Banyak orang tua menginginkan anak-anaknya unggul, pandai, cerdas dan berprestasi. Keinginan tersebut seringkali diwujudkan dengan dorongan kepada anak-anaknya untuk menjadi nomor satu. Sejak kecil, banyak anak didorong untuk kompetitif. Semacam ada penanaman pemikiran bahwa seolah anak yang unggul, pandai, cerdas dan berprestasi adalah dengan menjadi yang pertama.

Prestasi seringkali diukur berdasarkan pemeringkatan. Anak yang berprestasi seringkali diidentikkan dengan menyandang gelar juara. Pembagian kelas kualitas anak diranking dari juara 1, juara 2, dan juara 3. Keadaan ini lazim dalam dunia anak-anak, dan termasuk di bangku sekolah.

Meskipun saat ini pemeringkatan kelas di sekolah sudah dihapuskan, masih ada pemeringkatan-pemeringkatan lain. Seperti lomba, baik dari yang receh sampai lomba akademik. Ini semua masih sering kita jumpai baik pada tingkat pendidikan dasar, menengah maupun perguruan tinggi.

Juara sebagai kebanggaan

Pemahaman tunggal atas kualitas seseorang diukur dari kemampuan mendapatkan juara seringkali menjadi beban bagi anak. Seluruh hidupnya dari kecil dituntut untuk dapat berkompetisi. Khususnya, secara tidak langsung, anak-anak harus mampu menahan tekanan agar dapat bersaing dan mampu mengalahkan teman-temannya.

Tentu saja, usaha untuk menjadi juara, menjadi yang pertama, tidaklah mudah. Namun, mau tidak mau, standar itu semacam kenyataan hidup yang mesti dijalani. Hingga pada saat kita mencapainya, kita akan merasa bangga telah mampu menjadi yang pertama. Sampailah pada kesadaran diri bahwa ternyata kita bisa mencapainya. Kita bangga.

Tuntutan lebih tinggi

Semua tidak berhenti di situ. Cerita masih panjang. Setelah kita dapat menjadi yang pertama, akan ada dua tuntutan baru. Pertama, kita harus menjadi yang pertama lagi pada episode selanjutnya. Kedua, saat kita gagal menjadi yang pertama kembali, akan ada beban berat terhadap mental.

Semua berawal dari asumsi ini. Sebelumnya, kita sudah mendapatkan prestasi dengan menjadi yang pertama. Kita telah dipercaya sehingga tidak ingin mengecewakan orang tua, guru atau teman-teman kita. Juga, kita tidak ingin kecewa terhadap diri sendiri saat mencoba peruntungan berikutnya.

Ini semua tidak salah. Namun, satu hal yang tidak begitu tepat adalah saat tuntutan tersebut tinggi, anak juga perlu ditanamkan kebijaksanaan agar lebih siap apabila luput mencapai tujuannya. Menjadi pertama itu menyenangkan, namun saat terjatuh atau tidak beruntung, kemampuan menghargai orang lain dan menoleransi diri sendiri menjadi sangat penting.

Ajari menaklukkan diri sendiri

Banyak literatur menuturkan bahwa pemenang sesungguhnya bukan terbatas menjadi nomor satu. Dunia ini luas dan luas juga ukuran dan pemaknaan kesuksesan yang tidak bisa dinilai sebatas dengan angka dan urutan.

Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya anak, bekal pemahaman menjadi manusia bermartabat dan memahami kehidupan menjadi sangat penting. Saat anak beranjak dewasa akan semakin memahami luasnya dan kompleksnya kehidupan yang tidak sesempit tentang kemenangan atas orang lain atau kemampuan mengalahkan orang lain.

Edmund Hillary, pendaki kelas dunia, mengatakan bahwa kemampuan pendaki itu bukan tentang menaklukkan gunung. Makna dari pendakian gunung tersebut jauh lebih penting daripada ambisi sempit untuk menaklukkannya. Dengan kita mendaki gunung, sesungguhnya ada satu hal yang harus ditaklukkan, yaitu diri sendiri. Kita akan semakin mawas diri tentang pentingnya perencanaan, kegigihan dan kesabaran untuk mencapai puncak. Tanpa ketiganya akan sangat susah bagi kita berhasil mencapainya. Oleh karena itu, kebijaksanaan menempati posisi utama sebelum kita beranjak untuk dapat mencapai tujuan, dengan menaklukkan diri sendiri terlebih dahulu.

Tidak harus menjadi yang pertama

Banyak orang sudah telanjur kecewa. Sebagian yang lain menilai semuanya telah sia-sia. Barangkali, pemaknaan untuk menjadi yang pertama adalah tentang kemampuan untuk mengalahkan orang lain, tanpa melibatkan diri sendiri sebagai musuh utama.

Saat usaha yang dilakukan sudah maksimal, refleksi terhadap diri sendiri menjadi penting. Perjuangan menaklukkan diri sendiri jauh lebih berliku daripada mengejar menjadi yang pertama. Barangkali, memperbaiki manajemen diri jauh lebih esensi daripada hanya mengejar prestasi demi membusungkan diri. Hal yang terpenting, saat menjadi yang pertama untuk dapat tetap rendah hati.

Begitu juga, saat tidak berhasil mencapai target yang diinginkan sudah siap untuk menerima kenyataan dan keadaan dengan sabar dan ikhlas. Saat sudah menjadi orang, hal yang terpenting bagi kita bukan di mana kita berposisi tetapi sejauh mana kontribusi kita dapat berguna bagi orang lain.

Semoga bermanfaat. 🙏

Kritik saran bisa tulis komentar di bawah yaa…

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *