak percaya pujian. Hal ini biasanya dipengaruhi persepsi harga diri yang tinggi sejak kecil sehingga berpengaruh terhadap cara merespon pujian, Pada akhirnya, orang dengan inferiority complex bisa enggan menerima saran, meskipun positif. Keenam, gampang berpersepsi buruk. Tidak hanya melakukan penghakiman terhadap diri sendiri tetapi juga saat melihat posisinya kurang menguntungkan, seseorang dengan inferiority complex gemar play victim untuk memenuhi egonya.


Bagi yang merasa tengah terjangkit inferiority complex, kalian tidak perlu terlalu cemas. Tentu, kalian perlu segera bangkit dan memperbaiki cara berpikir. Apalagi diperkirakan banyak orang Indonesia tengah mengidap inferiority complex ini. 😀

Hal yang perlu dipahami bersama adalah bahwa hakikat manusia sesungguhnya adalah saling melengkapi, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tugas manusia adalah saling mengisi dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.  Pada akhirnya, di atas kelebihan dan kekurangan yang dimiliki manusia, ketekunan, kerajinan dan konsistensi lah yang memiliki pengaruh besar untuk membuat orang memiliki kemampuan yang lebih.

.

Bangga boleh, tapi tak harus berlebihan

Satu hal yang akut akibat mengidap inferiority complex adalah adanya perasaan yang berlebihan atas kehebatan kita yang biasa-biasa saja. Bangga ini bisa jadi sebatas kekecewaan atau terlalu sempitnya pikiran seseorang. Contoh gampangnya, masih banyak di antara kita seringkali menyalahkan negara asing, anti asing, karena asing dituduh telah mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia. Faktanya, investor asing tidak akan pernah bisa masuk ke Indonesia kecuali telah mendapatkan kesepakatan dari Pemerintah Indonesia.

Sebaliknya, kita seringkali membanggakan Indonesia kepada teman-teman dari luar negeri, bangga Indonesia dengan pantainya, keanekaragaman hayatinya, budayanya, dan sebagainya. Namun kita bisa dengan sangat sinis dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Singapura dituduh sebagai negeri cukong, Malaysia sebagai negara pencuri budaya dan pulau Indonesia.


Kesungguhan, keyakinan dan kerja keras untuk meningkatkan kualitas diri adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Kembali pada pemikiran bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan, tidak seharusnya manusia melakukan penghakiman dan merendahkan diri. Menjadi awal kesempatan yang baik saat kita berhenti menghakimi diri sendiri dan menggantinya dengan memulai belajar untuk bisa menemukan kemampuan alami kita. Tidak semua orang harus menjadi dan melakukan hal yang sama, tetapi esensinya mereka sama-sama memiliki kelebihan.

Selain itu, seseorang juga perlu introspeksi diri, saat usaha yang dilakukan sudah maksimal, saatnya manusia untuk berpasrah, belajar ikhlas menerima hasilnya. Untuk bisa berhasil, tugas pertama manusia adalah membuat sebab. Akibat adalah hasil dari sebab yang kita buat. Sebagai manusia yang terus belajar (lifelong-learners), apapun hasilnya akan menjadi kesempatan untuk selalu berbenah dan refleksi agar terus menjadi lebih baik lagi.

Insularitas akademis membuat Indonesia tertatih dalam dunia riset sosial

Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia. Indonesia juga adalah ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Sayangnya, dalam hal riset dan publikasi ilmiah menyangkut topik-topik mendesak seperti pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan dan inovasi, kita kalah  dibandingkan negara-negara dengan produk domestik bruto (PDB) lebih rendah; termasuk di antaranya Bangladesh, Kenya, dan Nigeria.

Analisis sosial yang mawas sejarah, politik, sistem sosial, dan perilaku manusia yang juga didukung bukti empiris amat penting untuk memastikan pengambilan kebijakan yang tepat sasaran dan berkelanjutan. Analisis mendalam juga penting untuk memahami masyarakat di tempat kita hidup.

Hingga kini, karya ilmiah mengenai masyarakat Indonesia lebih banyak ditulis oleh peneliti dari negara selain Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa dibandingkan negara-negara tetangga, institusi pendidikan tinggi di Indonesia tidak terlalu efektif menghasilkan kesarjanaan sosial.

Sementara itu, sekitar 74% riset sosial di Indonesia yang dijalankan di universitas negeri adalah penelitian terapan pesanan yang tidak berfokus pada pemahaman mendasar mengenai perubahan masyarakat kita. Akibatnya, masyarakat Indonesia kerap gagap menghadapi fenomena sosial yang seolah terjadi tiba-tiba, padahal secara historis merupakan bagian dari proses panjang yang dapat diidentifikasi melalui penelitian.

Kenapa hal ini terjadi dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya?

Saya melakukan sebuah riset kolaboratif di bawah Pusat Kajian Komunikasi, Universitas Indonesia, the Centre for Innovation Policy and Governance, dan the Asia Research Centre, Murdoch University Australia untuk menjawab pertanyaan ini.

Temuan kami menunjukkan bahwa di bidang ilmu sosial, otonomi universitas negeri untuk mencari pemasukan selain dari anggaran negara telah menghasilkan komersialisasi jasa pendidikan dan penelitian yang tidak berhubungan langsung dengan kualitas akademis.

Selain itu, birokrasi universitas negeri belum efektif mendukung riset unggulan. Sistem rekrutmen dosen yang cenderung tertutup, dosen yang lebih menyukai menetap di lembaganya untuk melanjutkan pendidikan tinggi, mekanisme penilaian kinerja dan struktur gaji yang tidak berorientasi pada prestasi akademis, serta tingginya pemasukan universitas dari pasar mahasiswa; semua berkontribusi terhadap kondisi akademis yang insuler.

Insularitas akademis berarti dosen-dosen ilmu sosial cenderung tertutup, hanya melakukan riset di disiplinnya saja, dan tidak mahir mengkomunikasikan risetnya ke publik. Kondisi ini tercipta karena birokrasi pendidikan tinggi yang mempersulit kolaborasi akademis akibat rumitnya peraturan.

Universitas negeri dan mekanisme pasar

Sejak 2000, pemerintah Indonesia mengizinkan universitas negeri mencari dan mengelola pendapatan sendiri agar dapat mendanai kegiatan akademis secara mandiri, termasuk penelitian.

Hal ini—dibarengi dengan peningkatan jumlah beasiswa dan anggaran riset untuk universitas negeri oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi—bertujuan untuk mendorong penelitian dan publikasi ilmiah dalam rangka menyikapi internasionalisasi pendidikan tinggi.

Antara tahun 1970 hingga 1990-an, penelitian yang dilakukan universitas negeri relatif hanya untuk memberikan legitimasi atas kebijakan pembangunan negara. Di bawah rezim Orde Baru, akademisi lebih menyerupai teknokrat ketimbang ilmuwan, menghasilkan riset pesanan pemerintah. Penelitian mendasar serta publikasi ilmiah tidak diutamakan.

Kebijakan pemerintah untuk mendorong universitas negeri menjadi skala internasional belum berhasil mendukung kawin silang keilmuan dan penelitian. Justru, universitas negeri menggunakan otonomi yang ada untuk meningkatkan biaya perkuliahan dan jumlah mahasiswa, sementara juga menjalankan riset dan pelatihan untuk pemasukan.

Sehingga, akademisi di Indonesia tidak ubahnya pekerja di sektor jasa, yang menghadapi sistem yang semakin terpengaruh oleh mekanisme pasar. Mereka harus mengambil beban mengajar yang tinggi karena banyaknya jumlah mahasiswa. Data tahun 2014/2015 menunjukkan di antara 638 perguruan tinggi, hanya 55 di antaranya universitas negeri (8,6%); namun 56.8% dari keseluruhan mahasiswa terdaftar di sana. Data yang sama menunjukkan setiap satu pengajar di universitas negeri menangani rata-rata 33 mahasiswa, bandingkan dengan 16 mahasiswa untuk pengajar swasta.

Akademisi didorong untuk menjalankan riset yang menambah pendapatan lembaga mereka. Di saat yang sama, universitas tidak diminta untuk mengungkapkan kepada publik seberapa besar dana yang mereka terima dari kegiatan komersial tersebut.

Birokrasi dan insularitas

Sementara universitas negeri diizinkan menerima pendapatan selain anggaran negara, sistem rekrutmen dan administrasinya masih mengikuti model birokrasi negara. Sistem ini tidak mengapresiasi capaian akademis.

Kebanyakan akademisi di Indonesia berstatus pegawai negeri. Promosi akademisi berstatus pegawai negeri mengikuti sistem kenaikan pangkat yang berlaku di Badan Kepegawaian Negara; sehingga akumulasi kredit atau “kum” belum berkaitan secara langsung dengan kualitas kesarjanaan seorang ilmuwan sosial.

Kebanyakan peneliti Indonesia di universitas negeri yang paling aktif berusia di atas 50 tahun, yang direkrut melalui sistem tertutup. Universitas negeri cenderung mempekerjakan lulusannya sendiri. Ada juga kecenderungan alumni untuk mengajar dan melanjutkan ke gelar lebih tinggi di institusi yang sama.

Oleh karena itu, dosen tetap lebih sering memikirkan agenda riset pribadinya, yang seringkali berupa penelitian terapan yang menambah pendapatan; ketimbang berinteraksi dengan sejawat akademisnya secara internasional.

Sebagai konsekuensi, dari 354 akademisi yang diteliti dalam riset kami, hanya 28 yang pernah menerbitkan artikelnya di jurnal yang masuk basis data Scopus.

Dari 28 orang ini, 90% berbasis di pulau Jawa yang lebih dekat dengan akses sosial dan ekonomi. Hanya 8% yang pernah mengambil cuti akademis (sabbatical leave), dan 55% tidak mengetahui apakah riset mereka pernah dikutip dalam studi lain.

Banyak di antara para peneliti memegang jabatan berganda—misalnya menjadi manajer, ketua program studi, ketua pusat studi, dan sebagainya—di atas beban mengajar, meneliti, dan pengabdian masyarakat.

Penelitian kami menunjukkan bahwa sarjana sosial di Indonesia kekurangan mobilitas akademis antar-institusi dan negara. Situasi ini membentuk budaya insuler yang merongrong produktivitas akademisi Indonesia di dunia yang sejak dulu sudah rendah.

Membangun aliansi

Indonesia membutuhkan jaringan sarjana, dalam jenjang karir yang beragam, dari berbagai universitas dan organisasi riset di Indonesia dan luar negeri, untuk memperdalam interaksi akademis.

Aliansi ini harus dibangun untuk mendorong reformasi riset di organisasi mereka masing-masing dengan memenuhi aspirasi internasionalisasi pemerintah. Sampai titik tertentu, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Akademisi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), di mana saya adalah anggota, berniat mengawali hal ini.

Namun, meskipun asosiasi ini melengkapi beberapa sarjana Indonesia dengan keterampilan dan jaringan global yang bermanfaat untuk mendukung pengembangan riset di universitas tempat mereka bekerja, perubahan hanya bisa dicapai jika kebijakan, alokasi anggaran, dan kepemimpinan di tiap universitas ditujukan untuk memupuk budaya sejawat (peer culture).

Hanya melalui budaya sejawat produksi karya akademis dapat menjadi norma, sehingga yang menjadi hal yang janggal adalah seorang akademisi yang tidak meneliti dan menulis dan bukan sebaliknya.


Tulisan ini diterjemahkan dan diperbarui dari Insularity leaves Indonesia trailing behind in the world of social research.

Sumber: theconversation.com

Menegasikan Stereotypes

Perjalanan malam ini mungkin akan menjadi bagian dari cerita paling dramatis sepanjang saya kuliah dan traveling di India. Perjalanan ini adalah saat saya bertolak dari Hampi menuju Hyderabad. Ini adalah perjalanan pulang saya, saat di Sleeper Class Train, yang merupakan akhir dari 14 hari traveling di India Selatan. Selama 14 hari, saya mengunjungi beberapa titik utama India selatan (Negara Bagian Kerala, Tamil Nadu dan Karnataka). Oh iya, ini sekaligus kali terakhir traveling saya selama tinggal di India. Hari ini 8 September, saya pulang ke Indonesia 14 September 2015.

Kereta yang saya naiki saat perjalanan dari Hampi menuju Hyderabad ini di pertengahan rute selalu melepaskan 3 gerbong paling belakangnya untuk selanjutnya disambung dengan kereta lain dengan rute Hyderabad. Sedangkan kereta utama berlanjut menuju Visakhapatnam (621 km dari Hyderabad). Saya tahu akan ada pemisahan rute, tapi itu tidak dijelaskan di tiket. Dan, sepanjang saya traveling menggunakan kereta, saya tidak pernah punya pengalaman pemisahan rute kereta.

Cerita berawal, saat itu, saya bersama seorang teman India yang saya kenal di Stasiun saat menunggu kereta datang. Seperti biasa, saat traveling, saya tidak hanya mengunjungi tempat-tempat baru tetap juga berusaha untuk mengenal orang-orang baru sebagai bagian dari traveling ‘antropologi’ saya.

Dia di Gerbong 6, saya di Gerbong 8. Karena terlalu asik ngobrol sampa tiba saatnya saya mau kembali ke gerbong saya. Saat saya turun dan menuju ke gerbong 8, ternyata gerbong yang saya naiki itu adalah gerbong paling akhir. Gerbong saya sudah tidak ada. Pada akhirnya, saya kembali menuju ke teman tadi yang barangkali tahu solusinya. Akhirnya kita tanyakan kondektur. Menunggu kondektur kereta cukup lama,sekitar 10 menit dan akhirnya kereta berjalan dan saya ikut dalam perjalanan kereta yang setelah saya cek di Google Maps ternyata arahnya semakin menjauh dari Hyderabad. Bodohnya dan mungkin karena panik, saya tidak tanya ke Bapak di Stasiun.

Setelah 10 menit menunggu, Bapak Kondektur mengatakan mengatakan bahwa gerbong saya dilepaskan di stasiun sebelum. Bapak kondektur kereta tidak memberikan solusi, hanya menginformasikan pelepasan gerbong kereta. Selebihnya dia hanya menjawab, “I don’t know” sambil dua tangan terangkat ke atas. Itu adalah ekspresi yang lazim orang India lakukan saat hendak lepas tangan.

Saya disarankan teman saya tadi turun di stasiun berikutnya, sekitar 15 km akan tiba di stasiun berikutnya. Saya harus turun di stasiun berikutnya, kembali ke arah stasiun pelepasan gerbong saya tadi (2 stasiun sebelumnya). Saya buka dompet, uang tersisa hanya 240 Rupees. Rekening SBI saya sudah habis saya buat traveling semua. Ini tidak mungkin kalau saya harus turun. Saya tidak punya uang untuk kembali, naik auto/bemo? Uang 240 Rupees tidak bakal cukup apalagi saat saya lihat di Google Maps, lokasi stasiun relatif sangat pelosok. Tapi, kalau saya kalau tetap di kereta itu, saya bakal semakin menjauh dari Hyderabad. Dan ini bakal semakin rumit permasalahannya.

Dan ternyata, di stasiun yang dibilang 15 km tadi, kereta tidak berhenti. Kereta hanya berjalan sedikit melambat. Saya mau loncat, tapi sedikit ragu. Dan akhirnya saya putuskan meloncak turun. Banyak orang pada teriak, baik yang di dalam kereta maupun di luar kereta. Pedagang asongan juga ikut berteriak, “Hi Chinese what are you doing?” Rupanya saya dianggap orang Chinese. Wajar, yang orang India tahu adalah China dan orang Asia Tenggara seringkali dianggap sebagai Chinese. Belakangan saya baru tahu, mereka mengira saya hendak bunuh diri!

Setelah saya turun dari kereta, saya dikerumuni banyak orang. Lazimnya orang India, setiap ada suatu kejadian, orang India akan pada berkerubung. Satu atau dua di antara mereka bertanya dan selebihnya menonton dengan seksama, dengan tangan terkunci ke belakang. Saya dianggap barang tontonan.

Parahnya! Mereka tidak bisa bahasa Inggris. Bahasa Inggris yang mereka ketahui hanya bahasa Inggris dasar. Saat saya tanya, mereka balik tanya, “Hindi ata, yaar?” Saya melempar jawaban balik, “Nei Hindi, English please bhaiya”. Bagaimana mungkin orang yang mereka anggap Chinese ini bisa bahasa Hindi. Mereka hanya bisa berbahasa Hindi, saya hanya bisa berbahasa Inggris. Akhirnya, kita hanya bisa menggunakan bahasa isyarat yang intinya saya disarankan menuju pegawai di loket stasiun. Stasiun itu kecil, kira-kira seperti Stasiun Arjasa di Jember. Saya bertemu langsung Bapak Ketua Stasiun, dia bisa berbahasa Inggris, meskipun kadang masih bercampur dengan bahasa lokal. Waktu menunjukan pukul 8.40 malam, saya disarankan tenang. Sebentar lagi, 5-10 menit akan ada kereta datang menuju arah stasiun tempat pelepasan gerbong saya.

Saya tanyakan, “memang waktunya cukup?”

“Semoga cukup, kalau kereta datangnya tidak telat” jawabnya.

Saya semakin panik. “Bagaimana kalau ternyata saat saya sudah sampai stasiun itu, tapi kereta saya sudah berangkat?”

Beberapa orang yang tidak bisa bahasa Inggris tadi kembali bergerombol. Ternyata, dalam rentang waktu saya komunikasi dengan Bapak Kepala Stasiun, mereka mencoba merangkai kalimat berbahasa Inggris. Satu orang mencoba berbicara dalam bahasa Inggris dengan sangat pelan, “tenang saja mas, pasti baik-baik saja.” Satunya lagi menambahkan, “oh iya, Ini minum dulu, chai atau kopi? Gratis tidak usah bayar. Saya tahu kamu lagi cemas.” Mereka adalah pedagang asongan di area itu yang mengklaim sudah berpengalaman dan tahu jadwal kereta.

Setelah kereta yang dimaksud datang, naiklah saya menuju tujuan stasiun saya tadi, Stasiun Guntakal. Perjalanan kira-kira sekitar 1 jam menuju Stasiun Guntakal. Saat itu waktu menunjukkan 8.52 malam. Berarti untuk sampai stasiun Guntakal setidaknya pukul 9.52 malam. Sedangkan kereta saya selanjutnya akan berangkat pukul 10.05 malam. Saya semakin cemas saja.

Saya di antarkan oleh dua Bapak pedangan asongan tersebut. Saya dicarikan tempat duduk dan diceritakan kalau saya mau kembali arah Guntakal karena rutenya ke Hyderabad. Bapaknya juga tidak lupa menawarkan saya chai kembali. Dalam benak saya masih ada kecurigaan tentang keburukan perilaku orang-orang India. Stereotypes yang dibangun media seringkali masih membuat saya banyak menaruh curiga kepada orang-orang India, khususnya di area yang saya sama sekali tidak mengenal itu. Padahal saya sudah dua tahun di India, kadang masih belum bisa percaya sepenuhnya tentang kebaikan dan kejujuran orang-orang India.

Saya duduk di dekat pintu antargerbong. Saya duduk yang tampaknya kelihatan masih sangat cemas yang akhirnya ada seorang India menanyakan ke saya, “ke Guntakal ya Mas? Santai saja Mas, estimasi saya pasti sampai. Tenang saja”.

“Iya, Pak. Saya harusnya dengan Kereta yang ke arah Hyderabad. Gerbong saya dilepaskan di Guntakal”, jawab saya.

Setelah berkenalan, ternyata Bapak ini juga akan turun di Guntakal. Bapak ini sesekali dua kali membuka smartphone dan bilang, “gerbongnya masi di Guntakal. Nanti berangkatnya jam 10.15. Terlambat 10 menit dari jadwal awal”.

“Bapak kok tau?”, tanya saya.

“Saya co-masinis, Mas. Saya bisa monitor seluruh jadwal kereta di India di hape saya. Semua akan baik baik saja. tengang saja Mas”, Sahut dia.

Saya juga ikut monitor perjalanan yang paling banter di Google Maps. Jarak semakin mendekat dan sampailah pada jarak 2 km, namun kereta tiba-tiba berhenti sekitar 10 menit.

“Lho kenapa kok berhenti, Pak? Ini sudah jam 9.55.”

“Pergantian track kereta ini. Mungkin 5 menit lagi akan jalan lagi”, Jawabnya.

Kereta sampai di Stasiun Guntakal pukul 10.07 malam. Saya langsung ditarik sama Bapaknya dan diajak lari ke arah platform gerbong kereta saya. Sesampai di Platform dan Gerbong kereta saya, saya diminta cek barang-barang saya apakah masih ada dan aman. Saya meninggalkan satu tas ransel yang sebelumnya saya titipkan ke dua orang yang saya sempat berkenalan singkat, mereka berdua Muslim. Dan ini sekaligus menepis stereotypes buruk tentang Muslim di India dari pengalama saat saya bersama seorang teman traveling di Gujarat. Saat itu kita di masjid dan dalam posisi tas ditinggal ambil wudhu. Tas teman saya digeledah dan hampir saja handphone-nya dicuri.

Setelah saya menemukan tas dan memastikan isi di dalam tas, semua tidak ada yang hilang. Memang tidak ada barang yang terlalu berharga. Dompet, kamera DSLR dan hape saya bawa semua. Tas hanya berisi oleh-oleh khas Kerala.

Setelah semua aman, saya mengucapkan terima kasih ke Bapaknya. Dan Bapaknya minta saya menunggu, “tunggu Mas. Bawakan tas saya.”

“Kenapa?” tanya saya agak heran.

“Saya mau ke toilet dulu.” jawab dia sambil lari menuju toilet dalam kereta.

Ternyata dia sudah sejak turun kereta tadi sudah ingin ke toilet, demi membantu saya agar tidak tertinggal kereta.

Malam ini, saya belajar banyak tentang India dan orang-orangnya. Stereotypes membuat orang-orang India buruk. Seringkali selanjutnya orang India dihakimi atas dasar hitam dan putih, terlalu digeneralisasi. ternyata tidak semua orang India seperti itu. Bahkan orang India sekelas pedagang asoangan pun, mereka masih memiliki hati nurani, rasa kemanusiaan untuk memberikan pertolongan kepada orang yang kesusahan. Bahkan dengan pekerjaan mereka sebagai pedagang asongan kereta yang tidak seberapa, mereka masih sempat menawarkan chai gratis.

—————————————————————

Status ini saya narasikan kembali dari status saya:
Tersesat di tengah jalan, 300 km away from Hyderabad, then mikir solusi cepat. Loncat dr kereta, turun di pedesaan, malam-malam lagi. Dann, saat lihat dompet tinggal Rs. 240. Wih, tambah seru. Traveling is the journey of adventure. 

 

Sumber: Status FB saya

Surat untuk Ibu Guru yang sekarang mendidik putraku

 

Surat untuk Ibu Guru
Yang sekarang mendidik putraku

Ibu guru yang baik, saya titipkan anak saya kepada anda. Saya lakukan ini dengan ketulusan, kebanggaan dan perasaan was-was. Maklumlah, sebagai orang tua, saya terlalu cemas dengan dirinya. Saya ingat masa-masa ketika ia baru hadir ke dunia ini; tangisan dan tawanya telah membuat kami semua tenggelam dengan perasaan haru. Kini, waktunya ia bersekolah dan kami percayakan putra kami sepenuhnya kepada anda. Sebagaimana dulu ibu dan ayah saya mempercayakan saya kepada asuhan anda ibu guru.

Ibu guru tahu, ia punya harta yang tak ternilai harganya, yaitu keterusterangan. Kalau ia tak suka pada sesuatu, ia tak ragu berpendapat. Ini adalah bakat alamiah yang dipunyai semua anak. Saya ingin ibu menjaga sikapnya itu. Kami ingin ibu guru memandunya dan melatihnya untuk menjadi seorang anak yang berani berbicara jujur dan terus terang. Lewat surat ini kami ingin berbagi pengalaman dan bertukar saran dalam memahami putra kami.

Pertama-tama, saya meminta ibu guru untuk menjaga dan menghargai sikapnya itu. Ibu tahu, anak saya mungkin tidak tergolong pintar. Tapi, sikap keterusterangan itu jika dipahat dan diperkuat maka ia akan sama pintarnya dengan yang lain. Semangat anak saya akan menyala-nyala jika ibu guru murah dalam memuji dan memberi dukungan. Dan akan menyusut jika ia terlalu banyak diremehkan dan dibohongi. Beritahukan padanya apapun yang ditanyakan dan kami berharap ibu tidak marah, kalau putra kami suatu saat mengkritik ibu guru. Pertanyaan adalah kesukaannya dan kami berharap ibu guru menjaganya dan tetap memberi iklim yang membuat kemampuannya bertanya itu hidup atau tumbuh.

Terus teranglah padanya tentang apa yang ibu guru ketahui. Kami ingin putra kami bisa belajar tentang kenyataan hidup yang sebenarnya. Walau kenyataannya itu menyakitkan, katakanlah yang sesungguhnya pada dia. Saya ingin ibu guru melatihnya untuk tetap optimis melihat realitas yang buram dan menyalakan api semangatnya untuk terus belajar. Sikap terus terang dari ibu guru akan memberinya kekuatan dalam melawan kejamnya realitas kehidupan dan sesekali berikan kepercayaan kecil kepadanya, untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tangan. Saya ingin ibu guru melatih kemandiriannya supaya tumbuh rasa percaya dirinya. Saya tidak ingin ibu guru menjadikan dirinya anak yang sempurna tapi tidak berpeluh keringat. Ia harus bisa dan mampu melakukan pekerjaan tangan apapun.

Ibu guru yang baik, langkah anak kami yang masih rapuh butuh bimbingan dan arahanmu. Tolong beri dia semangat saat dirinya mencari jalan untuk maju; saat dia merangkak ketika dia seharusnya berlari; saat dia diam ketika anda tahu dia harus memimpin. Dia masih terlalu muda, jadi sesuatu yang wajar kalau tidak begitu konsisten. Dia masih belia, jadi sesuatu yang normal jika kadang terlalu nekad. Dia masih hijau, karenanya sering kali berpikir aneh-aneh. Jangan ibu guru memarahinya atau menjulukinya dengan nama-nama yang menyakitkan. Tolong berikan perlakuan yang sama pada anak kami maupun teman-temannya bahwa mereka semua adalah murid-murid istimewa.

Jika ia punya kelemahan dan keterbatasan, tolong secara diam-diam, ibu catat dan rekam. Kelak katakan padanya sembari membantu mengatasi masalah itu. Katakan juga pada kami sehingga kami ikut membantu dan bisa melibatkan untuk memecahkan keterbatasan itu. Mengajari anak yang kini sedang menemukan identitas dan meraba harga dirinya memang tidak mudah, tapi karena itulah, kita bisa bertukar pengalaman dan pengetahuan. Latihlah dirinya untuk berorganisasi, karena di sana dirinya akan menemukan mutiara perilaku agung, yakni solidaritas dan cita pada sesama manusia. Latihlah dirinya untuk memahami persoalan yang lebih luas ketimbang kepentingannya sendiri. Saya ingin ibu mengajarinya untuk berkorban dan memahat sikap kepedulian.

Anak saya datang pada ibu dengan tekad untuk belajar. Mohon ibu guru jangan mengecewakannya. Jadikan masa-masa sekolah ini sebagai sesuatu yang menyenangkan, menarik dan menggairahkan baginya. Ajaklah dia sesekali keluar untuk melihat kalau pendidikan itu bukan hanya bangku ke bangku, tapi juga lewat kenyataan keseharian. Saya ingin saat dia meningggalkan kelas ibu, dirinya memiliki keyakinan yang lebih atas kemampuannya sendiri. Kelak saat ia meninggalkan kelas ibu, saya berharap dirinya akan memiliki kecintaan besar pada pengetahuan dan sesamanya. Sebagai pelajar dan sebagai pribadi, kami sangat berharap ibu bisa tekun membimbing dan mengarahkan. Pada akhirnya, bantulah putra kami menemukan harapan di atas bongkahan kehidupan bangsa yang buram dan menyakitkan ini.

Tahukah ibu, tahun ini ibu akan menjadi salah satu orang paling penting dalam hidupnya. Dia akan memutuskan untuk meniru atau menolak nilai-nilai yang ibu guru semaikan. Dia mungkin akan menghormati dan mengingat ibu sepanjang hayatnya. Atau sebaliknya, dia tidak lagi mengingat ibu dan merasa kecil hati atas setiap tindak tanduk ibu yang mungkin bertolak belakang dengan nilai yang ibu ajarkan. Sejujurnya, saya sebagai orang tua, ingin ibu bisa menjadi seseorang yang paling dikagumi. Tapi untuk ini, ibulah yang bisa menentukan.

Oh ya, pada saat tahun ajaran berakhir, mohon berikan ucapan terima kasih dan pelukan hangat kepadanya. Berterima kasihlah kepadanya telah menjadi bagian dari kehidupan ibu, sebagaimana saya sangat berterima kasih kepada ibu karena telah menjadi bagian kehidupan anak saya. Kami tahu, di atas segala harapan kami, ibu guru sendiri didera oleh banyak permasalahan. Tuntutan akan kesejahteraan hingga status membuat kami semua juga ingin berbuat banyak untuk ibu. Jadikan putra kami menjadi seorang yang kelak akan memahami profesi ibu dan kelak bisa berbuat banyak untuk ibu. Jangan ragu untuk meminta bantuan solidaritas maupun perjuangan dari kami. Karena kami tahu, tahun ini anda menjadi bagian dari kehidupan kami sekeluarga.

Salam
Dari kami sekeluarga


Artikel ini dikutip dari halaman prolog pada buku yang ditulis oleh Eko Prasetyo berjudul, “Guru: Mendidik Itu Melawan”.

A letter by Abraham Lincoln to his Son’s Headmaster

So dear Teacher, will you please take him by his hand and teach him things he will have to learn, I know, that all men are not just, all men are not true. But teach him also that for every scoundrel there is a hero; that for every selfish politician, there is a dedicated leader… Teach him that for every enemy there is a friend.

It will take time, I know, but teach him, if you can, that a dollar earned is of far more value than five found… Teach him to learn to lose… and also to enjoy winning. Steer him away from envy, if you can, teach him the secret of quiet laughter. Let him learn early that the bullies are the easiest to lick… Teach him, if you can, the wonder of a book… But also give him quiet time to ponder the eternal mystery of birds in the sky, bees in the sun, and flowers on a green hillside.

In school, teach him it is far more honorable to fail than to cheat…Teach him to have faith in his own ideas, even if everyone tells him they are wrong…Teach him to be gentle with gentle people, and tough with the tough. Try to give my son the strength not to follow the crowd when everyone is getting on the bandwagon…Teach him to listen to all men…but teach him also to filter all he hears on a screen of truth, and take only the good that comes through.

Teach him, if you can, how to laugh when he is sad…Teach him there is no shame in tears. Teach him to scoff at cynics and to beware of too much sweetness…Teach him to sell his brawn and brain to the highest bidders, but never to put a price tag on his heart and soul. Teach him to close his ears to a howling mob…and to stand and fight if he thinks he is right.

Treat him gently, but do not coddle him, because only the test of fire makes fine steel. Let him have the courage to be impatient…let him have the patience to be brave. Teach him always to have sublime faith in himself, because then he will always have sublime faith in mankind.

This is a big order, but see what you can do… He is such a fine little fellow, my son!

(A letter written by Abraham Lincoln to his Son’s Headmaster)

Indonesia Berpotensi Defisit Ilmuwan Muda

Pada awal tahun 2016, hasil penilaian Programme for International Student Assesment (PISA) 2015 turut menyoroti pendidikan Indonesia. Hasil penilaian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan dan performa pelajar di Indonesia. Meskipun, peningkatan tersebut sangat tipis.

Dari 72 peserta penilaian, yang dinilai dalam kurun waktu tiga tahun, Indonesia mendapatkan peringkat 63 dari 69 negara peserta survei di seluruh dunia. Sebenarnya ada 72 peserta, namun tiga di antaranya adalah peserta kategori ekonomi, yaitu Shanghai-Beijing-Jiangsu-Guangdong (China), Hong Kong (China) dan Buenos Aires (Argentina).

Pencapaian Indonesia ini tentu perlu diapresiasi. Karena, hasil survei 2015 ini menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan dengan survei sebelumnya pada 2013 yang menempatkan Indonesia pada peringkat 71 atau peringkat nomor dua dari belakang. Walaupun pada 2009 sebenarnya Indonesia sudah berada pada peringkat 57 dunia.

Secara spesifik penilaian juga menunjukkan performa siswi (girls) jauh lebih baik dibandingkan dengan performa siswa (boys) pada subjek yang dinilai, yaitu sains, literasi dan matematika. Secara signifikan, siswi memiliki kemampuan yang jauh lebih baik daripada siswa dalam komponen membaca.

Dari itu semua, peningkatan performa siswi berkontribusi dalam peningkatan peringkat Indonesia pada survei 2015. Namun, secara keseluruhan, performa siswa-siswi dalam bidang matematika, sains dan membaca merupakan yang paling rendah di antara negara peserta PISA dengan melihat posisi Indonesia pada peringkat nomor tujuh dari bawah di seluruh dunia.

Lebih lanjut dari survei PISA 2015 ini menerangkan adanya ketidakmerataan pendidikan. Ketimpangan kualitas sekolah yang dinilai menjadi permasalahan besar yang tengah dihadapi Indonesia. Rendahnya nilai sains yang dicapai pelajar yang kurang beruntung secara ekonomi adalah yang menjadi alasan nilai Indonesia pada PISA 2015 ini masih buruk. Ini dipertegas dengan hasil laporan yang menunjukkan bahwa Indonesia berada pada posisi nomor sembilan di dunia dalam hal tingginya tingkat ketimpangan pendidikan nasional.

Hal lebih menarik dari survei ini adalah siswa-siswi Indonesia tidak tampak adanya keinginan menjadi ilmuwan. Justru, hanya jumlah kecil pelajar, baik dari kalangan mampu dan kurang mampu secara ekonomi, yang berharap dapat berkarir di bidang sains. Hal ini jauh berbeda dengan negara-negara yang mendapatkan nilai PISA di mana pelajarnya memiliki keinginan yang sangat besar menjadi ilmuwan. Di antara sedikitnya minat pelajar Indonesia yang ingin berkarir dalam bidang sains tersebut, para siswi jauh memiliki keinginan yang lebih besar menjadi ilmuwan dibandingkan para siswa.

Apa yang dinilai dalam PISA?

Perlu diketahui sebelumnya, hasil PISA 2015 ini melibatkan sekitar 540,000 pelajar (mewakili sekitar 29 juta pelajar yang saat itu berusia 15 tahun) dari 72 peserta survei baik negara dan ekonomi di seluruh dunia.

PISA berfokus pada penilaian mata pelajaran utama sekolah, yaitu sains, membaca dan matematika. Survei ini tidak menilai apakah pelajar pada usia 15 tahun dapat menghasilkan pengetahuan dalam mata pelajaran yang dinilai. Melainkan, PISA menilai apakah pelajar sudah mendapatkan pengetahuan dan keterampilan kunci yang mendukung partisipasinya dalam masyarakat modern saat ini.

Hal yang mendasari penilaian PISA adalah bahwa ekonomi modern menghendaki setiap individu bukan tentang apa yang mereka tahu. Melainkan, ekonomi modern menghendaki apa yang dapat setiap individu lakukan dengan pengetahuan mereka.

Hasil penemuan akan menjadi sumber referensi bagi pembuat kebijakan tentang pengetahuan dan keterampilan pelajar di negaranya dibandingkan dengan apa yang ada di negara lain. Ini juga membantu negara-negaa di dunia untuk memelajari kebijakan dan praktik yang diterapkan pada negara-negara peserta survei, khususnya negara yang mendapatkan peringkat tertinggi

Berdasarkan hasil survei ini, negara dengan peringkat lima besar antara lain Singapura, Jepang, Estonia, Taiwan dan Finlandia.

Apakah pelajar di negara maju jauh lebih baik?

Hasil PISA menunjukkan bahwa pelajar di negara dan ekonomi yang maju atau pendapatan yang tinggi (high-income countries and economies) tidak selalu berbanding lurus dengan membaiknya performa pendidikan yang dicapai. Vietnam adalah salah satu contohnya yang mendapatkan peringkat 8 yang tentu jauh lebih tinggi daripada peringkat yang dicapai oleh Australia maupun negara-negara OECD.

Saat negara dan ekonomi dengan pendapatan tinggi (dengan pendapatan perkapita di atas USD 20,000) memiliki pendanaan yang lebih di bidang pendidikan, apa yang tampak menjadi hal yang paling utama dalam hal kualitas dan pemerataan pendidikan adalah manajemen pendanaan pendidikan dan kualitas proses pembelajaran yang diterapkan.

Hasil PISA menyatakan:

“Ketika para guru seringkali menjelaskan dan mendemonstrasikan ide-ide ilmiah serta mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan siswa, siswa dengan nilai tinggi dalam sains dan siswa yang suka dengan pertayaan inquiry tampak terinspirasi untuk bekerja pada bidang yang berkaitan dengan sains.”

Dalam kasus Indonesia, sebenarnya sudah didukung dengan pendanaan yang cukup. Dana yang dialokasikan untuk bidang pendidikan mencapai 20% dari jumlah anggaran nasional.

Hasil PISA 2015 menunjukkan bahwa Indonesia menempati pada posisi keempat dari 69 negara peserta dalam hal besaran pendanaan di bidang pendidikan. Namun demikian, ini bukan berarti bahwa sekolah-sekolah di Indonesia memiliki apa yang seharusnya dibutuhkan. Faktanya, banyak sekolah di daerah masih sangat buruk dalam penyediaan infrastruktur yang menunjang terwujudnya pendidikan yang berkualitas.

Seberapa penting bagi Indonesia?

SD dan SMP merupakan dasar dalam pembangunan sektor pengetahuan. Keberadaannya memiliki peran vital untuk menyiapkan pelajar Indonesia memiliki keterampilan analitis dan berpikir kritis. Keduanya merupakan keterampilan yang wajib dimiliki setiap ilmuwan dalam semua bidang penelitian.

Hasil PISA menunjukkan bahwa Indonesia tengah berusaha keras untuk mengejar ketertinggalan. Tanpa disertai keterampilan-keterampilan tersebut pada pendidikan dasar, universitas-universitas di Indonesia tidak akan mampu mengembangkan dan memperkuat program-program penelitian yang berkualitas, khususnya peningkatan kualitas penelitian yang bertaraf internasional.

Hal ini yang membuat cukup pelik bagi Indonesia dalam proses transisi menuju pengetahuan berbasis ekonomi (knowledge-based economy). Ironisnya, masih terdapat sangat sedikit aktivitas ilmuwan dan peneliti Indonesia yang mampu menyediakan pengetahuan dan hasil penelitiannya untuk mendukung pemerintah dalam menyusun kebijakan strategis.

Hasil PISA 2015 menunjukkan hanya terdapat peningkatan yang tipis terhadap keterampilan siswa Indonesia pada usia 15 tahun. Ini tidak berbanding lurus dengan jumlah dana yang diinvestasikan oleh pemerintah untuk pendidikan.

Pada Agustus 2015, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional meyelenggarakan Konferensi Internasional tentang Praktik dan Kebijakan Pembangunan Terbaik. Michael Woolcock selaku pakar pembangunan sosial pada Bank Dunia dalam pidatonya menyampaikan bahwa negara-negara dengan pendapatan menengah seperti Indonesia telah berhasil menyelesakan “development 1.0 problems”. Banyak sekola telah didirikan, peraturan perundang-undangan dan kebijakan sudah dirumuskan, guru telah direkrut dalam jumalh yang besar dan data telah dikumpulan dan dianalisis.

Solusi atas permasalahan yang muncul dari hasil PISA 2015 bukan pada pendanaan. Melainkan, kita perlu menggunakan dana tersebut untuk lebih efisien. Ini yang disebut dengan development 2.0 problem yang masih belum terdapat cetak biru maupun solusi inti dalam menyikapi permasalahan ini.

Tampaknya, Indonesia membutuhkan ribuan jawaban kecil yang sebisa mungkin dirumuskan dalam bentuk penelitian yang fokus menyikapi permasalahan-permasalahan ini. Penelitian tersebut perlu mengidentifikasi permasalahan inti, sistem apa yang sudah berjalan dan apa yang belum berjalan serta kenapa bisa begitu.


Artikel ini ditulis oleh Arnaldo Pellini, Research Fellow, Overseas Development Institute. Artikel ini pertama kali diterbitkan pada The Conversation. Baca selengkapnya di sini.

Artikel dalam blog ini hasil terjemahan dari: Indonesia’s PISA results show need to use education resources more efficiently

Lanjut Kuliah atau Menikah?

Artikel ini akan memaparkan analisis Henry Manampiring tentang pilihan paling dilematis yang dihadapi para gadis Indonesia saat ini. Pilihan tersebut adalah antara melanjutkan kuliah dan menikah. Pada satu sisi mereka ingin melanjutkan kuliah yang secara lazim merupakan bentuk kesetaraan gender. Pada sisi lain, tradisi patriarki masih mendikotomi antara laki-laki dan perempuan yang menghendaki perempuan untuk segera menikah. Jika tidak, perempuan akan mendapat cibiran dari masyarakat sebagai perawan tua.

Sejak hadirnya internet, sosial media dan telepon berbasis sistem operasi, Indonesia tampaknya telah memasuki generasi baru digital. Ini sekaligus menegaskan bahwa masyarakat Indonesia telah berevolusi menuju masyarakat modern. Diyakini bahwa dengan menjadi masyarakat modern, akan adanya negosiasi ulang terhadap sistem dan nilai-nilai tradisional yang masih hidup dan berlaku di masyarakat.

Faktanya, Itu tidak seluruhnya benar. Terkait hal itu, Henry yang mengamati tentang pemberdayaan perempuan di Indonesia melakukan penelusuran jejak digital di Ask.fm. Situs ini kurang diminati oleh Generasi X, meskipun mereka bekerja pada industri komunikasi digital. Saat Twitter dan Facebook tampak mulai menurun popularitasnya,  netizen Indonesia usia remaja tampak lebih interaktif pada platform media seperti Snapchat dan Ask.fm.

Awalnya, Ask.fm didirikan di Latvia, namun saat ini bermarkas di Irlandia. Pada perkembangannya, Ask.fm telah menarik sejumlah besar pengguna internet di Indonesia, negara dengan populasi 250 juta yang didominasi oleh generasi muda. Meskipun 250 juta bukan merupakan angka resmi, setidaknya dapat diperkirakan pengaruhnya terhadap statistik ‘selebriti’ pada platform ini. Satu akun selebriti Indonesia dapat mengumpulkan lebih dari 16 juta ‘like’ dari jawaban yang diberikan.

Tidak seperti kebanyakan platform media sosial di mana pengguna dapat memulai posting, Ask.fm pengguna harus terlebih dahulu merespon pertanyaan yang diajukan. Karenanya, Ask.fm lebih menghasilkan platform dua arah sehingga menjadi sangat interaktif. Pengguna dibagi dalam kluster-kluster berdasarkan persamaan minat, misalnya dari fashion hingga diskusi agama.

Pekerjaan saya sebagai perencana strategis (strategic planner) yang mendorong saya menggunakan platform ini. Secara berangsur-angsur, saya mencari hal-hal yang mengenai seni dan budaya populer yang mewadahi para generasi muda. Biasanya anak-anak muda akan sangat mudah ditemui di sana.

Motivasi awal yang sifatnya profesional tiba-tiba dengan cepat berubah menjadi hal-hal yang sifatnya pribadi saat saya mendapatkan pertanyaan yang sepertinya bukan sebagai pertanyaan abad saat ini, termasuk:

“Nasihat yang saya dapatkan bahwa perempuan harus berhenti dari perguruan tinggi karena mereka nanti akhirnya juga bakal mengurus dapur. Benar gak sih?”

“Guru saya pernah bercerita bahwa perempuan sebaiknya tidak mengambil S2 atau harus menanggung risiko tidak ada laki-laki yang mau meminangnya.”

Awalnya, saya kaget saat mendapatkan pertanyaan-pertanyaan ini dari para gadis remaja Indonesia. Mereka mungkin juga merupakan Generasi Z yang hidupnya, nafasnya ada di internet dan sosial media. Tapi kenapa pertanyaannya menjadi sangat terpuruk, mundur dan sangat kuno. Setidaknya itu adalah persepsi pribadi saya.

Namun, dari kaget saya kemudian menjadi marah, bukan karena saya adalah laki laki atau generasi milenial. Terlepas dari isu persamaan gender, dari perspektif yang lebih pragmatis, alangkah sia-sianya potensi mereka! Membayangkan perempuan-perempuan berhenti sekolah karena mereka percaya nantinya akan ditakdirkan akan mengurus dapur adalah hal yang rasanya sangat memalukan. Parahnya, bagi saya, bagaimana wanita mau dengan suka rela membuat diri mereka menjadi tampak bodoh hanya untuk mendapatkan seorang suami. Semua ini sangat berlawanan dengan kenyataan-kenyataan pesatnya ekonomi Indonesia di abad ke-21 sebagai abad Asia. Bagi saya, perempuan terlalu berat apabila harus menanggung itu semua.

Saya tidak bisa menutupi perasaan saya saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Saya menekankan jawaban tentang bagaimana wanita HARUS melanjutkan kuliah. Entah bagaimana caranya, mereka harus mandiri dan memiliki kemampuan untuk keberlangsungan mereka sendiri apabila sewaktu-waktu terjadi perceraian atau suami melakukan poligami (karena poligami diizinkan di Indonesia). Jika tidak, perempuan akan menjadi korban perkawinan saat terjadi permasalahan hubungan dalam keluarga yang berakibat pada hal-hal tersebut di atas.

Terkait dengan anggapan bahwa perempuan yang berpendidikan tinggi itu menakutkan bagi laki-laki, yang akhirnya menurunkan kesempatan untuk melangsungkan perkawinan, saya tidak bisa menolak. Ini menjadi hukum tidak tertulis yang hidup dan merupakan kenyataan dalam masyarakat Indonesia yang chauvinistik terhadap peran laki-laki. Mayoritas laki-laki Indonesia cenderung merasa tidak aman dan terintimidasi oleh perempuan yang lebih pintar atau berpendidikan lebih tinggi dari mereka. Kenyataan ini tentu akan memposisikan perempuan yang pintar sebagai pihak yang akan dirugikan yang pada saat bersamaan laki-laki memiliki banyak pilihan lain yang membuat mereka merasa tidak terancam. Karena itu, saya tetap berharap bahwa ada laki-laki Indonesia di luar sana merasakan hal yang sama seperti saya dan ingin sekali melihat adanya perubahan.

Coba bayangkan bahwa akan ada dunia di mana para perempuan secara bersama-sama menyepakati pentingnya pendidikan yang lebih tinggi dan adanya kebutuhan untuk mengejarnya. Tentu, hal ini akan mengubah dominasi pria terhadap perspepsi itu. Dan tentu juga akan melahirkan dorongan bagi laki-laki untuk meningkatkan kualitas pribadinya. Jika tidak, laki-laki tidak akan menemukan pasangan yang cocok. Bukankah pemahaman ini sebagai skenario yang ideal yang berpihak pada kemajuan bagi masyarakat?

Berbicara realistis, saat skenario di atas mungkin menjadi sangat ideal dan susah menjadi kenyataan, itu tidak berarti kita tidak boleh mencoba dan membuat perubahan ke arah yang lebih baik dan benar. Buka dengan wanita yang membatasi kemampuan mereka demi seorang pria yang akan meminangnya yang tentu ini merugikan masyarakat kita secara keseluruhan. Sebaliknya, kemajuan perempyan untuk berpendidikan tinggi secara kolektif tidak hanya akan mengangkat satu kelompok gender, tetapi juga seluruh bangsa.


Henry Manampiring adalah Direktur Eksekutif Bidang Perencanaan Strategis pada Leo Burnett Indonesia dan penulis buku “The Alpha Girl’s Guide”.

Artikel ini hasil terjemahan dari artikel berjudul Honours or Husbands? The Tough Choice of Indonesian Women.

Yuk, kenali dan cek kepribadian kita ala MBTI

Penilaian the Myers-Briggs Type Indicator atau yang biasa disingkat MBTI adalah sebuah metode kuesioner psikometri yang dirancang untuk mengukur preferensi psikologis tentang bagaimana orang memahami kehidupan dan bagaimana mereka membuat keputusan. Preferensi tersebut diekstrapolasi melalui teori tipologi yang digagas oleh Carl Gustav Jung dan untuk kali pertama diterbitkan dalam buku 1921-nya berjudul, “Psychological Types” (edisi bahasa Inggris, 1923). Jung dalam teorinya mengatakan bahwa ada empat fungsi psikologis utama yang kitatemui di dunia, yaitu: Sensation, Intuition, Feeling dan Thinking. Satu dari empat fungsi ini seringkali dominan pada setiap manusia. Read More